Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
42. Fakta Baru


__ADS_3

Hingga pagi menjelang. Kemarahan Siska belum juga memudar. Siska masih setia dengan sikap kasar dan juga wajah masamnya saat berpapasan dengan Zidan. Pokoknya kalau liat Zidan, bawaannya tensi aja. Intinya sekarang Siska pengen ngasih Zidan efek jera agar kedepannya dia tak seenak jidatnya nuduh - nuduh.


"Yang..." Zidan berusaha merayu lagi, sekaligus ingin pamit pulang. Yang mana itu pastinya sia - sia karna Siska yang kembali masuk kedalam kamar.


BRAK!!


Mengurung diri lagi, mengunci pintunya agar Zidan tidak bisa masuk dengan muda seperti semalam.


"Huft!." Zidan menghembuskan nafas frustasi.


"Masih marah?." Bu Irna tanya. Meskipun lagi sibuk didapur tapi Bu Irna memperhatikan keduanya.


"Iya, ma."


"Kalau gitu lebih baik kamu biarin aja dulu. Nanti kalau marahnya agak redah baru kamu ajak ngobrol lagi."


"Iya ma."


"Nanti mama sama papa coba bantu buat ngerayu Siskanya. Jadi kamu jangan terlalu kepikiran."


"Iya ma, terima kasih ma."


Zidan cuma bisa pasrah dan iya - iya aja dengan ucapan Bu Irna. Harapannya, ya semoga saja nanti setelah dibujuk bu irna Siska beneran gak marah lagi padanya. Kalau tidak ya seperti sekarang. Zidan cuma bisa duduk termangu disalah satu kursi minimarket depan apartemenya menatap layar ponselnya yang sepi dengan raut wajah kusut dan penuh pikiran.


"Bro!." sapa Firman yang tak sengaja melihat Zidan. Dia sedang bersama dengan Feby yang sepertinya hendak membeli sesuatu disore itu.


"Eh, bro."


"Lo kenapa Dan? Kok muka lo kayaknya kusut banget?." Feby langsung komentar.


"Hah? Gak apa - apa Feb." Jawab Zidan seraya tersenyum tipis.

__ADS_1


"Yang, kamu yang masuk ya. Aku tunggu sini." Firman ngomong ke Feby diikuti gerakan tubuh yang duduk dikursi sebelah Zidan.


"Oke." saut Feby, masih memandang heran pada Zidan.


"Lagi suntuk bro?." Firman kembali memulai obrolan.


"M, lumayan."


"Belum beres persiapan pernikahannya?." Ya, Firman mengira kesuntukan Zidan karna itu.


"Udah."


"Lah terus kalau udah beres jadi lencu gitu tuh muka?."


"Ya gak tahulah bro, pokoknya suntuk aja." Pokoknya Zidan jawab sekenanya aja.


"Ini." Feby yang baru saja selesai belanja, ikut duduk disamping Firman sambil menyodorkan sebotol air mineral pada Firman.


"Hm, gue tahu lo kenapa kayak gini." Feby nyeletuk sambil sedikit mencebik dan tersenyum kecut. "Lo lagi berantem 'kan sama Siska?." Jelas, tebakan Feby benar, Zidan bahkan langsung mendengus dan ikut tersenyum kecut juga.


"Ya itu kalau kita yang, kalau mereka mah beda. Saling godanya ya ribut dulu kayak gini, tapi entar kalau udah ketemu langsung nemplok semua." saut Feby.


"Hahaha, iya, ya, lupa aku yang."


"Ya udah cepet cerita, emang kalian ribut gara - gara apa? si Siska soalnya dari kemarin sore juga udah gak ada kabar, diledekin pun dia juga gak nongol sama sekali." todong Feby.


"Huft!." Zidan mendengus.


Dan akhirnya, Zidan pun menceritakan kronologi awal kejadian gimana keduanya ribut dan sampai sekarang belum juga baikan.


"Ckckckc! Zidan, Zidan. Pantesan Siska marah, emang lonya yang keterlaluan!." Feby mendecak. Eh, dia juga ikutan kesel sama Zidan.

__ADS_1


"Maksud lo Feb? emang bener gue udah keterlaluan?."


"Ya iyalah jelas! gue aja yang gak lo tuduh kesel dengernya, apa lagi Siska. Ish!." Feby jadi melirik tajam ke Zidan, apa lagi tadi Zidan ngomong dengan tampang polos, astaga.


Disini wajah Zidan seolah berubah jadi menyesal.


"Eh, dengerin ya, asal lo tahu. Gue ngomong ini karna lo bentar lagi bakalan jadi suaminya Siska, dan gue gak mau sahabat gue jadi tersakiti lagi gara - gara lo!. Mulai sekarang, gue minta lo stop nuduh - nuduh Siska gitu. Karna Siska itu gak pernah aneh - aneh seperti yang lo tuduhkan. Bahkan dulu pas pacaran sama lo waktu SMA, dia aja gak pernah main serong. Asal lo tahu, dia itu serong terus selingkuh itu ya gara - gara lo sendiri yang terlalu posesif ke dia. Lo bahkan gak bisa liat Siska dideketin cowok dikit aja. Sekalinya lo tahu, lo langsung ngamuk - ngamuk bahkan hajar mereka. Padahal itu cuma dideketin lo Dan, dan Siska selalu to the point nolaknya. Tapi nyatanya kepercayaan lo sama Siska kayaknya cuma dikit dan lo malah keterusan nuduh dia yang aneh - aneh kayak gini. Jadi akhirnya 'kan capek kalau keterusan dituduh. Ya udahlah dia selingkuh beneran akhirnya." Sebuah fakta baru kembali diungkapkan Feby malam ini.


"Jadi, dulu Siska selingkuh karna itu?." Jelas, fakta ini membuat Zidan mengutuki dirinya sendiri didalam hati.


"Iya, gak tahu 'kan lo! mangkannya jangan seenaknya jidat aja main nuduh - nuduh! Ditinggalin beneran sama Siska, tahu rasa lo!." Dengan nada kesal Feby menjawab.


Zidan mengusap wajahnya kasar. Setelahnya meremas rambutnya frustasi. Jadi selama ini, ternyata dialah orang yang sudah merusak hubungannya sendiri karna sikapnya.


"Gue beneran gak tahu kalau ternyata Siska gitu karna gue yang terlalu posesif ke dia. Gue kira dia memang udah gak sayang sama gue dulu mangkannya dia selingkuh."


"Yang selingkuh itu bukan cuma Siska, lo juga, inget!."


"Iya, gue sadar dulu gue belum dewasa..." Huh! Sungguh sebuah penyesalan yang tak berarti.


"Eh, emang sekarang lo udah dewasa? kayaknya belum deh, orang lo kemarin ngulangi apa yang lo lakuin dulu!." skakmat, ucapan Feby langsung masuk dalam relung hari Zidan. Huft!.


Zidan semakin frustasi. "Terus sekarang gue harus gimana? gue nyesel, gue gak pengen kehilangan Siska lagi. Jadi gue harus gimana biar Siska maafin gue? bahkan kemarin Siska bilang mau batalin pernikahannya..." Kali ini memikirkan Siska yang mau membatalkan pernikahan beneran membuat Zidan jadi gak bisa berpikir logis.'.


"Ya kalau emang lo nyesel. Coba lo minta maaf yang bener bro. Lo tunjukin kalau lo beneran nyesel dan gak bakalan ngulang kesalahan yang sama lagi."Kali ini Firman yang nyaut.


"Caranya?."


"Pikir aja sendiri!." Feby teriak frustasi. Bisa - bisanya Zidan tanya caranya.


Disautin gitu sama Feby, Zidan cuma bisa menghembuskan nafas beratnya dan kembali tenggelam dalam pikirannya sendiri.

__ADS_1


"Terus satu lagi yang harus lo lakuin. Yakinin Siska kalau lo emang beneran sayang dan cinta sama dia. Inget, sampai detik ini Siska itu masih belum 100% yakin sama lo. Dan sekarang lo malah nambahin ketidakyakinannya itu. Jadi, kalau lo pengen dia gak lari dari lo, lo harus usaha ekstra. Kesempatan lo cuma hari ini sama besok, karna lusa lo udah nikah. Jadi manfaatin yang benar buat ngebujuk atau ngerayu dia. Paham 'kan lo maksud gue?." Feby yang ngomong aja sampai menggebu - gebu.


Zidan terlihat meresapi setiap inci perkataan Feby ini. Apa yang dikatakan Feby 100 persen adalah benar. Harusnya Zidan mulai kemari sudah sibuk meyakinkan Siska, bukannya malah marah - marah seperti kemarin. Karna sikapnya ini, bahkan dia harus mengesampingkan rasa rindunya yang teramat setelah hampir 10 hari gak bertemu. Sungguh kebodohan yang tak seharusnya dilakukan.


__ADS_2