Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
72. Ledekan Para Kroni


__ADS_3

"Weeeeehhhhhh, pengantin baru akhirnya datang juga." Krisna, menyambut kedatangan Siska dan Zidan sedikit heboh. Tapi ya seperti biasanya sambutannya itu pastinya diselingi dengan godaan.


"Ck! apaan sih lo! pengantin baru, pengantin baru!." Siska langsung mendecak kesal.


"Ckckck! disambut temennya dengan suka cita bukannya syukur lo malah ngegas." Krisna protes, kakinya langsung kembali ditekuk bersilah di atas karpet duduk disamping Firman.


"Sambutan lo soalnya gak ngenakin. Dasar pengantin lama!." Siska balas meledek si Krisna.


"Bro." Para lelaki kemudian saling menyapa.


"Kemana aja lo baru datang? gue yang jauh aja udah dari tadi." Raya yang baru dari pantry nyeletuk. Tangannya sibuk membawa nampan berisi buah - buahan yang kemudian diletakkan di atas meja.


"Alah yang, jangan tanya dari mana. Palingan juga sibuk didalam kamar. Maklum, masih maniak, baru kumpul lagi kan mereka setelah terpisahkan jarak dan waktu." Lagi - lagi Krisna, si cunguk yang bikin keki melempar ledekannya.


"Kenapa iri lo sama kita? karna udah gak maniak lagi?." Siska melawan. Karna orang seperti Krisna gak akan berhenti sekalipun Siska menampik.


"Ciiiieeee... yang lagi maniak ngaku nih yeh ...." Eh, Krisna bukannya menyerah tapi semakin cie - cie. Mengundang decakan tawa dari orang sekitar. Bahagia ketika bisa menggoda Siska.


"Ish! Ray, suami lo nih mulutnya lo sumpel gih! heran, suka banget ngeledek gue." Siska memberikan lirikan sewotnya ke Krisna.


"Udah jangan ditanggepi. Kesel sendiri kamu nanti kalau ngomong sama dia. Dia lagi iri sama kita karna kita yang lagi romantis - romantisnya." Zidan menenangkan sambil membelai pucuk kepala Siska.


"Cih! bahagia lo sekarang udah ada yang belain?." Si Raya menimpal, melihat reaksi Zidan yang perhatian pada sang sahabat.


"Ember!." Siska mencebik.


"Cih! udah ayo bangun, bantuin Feby di dapur. Jangan leha - leha lo!." Raya menginterupsi, yang mana Siska langsung mengekori Raya ke pantry.


Disaat para istri sedang sibuk di pantry untuk mempersiapkan makan malam. Para suami masih tetep setia ditempat mengobrol.


"Gimana? lo udah pulang kesini beneran? gak balik ke Jogja lagi?." Firman tanya.


"He'em. Kalau gue balik, ngamuk lagi entar Siska." jawab Zidan.


"Tapi gimana proyek lo yang disana kalau lo tinggal? apa gak apa - apa?." tanya Firman lagi.


"Gue suruh Egi yang gantiin. Untung aja disana juga udah tinggal finishing dan minggu ini juga udah selesai, pemeriksaan juga udah selesai jadi aman lah."


"Syukur deh kalau gitu."


"Oh iya bro, gue mau minta tolong sama lo." Zidan menepuk paha Krisna yang ada disampingnya.


"Apa?." Krisna jawab.

__ADS_1


"Caca mau magang nih, dia pengennya magang ditempat lo, kira - kira tempat lo terima anak magang gak?."


"Caca? Caca adik lo?." Sebelum mengiyakan Krisna ingin memastikan dulu siapa Caca ini.


"Iya,"


"Ya, kalau masih SMK gak nerimalah bro." Yap, Krisna mengira kalau Caca masih pelajar SMK.


"Adik gue udah semester 5, bro."


"Lah? yang bener aja, perasaan masih umur berapa deh tuh anak?." Setahu Krisna Caca masih kecil. Ya masak udah kuliah.


"Iya, kalau umurnya masih 17, tapi karna dia pinter pas SMA ikut kelas akselerasi 2 tahun. Ya akhirnya sekarang udah kuliah semeter 5."


"Wah? oke juga dong kalau gitu? bolehlah kalau gitu. Biar gue atur kalau dia mau magang di tempat gue."


"Lah, Caca gak mau magang di tempat gue aja bro?." Firman yang merasa iri karna Krisna bisa dapat anak magang pintar jadinya ikut nawarin.


"Dia maunya di kantornya Krisna. Karna Krina manager HRD."


"Cih! gue juga manager kali." Yap jabatan Firman sekarang adaah manager marketing.


"Oke, tapi kapan dia mulai magangnya?." Krisna tanya.


"Bulan depan katanya."


"Lah, tapi itu masalahnya bro. Niatnya cuma nitip doang tanpa beban kerja yang berlebih tapi nilai tetep lo kasih tinggi."


"Maksudnya?." Krisna mengernyit gak paham.


"Gini, Caca ini 'kan pinter. Dia ini posisinya lagi depresi, capek karna sering mikir. Jadi pengennya dia magangnya itu santai gitu. Lah kebetulan lo 'kan menager HRD pasti bisalah kalau kasih nilai dia bagus meskipun dia kerjanya cuma sekedar kerja aja, gitu." Zidan mulai mengarang cerita yang sebetulnya sih gak sepenuhnya salah. Karna gak mungkin juga dia cerita kalau Caca lagi mendesaknya.


"Ya kalau gitu gak bisa gue bro. Gue d kantor terkenal tegas bro. Entar disangkah gue menganak emaskan Caca gimana? hancur reputasi gue." tolak Krisna.


"Ya gue minta tolonglah bro, demi kesehatan mentalnya si Caca. Kasian adik gue itu, masak lo gak bisa bantu. Lo 'kan manager HRD, taruh aja dibawah pengawasan lo, biar gak banyak yang curiga."


"Tetep gak bisa bro, anak magang itu biasanya disorot. Apa lagi gue manager. Gue gak mau nanggung resiko. Sorry untuk ini gue gak bisa bantu, soalnya niatnya udah salah. Cuma buat leha - leha. Padahal di kantor kerjaan satu kelar, dua datang, dua kelar, tiga datang, gitu. Kasian tim worknya malah nanti yang keteteran." Krisna tetap menolak dengan tegas.


"Berul sih kata Krisna. Anak magang itu selalu dinanti. Mereka itu sama kayak pahlawan dalam kegelapan. Adanya mereka itu sangat membantu pekerjaan. Tapi, kalau yang datang udah gak niat cuma buat leha - leha, gue sendiri juga gak mau terima lah Dan. Lo tahu sendiri, kantor itu sama kayak medan perang. Kalau gak bisa bantuin paling enggak jangan ngeribetin." Firman mendukung Krisna.


"Betul. Mending kalau cuma gitu, lo suruh Caca magang di perusahaan lo. 'Kan enak tuh nilai bisa langsung lo kasih A." celetuk Krisna.


"Ya kalau dianya mau. Masalahnya dianya pengennya magang di kantor lo." Zidan jawab.

__ADS_1


Disaat ketiga lelaki lagi membahas masalah Caca. Eh, dari arah pantry tiba - tiba terdengar gelak tawa menggelegar. Bahkan suara tawanya itu semakin dekat karna orangnya yang ternyata mendekat.


"Hahahhaha." Yap Si Raya dan Feby yang lagi ketawa.


Mereka terus duduk saling berhadapan dengan suami masing - masing, sedangkan dibelakangnya Siska mengekori dengan wajah masam dan helaan nafas kesal yang tak habis - habisnya.


"Yang, yang ... mau tahu cerita seru gak?." Raya menyentuh lengan Krisna dengan tawa diwajahnya.


"Apaan sih? kok pada ngakak gitu?." Si Firman yang heran langsung komentar dengan wajah heran.


"M?." Sementara Krisna memandang bingung istrinya.


"Aish!." Siska mendengus kesal. Sudah jelas setelah ini akan ada kehebohan karna bullyan dari para sahabatnya lagi.


"Mereka punya video mesum. Hahahaha." Raya mengawali aduannya, dengan wajah yang tak henti - hentinya ketawa begitu juga sama Feby, yang angguk - angguk meyakinkan Firman yang masih cengong.


"Video mesum? maksudnya bok*ep?." Krisna tanya buat memperjelas, yang langsung diiyai oleh Raya.


"Eh, bok*p, bok*ep. Gila lo!." Siska langsung menyanggah. Pasalnya gak sampai seperti itu 'kan?.


"Ck!." Sementara Zidan langsung mendecak. Wajahnya seketika langsung mengeryit menatap Siska dengan helaan nafas beratnya. Padahal tadinya dirinya sudah membuat cerita versinya. Eh, si Siska malah membongkar rahasia mereka.


"Weh, gila lo, sampai divideo segala pas begituan. Maniak beneran ternyata ya lo bro." Firman menyenggol Zidan yang ada disampingnya dengan tatapan menggodanya.


"Ck!."


"Hahaha, asik juga lo bro, buat koleksi ya bro? biar kalau kepengen gak ada Siska bisa langsung diliatin?." Krisna, ikutan menggoda Zidan. Bahkan alisnya sampai diturun naikkan.


"Enggak, enggak yang. Ini katanya karna habis mergokin mereka, jadi sama Caca langsung divideoin." Si Raya secara tak langsung menjelaskan situasinya.


"Aish!." Siska mendengus, merasa menyesal udah cerita. Padahal seharusnya Siska udah hafal tabiat para sahabatnya kalau pastinya akan cerita ke para suami.


"Aasssyyyeeemmm!!!." Ya jelaslah Krisna dan Firman yang denger gak menyangkah, dan seketika langsung ikutan ketawa.


"Hahahhaa!!."


"Ckckckck! ternyata lebih gila lagi ceritanya. Bisa - bisanya sampai kepergok, emangnya dasar ya lo berdua. Pasangan maniak, gak bisa nahan dikit." Krisna meledek lagi.


"Hahaha, kayaknya efek LDR pas jadi pengantin baru bikin gak tahan." Firman ikut menimpali.


"Ya jelaslah, kalau inget dia telpon kita setiap malam cuma buat ngerengek - ngerengek karna gak bisa malam pertama terus harus LDR ya pastinya gak bakalan bisa nahan." Krisna nyeletuk lagi.


"Besok, gue minta ah videonya sama Caca. Pengen tahu gue, sepanas apa sama seerotis apa mereka pas gitu." Raya seolah malah menikmati momen ledekannya.

__ADS_1


"Ish! jangan gila deh lo Ray! kita gak segila itu!." Siska yang sudah tak tahan pun berkomentar. Wajahnya sudah pasti memerah karna malu begitu juga dengan Zidan. Mereka sekarang cuma bisa tatap - tatapan dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Intinya malu aja.


"Hahaha. Gak segila itu, tapi semesum itu." Feby, ikutan juga.


__ADS_2