
"Kamu kenapa sih? Kok senyum - senyum?." Zidan tanya, saat ini suami istri itu sedang dalam perjalanan berangkat kerja.
"Gak apa - apa, cuma lucu aja, gak nyangkah aja aku kalau mama kita bisa hangout bareng gitu." jawab Siska masih dengan senyuman diwajah. "Padahal 'kan mereka besanan, biasanya kalau sama besan itu vibenya sungkan gak enakan. Ini mama kita malah akrab."
Zidan tersenyum membenarkan.
"Ini kayaknya nanti mama kita bakalan jadi bestie sejati deh, yang."
"Ya bagus dong kalau bisa sampai bestiean, biar mereka jadi punya temen ngobrol dan curhat. Siapa tahu bisa ngurangi cerewetnya. Kan lumayan kita gak di omelin lagi."
"Iya bener juga." Siska pun nyengir setuju.
"Em, oh iya. Gimana sama rencana kamu yang mau bikin rumah? Kira - kira mau bikin kapan?." Siska kembali tanya dengan topik lain.
"Terserah kamu, kamu tentuin dulu lokasinya dimana terus maunya kapan."
"Em, gimana kalau hari ini kita liat - liat lokasinya? Kok aku tiba - tiba pengen punya rumah di daerah suwandak."
"Hari ini?."
"Heem, nanti setelah pulang kerja. Kamu bisa 'kan pulang duluan bareng aku terus kita liat lokasi?."
"Em.., oke. Bisa. Hari ini aku bisa cek lapangan sebentar - sebentar."
"Oke, gaskan kalau gitu." Siska memekik dengan semangat.
Sepersekian waktu kemudian, Zidan menepikan mobilnya disamping gerbang kantor dukcapil. Siska, melepas seltbell yang melilit tubuhnya. Dia lalu mencium tangan Zidan lebih dulu dan kemudian mengecup bibirnya sebelum pamit untuk masuk kedalam.
"Ati - ati, jangan ngebut."
"Heem, kamu juga. Ati - ati jangan lirik - lirik pengunjung yang ganteng."
"Iya gak akan ngelirik, palingan cuma aku liatin aja." jawab Siska berbarengan dengan kakinya yang turun dari mobil.
"Eh!." Zidan jadi tergelak, hatinya tiba - tiba merasa panas.
Siska jadi tertawa kecil. "Kalau gak aku liatin nanti gimana aku ngelayaninnya? Masak sambil merem?."
"Pokoknya jangan ngelirik jangan ngeliat, aku gak suka." kata Zidan posesif.
"Astaga iya, iya, nanti aku merem! Ish!. Udah sana berangkat."
"Awas..." sekali lagi Zidan mengingatkan membuat Siska mengerlingkan matanya jengah.
Zidan melajukan mobilnya kembali. Meninggalkan Siska yang masih berdiri ditempatnya sambil melambaikan tangan. Dan setelah mobil Zidan jauh dan tak terlihat. Siska mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam gedung.
Aktifitas hari ini berjalan seperti biasanya. Siska menjalankan tugasnya melayani setiap pengunjung yang datang dengan ramah. Mungkin karna suasana hatinya sedang baik. Jadinya, meskipun para pengunjung sedang ramai. Tak sedikit pun dirinya merasa lelah. Malahan Siska jadi bersemangat. Sampai - sampai tak sadar kalau Zidan sudah duduk menunggu dirinya di salah satu kursi tunggu yang ada dihadapannya.
"Hm, fokus banget." Gumam Zidan dengan seutas senyum diwajah.
Zidan memainkan ponselnya. Lalu mencari nomor Siska yang sudah dinamai Wife dengan dua emotica love dibelakangnya.
Tombol hijau digeser. Bukan untuk mengganggu tapi hanya sekedar membuat misscall. Ya, siapa tahu istrinya itu lupa kalau tadi katanya mau cek lokasi untuk rumah masa depan mereka.
__ADS_1
Siska terlihat, memeriksa ponsel disakunya. satu panggilan tak terjawab dari Zidan tampak pada layar notifikasi ponselnya. Dan setelah itu, seutas senyum tipis hadir saat tak sengaja menangkap keberadaan Zidan.
"Sebentar, habis ini." Melalui bahasa isyarat Siska bicara dengan Zidan. Sementara Zidan mengangguk dengan senyum lembur dibibir.
"Yang." Setelah menyelesaikan sedikit urusan pekerjaannya, Siska datang pada Zidan yang sudah menunggunya sambil bersandar ke mobil.
"Udah?."
"Heem."
"Ayo."
Zidan dan Siska masuk kedalam mobil. Mereka kemudian mengenakan seltbell sebelum berangkat surve lokasi.
"Jadi ke daerah suwandak?." tanya Zidan memastikan lebih dulu sebelum melajukan mobilnya.
"Heem."
Mobil dijalankan. Mereka berangkat kelokasi yang dimaksud. Tak butuh waktu lama hanya sekitar setengah jam dari kantor Siska sampai akhirnya mereka pun sampai di salah satu kawasan perumahan yang Siska inginkan. Dan mobil pun dijalankan dengan kecepatan rendah agar mereka bisa memperhatikan daerah sekitar.
"Gimana? Menurut kamu disini? Cocok gak?." Siska tanya.
Perumahan itu bukanlah perumahan elit. Tapi rumah yang ada disana rata - rata punya halaman yang luas. Ukurannya sekitar 15 x 30 meter. Lumayan luas. Selain itu perumahan ini juga tampak sejuk karna banyaknya pohon tinggi yang rindang yang sengaja di tanam dengan jarak rata - rata 10 sampai 15 meter disepanjang jalannya. Soal jarak, sudah pasti sangat strategis karna ada di tengah. Ke kantor Siska, ke kantor Zidan, kerumah Bu Resti jarak yang ditempuh sama persis. Rata - rata cuma 30 sampai 35 menit. Kecuali kerumah orangtua Siska, masih sama saja. Karna memang letak rumah Siska adalah dipinggir kota.
"Em, enak juga sih. Paslah lokasinya." Zidan juga setuju dengan pilihan lokasi Siska.
"Nanti kan bangunannya bisa dibongkar terus dibangun lagi seperti yang kita mau. Terus kalau masih ngerasa kurang luas. Kita bisa beli lagi rumah yang sampingnya. Uang kamu cukup 'kan kalau seandainya kita beli satu lagi?."
"Jangankan beli satu lagi. Beli semua rumah yang ada diperumahan ini pun juga masih sisa banyak uangku." jawab Zidan begitu jumawa.
Zidan tak menjawab dia cuma menggendikkan bahunya sebagai tanda setuju. Emang itu kenyataannya. Uangnya memang banyak. Membuat Siska kembali mengerlingkan matanya. Sangking PDnya suaminya itu.
"Udah yuk, balik ke jalan yang sana. Disana tadi ada 2 yang gak ditempatin, cocok kayaknya."
Selesai cek lokasi. Dan selesai juga sedikit berbincang - bincang dengan orang sekitar untuk mencari info. Zidan dan Siska pun memutuskan untuk pulang ke apartemen.
"Mama belum pulang kayaknya." kata Zidan karna mendapati apartemen sepi.
"Mama katanya habis dari salon langsung pulang. Soalnya ternyata papa seminarnya cuma sehari. Nanti malem udah pulang, jadi mangkannya tadi buru - buru pulang." Siska menjawab saat dirinya menghempaskan tubuhnya duduk di sofa. Rasanya badannya sedikit lelah, padahal tadi saat kerja dia tak merasa capek sedikit pun.
"Oh."
Mengikuti Siska, Zidan juga duduk disofa tepat disamping istrinya itu.
"Yang." Siska menggeser tubuhnya dan memposisikan dirinya menghadap Zidan hingga atensi Zidan pun jadi tertujuh padanya.
"Yang, makasih ya, udah mau bikinin aku rumah." Siska berterima kasih dengan tulus pada Zidan.
"Kenapa harus bilang terima kasih, padahal yang aku lakuin itu karna emang sudah jadi kewajibanku."
"Ya karna itu, karna kamu mau menjalankan kewajiban kamu, aku harus terima kasih sama kamu. Aku merasa bersyukur banget punya suami yang gak lari dari tanggung jawab kayak kamu."
"Merasa bersyukurnya baru sekarang ya? Kalau dulunya ogah - ogahan banget kamu sama aku." Sindiran halus dilayangkan Zidan, ingatkan bagaimana sikap Siska dulu yang selalu meragukan dirinya.
__ADS_1
"Ya, gimana, emang nyadarnya baru sekarang." Tapi Siska tak merasa bersalah.
Zidan mendengus. Bibirnya sedikit menyungging senyum kecut.
"Habisnya kamu dulu gak meyakinkan. Deketin aku bukannya pakai cara serius membuktikan diri tapi malah suka godain aku. Kamu tahu gak? Kamu itu dulu nyebelin banget. Bikin aku tiap ketemu kamu jadi darah tinggi. Mana suka nyosor lagi."
"Ya habisnya kamu gemesin, jadinya aku gak tahan kalau gak godain kamu. Kamu itu, bikin aku candu sayang mangkannya gak enak kalau gak sambil nyosor." bisik Zidan dengan suara menggoda.
"Ish! Dasar, otak kamu mesum!."
"Mesum - mesum gini, tapi kamu sendiri juga suka kan dulu kalau aku cium, buktinya kamu gak pernah nolak."
"GR! Enggak!."
"Gak usah bohong. Kamu itu, tiap aku cium juga selalu bales. Bahkan sampai merem melek."
"Itu sih kamu yang gitu. Kamu yang suka merem melek kalau sama aku." Siska membalas, tapi ternyata bukannya menyangkal Zidan malah semakin menjadi.
"Emang, soalnya emang kamu begitu menggoda dimataku." Zidan mulai menggombal.
"Kalau deket sama kamu bawaannya pengen deket terus, pengen peluk sama cium terus."
"Kamu itu terlalu cantik sayang kalau dianggurin, jadi aku gak tega." Bahkan tangan Zidan mulai menyikap rok span Siska dan mengusap lembut paha Siska.
Siska tergelak, tawa kecilnya pecah dan wajahnya mulai memerah. Jujur, Siska begitu senang mendengar tiap godaan dan gombalan Zidan ini.
"Jangan mulai. Inget tarohannya."
"Mulai apa sayang? aku cuma bilang yang sejujurnya. Kamu itu emang bikin orang hilang akal. Bikin aku klepek - klepek sama kamu. Bikin aku cinta mati sama kamu."
"Ini tangan kamu ngapain?." Siska melirik tangan Zidan tapi tak berusaha sedikitpun menghentikannya meskipun semakin lama tangan Zidan semakin naik mendekati pangkalnya.
"I love you." bisik Zidan kemudian tepat ditelinga Siska hingga bulu kuduknya berdiri.
"Kamu wangi, bikin aku gak tahan."
Perlakuan Zidan ini jelas jadi merangsang gairah Siska. Dadanya jadi berdegup kencang karna sensasi panas yang berhasil bangkit. Apa lagi sekarang Zidan sedang tersenyum smirk sambil membuka bajunya yang tampak begitu seksi dimata Siska. Bahkan sampai - sampai Siska tak sadar sudah menggigit bibir bawahnya.
"Belum 2 minggu, masak kamu sudah gak tahan?." tanya Siska yang sebetulnya pertanyaan ini lebih cocok untuk dirinya.
"Kalau kamu gimana? Kamu tahan atau enggak?." Zidan bertanya balik, mendekati Siska dan mengkungkungnya agar Siska tak bisa kabur.
"Aku." Siska menelan ludahnya, bingung mau jujur atau tidak.
"Bilang sayang, kamu tahan atau enggak? keputusan ada ditangan kamu." Lagi - lagi Zidan berbisik. Sekarang tangannya bergerak membuka kacing dan resleting celananya hingga menyisakan boxer pendek pada tubuhnya.
Sekali lagi Siska menelan ludah. Tubuh Zidan adalah sebuah maha karya yang sulit ditolak. Apa lagi aroma parfum yang terendus semakin membuatnya terbuai. Siska pasrah, akal sehatnya sudah hilang jadi dengan cepat dia pun mengarahkan bibirnya untuk mencium Zidan. Tapi ...
Tuk!.
"Aduh!."
Satu jentikan mendarat di keningnya yang mulus. Dan seringaian jail muncul di bibir Zidan.
__ADS_1
"Mau apa kamu? Mau nerkam aku, padahal aku buka baju karna mau mandi lo, yang."