Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
36. Salah kira


__ADS_3

Zidan dan Siska dalam perjalanan pulang. Dan rupanya Siska sepertinya sedang kesambet mak kunti karna sedari tadi bibirnya tak bisa berhenti tertawa atau tersenyum. Rupanya ucapannya Caca tadi itu masih terus terngiang - ngiang dikepalanya.


"Sis,"


"M."


"Lo gak lagi gila 'kan?."


"Maksud lo?."


"Lo mau gue anterin ke RSJ dulu? dari tadi lo senyum - senyum sama ketawa - ketawa sendiri. Gue jadi khawatir sama lo." Zidan heran.


"Oh."


"Oh?." Ini Siska beneran gila kayaknya.


"Hahahhahaha!!! astaga..." Bahkan air mata Siska juga keluar saat ketawa.


"Ckckck! kayaknya lo beneran gila deh Sis,."


"Hahahha, kayaknya iya deh. Gimana dong?."


"Serius lo?."


"Iya, serius gue. Hahahha."


"Bentar, ini tadi, emang Caca bilang apa sih ke lo? kok lo jadinya sampai ketawa kayak gini. Sesuatu yang lucu?."


"Hahaha, lo mau tahu?."


"He'em."


"Beneran lo mau tahu?." Siska lebih meyakinkan lagi. Jangan sampai nanti Zidan malah malu sendiri.


"Iya, emang apa sih?."


"Serius lo mau tahu?."


"Aish! apaan sih lo?." Disini Zidan malah jadi curiga. Sepertinya apa yang diucapkan Caca menyangkut dirinya.


"Bentar, tunggu." Siska menghapus lebih dulu air mata yang mengalir karna terlalu lama tertawa.


"Tahu gak sih lo, kata Caca, lo kalau tidur masih suka ngompol."


"Hah? ngompol? maksudnya?."


"Ya lo masih suka ngompol. Gitu aja gak ngerti. Selain itu katanya lo kalau tidur juga ngiler sama ngorok, tadi gue juga dikasih liat video lo pas ngiler sama ngorok. Astaga, muka lo, sumpah, geli gue liatnya."


"Aiiishhh!!! si Caca ngomong gitu?." Jelas saja Zidan langsung geram dibuatnya.


"Iya, dia cerita gitu tadi. Astaga... gue sampai syok yang liat video lo, Gak nyangkah gue. Dibalik penampilan lo yang sok keren ternyata tersimpan jiwa tukang ngompol sama tukang ngiler. ckckckc!."


"Ck!." Zidan mendecak kesal. Fix. dia sudah ditipu Caca mentah - mentah.

__ADS_1


"Hahahaha, Zidan - Zidan, gila lo, udah tua juga masih suka ngompol."


"Aiishhh!! kayaknya gue perlu bikin perhitungan nih sama Caca. Dia udah ngomong yang enggak - enggak ke lo."


"Hahahaha, udah gak usah malu, sama gue juga. Eh, tapi bentar lagi lo jadi suami gue. Eh, entar lo jangan ngompolin gue, jijik gue!."


"Aiishh!! ck!." Lagi - lagi Zidan mendecak.


"Hahahaha."


"Eh, Sis, kayaknya lo salah paham deh sama maksudnya si Caca tentang ngompol ini. Versi ngompol lo sama versi ngompol yang di maksud Caca itu jelas beda." Zidan mencoba melipir perkataan Caca.


"Ih! mana ada perbedaan dari kata ngompol. Ya kalau ngompol ya ngompol aja kali, gak usah dikasih versi - versian."


Zidan kemudian mendengus dan tersenyum smirk. "Lo ini, polos banget sih jadi orang, ngompol yang dimaksud Caca bukan ngompol yang kayak biasanya, ngerti gak sih lo?."


"Maksud lo?." Entah kenapa pikiran Siska jadi traveling kemana - mana, tapi lebih banyak ke hal yang jorok pastinya.


"Masih mau gue jelasin? kayaknya dari ekspresi lo, lo udah paham."


"Aiishh!! gila lo, kalau beneran!." Siska pun paham, benar apa yang dibenaknya. Ini maksudnya ngompol, yaitu saat Zidan lagi mimpi basah gitu? Astaga.


"Ya emang kenapa? itu 'kan normal." Zidan malah tersenyum jail.


"Ish! dasar otak lo, emang beneran mesum kayaknya! Aaaiiishhh!!." Siska jadi mendecak geli. Tawanya juga seketika hilang begitu saja. Dan rasanya jadi iilfeel sendiri.


"Hahaha, jadi malu sendirikan lo, sedari tadi udah ngetawain gue. Gitu tuh kalau lo percaya sama si Caca, Si Caca itu emang udah niat mau godain lo, masak gitu aja lo gak ngerti."


"Ish!. Tau gitu gak gue kasih uang adek lo tadi." Siska menghempaskan tubuhnya kasar kesandaran jok.


"Iyalah, dia minta, ya karna udah nyenengin gue dan gak ngungkit peristiwa di kamar, ya gue kasih." Ucap Siska penuh penyesalan.


"Gue juga ngasih tadi. Aiishh!!."


Dan ternyata keduanya sudah jadi korban penipuannya si Caca. Ckckckc!.


"Eh, Dan, ini kayaknya lo kelewat jauh deh dari kontrakan gue." Siska yang baru saja memperhatikan jalan jadi tersadar kalau arah rumahnya sudah dilewati.


"Kita langsung ke bandara, pesawat gue jam 9."


"Loh? terus entar gue gimana pulangnya? bandara jauh, ini udah malem, taksinya juga mahal."


"Ya 'kan entar lo bisa bawah mobil gue. Lagian lo juga pasti butuh mobil 'kan buat ngurusin persiapan nikahan kita. Jadi biar entar enak gak ribet lo bisa bawah mobil ini."


"Hm, bilang aja lo pengen gue anterin ke bandara. Gak usah sok mau bawahin gue mobil."


"Hahaha, ya bener juga sih, tapi 'kan emang lo butuh juga buat wira wiri."


Sekitar satu jam perjalanan, akhirnya keduanya pun sampai di bandara. Zidan kemudian mematikan mesin mobilnya dan membuka bagasi belakang untuk mengambil koper. Sedangkan Siska pun juga begitu. Dia ikut turun dari mobil untuk mengantar kepergian Zidan ke jogja hari ini.


"Ini, jaga baik - baik jangan sampai lecet." pesan Zidan saat menyerahkan kontak mobilnya pada Siska yang sudah berdiri dihadapannya.


"Tenang, pasti gue lecetin sampai kira - kira kalau dijual bisa rugi banyak."

__ADS_1


"Hm, dasar. Lo ini gak bisa ya kalau setiap omongan gue gak lo timpal balik?." Zidan malah terlihat gemas.


"Ya kalau lo gak percaya sama gue, ngapain mobilnya lo serahin ke gue?."


"Iya deh terserah lo, wanita itu emang gitu. Gak akan pernah salah."


"Eh, kok jadinya malah rasis kesemua cewek?."


"Tuh 'kan? baru aja di iyain udah di tuduh lagi."


"Kan lo yang mulai."


"Ssttt!! stop, jangan berdebat lagi, gue udah mau berangkat."


Zidan dengan lembut meraih tubuh Siska. Dia kemudian menjatuhkan tubuh itu dalam dadanya untuk dipeluk.


"Eh, kenapa jadi peluk - peluk?." Siska protes.


"Soalnya udah kangen, padahal kita belum pisah." Sekarang malah ditambahi dengan kecupan singkat di kening Siska. Tapi anehnya Siska tidak melawan dan malah menyambut sikap hangat Zidan ini.


"Sis, bisa gak kalau mulai hari ini lo pulang ke apartemen aja?." Zidan sedikit menjauhkan tubuhnya agar bisa menatap Siska yang' ada dalam dekapannya.


"Hah? ngapain?"


"Gue kepikiran. Dikontrakan lo gak aman soalnya. Dan hari ini gue gak ada."


"Perasaan aman - aman aja deh selama ini. Lo jangan ngada - ngada, ya."


"Asal lo tahu, lo aman karna selama ini gue bayar Pak Wahyu dan keluarga buat jagain lo selama ini. Tapi besok Pak Wahyu mau mudik sekeluarga ke Tanggerang. Jadi mulai besok lo udah gak ada yang jagain."


"Maksud lo? lo bayar gimana?." Siska jelas merasa aneh.


"Ya gue bayar, gue kasih uang. Lo tahu berapa yang gue kasih ke mereka? 5juta. Dan itu demi lo."


"Ih, gue gak nyuruh juga."


"Ya kalau enggak, orang - orang yang biasa duduk di depan pos ronda deket kontrakan lo pastinya udah nerobos masuk, sayang."


"Oh ya? masak sih? kayaknya mereka gak bakalan gitu, mereka semua baik kayaknya:"


"Apanya yang gak begitu. Asal lo tahu aja, meskipun dulu masih bertiga, si Krisna sama Firman juga diam - diam bayar Pak Wahyu buat jagain kalian."


"Oh ya?." Siska baru tahu tentang fakta ini.


"Iya. Karna kalau gak gitu, gimana dengan kalian yang cuma cewek - cewek aja didalam rumah. Ntar deh, kalau lo gak percaya lo bisa tanya sama mereka. Jadi, kalau bisa nanti kemasin barang - barang lo terus tinggal di apartemen gue aja biar lebih aman. Oke? Lo masih inget 'kan paswod apartemen gue?."


Siska cuma manggut - manggut. Tapi sebelum itu, dia harus konfirmasi dulu ke Pak Wahyu soal apa yang yang dibilang Zidan. Jangan sampai dia sudah ke GRan karna Zidan bilang selama ini udah menjaga dirinya Eh, mala cuma akal - akalannya Zidan aja.


"Dan satu lagi. Jangan nakal. Jangan ketemu lagi sama Desta. Atau kalau enggak gue bakalan langsung terbang kesini buat nikahin lo."


"Ish! apaan si lo? belum apa - apa udah prosesif!."


"Ya emang kenapa? lo 'kan udah resmi jadi milik gue. Jadi gak ada salahnya dong kalau gue posesif?."

__ADS_1


"Ya, ya, ya, lelaki itu gak pernah salah." jawab Siska dengan ekspresi malas dibarengi dengan kerlingan mata. Membalas ucapan Zidan.


"Ish! dasar!."


__ADS_2