
Siska mendudukkan dirinya di kursi kebesarannya. Tangannya juga langsung secara otomatis menghidupkan komputer yang ada di meja kerjanya. Setelah itu matanya mengedar kesekeliling kantor. Masih sepi karna memang masih jam 6.30 pagi. Tapi dengan begini Siska jadi bisa sarapan dengan tenang ditempatnya.
Sambil sarapan. Siska memainkan ponselnya. Memeriksa sejenak ponsel tersebut takut ada yang menghubunginya.
Nihil, tak ada satu pun notifikasi yang diterima Siska. Tapi meskipun begitu Siska juga tampak biasa saja. Siska malah membuka latar pesan WA. Mengusap layarnya dan mencari nomor ponsel Zidan. Dan setelahnya jarinya bergerak aktif mengetik sesuatu.
"Kerja yang semangat, sayang. I love you." Tak lupa juga emotica love dan juga ciumannya. Ya siapa tahu Zidan bisa luluh setelah membacanya.
Dan nyatanya yang diujung sana, yang baru sampai kantornya dan memeriksa ponselnya. Memang sedang kegirangan. Zidan langsung senyum - senyum setelah membaca pesan dari Siska. Ah, dasar istrinya ini. Lumayan juga perjuangannya.
Siska menyelesaikan sarapannya. Menutup kotak bekalnya dan membereskannya dengan meletakkan kotak itu dibawah disamping tasnya.
Lagi - lagi pandangannya mengedar, masih pagi masih jam 7 kurang 10 menit. Dan kantor juga masih sepi belum ada yang datang.
Ya, dari pada sendirian didalam ruangan. Lebih baik Siska pun keluar, duduk di taman menunggu Raya datang.
Tapi saat keluar, suasana yang berbeda tersaji. Diluar sudah ramai. Para pengunjung sudah mulai berdatangan dan memenuhi area parkir yang terletak disamping gedung. Begitu juga dengan pegawai dispenduk lainnya. Juga sudah ada yang datang.
"Sis," suara Raya yang baru datang menyapa Siska.
"Woy."
"Tumben lo pagi - pagi udah duduk disini?." Dan Raya ikutan duduk disamping Siska.
"Iya, tadi datang kepagian gue, gak ada temen diruangan."
"Lah tumben pagi bener datangnya?."
"He'em, tadi berangkatnya bareng Zidan yang udah buru - buru harus ke kantor pagi."
"Weess, udah baikan nih? udah berangkat bareng lagi, cuy." Raya menyenggol tubuh Siska. Ikut seneng sekaligus sedikit menggoda juga.
"Belum sepenuhnya baikan sih, masih on proses. Tapi semoga aja bisa cepet baikan beneran." Tampak wajah sumringah yang diuraikan Siska. Ya karna emang itu harapannya. Dan Siska sudah gak sabar bisa baikan beneran sama Zidan.
"Cih! masih on proses aja tapi lo udah seneng gini." Raya geleng - geleng. "Eh, tapi, emang jadi lo apain si Zidan? kok bisa tiba - tiba ada progres gini?."
"Gue ngelakuin persis apa yang lo bilang. Deep talk dikit pas mau tidur semalam. Gue bilang kalau gue mau berubah dan mau buktiin kalau gue nyesel. Dan gue minta kesempatan kedua ke Zidan."
"Nah 'kan gue bilang apa. Pakai cara gue pasti manjur, dan ternyata bener 'kan?." Raya jadi merasa bangga pada dirinya sendiri.
"Iya, seketika itu juga gue jadi nyesel. Kenapa gak dari kemarin - kemarin gue cerita sama lo berdua biar gak lama - lama galaunya?."
"Kalau gini lo baru sadarkan kalau ternyata sahabat - sahabat lo ini berguna disaat yang tepat, disaat bukan cuma waktu lo seneng aja tapi waktu sedih juga!."
"Hee, iya ..." Siska pun nyengir.
"Ish! dasar lo!." Raya membalasnya dengan dengusan dan lengosannya.
__ADS_1
Dan Siska semakin nyengir dan menampakkan wajah tanpa dosanya.
"Ya udah kalau gitu, manfaatin dengan baik kesempatan dari Zidan ini. Tunjukin kalau lo emang nyesel sama sayang sama dia."
"He'em pasti gue manfaatin dengan baik, Ray. Mulai sekarang apapun bakalan gue lakuin buat Zidan."
"Ish! kayak beneran aja lo. Gak usah lebay!."
"Ini gak lebay Ray, gue emang sesayang itu kok sama Zidan." Aku Siska tanpa malu - malu lagi.
"Cih! sekarang bilang sayang kemarin kemana aja lo? Harus banget pakai drama ragu sama minum pil kb dulu baru sadar kalau ternyata lo bucinnya udah akut?."
"Hahaha, biarin aja deh ah, yang penting 'kan sekarang gue udah sadar perasaan gue gimana."
"Cih!."
"RAYA..."
Siska dan Raya menoleh kesumber suara. Diselah obrolan keduanya dari arah pintu gedung belakang ada Pak Sutris memanggil Raya.
"Ray, tagihan BPK, diminta jam 8 udah di kirim." Lagi, Pak Sutris melontarkan suaranya sedikit kencang pada Raya. Dan seketika itu juga mood Raya jadi jelek.
"Ish!." Umpat Raya dulu.
"Iya pak bentar." Jawab Raya pada Pak Sutris kemudian.
"Ish! BPK, BPK! ada aja permintaannya! Kesel gue diperiksa BPK mulu. Mana yang lain pada bimtek juga. Ish! alamat lembur berdua sampai malem lagi ini. Hiks!." Raya terlihat frustasi, bahkan sampai merengut dan juga menendang - nendang angin karnanya. Persis kayak anak kecil yang lagi ngerengek.
"RAYA..." Karna tak segera datang, Pak Sutris memanggil lagi.
"IYA PAK." jawab Raya dengan suara lantangnya.
"Ish! gak sabaran banget jadi orang!."
"Ya udah meskipun belum waktunya jam kerja, tapi gue harus start duluan. Jadi bye. Sampai jumpa di jam makan siang nanti." Pamit Raya dengan gestur malasnya meninggalkan Siska.
"He'em, semangat..." Dan Siska menyemangati ditengah dirinya yang butuh semangat juga.
Jam 8 kurang 10 menit. Siska pun kembali ke meja pelayanan. Disana sudah ada si Suci biang gosip yang bersiap melakukan pelayanan juga.
"Good morning, Siska."
"M, morning." Dengan sikap malasnya Siska membalas sapaan Suci.
"Hari ini gue ditugasin lagi disini bantuin lo. Dan itu gara - gara kroni - kroni lo yang ada disini harus pergi bimtek, jadi gue yang kena imbasnya." Belum apa - apa si Suci sudah mengeluh.
"Up to you lah."
__ADS_1
"Dan sekedar pemberitahuan juga. Hari ini cuma ada kita berdua yang ada digarda depan."
"Udah tahu."
"Daann... jam 11 nanti gue udah ijin buat masuk setengah hari. Jadi siap - siap ya, nanti siang cuma ada lo sendiri yang duduk disini." Dengan tampang menyebalkannya Suci ngomong.
"Mau kemana lo?." Kali ini Siska perlu tanya, bukan karna kepo tapi karna mau ditinggal sendiri. Gila aja kalau sampai sendirian dimeja pelayanan. Bisa - bisa pulang telat nanti.
"Gue mau ke rumah camer. Jadi mari kita nikmati hari ini. Oke?." Suci terkikik bahagia. Pamer juga sebetulnya karna punya camer.
"Ish!." Lihat betapa menyebalkannya si bigos satu ini. Rasanya pengen banget Siska buang ke laut biar dimakan hiu.
Dan benar, si Suci betulan meninggalkan Siska sendirian di meja pelayanan. Dan itu bukan di jam 11 siang seperti apa yang dikatakannya. Tapi di jam 10 pagi. Bener - bener nyebelin. Sampai - sampai Siska yang duduk sendirian di meja pelayanan harus merelakan jam makan siangnya demi mengejar antrian cepet habis.
Hari yang melelahkan belum berakhir. Setelah merelakan jam makan siang. Siska harus merelakan jam pulang kerjanya juga.
Dia harus menata dan memilah data lebih dulu dan menyetornya ke masing - masing bagian. Apa lagi diperbagian juga tampak sibuk sari biasanya karna pemeriksaan dadi BPK. Jadi di jam 7 malam Siska baru bisa mengakhiri aktifitas kerjanya tersebut.
"Huft!."
Siska menghempaskan badannya ke kursi kebesarannya. Rasanya lelah sekali bekerja sendirian begini.
Tapi sedetik kemudian, Siska tersadar. Akibat kesibukannya itu, Siska sampai lupa tak mengecek ponselnya sama sekali.
"Oh My God!." Dan, nyatanya ada 3 panggilan tak terjawab dari Zidan serta 1 pesan masuk juga.
"Kamu dimana? belum pulang? kok di apartemen gak ada?."
Siska langsung kebingungan. Badan yang tadi terhempas langsung tegak berdiri sambil meruntuki diri sendiri.
Gelisah dan gusar jelas iya, takut Zidan marah karna dia abaikan.
Sambil menggigit - gigit kukunya, Siska pun mencoba menghubungi Zidan kembali.
Tut...
Tut...
1 kali percobaan gagal.
Tut...
Tut...
2 kali percobaan gagal juga.
Siska pun akhirnya mengetik sesuatu.
__ADS_1
"Maaf, hpku mood silent jadi aku gak denger. Aku masih dikantor, mendadak harus lembur karna ada pemeriksaan dari BPK. Ini bentar lagi aku mau pulang."
Dan sedetik kemudian, Siska langsung mengayunkan langkahnya meninggalkan kantor dukcapil dengan tergesa - gesa. Sambil berharap semoga Zidan bisa memahami dirinya yang tak sempat membalas pesannya dan juga tak menerima panggilannya.