
Siska menuruti kemauan Zidan. Dia bergegas masuk ke dalam kamar untuk ganti baju. Dan sesaat kemudian dia keluar lagi sudah memakai celana jeans dan juga kaos oversise.
"Nah, gitu dong. Pokoknya selama kamu datang bulan, kamu dilarang pakai baju yang terbuka. Dan nanti kalau udah selesai datang bulannya baru deh terserah kamu mau pakai baju model apa aja atau kamu mau telanjang pun terserah, aku malah tambah seneng." goda Zidan dengan nada yang terdengar ngarep dan tingkah genitnya.
"Ih, itu kamu emang yang ngarep aku gak pakai baju! dasar! punya otak kok ya kotor banget, heran. Otak kamu ini kayaknya perlu deh, sekali - kali aku giling di mesin cuci biar bersih!." Dengan nada kesal Siska berseloloh.
"Hahaha, jangan dong sayang. Masak iya aku mau kamu giling dimesin cuci, emang aku baju kotor, udah ya sekarang jangan kesel lagi. Ini masih pagi sayang. Ayo sekarang buka mulutnya, aku suapin makannya. aaakkkk ..."
"Ih, apaan sih kamu, kamu kira aku anak kecil pakai acara suap - suapan segala? kamu ini kenapa sih? dari kemarin over banget ke aku? kamu yang biasa aja kenapa sih?." Siska memincingkan matanya. Ini Zidan sedari kemarin ada aja kelakuannya. Dia terlalu memberikan perhatian yang berlebih.
"Ini itu bentuk rasa sayang aku sama kamu, yang. Jadi nikmati aja, soalnya besok aku harus balik ke jogja." Ada raut wajah tak rela yang ditunjukkan Zidan saat itu. Ya, mereka baru kemarin menikah belum sempat menghabiskan waktu bersama tapi besok harus ke jogja dan gak ketemu untuk beberapa saat.
"Jogja? ngapain? kok balik kesana lagi? bukannya kemarin kamu bilang udah gak perlu balik lagi?." Siska yang baru dengar kabar ini sedikit kaget.
"Iya, soalnya ada sedikit masalah disana. Terus aku juga belum nemu orang yang pas yang bisa aku percaya. Orang kepercayaanku itu cuma Egi sama Azka. Dan disini Egi masih sibuk ngawasi rehab kantor kamu sama pembangunan rumah lainnya, sementara Azka baru aku tugasin buat proyek perumahan rakyat. Jadi sepertinya kita harus bertahan selama 2 bulan kedepan jauh - jauhannya sampai Egi selesai sama tugasnya dan bisa gantiin aku di Jogja."
"Oh." Siska manggut - manggut. Ada rasa sedikit kekecewaan dan tak rela dalam hatinya.
"Kemarin itu, sebetulnya Egi udah langsung aku tugasin ke Jogja dan udah mau berangkat hari ini. Tapi tiba - tiba kemarin mamanya sakit terus masuk rumah sakit jadi gak mungkin dia berangkat ke Jogja. Jadi akhirnya terpaksa, aku yang harus balik ke Jogja."
Siska masih manggut - manggut.
__ADS_1
"Kamu gak apa - apa 'kan kita LDRan lagi?." Sambil menatap lekat Siska dan juga menyugar rambutnya. Zidan mencoba meminta pengertian Siska.
"Ya, he'em, mau gimana lagi." Siska pasrah saja, ya mau gimana lagi.
"Sorry ya, padahal kita baru aja nikah tapi kita harus jauh - jauhan. Tapi nanti setelah 2 bulan, setelah proyek di Jogja selesai aku akan tebus semuanya dengan selalu ada disamping kamu."
Siska tersenyum tipis mendengar ucapan Zidan. "Terserah kamu aja."
"Tapi Sis, kamu mau gak? seandainya nanti kalau weekend, kalau kamu lagi gak capek atau lagi gak ada acara, aku pengennya kamu yang datang ke Jogja. Aku pengen kita bisa tetep ketemu saat weekend. Aku pengen kamu bisa temenin aku disana meskipun cuma sehari dua hari yang penting kita bisa ketemu terus bisa kangen - kangenan. Soalnya selama 2 bulan ini aku udah pasti gak bisa pulang kesini. Kemarin ada sedikit masalah juga soalnya di pembangunan stadionnya" Zidan berharap Siska mau mengambulkan keinginannya ini.
"Emang ada masalah apa?."
"Agak serius. Kemarin ada salah satu pekerja yang jatuh terus katanya agak parah, sekarang masuk ICU. Jadi ya sebagai pengembangnya aku harus standby disana takut ada sidak dadakan karna lingkungan kerja yang dianggap gak safety." Zidan menghela nafas berat. Dia juga duduk bergeser di dekat Siska dan memberikan pelukan dari belakang.
"Aku belum tahu detailnya seperti apa. Cuma katanya jatuh pas lagi ngelas besi penyangga tribun." Sekarang bahkan kepala Zidan ditompangkan ke atas pundak Siska.
"Ya tuhan, terus itu gimana?."
"Ya masih ditangani dokter. Moga - moga aja bisa cepet pulih." jawab Zidan, dimana fokusnya sudah mulai teralihkan dengan aroma wangi tubuh Siska. Jadi dia sedikit demi sedikit memberi sentuhan di leher Siska.
"Terus kalau kamu? kamu gimana? kalau sampai ada yang kecelakaan gitu, kamu nanti apa bakalan kena tuntut? atau gimana? 'kan secara otomatis ini jadi tanggungjawab kamu?." Siska malah jadi khawatir dengan nasib suaminya itu.
__ADS_1
"Aku gak apa - apa. Kalau aku, selama perusahaanku tanggungjawab, kita gak bakalan kena tuntut. Yang penting kita udah menjalankan prosedur 3K dengan benar, kita aman. Namanya pekerja proyek, kecelakaan kerja itu sebetulnya udah biasa karna memang itu resikonya. Tapi ya kita 'kan buat seminimal mungkin dan kalau bisa gak sampai kejadian buat mengurangi resiko itu. Tapi kalau pun ada, ya harus dijalani dan dipertanggungjawabkan. Jadi doain aja semoga gak ada apa - apa. Yang pasti sekarang anak - anak aku suruh pantau terus keadaannya pekerja yang jatuh itu sama aku suruh ngelakuin pendekatan sama keluarganya. Asuransinya juga udah langsung aku suruh klaim." Jelas Zidan agar Siska tak begitu khawatir dengannya.
"Syukur deh kalau udah bisa ditangani dengan baik." Siska sedikit lega.
Tapi kemudian rasanya ada yang tak biasa dengan kelakuan suaminya ini. Rasa - rasanya Zidan lagi sibuk menciumi lehernya dengan lembut sedari tadi.
"Zidan, kamu ini lagi ngapain sih?." Siska sedikit menjauhkan kepalanya, agar Zidan bisa berhenti mendengus lehernya.
"Lagi mencuri kesempatan dalam kesempitan?." Zidan jawab seperti biasanya dengan tampang polos dan tak berdosa dan kemudian menarik Siska agar bisa melancarkan aksinya lagi.
"Ish! minggir sana, entar kalau kamu gak tahan, aku juga kamu salahin!." Siska berusaha melepaskan dirinya dari dekapan.
"Hem." Tapi emang betul apa yang dikatakan Siska. Dia pastinya gak akan tahan. Jadi akhirnya dengan wajah nelangsa Zidan pun tanpa berusaha menghentikan Siska yang sekarang menjauhinya.
"Udah deh, ayo cepet makan. Mama sama papa udah nungguin kita." Siska yang melihat wajah Zidan berkomentar.
Ya Zidan pun cuma bisa menghela nafasnya berat. Malang bener nasibnya, baru nikah, gagal malam pertama, terus besok udah harus LDR. Ckckck!.
"Jadi gimana? kamu mau 'kan nanti kalau weekend datang ke Jogja?." Zidan memastikan lagi. Karna pertanyaan ini tadi belum sempat dijawab Siska.
"Iya, nanti aku yang kesana." Siska mengiyakan saja permintaan suaminya itu.
__ADS_1
Mendenger jawaban Siska, Zidan langsung tersenyum bahagia.
"Oke, mantap."