Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
92. Trauma Atau Memang Ragu?


__ADS_3

"Sis, jangan bilang lo beneran trauma?." Kali ini Feby bertanya dengan pandangan khawatir.


Jelas Raya dan Feby khawatir. Mengingat track record Siska dan Zidan yang dulunya pacaran dengan perasaan saling sayang tapi malah berakhir saling menyakiti sampai ada drama perselingkuhan.


"Trauma?." Siska malah balik tanya.


"He'em. Bisa jadi lo trauma." kata Raya.


"Kenapa bisa jadi trauma? Kayaknya enggak Ray. Ini itu murni karna emang aku kemarin belum siap. Aku ragu, aku takut bukan trauma."


"Ya karna lo ragu sama takut ini mangkannya gue bilang lo lagi trauma. Lo takut Zidan bakalan nyakitin lo lagi sama ninggalin lo lagi dan nyelingkuhin lo lagi. Gue ngomong gini, karna inget gimana kalian pas pacaran. Kalian sama - sama saling sayang tapi malah lomba selingkuh. Terus setelah itu, setelah putus sama Zidan, lo itu langsung bangun tembok tinggi banget, setinggi tembok castil ke semua cowok. Semua cowok yang deket sama lo, cuma bentaran doang kayak mobil di lampu merah. Kalau mereka udah minta skinskip lo langsung aja besoknya pusing cari - cari alasan biar bisa putus. Kalau lo tahu mereka deket sama cewek dikit aja lo juga langsung overthinking. Lo juga langsung minta putus secara sepihak tanpa nunggu atau dengerin alasan mereka. Lah dari situ, apa itu kalau bukan trauma namanya?." panjang lebar Raya menjelaskan semuanya.


"Oke, mungkin gue trauma, tapi kalau gue trauma kenapa gue bisa sama Zidan lagi terus nikah juga sama dia? harusnya 'kan gue sakit hati Ray? harusnya gue ngindarin dia biar gak sama - sama dia lagi. Tapi sekarang gue sama Zidan lagi." Untuk bagian ini Siska merasa sudah tidak benar kalau dirinya dibilang trauma. Karna gak mungkin juga orang trauma malah bisa kembali sama orang yang bikin trauma.


"Ya karna lo masih sayang dan cinta sama Zidan, Siska. Mangkannya lo bisa sama dia lagi, mau terima dia lagi, mau nikah sama dia, mau hidup sama dia walaupun dalam hati kecil lo ada rasa takut sama ragu." timpal Raya lagi yang begitu menggebu - gebu. Semoga Siska jadi sadar setelah dia ngomong gini.


"Jadi intinya apa Ray dari omongan lo ini?." Feby tanya.


"Intinya, kalau lo sayang sama Zidan buang jauh - jauh rasa ragu sama takut lo itu. Udah cukup punya pikiran pengecut kayak gitu. Ganti sama pikiran yang baik - baik." seru Raya.


"Gue setuju sama Raya. Bener Sis, lo harus bisa buang jauh pikiran pengecut lo sebelum semuanya terlambat. Minta maaf yang betul sama Zidan."


Siska pun diam. Dia sedang meresapi setiap ucapan sabahatnya itu.


"Tapi, kira - kira, mama sama papa lo tahu gak kalau lo minum pil kb?." Feby tanya.


Siska menggeleng memberi jawaban. "kayaknya mereka belum tahu."


"Kalau mertua lo?." Feby tanya lagi.


"Kayaknya juga sama. Soalnya Mama sama Papa bahkan Caca juga masih sama sikapnya ke gue, gak ada perubahan."


"Syukur deh kalau gitu. Atau mungkin emang Zidan sengaja gak mau cerita atau ngadu ke orangtua lo sama dia." ucap Feby.


"Oke, kalau gitu sekarang kembali ke inti paling inti. Kita cari solusi bersama biar masalah lo ini gak berlarut - larut." Raya mengingatkan tujuan awal mereka.


"Kalau menurut gue. Pertama lo harus berhenti ngutuk diri lo sendiri Sis. Kayak yang Raya bilang. Buang jauh - jauh pikiran negatif lo itu. Setelah itu ajak Zidan deep talk, minta maaf yang bener dan jangan ulangi kesalahan ini untuk yang kedua kalinya." saran Feby.

__ADS_1


"He'e, bener lo butuh deep talk biar apa yang ada dipikiran kalian berdua bisa sama - sama tahu. Lo tahu 'kan kunci keharmonisan suatu hubungan itu adalah saling terbuka."Raya menambahi.


"Tapi, seandainya gue sama Zidan udah ngomong terus sikap Zidan masih sama gimana Ray, Feb?." Siska khawatir kalau tidak dimaafkan sama Zidan.


"Em, kalau gitu jangan nyerah." timpal Feby.


Siska tak menjawab dia sedang menunggu kelanjutan dari ucapan Feby.


"Lo harus minta maaf sampai dia beneran maafin lo. Buktiin kalau lo emang menyesal. Dan tunjukin juga kalau lo sayang sama dia." tambah Feby.


"Caranya?."


"Pakai cara istri sholeha, Sis." Raya langsung nyeletuk. Dia baru saja dapat ilham.


"Istri sholeha?."


"Heem, coba deh siapa tahu mempan. Gue baru inget, dulu waktu Krisna ngambek gue pakai cara ini. Kasih Zidan perhatian lebih. Bersikap kayak biasanya seolah - olah gak pernah terjadi apa - apa. Siapin semua kebutuhan dia, mulai dari makan, baju atau hal sekecil apapun. Gue jamin pasti dia bakalan luluh."


"Kalau masih gak juga?."


"Hahaha, oke juga ide lo." Meskipun geli tapi harus Feby akui kalau idenya Raya ini adalah ide paling oke. Karna gak bisa dipungkiri, skinskip itu adalah cara paling ampuh menyembuhkan hubungan dingin dan merubah semuanya jadi lebih romantis dan harmonis.


Siska pun mengangguk. Dia cukup paham apa yang dimaksud oleh sabahatnya itu.


"Ya udah kalau gitu. Sekarang mending lo cepet balik deh, jangan sampai Zidan dateng duluan sebelum lo." Raya bukannya mau ngusir cuma dia pengen sahabatnya itu cepat melakukan apa yang udah dia omongkan.


"Thank ya Ray, Feb. Kalian meskipun tahu gue salah tapi kalian tetep ada disamping gue, bantuin gue, nenangin gue. Padahal kemarin karna ngerasa insecure, gue malu mau cerita sama kalian." Siska menatap kedua sahabatnya itu dengan tatapan penuh syukur dan dan juga terima kasih. Mereka adalah sahabat terbaik yang dimiliki Siska.


"Ya pokoknya lo gak jadi pengedar narkoba atau pembunuh aja deh Sis, gue tetep ada disamping lo disaat lo butuh." timpal Raya tak serius.


"Cuma pembunuh sama pengedar narkoba? Padahal kalau Siska jadi pelakor, gue bisa pastiin lo juga gak bakalan mau temenan sama dia lagi." timpal Feby yang sekarang malah bawah kata pelakor.


"Dih pelakor. Amit - amit deh, jangan sampai, jangan sampai. Apa lagi yang lo tikung si Krina atau Firman." Raya jadi begidik ngeri.


"Astaga, ini lo berdua kenapa pada nyumpain gue jadi yang aneh - aneh sih?." Siskanya protes.


"Gak nyumpain, cuma takutnya lo beneran mau jadi pelakor gara - gara gak bisa dapet maafnya si Zidan." jawab Raya.

__ADS_1


"Ish! gue gak gila ya Ray!."


"Ya siapa tahu tiba - tiba jadi gila." Si Raya masih nyaut aja.


"Ck! jangan - jangan lo juga yang udah siap - siap jadi pelakor, pumpung gue berantem sama Zidan, lo udah ambil ancang - ancang buat ngerebut dia dari gue." balas Siska dengan pincingan matanya yang terlihat sembab karna terlalu lama menangis tadi.


"Gue yang udah siap - siap. Bukan si Raya." Dan gak disangkah - sangkah si Feby yang jawab.


"Ish! lagi hamil inget, jangan ngadi - ngadi ngomongnya." Siska mengingatkan Feby.


"Astaga iya lupa." Langsung aja Feby nyengir dan ngusuk - ngusuk perutnya yang berisi bayi tapi masih rata.


"Hahaha, mati kutu deh lo." timpal Raya dengan tawa renyahnya.


"Lo juga jangan mikir macem - macem cuma gara - gara gak hamil!." Kali ini pada Raya.


"Ish! kenapa gue jadi kena omelan juga?." Raya protes. "Eh tapi ngomong - ngomong gue belum cerita ya Sis ke lo soal si Caca." Dan selanjutnya Ray mencoba serius lagi.


"M, kenapa si Caca?."


"Katanya Krisna si Caca kerjaannya oke. Dia beneran kerja, gak leha - leha."


"Bagus dong kalau gitu. Gak jadi malu gue sama Zidan karna udah nitipin dia."


"Tapi," Ucapan Raya berhenti dan spontan saja langsung membuat kening Siska mengernyit. "Kayaknya lo sama Zidan harus ngontrol dia. Dia kayaknya punya rasa deh sama Desta." imbuh Raya.


"Hah maksud lo?." Kening yang sudah berkerut pun semakin mengerut.


"Krisna curiga, Caca suka sama Desta dan sekarang lagi ngejar si Desta." Raya memperjelas ucapannya.


"Hah?." Siska sontak kaget.


"Yang bener deh Ray, terlalu over thinking kali si Krisnong." Feby nyeletuk sama - sama kaget waktu denger.


"Ih, ngapain juga gue buat - buat. Seriusan ini. Soalnya si Krisna udah beberapa kali mergokin juga. Mangkannya itu, Sis. Lebih baik lo temuin deh si Caca, tanya - tanya kek, lo pancing kek atau gimana terserah lo biar nantinya gak terjadi hal - hal yang gak diinginkan. Secara Caca masih ABG baru 17 tahun, tapi si Desta udah berumur. Ya meskipun umurnya masih 27, tapi kalau sama Caca gapnya bukannya terlalu kejauhan?." kata Raya sambil memperdengarkan pendapatnya.


Siska pun mengangguk. Sekarang otaknya kembali berpikir, harus melangkah bagaimana buat urusan Caca ini. Entahlah, kok rasanya Siska lagi berdiri ditali tipis yang kalau disenggol langsung jatuh.

__ADS_1


__ADS_2