Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
101. Desta dan Caca


__ADS_3

Krincing!!.


Suara lonceng pintu cafe terdengar. Seseorang dari luar baru saja mendorong pintu itu. Desta, menampakkan dirinya kemudian memasuki cafe tersebut.


Masih baru beberapa langkah masuk dalam cafe. Desta tiba - tiba menghentikan langkahnya. Nafasnya dihembuskan kasar dengan tangan mendecak dipinggang.


Dia sedang kesal, jengkel dan sebal minta ampun. Kepalanya rasanya panas. Ingin rasanya juga memaki tapi sebisa mungkin Desta tahan. Jangan sampai umpatan itu benar - benar keluar dari mulutnya sekarang. Karna bisa - bisa akan jadi tontonan orang - orang sekitar. Jadi sekali lagi setelah membuang nafasnya kasar demi lebih tenang, Desta pun berbalik untuk menatap intens pada Caca yang sedari tadi sudah mengekorinya.


"Ca!."


"Iya Mas?." Meskipun tahu Desta dalam kondisi kesal padanya, Caca tak ambil pusing. Dia malah menjawab ucapan Desta dengan memamerkan senyum termanisnya. Sungguh, hal inilah yang semakin membuat Desta keki saja.


Huft. Sabar. "Kamu mau pesen apa? Biar aku pesenin, tapi setelah itu kita bicara!." kata Desta dengan nada tegas.


"Em, es capucino, sama toast plus kentang goreng boleh? Aku agak laper soalnya Mas." Caca nyengir, tidak sedikitpun terintimidasi dengan sikap Desta yang tegas.


"Oke, kamu duduk sana!."


Caca nurut. Dia bergerak ke meja yang Desta maksud. Sementara Desta berjalan ke meja pesanan.


"Eh?."


Raya yang menangkap kehadiran Caca dan Desta pertama kali langsung mengarahkan seluruh atensinya pada mereka.


"Itu Caca bukan? Eh, ada Desta juga." Raya bertanya - tanya yang seketika direspon Siska dan Feby.


"Loh, iya." Feby menimpali.


"Ngapain mereka?" Raya tanya lagi.


"Ya mana gue tau, kok lo tanya ke gue?."


"Ish!." Raya langsung melengos karna jawaban Feby begitu. Dan setelahnya kembali ikut memperhatikan Caca lagi.


"Eh, kok gue jadi curiga?." Feby komen karna melihat cara pandang Caca ke Desta yang sedari tadi bisa dibilang lagi senyum - senyum gak jelas.


"Mereka udah jadian Sis?." Raya tanya.


"Mana gue tahu, Caca gak pernah cerita soal Desta." jawab Siska masih dengan tatapan yang tak lepas dari Caca dan Desta. Hati Siska jadi tak tenang akhirnya. Kalau sampai si Caca beneran pacaran sama Desta entah gimana reaksi Zidan nanti.


Ketiganya masih terus memperhatikan Desta dan Caca. Saat itu, Desta terlihat berjalan menghampiri Caca yang tengah menunggu dengan nampan ditangan.

__ADS_1


"Dari pada penasaran mending kita nguping!." ajak Raya tanpa babibu langsug menggeser posisinya, menarik Siska dan Feby mendekat tapi tetap berada di jarak aman.


Tak!.


Dengan sedikit kasar nampan tersebut diletakkan Desta di atas meja. Wajahnya masih kesal dengan hembusan nafas yang ikut jadi kasar.


"Ca!."


"Iya Mas?." Caca tersenyum santai.


"Mau sampai kapan kamu ngejar - ngejar aku?." Desta sudah tak ingin basa basi lagi.


"Sampai Mas Desta luluh?."


"Aku gak bakal luluh Caca!."


"Tapi aku yakin Mas Desta pasti luluh."


"Gak akan Ca, dan gak akan pernah luluh!." Desta menjawab lebih tegas lagi seolah tak ingin memberi kesempatan sedikitpun untuk Caca.


"Mas Desta yakin banget sih? Bikin aku semakin tertantang aja buat ngeluluhin Mas."


"Ca!."


"Please Ca, aku harus gimana biar kamu berhenti ngejar aku?."


"Mas Desta gak harus gimana - gimana, Mas Desta cukup nikmatin aja perhatian dari aku."


"Ca, please Ca, aku gak mau nyakitin kamu. Jadi tolong berhenti Ca. Tolong jangan kayak gini karna aku gak nyaman soalnya kayaknya kamu udah salah paham sama sikap baikku. Jadi please, mulai sekarang jangan salah paham lagi. Aku itu baik ke kamu karna kamu kerjaannya bagus. Selain itu kamu juga udah aku anggap sebagai adikku sendiri karna kamu adiknya Siska. Jadi tolong buang jauh - jauh perasaan kamu ke aku. Oke? Kamu pasti ngertikan apa yang aku omongin?."


"Mas Desta masih suka sama Mbak Siska?." Caca tiba - tiba tanya begini. Membuat 3 orang yang lagi nguping jadi semakin mempertajam kupingnya. Dan membeuat semuanya jadi saling pandang. Begitu juga dengan Desta dia jadi sedikit tersentak tapi untungnya dengan cepat langsung bisa menguasai ketersentakannya itu.


"Masih suka atau enggak, itu bukan urusan kamu."


"Jelas itu urusan aku, karna Mbak Siska itu sekarang kakakku, istrinya Masku. Jadi kalau Mas Desta masih suka atau ada rasa sama Mbak Siska mending buang jauh - jauh perasaan Mas itu dan cepet lupain Mbak Siska soalnya Mbak Siska udah bahagia sama Mas Zidan."


Desta menyungging senyum miringnya. Kepalanya juga geleng - geleng. Meskipun Caca gak bilang pun pastinya dia akan melakukan apa yang Caca omongkan tadi.


"Jadi Mas, buat ngelupain orang yang disayang itu gampang. Move on caranya, terus cari wanita lain. Dan wanita lain itu pastinya adalah aku." Dengan rasa percaya dirinya dan enteng sekali Caca menunjuk dirinya sendiri.


"Ca!." Desta memekik frustasi.

__ADS_1


"Mas, aku itu gak minta Mas Desta terima aku sekarang. Karna aku tahu aku mungkin masih terlalu kecil buat Mas Desta. Aku masih 17 tahun dan Mas Desta udah 27 tahun. Dengan perbedaan usia ini bagi banyak orang mungkin mandangnya kita kejauhan dan gak cocok. Tapi Mas, meskipun begitu, aku yang 17 tahun ini udah kuliah semester 5. Jadi aku udah dewasa dari pada anak - anak seusiaku, meskipun mungkin aku dewasa sebelum waktunya sih. Tapi gak apa - apa, untuk pertama kalinya aku gak nyesel jadi dewasa sebelum waktunya karna sekarang aku ketemu Mas Desta. Jadi Mas, aku mohon biarin aku ada disampingnya Mas Desta nunjukin perasaanku sama Mas Desta sampai nanti usiaku nginjak 20. Baru setelah itu, setelah umurku mateng kalau Mas Desta masih gak mau sama aku, aku akan nyerah dengan sendirinya, Oke?." ucap Caca panjang lebar mengutarakan isi pikiran dan hatinya berharap Desta mau mendengarnya. Seandainya tidak pun Caca tetap akan melakukan apa yang diucapkannya itu.


"Enggak Ca, gak bisa -."


"Terserah aku dong Mas, yang mau ngejar Mas Desta 'kan aku. Mas Desta kalau gak suka tinggal cuek aja ke aku, gak usah gubris. Anggep aja aku gak ada." Caca memotong ucapan Desta yang beluk selesai.


"Aish!-" Desta mendengus kesal dan umpatan sudah diujung mulut.


Caca yang tahu kalau Desta sudah kesal sekali pun langsung berdiri.


"Mas, aku harus pulang, udah sore. Sampai ketemu besok lagi, ya. Makasih makanan sama minumannya terus gak usah dianterin aku bisa pulang sendiri. Bye ..."


Kan? Tingkah Caca membuat Desta jadi mengerang frustasi. Pandai sekali Caca menghindari amarahnya. Aish!.


Caca pergi dari cafe, sementara Desta terlihat menyeruput es capucinonya dengan kasar. Setelah itu dengan wajah kesal dia juga kemudian bergegas pergi juga. Sekarang yang tersisa di cafe hanya ada 3 serangkai dengan wajah cengongnya.


"Cckck! gila, gak nyangkah gue kalau Caca punya sifat pantang menyerah plus sedikit nekad." Feby mendecak.


"Sis, terus gimana tuh?." Raya langsung tanya pendapat Siska.


Siska menggeleng lemah. Pikirannya jadi blank gak tahu harus gimana menghadapi situasi ini.


"Ah, gak usah dipikir." Feby yang jawab.


Raya dan Siska jadi berkerut dan menatap Feby yang sepertinya fine - fine aja.


"Astaga kenapa jadi ngeliatin gue gitu?."


"Ini masalah serius Feby, si Caca ngejar - ngejar Desta!." Raya memekik gemas.


"Ya terus emangnya kenapa?." jawab Feby.


"Hello, Caca masih ABG, Desta udah bapak - bapak!." Raya menimpal.


"Hello, yang lo pikir cuma itu?." Feby ikutan menimpal gemas. "Sis!" Kali ini pandangan Feby mengarah ke Siska.


"Gak usah dipikir, Caca udah gede, dia juga pasti udah ngerti mana yang terbaik buat dia dan mana yang enggak. Kalau dia ngejar Desta biarin aja, lagian Desta juga cowok baik - baik terlepas dari usianya. Cuma beda 10 tahun juga, masih finelah dan Desta sendiri juga masih keliatan muda, ganteng juga. Jadi jangan dipikir, biar apa kata Caca, lo cukup awasi aja. Nanti kalau dia udah bertindak gak wajar baru deh lo turun tangan." Imbuh Feby.


"Iya juga sih," Raya akhirnya ikut ngangguk - ngangguk cukup masuk akal juga ucapan Feby itu.


"Sekarang mending lo fokus sama diri lo sendiri. Kalau lo pengen hamil, pikiran jangan terlalu banyak beban, harus fresh dan mikie yang positif - positif aja. Oke?." Sekali lagi Feby mewarning.

__ADS_1


"Okelah." Siska pun mengiyakan saja ucapan Feby.


__ADS_2