
Mega sekali lagi tersenyum manis pada Zidan dan Siska setelah memberi ucapan selamat.
"Terima kasih ..." Siska yang masih belum tahu kalau Mega adalah mantan istri Zidan pun menyambut ucapan itu dengan senyuman ramah.
"Seneng rasanya bisa ketemu sama kamu secara langsung. Karna ternyata apa yang diomongin Zidan selama ini memang benar, kamu memang lebih cantik aslinya dari pada fotonya." Puji Mega pada Siska. Tapi entah kenapa ucapan Mega ini malah membuat ekspresi Zidan semakin mengeras saja.
Sejujurnya Zidan berharap, Mega tak akan pernah datang ke acara pernikahannya ini. Meskipun sebetulnya wajar sekali kalau Mega itu datang. Karna sekarang Mega sudah berstatus sebagai istri dari keponakannya sendiri. Tapi jika saja Mega punya sedikit rasa malu dan rasa bersalah padanya, harusnya 'kan dia memilih untuk tak hadir saja. Dari pada membuat suasana tak nyaman seperti ini. Bertemu dengannya dan juga Siska dihari pernikahannya.
"Hah? Oh ya?." Siska masih tersenyum, dari ucapan Mega, Siska malah menangkap kalau Zidan sudah sering menceritakan dirinya pada Mega.
"Iya, dulu aku pernah secara gak sengaja liat foto kamu." Ekspresi Mega seolah sedang mengingat momen kebersamaan antara dirinya dan Zidan. Dulu mereka pernah berantem karna foto Siska. "Dan ternyata emang benar, kamu lebih cantik aslinya dari pada di foto." Dan sekarang ekspresi Mega berubah, seolah itu hanyalah sebuah kenangan kecil dimana senyum kecil ikut menghiasi.
Siska hanya menanggapi ucapan Mega dengan senyuman.
"Zidan, aku turut bahagia sama pernikahan kamu. Aku doain semoga kalian bisa benar - benar bahagia. Aku harap, kamu juga bisa maafin perbuatanku selama ini." Ya dari ekspresi wajah Mega kali ini, dia seperti sedang mendoakan dan meminta maaf secara tulus pada Zidan.
"M, thank." Walaupun dengan wajah datar, Zidan paling tidak sudah menjawab.
"Sekali lagi selamat ya, Sekarang kita jadi saudara. Semoga aja kita bisa akrab, terlepas dari masalalu aku sama Zidan." Kali ini Mega kembali menatap Siska.
Siska mengernyit. otaknya lagi mencerna kata - kata Mega barusan. Terlepas dari masalalunya dan Zidan? maksudnya? What? Jangan bilang kalau wanita didepannya ini adalah mantan istrinya si Zidan?.
Siska menatap Zidan dengan pandangan bertanya.
"Iya betul, aku mantan istrinya Zidan. Namaku Mega. Terus sekarang aku sudah jadi istri keponakannya. Gak tau malu ya, aku datang kesini terus ngucapin selamat buat kalian?." Yang jawab malah Mega. Sementara Zidan cuma diam. Gak tau kenapa dia malah diam. Ekspresi wajahnya juga sulit banget diartikan.
"Oh, iya ..." Sangking bingungnya menanggapi, jadinya Siska cuma bisa tersenyum canggung.
"Maaf ya, kalau kamu merasa terganggu sama kehadiran aku. Aku gak ada maksud apa - apa. Aku cuma pengen ngucapin selamat sama minta maaf sekali lagi, karna dosa besar aku kemarin." Mega menjelaskan lagi.
Dan saat Mega baru saja mengaku sebagai istri keponakannya. Serta mengungkapkan tujuan kedatangannya. Sekarang sang keponakan yang sudah berstatus sebagai suami mantan istrinya itu menyusul keruang tunggu pengantin.
__ADS_1
Siska memandang intens pada Goldi, si keponakan Zidan. Lihatlah Goldi ini. Dia beneran masih muda. Masih remaja. Belum 20 tahun, tapi sudah jadi suami dan ayah. Membuat Siska speechlees. Ternyata ada ya kisah hidup kayak gini. Seumpama mau dijadikan film bagus kali ya... nanti judulnya, istriku main serong dengan keponakanku yang masih SMA? Atau Istri pamanku yang menggoda? Atau tergoda keponakan suamiku?. Eh...
"Bang, Selamat ya bang. Gue turut bahagia atas pernikahan lo." Goldi yang sedang menggendong sang anak, tersenyum dan menyapa Siska dan Zidan.
"M, thank." Zidan menjawab masih dengan nada datar.
"Mbak, selamat ya mbak atas pernikahannya." Kali ini Goldi menyapa Siska.
"Oh, iya makasih." Ya Siska harus tetap ramah, karna memang bingung harus gimana. Tapi kemudian fokusnya malah teralihkan pada sosok bayi perempuan yang ada di gendongan Goldi.
"Eh, dia ketawa..." Siska yang gemas, gak tahan kalau gak komentar. Lihat saja, bayi itu langsung tersenyum dan tertawa ketika matanya bertemu pandang dengan Siska.
"Ih, kamu kok ketawa - ketawa? emang tante lucu ya?." Siska mulai menyapa Viona. Dan Viona malah tambah seneng sampai menggerak - gerakan kaki dan tangannya. Seolah bilang minta gendong.
"Eh, kamu kok lucu sih? namanya siapa?." Bahkan Siska sekarang berdiri sangking gemasnya pada Viona. Membuat Zidan, sedikit mengernyit.
"Namaku Viona tante..." Yang jawab si Goldi, kalau Viona jelas gak mungkin bisa jawab. Tapi dia malah semakin lebar melepaskan tawanya karna disapa Siska.
"Boleh. silahkan."
"Gendong tante ya."
Dan Viona pun sekarang berada di gendongan Siska.
Sepertinya Viona, adalah sosok penyelamat ketercanggungan antara mereka. Karna Viona, Siska malah bisa mengobrol dengan santai dengan Mega dan Goldi. Sementara Zidan yang tadinya berwajah datar perlahan juga sudah mulai melunak. Setidaknya, tak akan ada benalu dalam pernikahannya dengan Siska kedepannya.
Belum puas bermain bersama Viona, serta mengobrol dengan Mega dan Goldi. Dari arah pintu, datanglah seorang pelayan WO yang memberitahu kalau sebentar lagi acara pernikahan akan dimulai. Jadi karna itu Siska pun mengembalikan Viona ke tangan Mega. Tapi yang terjadi Viona malah menangis gak mau berpisah dengan Siska.
"Eh, kok nangis?." Siska jadi tak tega.
"Hehehe, masih mau gendong Mbak Siska kayaknya." Goldi komentar.
__ADS_1
"Ya, terus gimana dong?." Siska malah jadi bingung.
"Gak apa - apa, bentar lagi juga diem kok. cup, cup, cup." jawab Mega sambil menenangkan sang Viona yang masih menangis.
"Eh, jangan nangis, masih mau sama tante ya? nanti lagi ya ..." Siska jadi tak tega.
"Gak apa - apa mbak, mbak kesana aja udah ditungguin banyak orang. Bentar lagi juga berhenti kok." Goldi nyaut.
Walaupun sedikit kepikiran dengan Viona yang lagi menangis. Siska pun tetap harus meninggalkan si bayi kecil itu.
Momen sakral dimulai.
Siska digandeng Pak Leo, berdiri dialtar. Dengan iringan musik dan juga tepuk tangan dari para tamu, secara perlahan Siska dan Pak Leo mulai berjalan kearah Zidan yang ada di podium.
Mata Siska dan Zidan saling bertemu. Tatapan cinta, sayang, bahagia seolah sedang sama - sama dituangkan oleh keduanya.
Tanpa bisa melepaskan pandangan pada sosok Siska. Rasa gugup sekaligus terharu jelas sedang dirasakan oleh Zidan. Raut wajah itu begitu gambang menjelaskan isi hatinya sekarang. Hingga tak terasa diujung kelopak matanya sudah menggenang sejumlah butiran bening.
Padahal ini bukanlah pernikahan pertamanya. Tapi entah kenapa, rasanya pernikahan ini seolah adalah pernikahan pertamanya. Hingga saat Siska yang sudah semakin dekat padanya, Zidan sudah tak bisa menahan lagi air matanya.
Air mata itu jatuh ke pipi. Dan Zidan segera menghapusnya. Sementara Siska yang menyaksikan ikut terharu dan mulai ikut berkaca - kaca. Sebegitu cintanya 'kah Zidan padanya? sampai - sampai harus menangis dihari pernikahannya ini.
Pak Leo dan Siska sudah berdiri dihadapan Zidan. Dengan perasaan campur aduk Zidan memeluk Pak Leo lebih dulu sejenak. Pelukan itu, seolah ucapan berterima kasih pada sang mertua karna sudah mengijinkan dirinya menikahi anaknya. Sementara Pak Leo membalas pelukan Zidan tadi dengan tepukan di punggungnya dengan hangat.
"Jaga baik - baik Siska." Pesan Pak Leo, dimana matanya juga sudah berkaca - kaca.
"Iya Pa. Pasti." jawab Zidan mantap.
Setelah pelukan dengan Pak Leo. Zidan menatap sekaligus tersenyum hangat pada Siska. Ditatap dengan hangat seperti itu. Air mata Siska pun menetes juga. Apa lagi, genggaman jemari Zidan yang lembut saat menuntutnya untuk berdiri didepan podium. Membuat hati Siska sulit sekali dijelaskan. Intinya dia merasa bersyukur dan bahagia. Seperti itu.
Sungguh, ini adalah sebuah momen haru sekaligus membahagiakan. Bahkan seluruh tamu yang menyaksikan ikut terbawa suasana hingga beberapa orang dekat pun ikut menangis juga. Apa lagi Bu Resti dan juga Bu Irna yang duduk di meja tamu. Mereka sedari tadi sudah menangis sesegukan saling berpegangan dan saling menguatkan. Begitu juga dengan 2 sahabat Siska, Raya dan Feby. Mereka juga ikut berkaca - kaca.
__ADS_1
Zidan mengucapkan janji sucinya. Begitu juga dengan Siska. Cincin kawin juga secara bergantian disematkan dijari manis masing - masing. Yang menandai bahwa keduanya pun sudah sah sebagai pasangan suami istri.