
"Habis ini kita mau kemana?." tanya Siska, saat mereka sudah berdiri di meja kasir restaurant guna membayar makanan yang tadi mereka santap.
"Kamu maunya kita kemana?."
"Kemanapun kamu pergi aku ngikut."
"Kalau gitu, balik hotel? gimana?." Lagi - lagi Zidan memulai aksi genitnya. Membuat Siska langsung jengah dan melempar tatapan bosan dan sinisnya.
"Gimana? ya ya ya?."
Tapi Siska jelas semakin melotot sebagai tanggapan.
"Hahaha." Zidan tertawa renyah. Tak bisa dipungkuri, rasanya jadi bahagia waktu menggoda istrinya ini. Bawahannya jadi gemes.
"Lama - lama beneran aku laundryin otak kamu ini biar gak ngeres terus, kesel aku lama - lama sama kamu!."
"Hahaha, ya gimana dong sayang, kamu ini terlalu mempesona dimataku jadi kalau liat kamu bawaannya aku pengen ngajakin kamu ke kasur terus."
"Ish! kayaknya sekali - sekali kamu butuh tabokan dari aku lagi biar gak macem - macem. Sekalian juga biar kamu gak ngelunjak. Ih!."
"Ahhhh!!." Dan satu pukulan keras beneran mendarat di dada bidang Zidan.
"Astaga, jadi mukul beneran."
"Biarin! mangkannya kamu ini suka banget godain aku."
Diselah obrolan mereka, seorang kasir kemudian memberikan bill bukti pembayaran pada Zidan. "Oke thank you."
"Ayo sekarang kita mau kemana?." tanya Siska. "Jawab yang bener! jangan minta balik hotel, kalau enggak aku bakalan ngeluyur sendirian!." ancam Siska yang mulai melangkah keluar dari restaurant bersama Zidan setelah urusan bayar membayar selesai.
"Ngancem segala, kayak kamu berani aja."
"Ya emang kenapa gak berani? kamu nantangin aku?." tanya Siska tak terima kalau diremehkan.
"Iya, kalau emang berani silahkan pergi sendiri. Inget, disini uang rupiah gak laku." kata Zidan, yang pasti langsung membuat Siska jadi mati kutu. Maklumlah ya, kemarin yang nukarin uang cuma Zidan aja dirinya enggak.
"Ish!!! kesel aku sama kamu!." Dan semakin merajuklah Siska akhirnya. Bikin Zidan semakin puas.
"Hahahaha, udah, udah cup, cup, cup jangan sedih lagi. Kayak Javina aja mukanya cemberut gitu."
Demi melampiaskan rasa kesalnya. Lagi - lagi Siska pun memukul dada Zidan, meskipun pukulannya kecil.
"arrgghh! stop jangan mukul aku terus, sakit tahu sayang."
__ADS_1
Tapi Siska masih tak peduli. Masih tetap memukul kecil.
"Iya, iya. Udah yok, ayo jalan. Kamu kok jadinya gak sabaran gitu sih?." Zidan yang gemas pun tak bisa tak menggapai tangan Siska yang sedari tadi mengayunkam pukulannya. Tangannya itu kemudian digenggam lembut disertai cubitan kecil dipipi Siska karna gemas.
"Yang bikin orang gak sabar siapa coba?." Siska melirik sinis.
"Iya, iya enggak, aku cuma bercanda tadi. Gitu aja langsung ngambek."
"Ish! tahu ah!." Siska pun menghempaskan tangan Zidan yang menggenggamnya.
"Hehehe, iya maaf. Maaf tuan putriku yang cantik. Ya udah yuk, kita ke opera house aja gimana? nanti kita bisa keliling - keliling disana jalan - jalan liat memandangan laut, terus ke jembatan harbour, ke pelabuhan darling terus naik kapal fery habis itu kalau ada pertunjukan, kita juga bisa lihat. Pokoknya seharian ini kita jalan - jalan. Gimana?." tawar Zidan agar istrinya itu tak lagi ngambek padanya.
"He'e. Ayo."
Zidan pun tersenyum lembut karna berhasil mengembalikan mood Siska lagi. "Oke, sekarang ayo kita cari taksi dulu."
Zidan dan Siska pun berangkat ke opera house menggunakan taksi.
Hiruk pikuk kota Sydney sedang tersaji lewat jendela kaca taksi. Pemandangannya begitu mempesona dan menakjubkan dimata Siska.
Disepanjang jalan, Siska tak henti - hentinya menengadakan kepalanya dan menyenderkan kepalanya pada jendela yang kacanya sudah dia buka selebar mungkin agar lebih bisa menikmati suasana.
Sekitar 1 jam perjalanan, akhirnya taksi yang dinaiki mereka pun sampai di pelataran pelabuhan darling harbour. Ucapan terima kasih beberapa kali di ucapkan Siska dan Zidan karna tadi si supir sudah mau membiarkan kaca mobilnya terbuka disepenjang perjalanan, padahalkan sekarang sedang musim dingin.
Sambil bergandengan tangan Zidan dan Siska menyusuri pinggiran pelabuhan. Langkahnya kemudian berhenti diloket pembelian tiket kapal fery.
"Gimana pemandangan disini? kamu suka?." tanya Zidan.
"He'em suka banget."
"Bagus ya?."
"Bagus banget. Di Indonesia gak ada soalnya yang kayak gini." jawab Siska dengan pandangan masih terkagum - kagum pada keindahan Sydney.
"Ya kalau di Indonesia ada, ngapain harus jauh - jauh ke Sydney sayang. Cukup di Indonesia aja."
"Kalau aku, meskipun seandainya ada, kalau punya duit gak ada salah juga 'kan kalau mau kesini lagi."
"Emang kamu masih mau balik kesini lagi?."
"Gak mau."
"Lah kenapa gak mau? tadi kayaknya bilang mau balik?"
__ADS_1
"Ya dari pada balik kesini mending pergi ke negara bagian lain, biar bisa nambah koleksi feed liburan keluar negeri, habis Sydney, ke Amerika, ke Eropa, Ke Afrika. Kan keren tuh."
Zidan mengurai tawa kecilnya. Intinya dari jawaban Siska, dia mau pamer aja gitu.
Untuk sejenak keduanya pun diam. Dan saat diam Zidan memanfaatkan momen ini untuk mengeratkan pelukannya dan mencuri beberapa kali ciuman agar suasana romantis tercipta.
"Kalau kamu sebelumnya, udah pernah kesini belum?." tanya Siska kemudian setelah tadi sejenak hening menikmati suasana.
"Pernah."
"Kapan?."
"Em, dulu pas SMA, waktu kita baru putus karna kamu selingkuh." jawab Zidan yang tak disangkah - sangkah sama Siska.
Tunggu, kamu bilang apa tadi? aku selingkuh?." Siska pun menengadakan kepalanya agar bisa menatap lekat Zidan.
"Iya, emang dulu pas kita pacaran kamu selingkuh 'kan?." ulang Zidan dengan mudanya.
"Perasaan yang selingkuh bukan cuma aku aja deh. Kamu dulu juga selingkuh." Jelas Siska tak terima kalau dituduh hanya dirinya yang selingkuh, padahal Zidan sendiri juga selingkuh dulu.
"Aku gak pernah selingkuh, kamu udah salah paham. Yang selingkuh itu dulu kamu. Bukan aku." Dengan sikap santainya Zidan menjawab.
Siska menggeser badannya sedikit menjauh untuk melepaskan pelukan dari Zidan. Rasanya pembahasan ini perlu ruang untuk saling bertatapan. Masalah sensitif ini soalnya.
"Salah paham? salah paham gimana maksud kamu? orang jelas - jelas aku liat kamu mesrah - mesrahan sama Ayu, boncengan motor, peluk - pelukan, pegangan tangan. Ish!!!." Kalau ingat kejadian itu, rasanya Siska jadi kesal sendiri. Bahkan tubuhnya langsung dihempaskan begitu saja di pembatas kapal sangking kesalnya.
"Perasaan dulu aku pernah jelasin deh ke kamu kenapa aku bisa boncengan sama Ayu? dulu kamu tahu 'kan Ayu lagi sakit, jadi aku yang disuruh nganter ke rumah sakit sama Pak Isman. Jadi mau gak mau aku harus nganterin Ayu, ya kalau dia gak meluk aku bisa - bisa jatuh dia waktu naik motornya."
"Alesan!." Siska tak bergeming. Dia masih tetap kesal bahkan melengos begitu saja sama Zidan.
"Tapi, dari pada aku yang cuma goncengan sambil pelukan kamu lebih parah. Kamu malah ciuman sama Koko." ucap Zidan ikut kesal sendiri setelah ingat kejadian dulu.
"Ya itu 'kan karna kamu yang mulai main api sama aku. Setelah goncengan sama Ayu kamu terus - terusan sama dia. Kamu gak peduliin aku lagi."
"Cih! yang suka main api itu kamu. Kamu itu dulu keganjenan jadi cewek. Mangkannya itu ya aku bales kamu."
"Tunggu kamu ngomong apa?." What? Zidan ngomong apa? Dia lagi ngatain dirinya ganjen gitu?. Gak salah dengarkah Siska?.
"Kamu dulu gatel. Suka nemplok sana nemplok sini kesemua cowok."
"Hah?." Siska mengagah sangking speechleesnya dengan ucapan Zidan ini yang bilang dirinya gatel.
"Iya 'kan bener 'kan kataku. Dulu kamu suka banget bareng sama cowok - cowok. Ketawa sana ketawa sini, senyum sana senyum sini. Sampai kamu juga lupa kalau kamu udah punya aku."
__ADS_1
Siska yang kembali tergelak dengan tuduhan Zidan. Astaga rasanya semakin kesal saja.
"Oh, jadi sekarang kamu mau ngungkit masa lalu gitu? Kamu sekarang mau kita berantem, gitu? ayo aku tantangin kamu kalau kamu mau ngungkit masalalu. Asal kamu tahu ya, aku dulu selingkuh juga karna tingkah kamu yang selalu nuduh - nuduh aku gini. Kamu gak pernah bisa liat aku ketawa atau senyum ke orang lain. Kamu batasin ruang gerak aku ketemu temen - temenku. Setiap orang yang deket sama aku besoknya langsung kamu hampirin terus langsung kamu hajar. Terus sekarang kamu ngatain aku ganjen, aku gatel. Aiiissshhh!!! sadar gak sih kalau kamu itu udah keterlaluan banget sama aku? Nyesel tahu gak sih kalau gini aku balik sama kamu terus nikah sama kamu." kata Siska yang kemudian pergi begitu saja dari hadapan Zidan.