
"Eh ... Eh .. Oeeekkkk ..."
Javina mulai merengek.
Bibirnya mulai menyebek - nyebek bersamaan raut muka yang hendak menangis tapi masih terlihat menggemaskan.
"Oeeekkkk ..."
Suaranya mulai menggelegar bersama gerakaan tangan dan kaki yang sudah tak sabar. Entah si bayi kecil ini lagi minta apa, minta gendong, minta susu atau sudah mulai ngantuk. Intinya nangis aja.
"Eh, kok nangis anak mama." Villa dengan telaten langsung menggendong Javina dengan sayang.
"Kok nangis sayang, mau minta cucu ya Javina." Siska ikutan ngomong.
"Cup, cup, cup, sayang." Villa pun mulai membuka beberapa kancing bajunya untuk memberikan ASI pada Javina. "Sayang, cup, cup, cup. Udah ngantuk ya? mau bobok ya anak cantik.?"
Si bayi mulai menyesap ASI. Dan Villa mulai mengusap halus kening sang bayi dengan sayang.
Siska tampak memandangi Villa dan Javina. Pandangannya tampak menerawang pada sosok Villa yang tersenyum damai menyusui Javina. Dan Javina yang terlihat antusias menyesap susunya dari payu**ra sang ibu.
Entah kenapa dirinya jadi membayangkan kalau yang diposisi Villa itu adalah dirinya. Apa mungkin jika dirinya punya anak nantinya dia akan seperti Villa yang merasa bangga dan bersyukur?.
Apakah benar dirinya akan merasa senang dan sedamai raut wajah Villa sekarang saat memberikan ASI pada anaknya? Tapi rasa - rasanya Siska merasa yakin sekali kalau di akan seperti Villa. Akan menyayangi anaknya dengan setulus hati.
Tapi,
Persoalannya adalah Zidan.
Iya Zidan.
Kira - kira suaminya itu akan sayang dan tulus juga 'kah pada dirinya dan anaknya nanti. Siska masih ragu soal itu. Soal ketulusan Zidan. Gak tahu kenapa hatinya masih belum bisa 100% pada suaminya itu meskipun sudah berulang kali diyakinkan.
__ADS_1
Sejumlah prasangka dan keraguan masih mengakar di otak dan hati Siska. Mengingat lagi pernikahan yang mereka lakoni ini kemarin begitu tergesa - gesa.
Benarkah Zidan sayang padanya? benarkan Zidan cinta padanya? benarkan Zidan memang menginginkannya? Atau semuanya itu sebetulnya cuma nafsu tapi disalah artikan menjadi cinta.
"Kalau Ery gimana? Dia setelah punya anak bahagia atau enggak? dia makin sayang gak sama kamu sama anaknya juga?." Siska tanya. Pertanyaan ini mungkin tidak seharusnya dia tanyakan karna terlalu masuk rana privasi, tapi entah kenapa Siska penasaran akan jawabannya. Dan ingin mencari sebuah validasian untuk dirinya sendiri.
"Jelas, Ery seneng dan bahagia. Bahkan sangking senang dan sayangnya dia sampai rela berkorban. Ery tiap malam kalau Javina bangun, dia yang selalu nemenin jagain. Bahkan sekarang gara - gara ada Javina kalau siang, makan siangnya Ery milih pulang, kerumah. Dia juga jarang lembur dikantor. Kalau pun butuh lembur semua kerjaannya dibawah kesini biar bisa nemenin kita. Pokoknya bikin aku seneng terus tambah cinta sama dia." jawab Villa sambil tersipu, memperlihatkan rasa bahagianya.
Dan pastinya jawaban Villa ini membuat hati Siska jadi terpancing. Mungkinkan Zidan nanti seperti itu. Perhatian dan sayang sama dirinya dan anaknya?.
"Intinya semaunya berubah sejak ada Javina. Ery jadi lebih perhatian. Mama sama papa juga lebih sering nginep disini buat nemenin kita. Dan sekarang, kalian bahkan mau datang kesini juga. Mangkannya sekarang aku jadi seneng dan gak ngerasa kesepian lagi. Ternyata, semuanya gara - gara malaikat kecilku ini. Dia masih kecil tapi udah bisa memberikan kebahagiaan buat mamanya. Jadi, kamu kalau bisa jangan nunda -nunda punya momongan, karna mereka pasti akan membawa suatu keberuntungan sama kebahagiaan tersendiri buat kita."
Siska pun lantas menguraikan senyumnya. Ada rasa sedikit tercubit dan tersindir juga dihatinya. Ingat, Siska sekarang sedang menunda kehamilan dengan cara minum pil kb.
"Tapi itu juga terserah sama pribadi masing - masing sih, mungkin masih pengen menikmati masa - masa berdua, atau karna punya alasan tersendiri jadi harus ditunda sampai bener - bener siap buat punya anak dan jadi ibu. Jadi jangan dipikir ucapanku." Villa ngomong seolah dirinya bisa membaca pikiran Siska yang sedang menunda punya momongan.
Dan sekali lagi Siska cuma bisa senyum canggung, pasrah, mengiyakan intinya seperti itu.
"Iya, cepet banget ya, kok pinter gak rewel?." tanya Siska dengan senyum tabjubnya, Si Javina bisa langsung lelap tidurnya tanpa ada drama bayi ngerengek dulu,
"Malu mungkin karna ada kamu, jadi stelannya stelan mood pinter." kata Villa sambil terkikik kecil.
"Hehehe, iya ih. Ih Jevina kecil - kecil pinter ngedrama ya ternyata." Siska ikut terkikik.
"Ya udah sebentar ya aku taruh dulu dia. Kita ngobrolnya lanjut diluar aja biar dia gak kebangun." kata Villa yang kemudian meletakkan si bocil di dalam box bayinya.
Disisi lain, diruang tengah. Para lelaki juga tampak asyik mengobrol. Di meja juga sudah tersaji beberapa macam makanan ringan dan juga wine maupun bir untuk menemani kegiatan ngobrol mereka yang rencananya akan dilangsungkan semalam suntuk itu.
"Buat honeymoon besok pas di Sydney apa perlu om carikan guide buat kalian? biar liburannya enak ada yang ngarahin jadi kalian gak perlu bingung mau kemana." tanya Om Robet pada Zidan sambil menepuk bahu keponakan yang tengah duduk disampingnya itu.
"Gak perlu Om, nanti jadinya gak bebas. Jadinya malah liburan bukan honeymoon."
__ADS_1
"Gak bebas gimana, guide kan cuma ngarahin sama nganterin. Kamu 'kan gak tahu Sydney itu seperti apa, tempat yang bagus yang mana. Jadi kalau ada guide kan enak bisa tanya - tanya."
"Ya justru karna itu Om jadinya gak enak. Kalau urusan mau jalan - jalan kemana kita nanti bis naik taksi Om pasti juga diantar sampai tujuan. Terus juga palingan kita acaranya lebih banyak di hotelnya dari pada jalan - jalannya. Jadi gak perlu guide - guidean Om."
Tanpa dijelaskan pun Om Robet dan Ery sudah langsung paham apa yang dimaksud Zidan.
"Hahaha, iya iya betul - betul. Apa yang kamu bilang emang betul." Seketika Om Robet langsung tertawa.
"Ckck! dasar lo Dan, honeymoon emang yang penting acara didalam hotelnya sih. Bener - bener pokoknya.." Begitu juga dengan Ery juga langsung ngakak.
"Ya 'kan gue harus ngejar ketertinggalan dari lo. Masak lo udah punya Javina gue belum apa - apa."
"Hahaha. Ternyata iri juga lo ama gue karna punya bidadari kecil duluan."
"Ya iyalah Er, jelas. Gue juga pengen kali punya yang lucu - lucu kayak Javina."
"Ya kalau gitu kamu harus berusaha yang kenceng Dan, biar bisa cepetan punya. Besok langsung dijosss." Kali ini Om Robet yang nyaut.
"Kalau itu selalu Om, tapi gak tahu kenapa susah banget menghasilkannya. Kira - kira Om Robet ada solusi gak? ini kita menikah udah jalan mau 5 bulan tapi sampai sekarang masih belum ada tanda - tanda sama sekali Om. Atau kalau Om tahu obat yang bagus disini aku mau deh Om." Ada nada kekecewaan, kekuatiran serta harapan diucapan Zidan ini.
"Kalau kamu mau obat ya kamu harus periksa ke dokter Dan, konsultasi tentang kesehatan sama kondisi kebugaran kalian, atau kamu minum minuman herbal yang bisa menyehatkan dan menyuburkan. Selain itu kamu juga harus berdoa biar sama tuhan cepet dikasih keturunan." Kata Om Robet sedikit memberi nasehatnya.
"Gue aja nikah dapat 2 tahun Dan baru dikaruniai Javina. Lo yang baru 5 bulan nikah jangan baper. Harus sabar." Ery nteletuk.
"Ya bedalah Er, lo dulu setelah nikah 'kan LDR, tapi setelah gak LDR langsung hamilkan istri lo."
"Oh iya juga sih, gue LDR 1 tahun, habis itu 9 bulan kemudian Javina lair." Runtut Ery yang sekarang merasa sadar kalau ternyata dirinya bisa cepat juga punya anak.
"Ya yang sabar, mungkin calon anak kamu masih tunggu mama papanya honeymoon dulu. Mungkin dia lagi nyuruh mama papanya buat menikmati waktu bersama dulu. Soalnya kalau dia udah muncul pastinya setelah itu bakalan susah punya waktu buat berduaan." Sekali lagi Om Robet memberi nasehat dengan bekal pengalaman pribadi.
"Iya Dan, kuncinya itu harus sabar sama terus positif thinking. Jangan stres biar bibit yang lo keluarin tetap sehat, oke?." Ery menepuk paha Zidan untuk menenangkan juga.
__ADS_1
"Dan terus Er, ini minuman keras ini singkirin aja jangan diminum. Malam ini kita ngobrol minum jus aja biar besok bulan madunya Zidan lancar. Kalau ada wine sama bir bisa - bisa mabuk dia, gatot entar honeymoonnya terus gak jadi - jadi Zidan juniornya." kata Om Robet.