Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
14. Kecelakaan


__ADS_3

2 jam perjalanan. Mulai dari sekitar jam 5.15 menit hingga jam 7.15 menit, akhirnya mobil Zidan sampai di kantor dukcapil. Disepanjang perjalanan tadi keduanya tak mengobrol sama sekali. Bukan karna apa, tapi karna Siska yang tidur disepanjang perjalanan.


"Ckckc!" Zidan mendecak dan menggelengkan kepala, bibirnya ikut tersenyum simpul. Lucu bukan? Tadi Siska menolak mentah - mentah ikut mobilnya, tapi nyatanya malah menikmati perjalanannya sampai terlelap dengan posisi tiduran memeluk bantal.


"Sis, ayo bangun, ini udah sampai." Dari kursi kemudi, Zidan menggoyang tubuh Siska yang melungker.


"Hmmmm!!!." Kali ini langsung direspon. Siska mengulet dan perlahan membuka matanya.


"Udah sampai, ya?" tanyanya kemudian dengan setengah nyawa.


"Iya, ayo bangun."


Siska mulai bergerak bangun dari posisi tidurnya. Dan setelahnya, dia mulai merapikan rambut dan riasannya kembali.


"Oh ya, tas gue mau lo balikan kapan? gue udah gak punya uang sama sekali, jadi gue minta lo tepatin kata - kata lo ke mama tadi." todong Siska sebelum keluar dari mobil.


"Em, perasaan gue udah pernah bilang deh gimana caranya buat ambil tasnya." Kan? Zidan memang gak berniat buat balikin tas Siska. Tadi jelas - jelas dia cuma bohong bilang mau balikin ke mamanya.


"Zidan! please, gue gak lagi bercanda. Uang gue udah beneran habis. Lo mau gue mati kelaparan, ya?"


"Ya sama, gue gak lagi bercanda, kalau lo mau tas lo, ya lo ambil sendiri dong ke apartemen gue. Lagian cuma datang ke apartemen gue apa susahnya sih?" kata Zidan seolah itu hal yang muda. Hello! datang ke apartemen kamu, itu sama aja bunuh diri bambang.


"Buat yang terakhir kali, gue mohon sama lo, please tolong balikin tas gue. Gue udah skarat beneran, nih." Siska memohon, dengan wajah semelas mungkin, minta belas kasian, semoga dengan seperti ini Zidan bisa terlena.


"Royal philip. Paswodnya tanggal lahir lo, 140295." Zidan malah memberi paswod apartemennya.


"Arrrggghhhh!!!." Siska kembali berteriak frustasi. Sudahlah apa yang diharapkan dari Zidan, yang pasti cowok satu ini gak bakalan mau ngalah.


"Lo! tunggu aja, gue bales lo, lebih kejam dari pada ini!!."


Dan,

__ADS_1


BRAKKK!!!


Siska mengulang bantingan kasarnya. Semoga mobil Zidan cepat rusak. Biar tahu rasa.


Kehidupan kembali normal lagi. Siska dan Zidan mulai sibuk dengan pekerjaan masing - masing. Siska duduk dimeja pelayanan, sedangkan Zidan mulai mengarahkan timnya di dalam tenda bertuliskan PT ZTO yang sengaja dipasang dibagian pojok halaman parkir.


Hari ini, proses rehab pada gedung belakang dan samping dukcapil mulai dikerjakan. Para pekerja sudah memulai aktifitasnya. Melakukan pembongkaran pada gedung samping dan belakang. Sedangkan mobil memuat alat - alat bangunan serta bahan bangunan juga sudah sibuk lalu lalang sejak pagi di halaman dukcapil.


Zidan memberi pengarahan. Sebagai seorang arsitek dan juga insiyur sipil, sekaligus pemilik perusahaan. ini adalah satu hal yang harus dilakukan lebih dulu. Jangan sampai karna kesalahan kecil, perusahannya jadi kena cas, dan malah membayar finalti karna proses dan hasil yang tidak sesuai kesepakatan. Apa lagi ini berurusan dengan hajat pemerintah. Biasanya, nanti pemeriksaannya itu lebih ketat.


"Sis, pacar lo tuh." Suci yang datang dari arah belakang Siska dan Raya tiba - tiba nyeletuk. Saat itu mereka baru saja keluar dari dalam gedung, hendak makan siang. Khusus hari ini Siska dan Raya tidak pergi kewarung karna tadi pagi Bu Irna sudah membawakan bekal. Jadi cuma tinggal cari tempat yang nyaman. Dan sasarannya adalah ruang laktasi.


"Keren ya pacar lo, sayang banget gue gak bisa deketin." Suci nyeletuk lagi, matanya masih fokus ke Zidan yang diujung sana keliatan sibuk.


"Oh iya, Ci. Lo kayaknya punya hutang penjelasan deh ke gue. Lo ngomong apa aja ke Zidan? lo bilang ya kalau gue nyuruh lo deketin dia?" timpal Siska, kalau bukan gara - gara Suci dia gak akan semakin terjebak dengan Zidan.


"Awalnya sih emang mau gue deketin dia, tapi gue nyerah, dia susah ditembus dan bukan tipe orang yang lunak. Jadi jangan salahin gue kalau gue bilang ke dia." Dengan tanpa rasa bersalah Suci nyaut.


"Kan itu suka - suka gue, kok jadinya lo yang ngatur!."


"Isshhh! dasar lambe turah!."


"Bodo!" Suci melenggang pergi. Gayanya sok iyes, sampai - sampai Siska dan Raya yang ngeliat berasa pengen muntah. huek!.


"Ah, udah yuk, kita makan aja, kesel kalau mikirin dia." Raya menarik lengan Siska dan membawanya segera keruang laktasi.


Sebuah kejadian tak terduga tiba - tiba terjadi didepan mata Siska dan Raya. Keduanya saat itu tengah melewati bangunan gedung samping yang sedang dibongkar.


"Awas Mas!!" suara seorang pekerja dari atas memberi peringatan.


BRAKK!!

__ADS_1


Balok kayu jatuh dari atas. Dan itu tak sengaja terkena Zidan yang tengah berjalan dibawahnya.


"Aaaahhhhhh!!!" Semua orang reflek berteriak kaget. Kejadian itu terlalu mendadak bagi semua yang yang ada disana. Begitu juga dengan Siska dan Raya.


"Aaarrrgggghhhh!!!" Zidan memekik kesakitan, kayu tadi merobek bahunya sampai darah bercucuran.


"Zidan!!" Siska dan Raya memekik spontan dan berlari menghampiri Zidan dengan panik. Begitu juga orang disekitar ikut mendekat.


"Aaarrrggghhhh!!!."


"Zidan, lo gak apa - apa? aduh ini gimana? ini lo berdarah banyak banget. Ini, lo harus cepet kerumah sakit." Siska benar - benar dirundung rasa cemas dan panik.


"Ya Tuhan Dan, ini lo kena pakunya, gue anterin ya kerumah sakit?" kali ini si Raya ikut menyaut, sama seperti Siska dia juga khawatir.


"Aarrrrgggghhh!!!."


"Zidan, lo gak apa - apa?." Seorang lelaki menyerobot. Dia ini Egi, teman Zidan sekaligus mitra pekerjanya yang juga insinyur sipil.


"Aduh, ini parah banget bro, ini harus kerumah sakit." Egi kembali menimpali.


"Ka, bantu gue." Egi berbicara pada Aska yang ada didekatnya. Maksudnya dia lagi minta bantuan untuk membopong Zidan dan membawanya kerumah sakit.


"Gue gak apa - apa." Satu kalimat diucapkan Zidan dengan menahan sakit agar orang disekitarnya tak khawatir. Terutama Siska, yang raut wajahnya sudah memerah menahan tangis tak teganya. Zidan tahu kalau Siska lagi cemas.


"Udah, jangan banyak ngomong. Kita kerumah sakit!" Egi menginterupsi. Dia langsung membopong Zidan bersama Aska masuk kedalam mobil.


Deg.


Siska termanguh menatap kepergian Zidan. Ditengah rasa panik dan khawatir yang teramat. Terselip satu kejadian kecil yang sedikit membuat hati Siska menghangat dan tenang.


Tadi, sesaat Zidan dibopong oleh Egi. Saat keduanya melewatinya. Zidan sempat meraih jemarinya lembut dan menggenggamnya sejenak. Uraian senyum tipis juga diuraikan ditengah rautan kesakitan diwajah Zidan.

__ADS_1


Ah, Siska. Kenapa jantungmu jadi berdetak tak karuan hanya karna perlakuan Zidan ini? Padahal itu sudah jelas dilakukan Zidan untuk membuatnya agar lebih tenangkan?. Jadi please jangan terlalu memasukkan ke hati dan perasaan.


__ADS_2