Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
74. Tingkah Absurd Zidan


__ADS_3

"Oh iya, kamu udah ngajuin cuti 'kan buat ke Australia 2 minggu lagi?" tanya Zidan.


Pagi itu Zidan mengantar Siska yang mau kerja lebih dulu, setelahnya dirinya baru berangkat ke kantornya.


"Heem, udah."


"Dapat seminggu 'kan?."


Siska mengangguk, dan kembali diam tenggelam pada lamunannya sendiri menatap jalanan lewat kaca jendela samping mobil.


"Kamu kenapa? kok diem aja? kamu lagi mikirin apa?." Zidan tanya, pasalnya semenjak beberapa hari belakang ini sikap Siska sedikit berbeda. Jadi lebih pendiam dan sedikit murung.


"Gak apa - apa."


"Kalau gak apa - apa, kenapa wajah kamu di tekuk terus?."


Siska menghela nafasnya dulu sebelum menjawab. "Aku kangen sama mama sama papa. Udah sebulan lebih gak ketemu mereka." jawab Siska yang pastinya bohong. Ini lebih untuk menutupi rasa insecure dalam dirinya sejak tahu kalau Feby hamil, dan melihat reaksi Zidan yang ingin dia hamil juga.


"Astaga. Kenapa gak bilang kalau kangen mama sama papa? Harusnya kamu 'kan bilang biar kita bisa pulang." Zidan berdecak.


"Ya gak tahu, bingung aja mau bilangnya. Kamu 'kan banyak kerjaan. Kalau harus pulang kerumah kamu bisa tambah capek."


"Ya tapi 'kan meskipun begitu bukan berarti kita gak bisa jenguk mama sama papa kamu. Kamu sendiri juga tahu kerjaku juga fleksibel. Kapan pun kamu butuh aku pasti bisa nemenin, pokoknya gak pas ada rapat atau pemeriksaan aja. Perusahaan juga perusahaanku sendiri. Kenapa harus takut bilangnya?." Padahal sejujurnya dalam hati Zidan sangat senang kalau istrinya ini selalu merepotkannya.


"Ya soalnya aku takut kamu jadi tambah capek nantinya."


"Sis, kita ini sudah suami istri lo, secapek - capeknya aku, ya tetep kamu jadi prioritasku. Secapek - capeknya kamu, ya tetep aku jadi prioritas kamu. Kalau kangen mama bilang, jangan sampai ditahan gitu, buat aku jadi merasa bersalah kalau gini ceritanya."


"Iya, maaf."


"Ya udah kalau gitu, nanti habis pulang kerja kita langsung pulang kerumah orang tuamu, ya?."


Siska pun mengangguk mengiyakan dengan senyum tipis dibibirnya.


"Lain kali kalau ada apa - apa bilang. Asal kamu tahu, kalau kamu sedih, muka kamu ditekuk, terus murung, aku itu jadinya juga ikut gitu. Hatiku gak tenang. Tapi kalau kamu senyum, terus bahagia, aku itu juga bahagia, aku juga tenang." Zidan menimpali, disela - sela matanya yang konsentrasi mengemudikan mobil. Bukankah begitu hati seorang suami yang sayang sama istri?.


"Iya, iya, maaf."


"Ya udah senyum kalau gitu. Nanti pulang kerja kita pulang jenguk mama sama papa. Senyum."


"Ck! ini ... hi..." Dan Siska menunjukkan deretan giginya yang putih untuk tersenyum, ya meskipun senyumnya sedikit dipaksakan. Tapi pada akhirnya juga tersenyum beneran. Bikin Zidan jadi gemes dan reflek mencubit pipi Siska.


"Argh! jangan nyubit!."


Dan sesuai dengan perkataan sang suami. Setelah pulang kerja. Siska dan Zidan pun langsung pulang menuju kediaman orangtua Siska. Seperti biasanya, perjalanan yang ditempuh memakan waktu 2 jam hingga akhirnya keduanya pun sampai di rumah yang ditujuh.


"Mama, Papa ..." Siska memekik. Langkah kakinya tanpa sungkan juga langsung masuk kedalam, dimana dibelakangnya Zidan mengikuti.


"Loh, sayang..." Bu Irna yang baru keluar dari dapur tak menduga kalau sang anak akan datang.


"Mama... aku kangen..." Siska merangsek memeluk sang mama dengan rengekan khas anak kecilnya.

__ADS_1


"Kalian ini mau datang kok gak ngabarin dulu sih?." kata Bu Irna, melempar pandang pada Siska dan juga menantunya.


"Tadi dadakan Ma pulangnya, jadi gak sempet ngabarin." Zidan jawab.


"Aku udah kangen banget sama mama. Mam, aku laper." Siska kembali merengek dan langsung minta makan.


"Aduh, laper ya?." Bu Irna melepas pelukan Siska. Seketika rada bingung anaknya tiba - tiba minta makan. "Ini mama belum masak Sis, kamu sih gak ngabarin dulu tadi kalau mau pulang. Tahu gitu 'kan kalau tahu kalian mau pulang mama tadi langsung masak." Bu Irna meskipun sudah tahu jawabannya. Tetep saja masih menimpal.


"Ya gak apa - apa Mam, mama cepet masak aja. Biar aku bisa cepet makan."


Plak!.


Satu pukulan ringan melayang dilengan Siska.


"Arrrggghhh!!."


"Kamu ini datang - datang langsung merintah - merintah orangtua suruh masak. Enggak, mama gak mau. Tapi kalau kamu bantuin mama, ya boleh, mama masak!." Bu Irna memekik. Anaknya ini, meskipun sudah menikah tetap saja sikapnya masih seenak sendiri.


"Em, gak tahu capeknya orang dari perjalanan jauh mama ini" Siska mencebik.


Sementara Zidan yang menyaksikan cuma bisa tertawa kecil, sambil geleng - geleng kepala. Tingkah istrinya ini emanglah.


"Oh ya Ma, Papa mana?." tanya Zidan menghentikan gerakan Bu Irna yang hendak kedapur.


"Papamu belum pulang. Bentar lagi biasanya jam 6. Ayo cepet bantuin mama." jawab Bu Irna sekaligus memerintah Siska.


"Oh."


"Aku taruh ini aja dulu ya, terus aku ikut bantuin masak juga, biar cepet selesai. Kasian mama, datang - datang langsung kamu todong buat masak." jawab Zidan.


"Oke, terserah kamu aja. Emang harus gitu sih dirumah mertua. Harus cari muka biar disayang juga."


"Ck! gak usah cari muka pun mama sama papa kamu udah sayang sama aku."


"Cih! GR!."


"Emang iya, coba aja tanya kalau gak percaya."


"Males, soalnya kamu udah ke GRan."


"Ih, gak percaya."


"Siska!. Kamu masih ngapain? katanya mau bantuin mama. Tapi kok malah mesrah - mesrahan sih?." Bu Irna bahkan tak bisa menahan buat menggoda anaknya dan menantunya yang terdengar adu mulut tapi menggemaskan saat didengar.


"Ih, mama, yang mesrah - mesrahan siapa sih?." Siska pun langsung menampik dan meninggalkan Zidan yang tertawa geli begitu aja.


"Nanti malam aja kalau mau mesrah - mesrahan. Sekarang ayo kita masak dulu." perintah Bu Irna lagi.


Zidan meletakkan tas jinjingnya di kamar Siska. Untuk pertama kalinya, malam ini dia akan tidur di kamar ini. Suasananya sebenarnya terasa asing, tapi meskipun begitu juga menenangkan.


Kamarnya bersih, karna memang sudah lamatak berpenghuni dan hanya sesekali kalau sang pemilik datang saja. Tapi meskipun begitu Zidan merasa akan krasan dan betah didalam kamar ini.

__ADS_1


Selesai meletakkan barangnya. Zidan turun kebawah. Tepat saat kakinya menginjak lantai dasar. Suara mobil terdengar memasuki halaman. Sudah bisa dipastikan siapa yang datang. Yang Datang itu adalah papa mertuanya.


"Pa, baru pulang?." sapa Zidan yang dengan sigap membukakan pintu rumah untuk Pak Leo.


"Loh, Dan. kapan datang?." saut Pak Leo yang mana saat itu langsung menerima uluran tangan sang menantu yang hendak bersalaman.


"Baru juga Pa."


"Oh, sama Siska?."


"Iya."


"Mana anaknya?."


"Itu, lagi bantuin mama masak didapur."


"Em," Dengar jawaban Zidan Pak Leo langsung menghampiri sang anak dan istri yang ada di dapur dan di ikuti oleh Zidan dibelakangnya.


"Pa, baru pulang Pa?." Siska memekik lebih dulu, dan menyalami Pak Leo dan memberi pelukannya juga.


"He'em. Kamu kapan datang?." pertanyaan Pal Leo diulang pada Siska.


"Baru aja."


Pak Leo kemudian beralih pada sang istri yang ikut salaman juga.


"Langsung mandi sana." Perintah Bu Irna.


"Iya. Emang aku mau langsung mandi kok." jawab Pak Leo."Papa mandi dulu ya." Tanpa lupa Pak Leo berpamitan pada Zidan.


"Iya, Pa."


Pak Leo beranjak dari tempatnya. Dan masuk dalam kamarnya. Sementara Zidan langsung ikut bergabung bersama Bu Irna dan Siska didapur untuk memasak. Dan setelahnya, setelah sepersekian waktu berjalan. Keluarga itu berkumpul bersama untuk makan malam.


"Kamu kapan pulang dari Jogja?." Pak Leo memulai perbincangannya. Biasa bagi kaum lelaki obrolan mereka pastinya tentang pekerjaan.


"Sudah 3 mingguan ini kayaknya Pa."


"Oh, apa udah selesai proyeknya yang disana?."


"Udah, seminggu yang lalu. Finis semua. Tinggal mantau aja sama cek lagi. Palingan nanti weekend aku ke Jogja lagi buat cek fisik sebentar." Mendengar jawabannya Zidan ini Siska langsung mengarahkan pandangannya pada Zidan. Secara Zidan masih belum bilang apa - apa ke dirinya kalau mau ke Jogja weekend ini.


"Ke Jogjanya sama kamu nanti. Sambil jalan - jalan." Zidan yang paham langsung klarifikasi.


"Kenapa? dia takut kamu tinggalin lagi?." tanya Bu Irna.


"Iya ma, kayaknya dia udah gak bisa jauh dariku sekarang." Si Zidan malah ngelawak ditengah - tengah orang tua Siska.


"Ih, GR, Kamu itu yang gak bisa jauh - jauh dari aku." jawab Siska.


"Ya emang, emang aku gak bisa jauh - jauh dari kamu." Zidan malah ngaku lagi mengundang gelak tawa Bu Irna dan Pak Leo.

__ADS_1


"Ih," Siska memutar bola matanya. Ada rasa senang juga sebetulnya ketika Zidan lagi absurd gini ditengah keluarganya.


__ADS_2