
"Oh iya Ma, Pa, sekalian juga. Aku mau minta ijin. Rencananya tanggal 4 besok aku sama Siska mau ke Australia. Mau jenguk Om disana sama sekalian mau nengok cucu pertamanya yang udah baru lair seminggu lalu. Ya, tapi sebetulnya sih tujuan utamanya itu buat honeymoon sih." Zidan bicara pada Bu Irna dan Pak Leo. Wajahnya sedang malu sebetulnya karna ngomong tentang rencana honeymoon yang sudah bisa dibilang terlambat.
"Em, iya. Betul itu. Perlu itu emang honeymoon. Kalian kemarin belum sempet honeymoon 'kan?" Pak Leo tiba - tiba jadi semangat. Ya siapa tahu nanti setelah honeymoon, dia bisa dapat kabar baik dari anaknya itu.
"Emang perlu ya?." Bu Irna malah sebaliknya. Wajahnya terlihat keberatan tentang rencana honeymoon ini.
"Ya perlu lah ma. Mama ini gimana sih? biar mereka ini bisa refresing bahagia berdua. Kata anak muda jaman sekarang, healing - healing. Apa lagi kebetulan bisa ke luar negeri ke Australia ya 'kan tambah seneng itu, Papa juga mau sebetulnya." Pak Leo yang jawab.
"Ya bukannya gitu pa, mama cuma khawatir karna terlalu jauh gitu perjalanannya. Terus lagi juga pasti butuh biaya banyak."
"Enggak kok ma, ini gratis. Ini yang bayarin tiket sama akomodasi semuanya juga Om semua. Kita cuma tinggal duduk manis aja menikmati." jelas Zidan, mematahkan pikiran ibu mertuanya soal biaya yang banyak.
"Lah kok bisa gitu? emang Om kamu mau bayarin?."
"Iya, kemarin yang nawarin Om sendiri. Soalnya katanya karna aku lama gak kesana, terus kemarin pas menikah juga Om gak datang. Jadi mungkin merasa bersalah jadi pengennya sekarang nyenengin aku sama Siska gitu."
"Baik juga ya Dan, Om kamu. Tapi ya gimana ya, Mama kepikiran, Australia itu jauh." Tapi Bu Irna masih ngenyel keberatan.
"Ma, tadi Zidan bilang apa? Tujuannya 'kan bukan cuma honeymoon. Tujuannya biar Siska sama Zidan nengokin Omnya sama cucunya yang baru lahir." Pak Leo mengingatkan sang istri agar tak over protektif pada sang anak.
"Bukannya gitu Pa, mama cuma kepikiran aja. Mereka 'kan menikah sudah dapat beberapa bulan. Takutnya Siskanya ini ternyata sudah hamil tapi gak ketahuan. 'kan bahaya jadinya nanti kalau perjalanan jauh." Bu Irna akhirnya mengeluarkan isi dalam otaknya. Ya jaga - jaga siapa tahu sudah hamil betulan.
"Hah?." Siska lagi - lagi speechless. Kenapa pembahasan mulai kemarin tentang kehamilan terus?. Kenapa dirinya harus terjebak dalam situasi ini lagi? padahalkan baru aja otaknya kembali normal. Sekarang harus kepikiran hal ini lagi.
"Oh iya ya ma?." Pak Leo, jadi terbawah arus pikiran bu Irna. Dia langsung mikir juga. Ada benarnya apa yang diomongin istrinya itu.
__ADS_1
"Emang iya ya ma, Siska bisa hamil meskipun kita belum sebulan berhubungannya?." Dan si Zidan malah tanya seperti ini. Seolah hal ini adalah hal yang penting baginya. Tak peduli sedang tanya pada siapa.
"Maksud kamu apa Dan, yang baru berhubungan? Berhubungan ini, berhubungan suami istri?." bu Irna tanya untuk memperjelas.
Si Zidan mengangguk mantap. Membuat Bu Irna yang ditanya jadi salting sendiri, begitu juga Pak Leo. Ini anak mantu laki - laki bisa - bisanya tanya tentang hal seperti ini ditengah acara makan malam keluarga. Kalau cuma godain kan ada lucu - lucunya. Kalau serius gini kan jadinya ya awkward jadinya.
"Zidan, kamu kenapa tanya sama mama?." Siska bergumam didekat telinga Zidan, malu dia.
"Bentar, soalnya ini penting." Zidan tak menggubris Siska yang tampak memejamkan matanya karna malu.
"Em, gini ma, Zidan kan sama Siska baru kumpul lagi 3 minggu yang lalu. Kemarin - kemarin kan mama tahu sendiri kita LDRan. Terus sebelumnya, pas malam pertama kita gak bisa ngapa - ngapain karna Siska lagi dapet. Jadi ya, baru sekitar 3 minggu yang lalu kita bisa begitu. Itu gimana ya ma? apa bisa ya ma langsung hamil? kan belum sebulan ma." Tanpa malu - malu Zidan cerita.
"Zidan." Siska merengek. Hilang muka dia didepan orang tuanya. Ini kenapa Zidan yang malah jadi comber dari pada dirinya.
"Aku penasaran yang, Mama sama Papa kan lebih pengalaman." Dan jawabannya pun tanpa beban. Dasar suaminya ini. Kadang ya gak tahu lagi ... Huft!.
"Ya bagus itu." Pak Leo langsung memekik sambil menahan tawa. Mantunya ini menang gak ada lawan.
"Berarti emang bagus ya pa?." Zidan jawab dengan tampang polos.
"Iya dong. Berarti itu tandanya kondisi kamu good, prima. Perkasa juga kamu jadi laki - laki, papa suka."
Tapi Bu Irna malah melirik Pak Leo. Bu Irna tahu, Pak Leo lagi mengompori sang menantu. Jadinya tangannya bergerak untuk menjawil paha sang suami. Tapi yang dijawil malah membalas dengan senyum gak jelas. Merasa menemukan hiburan baru bisa menggoda mantunya yang rada - rada gak tahu malu.
"Hehehe." Zidan tertawa bangga. Bahkan memberikan lirikan genit pada Siska yang sudah keadaannya gak bisa dijelaskan lagi. Malu setengah mati. Kesel setengah mati. Pengen nimpuk orang yang ada disampingnya biar mulutnya bisa diem gak koar - koar lagi.
__ADS_1
"Jadi gimana ma? kembali ke topik. Apa iya bisa hamil ma meskipun belum sebulan? tapi 'kan kita sekarang udah tiap hari begitu. Berarti bisa ya ma?." Zidan masih belum nyerah. Bahkan pertanyaannya diulang lagi.
Dan lagi - lagi Bu Irna melirik Pak Leo. Sebenarnya dia pengen menghentikan pertanyaan mantunya ini, melihat anaknya yang wajahnya sudah memerah dan menahan semuanta. Dan sebetulnya juga dalam hatinya sendiri juga malu juga mendengar kejujuran sang menantu. Tapi Pak Leo maah mengkode agar istrinya itu segera menjawab pertanyaan dari sang menantu.
"Kalau urusan itu, mama gak tahu Dan, biar lebih jelas kamu ke dokter aja. Tanya sambil konsultasi. Yang jelas kalau Siska lagi masa subur meskipun sekali ngelakuinnya ya tetep aja jadi bayi." Bu Irna menjawab. Ya jawabannya seadanya dan setahunya aja. Tapi juga ada malunya. Mantu laki - lakinya emanglah gak ada duanya. Tanpa malu - malu cerita masalah hidup pribadinya dan anaknya.
Zidan manggut - manggut. "Berarti lebih baik priksa dulu ya ma?." Sekali lagi Zidan menegaskan.
"Iya, cek aja dulu. Siapa tau beneran isi. Biar kalian juga bisa memutuskan, mau perjalanan jauh. Jadi bisa mengecilkan kemungkinan yang gak baik. Dari pada ada apa - apa." Pesan Bu Irna.
"Oke. Yang, besok sepulang kerja, kita priksa ya yang." pintah Zidan.
Tapi Siska malah bangkit dari duduknya. Sampai kursi yang di duduki berdecit karna tergeret secara kasar ke lantai.
"Priksa aja sendiri, aku gak mau!." Siska, menghentakkan kalinya meninggalkan meja makan begitu saja. Dia sudah kesal plus malu setengah mati. Setelah dihadapannya Caca, sekarang wibawanya juga hancur dimata kedua orangtuanya.
"Lah, yang kok marah?." Dengan wajah tanpa dosanya dan sedikit bingung, Zidan mendecak. "Ma, Pa, aku susulin Siska dulu ya ..." Dan Zidan langsung mengejar Siska yang sudah pasti masuk dalam kamarnya.
"Astaga dua anakmu itu Pa, tingkahnya." Bu Irna sampai geleng - geleng.
"Seneng ya ngeliatin mereka. Yang satunya suka sebelan. Yang satunya terlalu fokus sama tujuannya." Pak Leo bahkan tak habis pikir. Perasaannya seolah sedang tenang, merasa keduanya cocok satu sama lain.
"Iya, tapi jangankan Siska pa, mama yang denger Zidan cerita kayak tadi aja sampai malu sendiri. Tapi kenapa dianya gak malu. Dan papa juga kenapa malah ngedukung dia." Bu Irna, melemparkan sebuah pukulan kecil di lengan Pak Leo. Itu sebagai bentuk protesnya, karna Pak Leo sudah jail tadi.
"Ya biar tambah rame. Sekalian biar dia semakin percaya diri kalau papa puji."
__ADS_1
"Ya tapi papa gak kasihan apa sama anaknya. Itu pasti Siska bakalan ngambek pa, Pasti berantem itu. Tadi mukanya Siska udah kesel sama malu setengah mati kayaknya."
"Iya, biarin aja udah. Biar mereka selesaikan sendiri. Berantemnya juga karna hal sepe begini aja kok ma. Jadi gak usah khawatir, besok palingan juga udah baikan lagi."