
PROLOG.
Seikat bunga krisan diletakkan diatas nisan. Nisan itu tampak terawat dengan keramik kaca berwarna hitam dan rumput hijau yang sengaja dibentuk persegi panjang.
Rumia Suharti. Nama yang tertulis diatasnya. Dengan tahun meninggal 15 juni 2001. Menandakan bahwa sudah lama sekali sosok itu meninggalkan dunia.
Jangan ditanya bagaimana dia meninggal. Karna Reza tak akan pernah sanggup untuk menceritakannya. Begitu banyak cerita tragis didalamnya. Hingga menyisakan luka dan trauma dalam hidupnya yang tak kunjung hilang sampai sekarang.
Reza, menengadakan wajah keatas. Menatap langit yang cerah tapi terasa seolah sedang mengejeknya. Matanya kemudian mengerjap, menghapus tanpa menyentuh genangan air yang mulai mengisi kelopak mata. Ingat, jangan sampai air mata ini kembali mengalir dihadapan ibunya.
Setiap kali dia mengunjungi makam ibunya ini. Reza selalu saja menangis. Hatinya merasa perih sampai akhirnya sesak karna rindu. Tapi sebetulnya penyesalan dan juga rasa bersalahlah yang lebih dominan.
Jika, Seandainya, waktu bisa diputar ...?.
...****************...
Sekilas gambaran cerita masa lalu.
Kalah itu, Reza masih berusia 8 tahun. Hidupnya sangat bahagia meskipun hanya tinggal berdua bersama ibunya. Sang ibu sangat menyayanginya. Selalu memberi kehangatandan nyaman. Selalu tersenyum dan tertawa riang.
Tapi, kebahagiaan itu nyatanya tak bertahan lama. Reza harus berpisah dari sang ibu untuk selamanya. Ada sebuah insiden besar yang terjadi. Dan itu karnanya.
Semua berawal dari kedatangan seorang lelaki tak dikenal secara tiba - tiba. Namanya Yuli Artono. Lelaki itu mengaku sebagai ayah kandung dari Reza Arya Hirawan.
Reza terbuai. Yuli Artono memperlakukannya dengan baik. Bersikap seperti seorang ayah yang penyayang. Mencekoki Reza dengan segala cerita bohong hingga membuat anak 8 tahun itu perlahan menjauhi sang ibu bahkan sampai membencinya.
Hingga akhirnya terkuak sebuah kebenaran. Yuli Artono bukanlah ayah kandungnya. Dia adalah seorang penguntit. Terobsesi pada Rumia hingga sifat implusifnya itu membuat Rumia jadi meregang nyawa tepat didepan mata Reza.
Dunia Reza hancur. Sang ibu meninggal dunia. Menyisakan Reza sendirian. Dan hidup sebatang kara.
Ditengah terpaan badai dalam hidupnya yang masih berusia 8 tahun. Bocah kecil itu kembali didatangi seorang lelaki. Bagus Arya Hirawan.
__ADS_1
Dari namanya saja orang pasti akan menebak kalau Reza memanglah anak Bagus. Tapi selain nama, wajah dan pembawaan mereka juga sama persis. Sekali lihat, orang yang tak mengenal mereka pun pasti akan bilang kalau mereka adalah ayah dan anak. Tapi, karna rasa traumanya akan pengakuan seseorang yang mengaku sebagai ayahnya, Reza jadi menampik semua fakta itu dalam hatinya.
Reza bisa apa. Dia hanya bocah kecil berusia 8 tahun yang sekarang hidup sebatang kara. Tak punya pijakan dan tak punya siapa - siapa lagi membuat Reza menurut perkataan Bagus saat memintanya itu tinggal bersamanya.
Rumah itu begitu besar dan mewah hingga mampu menghadirkan suasana asing dan kosong di hati Reza. Apa lagi sosok wanita yang seumuran ibunya langsung berteriak protes didepan wajahnya karna tak terima akan kehadirannya. Hanya ada seorang gadis kecil yang datang mendekat menyambutnya dengan senyum diwajah dan permen ditangan.
Namanya Arumi Atha Hirawan. Dia adalah gadis kecil berusia 6 tahun yang selalu ada disampingnya. Satu - satunya manusia dibumi ini yang bisa membuat Reza tersenyum bahkan tertawa meskipun sering kali disembunyikan. Jika ditanya bagaimana perasaan Reza padanya. Pastinya Reza akan menjawab dia menyayangi Arumi, karna Arumi adalah adiknya. Karna namanya sama dengan ibunya.
Kata hanya tinggal kata. Dan kalimat tinggal kalimat. Semua itu hanyalah sebuah penyangkalan atas perasaan Reza yang sesungguhnya. Reza sadar bahwa apa yang dia rasakan pada Arumi bukanlah sekedar rasa sayang seorang kakak pada seorang adik. Apa yang dia rasakan adalah perasaan sayang pada seorang wanita. Bukan, bukan lagi sayang akan tetapi sudah menjadi cinta.
Sangat picik bukan?. Bisa - bisanya Reza mencintai adik sepupunya sendiri. Padahal kehadiran dirinya dalam keluarga ayahnya sendiri sudah tak diharapkan sejak awal. Tapi, berani - beraninya dia punya perasaan seperti ini. Sungguh, sekali lagi dunia ini tak berpihak padanya. Atau memang tak akan pernah mau berpihak padanya.
...****************...
Getaran ponsel baru saja dirasakan Reza didalam saku jasnya. Reza meraih ponselnya yang menunjukkan nama Johan dilayarnya. Sebelum menerima panggilan itu, Reza mengusap dulu air air dipucuk kelopak matanya.
"Dok, ada pasien gawat darurat. Butuh operasi secepatnya. Rusuknya patah dan patahannya nembus ke ulu hatinya. Kondisinya sekarang gak sadarkan diri dok."
"15 menit lagi aku sampai, kamu kontrol terus keadannya pasiennya."
Singkat Reza berkata, yang kemudian sambungan telponnya tadi juga langsung diputus.
Reza memasukkan lagi ponsel dalam sakunya. Untuk sejenak lelaki berusia 30 tahun itu menatap lekat nama Rumia Suhanti pada nisan. Matanya menggambarkan dengan jelas kalau sebetulnya dia enggan untuk pergi dari sana. Tapi, Reza bisa apa? seseorang sedang sekarat di IGD dan butuh bantuannya sebagai dokter. Jadi dengan langkah berat Reza pun segera menggerakkan kakinya menjauh dari pemakaman.
"Dokter." Johan yang sedari tadi sudah menunggu kedatangan Reza. Pria itu tampak berjalan bolak - balik tak tenang sangking cemasnya dengan kondisi pasien.
"Dimana pasiennya?."
"Di Bed 5 Dok. Tadi sempet ilang tapi untungnya balik lagi. Tekanan darahnya anjlok terus dok. Bener - bener butuh operasi cepet."
"Udah dikabari keluarganya?."
__ADS_1
"Udah Dok, udah dijalan, palingan bentar lagi sampai."
Tapi demi apa pun. Sedetik kemudian. Saat kelambu pembatas bed IGD dibuka oleh Reza, Reza mendadak jadi kaku. Matanya membulat sempurna bersamaan dengan nafas yang tiba - tiba sesak. Guntur sedang menyambar hatinya disiang bolong sampai jantungnya mencelos. Dia kenal dengan sosok yang tengah berbaring lemah diatas ranjang.
Dia adalah Arumi. Tapi bagaimana bisa??.
"Dokter." Johan memekik melihat reaksi yang Reza hasilkan.
Tit,tit,tit,tit. Monitor tanda bahaya berbunyi. Arumi kembali kritis. Itu adalah serangan jantung dadakan.
"Dokter, PEA!!." Johan panik. "Ambil alat kejut!!!."
Reza masih diam ditempat. Mendadak mual dan pening. Sangking syoknya. Pikiran - pikiran negatif mulai muncul ditengah wajahnya yang memucat dan mata yang mulai sembab.
"Dokter!!!." Sekali lagi Johan memekik meminta Reza segera mengambil tindakan.
"Dokter Reza!!!."
Dan untungnya kali ini, suara Johan mampu mengembalikan akal sehat Reza. Reza bergerak ditengah hati kacaunya. Mengambil ahli setiap tindakan untuk menyelamatkan Arumi bagaimana pun caranya.
Kejutan pertama, tak berhasil. Kejutan kedua juga tak berhasil, dan beruntung dikejutan ketiga akhirnya detak jantung Arumi kembali.
Lega. Iya. Tapi tak sepenuhnya lega. Arumi bisa mengalami serangan jantung lagi. Jadi solusi satu - satunya adalah operasi.
"Cepet siapin ruang operasi. Hubungi Dokter Yana sama Dokter Indah juga." perintah Reza kemudian ditengah nafasnya yang sudah tak beraturan.
"Baik, dok."
Dengan sigap Johan merespon perintah Reza. Sementara Reza menumpuh tubuhnya pada ranjang bed.
Reza meraih jemari Rumi yang dingin. Dan menggenggam erat.
__ADS_1
...----------------...