
Sepersekian menit. Setelah menetralkan rasa kesal dan emosinya. Siska turun kebawah untuk mandi. Mandinya pakai air hangat yang disiapkan Zidan. Meskipun lagi kesel dengan orangnya, tapi merasa sayang dengan airnya. Ini karna masih subuh dan hawanya juga lebih dingin dari biasanya. Jadi dari pada masuk angin lebih baik pakai air hangat dari Zidan.
Tapi sebetulnya itu semua cuma sangkalannya saja. Jauh dilubuk hati, Siska menikmati perhatian kecil yang diberikan Zidan untuknya.
Selepas mandi. Siska, masuk dalam kamar sang mama. Dia kemudian duduk dimeja rias dan mulai memoles wajahnya dengan make up milik sang mama. Merasa sudah lebih cantik dan segar, Siska kini mulai memasukkan semua make up milik sang mama ke dalam tasnya. Tahu 'kan kalian kenapa. Ya karna kemarin tasnya disita Zidan jadinya semua hal penting miliknya raib.
"Sayang, ayo sarapan dulu, ini Zidan sudah masak nasi goreng buat kamu tadi." Hedeh, lagi - lagi sang mama menyebutkan nama Zidan dengan perasaan bangga. Padahal tadi moodnya sudah mulai baik, sekarang mendadak turun lagi. Apa lagi orang yang disebut baru aja nongol dari dalam kamar mandi dengan sikap sok kerennya, mengibas - ngibaskan rambutnya yang basah, selepas mandi. Andai saja itu aktor korea mungkin Siska akan menggila, tapi ini Zidan maka dia cuma tersenyum sinis.
"Mam, aku nanti minta uangnya, ya. Kemarin tasku hilang mam, ada yang nyolong." Permintaan itu sengaja diucapkan Siska didepan Zidan, sekalian nyindir maksudnya.
"Dicolong? kok bisa? siapa yang nyolong? banyak yang hilang?" Bu Irna malah heboh. Dia sampai menghentikan aktifitasnya menyiapkan bekal dan duduk disamping Siska.
"Dompet, flashdis sama make up yang hilang."
"Dompet? haduh Sis, kalau yang hilang dompet gimana? kalau cuma uangnya gak apa - apa, tapi kalau ada ktp sama kartu - kartu yang lain jadinya gimana? Itu gimana ceritanya kok bisa dicolong, kamu taruh mana tasnya, nak?."
"Ya gak tahu mam, mungkin yang nyolong lagi kerasukan setan. Jadi gak bisa ngelihat harta berharga dikit. Jadi pengennya langsung diembat!" Sekali lagi Siska menyindir. Kali ini dengan tatapan sinis menjurus ke Zidan. Dia masih menyimpan dendam atas kejadian tadi didalam kamar.
"Ehem! ehem!" Zidan bersuara, merasa tak terima dibilang kerasukan setan atau pun tak bisa menahan diri. Ingin rasanya membalas ucapan Siska tapi gak mungkin. Lagi didepan Bu Irna soalnya.
"Ckck! terus itu gimana? Dalam dompetmu ada apa aja? KTP? ATM? SIM gitu - gitu, ya?."
"Heem mam,"
__ADS_1
"Haduh Sis, semua itu 'kan barang penting, mending kamu lapor polisi. Kok mama jadi kepikiran, takutnya KTP atau SIMnya atau ATMnya dipakai yang aneh - aneh. Nanti kalau sampai itu kejadian gimana dong? Atau kamu mau mama aja yang laporin? biar kamu gak ribet ke kantor polisi?."
Tawaran Bu Irna jelas membuat Zidan langsung kelimpungan. Sekarang dia harus berpikir gimana caranya biar gak ketahuan kalau ternyata biang keroknya adalah dia.
"Hmmm, boleh juga tuh mam. Aku setuju, mama laporin aja. Siapa tahu pelakunya entar cepet ketemu. Terus minta hukumannya itu seberat - beratnya, kalau bisa di penjara seumur hidup!." kata Siska menggebu - gebu. Berharap semua itu beneran terjadi, biar Zidan beneran menghilang dan gak ganggu lagi. Huft!.
"Em, maaf tan, kayaknya gak perlu sampai bawah - bawah polisi deh tan. Em, itu, kemarin, sebetulnya tasnya Siska gak sengaja kena bawah aku. Rencananya mau saya kembalikan sekarang, tapi ternyata Siskanya keburu bilang dicolong orang. Sorry ya Sis, gue gak sengaja bawah, mau bilang tapi aku lupaan gara - gara harus cepet - cepet kesini, biar tante gak salah paham sama kita." Zidan lagi penuh kepalsuan, Siska yang mendengar langsung mendengus kesal. Cih!.
"Oh, jadi kena bawah kamu. Syukurlah, tante tadi udah khawatir banget, takut dipakai yang aneh - aneh sama orang. Ya udah kalau gitu nanti tolong kamu balikin tasnya Siska, ya." Bu Irna percaya saja.
"Iya tante, pasti nanti Zidan balikin. Kemarin emang gak sempet aja balikinnya, soalnya 'kan buru - buru kesini, takut tante sama om salah paham sama kita."
"Iya, ya udah kalau gitu, urusan tas udah selesai. Jadi udah gak ada masalah. Sekarang cepet kalian sarapan dulu, terus cepet berangkat, ini udah siang udah mau jam 5, nanti telat lagi sampai kantornya." simpul Bu Irna, yang sebetulnya tadi ingin dipotong Siska tapi gak jadi, rasanya sudah terlalu malas kalau harus berdebat lagi sama Zidan dipagi ini. Jadi biarlah Zidan puas dengan kepalsuannya ini.
"Lo kok masih minta uang? 'kan tasnya udah ketemu?."
"Ya, tapi 'kan belum dibalikin."
"Nantikan juga dikembalikan, jadi gak usah minta - minta uang lagi."
"Ya Mam, kok gitu? uangku cuma sisa 10 ribu lo mam, ini gak cukup kalau buat naik bus." Siska protes, susah sekali mamanya ini kalau dimintain uang.
"Kok naik bus? 'kan kamu sama Zidan?."
__ADS_1
"Enggak mam, aku naik bus. Aku gak mau sama dia! Dia itu bahaya!."
"Ih, kamu ini, bahaya - bahaya gimana maksudnya. Yang bahaya itu, kalau kamu naik bus dipagi - pagi buta sendirian seperti ini, kamu bisa digodain orang. Atau, kalau kamu ketiduran, barang kamu bisa dicolong. Itu baru yang namanya bahaya." Bu Irna yang mulai over thinking lagi. Padahal semua itu sudah dilakukan Zidan pada Siska. Mengganggu dan merampas barangnya.
"Mama, asal mama tahu, itu yang mama sebutin lagi dilakuin Zidan sekarang. Mama tahu gak? tadi dia godain aku, dia masuk dalam kamarku terus bertindak senono sama aku. Selain itu tasku itu bukan gak sengaja dibawah tapi emang sengaja dicolong." Siska mengadu. Semoga dengan ini mamanya tak lagi memaksa dirinya untuk ikut bersama Zidan.
"Kamu salah. Tadi itu emang mama yang suruh Zidan masuk kekamar kamu. Kalau gak gitu kamu gak bangun - bangun. Dan lagi gak mungkin Zidan nyolong tasmu, dia uangnya lebih banyak dari uangmu. Jadi kamu gak usah cari alasan. Boleh kesel tapi benci jangan."
"Ih, mama kok gak percaya sih?." Siska tak habis pikir. Ini mamanya kenapa, kok bisa segitu percayanya sama Zidan.
"Iya, mama gak percaya. Zidan, gimana? udah siap? tante titip Siska, ya ...." Dan Bu Irna sekarang malah memanggil Zidan dan menitipkannya dengan tanpa rasa sungkan.
"Mama!!."
"Udah sana naik, udah jam 5 lebih, nanti kamu telat." paksa Bu Irna agar Siska segera masuk dalam mobil.
Mau tak mau dan sudah tak punya opsi lain karna keterbatasan finansial. Siska pun menghentakkan kakinya kasar mendekati mobil Zidan. Itu tujuannya biar mamanya tahu, kalau Siska sedang ngambek dan kesal pada sang mama.
"Gue, duduk dibelakang!." Siska membuka pintu belakang mobil Zidan dan kemudian menutup pintunya dengan keras.
BRAK!!!
"Astaga Siska! kamu mau bikin mama jantungan, ya!!!."
__ADS_1
"Aiishhh!!! ck!." Zidan yang berdiri disamping mobil mendecak kesal yang tertahan. Ini Siska pengennya bikin mobilnya cepet rusak atau gimana.