Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
82. Talking In The Night


__ADS_3

Zidan dan Siska keluar secara bersama dari dalam kamar. Mereka berdua kemudian berjalan ke arah ruang tengah dimana Om Robet dan Ery yang tempak asik nonton TV sambil ngobrol ringan.


"Zidan, aku kesana ya ..." Siska menghentikan langkahnya saat melihat Villa dan Javina didalam sebuah kamar bercat pink khas anak perempuan yang pintunya sedang terbuka.


"He'em, aku sama mereka ya." Zidan mengangguk, dan kemudian bergabung bersama Ery dan Om Robet.


Siska masuk kedalam kamar dan menyapa Javina yang tampak asik berbaring diatas kasur.


"Hay, Javina kok belum bobok?." Entah anak itu paham atau tidak, yang pasti karna sapaan Siska, Javina langsung mengarahkan pandangnya pada Siska dan tertawa,


"Belum Aunty, Javina kalau bobok malam terus." Yang jawab pastiny bukan Javina dong, tapi mamanya.


Villa menggeser sedikit posisinya agar Siska bisa duduk nyaman didekatnya dan juga Javina.


"Emang biasanya kamu tidur jam berapa sih? kamu suka begadang ya?."


"Biasanya tunggu jam 10 atau jam 11 aunty."


"Wah, malem banget boboknya." Merasa gemas Siska pun mulai mencium pipi Javina. "Ih, gemes aunty tahu, sama kamu." Dan Javina ketawa lagi, bahkan ngoceh - ngoceh juga seolah paham kalau lagi diajak ngobrol.


"Hehehe, Iya, aku suka ngerjain mama sama papa." Bahkan sang mamanya sendiri juga ikutan gemes dan seneng liat Javina yang ngoceh - ngoceh didekat Siska.


"Kayaknya Javina suka deh sama kamu."


"Iya kayaknya dia langsung ngoceh - ngoceh sama ketawa - ketawa terus." jawab Siska dengan perasaan bahagia dan bangganya karna berhasil disukai Javina.


"Emang Javina kalau bobok malam terus ya mbak?." Siska tanya.


"Iya, sekitar jam 10 jam 11 lah. Terus nanti bangun lagi per 2 jam buat nyusu terus habis itu baru benar - benar bangun lagi di jam 5." Villa menceritakan sedikit kebiasaanya di Javina.


"Oh, jadi dia lebih banyak bangunnya dong Mbak kalau malam dari pada tidurnya?."


"Ya gitu deh, kebalikan. Kalau siang dia malah lebih banyak bobonya dari pada bangunnya."


Siska manggut - manggut.

__ADS_1


"Tapi ya biasa sih, bayi ini emang gini, siklus tidurnya belum teratur, mungkin nanti kalau udah agak gedean baru bisa teratur bobok dimalam hari bangun disiang hari. Pokoknya asal anaknya gak rewel atau gak sakit semuanya aman."


Siska manggut - manggut lagi.


"Oh iya, kamu kok manggil aku mbak sih? jangan manggil mbak dong. Panggil aku nama aja, biar kita bisa lebih akrab."


"Loh kan emang mbak, mbak."


"Jangan! jangan panggil mbak. Panggil nama aja."


"Jangan dong mbak, kalau dari silsilahnya emang harus panggil Mbak karna Om Robet 'kan kakaknya papa." jelas Siska yang tak enak hati kalau harus manggil nama, meskipun dari kelihatannya mereka ini sepertinya seumuran.


"Eits! jangan bawah - bawah silsilah kalau disini. Disini itu Australia bukan Indonesia. Jadi santai aja. Apa lagi kayaknya kita ini seumuran. So, don't call me Sister, oke?." Villa pun juga merasa kalau dirinya seumuran dengan Siska.


"Tapi gak enak juga mbak, masak aku harus panggil nama kayak gak etis aja."


"Ssttt! stop. Dont call me sister. Zidan sama Ery aja gak ada panggil - panggil abang or mas or semacamnya. So, us too, just call my name, oke?."


Walaupun berat Siskapun akhirnya mengiyai. "Oke."


"Good. Kalau gini 'kan enak, jadi kita gak perlu sungkan - sungkanan lagi. Kita bisa lebih santai juga ngobrolnya."


"Ini buat Javina."


"Wooowww, kamu dapat hadiah sayang." seru Villa dengan sikap antusiasnya menerima hadiah dari Siska dan juga langsung membuka hadiah tersebut saat itu juga.


"Maaf ya ini aunty belinya modal kira - kira tapi semoga aja cocok dan Javinanya suka." Jelas Siska.


"Woooowwww, dapat baju banyak banget, Jav. Dapat boneka juga sama mainan." Yap, isi hadiah dari Siska ada baju, mainan dan juga beberapa boneka kecil yang lucu - lucu. "Waaahhh, ini sih bukan Javina aja yang suka momynya juga suka, lucu - lucu banget sih ini baju sama bonekanya."


"Syukur deh kalau Javina sama mamanya suka, soalnya kemarin belinya rada - rada bingung."


"Makasih ya Sis, udah repot - repot kasih hadiah buat Javina bawah jauh - jauh dari Jakarta. Berarti banget ini buat kita. Jadi ngerasa punya saudara." kata Villa, pasalnya karna dia tinggal di Australia jadi kadang Villa meraka gak punya siapa - siapa didunia ini.


"Iya sama - sama. Aku juga seneng kalau ternyata hadiahnya ini bisa diterima dengan senang hati." Ya, siapa yang tak suka ketika barang pemberiannya ternyata diterima dengan tulus dan besar hati.

__ADS_1


"Eh tapi beneran deh, aku ini seneng banget kalian bisa kesini. Bisa nengokin sama jenguk kita. Rasanya itu kayak beneran merasa punya saudara dan gak sendirian lagi. Soalnya selama ini kan kita tinggal disini sendirian. Dinegara orang. Jadinya kemarin pas denger kalian katanya beneran datang aku jadi eksaited." Villa bahkan menggenggam tangan Siska karna sangking bahagianya.


"Iya, aku sendiri juga seneng bisa kesini meskipun gak sesuai rencana sih, padahal niatnya berangkat pas Javina lahir tapi ternyata baru kesampaian sekarang." Siska membalas genggaman tangan Villa. Ini adalah kode awal mulai hubungan baik keduanya.


"Yang penting udah kesampaian dan sekarang bisa ketemu aku sama Javina. Dan Javina sekarang punya aunty, ya 'kan Jav." kata Villa pada Javina yang tertawa lagi saat disapa seolah bayi itu mengiyakan apa kata Villa.


"Ih, anak ini ketawa - ketawa terus, aunty jadi makin gemes banget sama kamu." Dan Siska kembali melayangkan ciumannya pada si bayi imut itu.


"Ih, aunty jadi pengen bawah kamu pulang saking gemesnya." kata Siska lagi.


"Jangan dong aunty nanti mama sama papa gak ada temennya. Aunty bikin aja sendiri sama aucle, sekalian nanti biar Javina punya adek juga biar makin rame." kata Villa.


"Hehehe." Siska cuma nyengir.


"Bikin udah aunty, besok 'kan mau honeymoon."


Siska kembali nyengir, tapi nyengirnya aneh. Sedikit menutupi perasaannya jika bahasannya tentang anak. Antara yakin dan tidak.


"Asyik tahu aunty, punya anak itu. Hari - hari kita jadi lebih berwarna. Disaat lelah sama sedih itu ada yang menghibur. Ada semangat sendiri dan ada rasa bangga tersendiri karna berhasil jadi ibu."


Dengar Villa bicara seperti ini, Siska pun memandang Villa, seolah ingin terus mendengarkan Villa berbicara. "Emang gak capek ya punya anak?."


"Enggak. Gak sama sekali. Malah menyenangkan."


"Tapi 'kan kalau masih kecil gini pastinya repot."


"Kalau repot itu pasti. Tapi semua itu langsung terbayar tuntas sama tingkahnya yang lucu. Kalau aku boleh curhat dikit. Kamu tahu gak sih dulu aku itu sempet depresi loh." bisik Villa menceritakan sedikit kisah hidupnya.


"Depresi maksudnya?." Siska jelas kaget dong mendengar Villa yang katanya pernah depresi ini.


"Karna merasa sendiri."


Siska mengernyit, sebagai tanggapan.


"Pas awal nikah dulu aku sama Ery LDR selama setahun. Habis itu karna gak mungkin terus jauhan akhirnya aku mutusin buat ikut kesini. Setelah disini, kita tinggal berdua. Setiap harinya Ery harus ninggalin aku kerja mulai pagi sampai malam. Begitu juga mama sama papa yang sibuk kerja juga. temen gak punya, tetangga juga gak bisa akrab kayak di Indonesia. Saudara pun juga, kamu tahu sendiri kalau Ery itu anak tunggal. Ya, karna itu, jadinya aku merasa sendirian disini hidup sebatang kara jadinya depresi."

__ADS_1


Siska diam mendengarkan setiap cerita Villa.


"Tapi setelah Javina lahir, rasa depresi, rasa sedih, rasa lelah semuanya hilang gitu aja. Semuanya udah jadi rasa bahagia sama rasa syukur. Rasanya bisa bangga banget bisa jadi seorang ibu terus kasih keturunan buat suami dan keluarganya. Aku jadi merasa berguna aja gitu. Pokoknya amazing banget."


__ADS_2