
Siska menatap pantulan dirinya di cermin. Kiss mark dari Zidan masih juga belum hilang padahal sudah lewat sehari. Ini kiss marknya bukan cuma 1 tapi ada 4 biji. Satu dileher sebelah kiri dan 3 di leher sebelah kanan. Dan hari ini Siska harus berangkat kerja. Jadi gimana caranya untuk menutupi?.
"Huft!!." Dengan dengusan kasar, sesuai petunjuk yutub. Siska mengoleskan concealer pada kiss marknya. Gerakannya terlihat kasar. Karna memang ngolesinnya sambil kesal sendiri.
"Iisshh! dasar Zidan sedeng!."
"Argghhh!!."
"Ini gimana caranya nutupin? mana banyak lagi. Hiks!."
"Please jangan sampai keliatan."
"Arrgghhh! gak bisa..."
"Hiks! gak bisa..."
Ya sedari tadi Siska merengek sendiri. Karna concealernya tak juga menutupi sempurna. Bahkan warnanya terlihat tumpang tinduh dengan warna kulitnya. Menyerah pada concealer, Siska pun membuka lemari untuk mencari scarf yang bisa digunakan untuk menutupi lehernya.
Oke, 1 buah scarf yang senada berhasil dipakai di leher Siska. Siska pun memandangi penampilannya. Cantik sih, tapi ini lebih aneh karna dia tak biasanya pakai scarf. Jadi jatuhnya malah buat orang semakin curiga.
Dan ditengah rasa galaunya. Suara klakson mobil terdengar dari luar. Tak perlu ditanya siapa yang datang karna raut wajah Siska yang tadinya sudah kesal malah semakin kesal lagi.
"Ngapain lo kesini pagi - pagi?." Meskipun kesal, Siska masih membukakan pintu kontrakannya untuk Zidan.
"Gue mau tanggungjawab." jawab Zidan sembari mengeluarkan sebuah salep dari dalam sakunya dan diberikan pada Siska.
"Apaan nih?"
"Buat itu, biar gak keliatan."
"Emang ada ya obatnya? perasaan di yutub atau di online shop gak ada, ini jangan - jangan lo ngarang?."
"Udah deh lo diem aja, sekali - sekali jangan negatif thinking ke gue gak bisa ya?."
"Enggak, gak bisa!."
Zidan yang sudah tak sabar pun kemudian merebut kembali salep yang tadi dibawahnya.
"Ini itu dari dokter, dan yang tahu gak semua orang. Jadi lo gak usah khawatir." jelas Zidan dengan gerakan tangan yang mengoles bekas kissmark di leher Siska.
__ADS_1
"Ih, apaan sih lo?." Siska berusaha menghindar.
"Diem! nanti gak merata." perintah Zidan dengan tegas.
Siska nurut. Dia membiarkan Zidan mengoleskan salep tersebut di bekas kissmarknya. Karna pikirnya emang harus gitu. Zidan harus tanggungjawab. Kalau bukan karna dia, Siska gak akan bingung gini.
Tapi disini Siska malah gagal fokus. Sentuhan tangan Zidan dilehernya malah terasa menyesatkan dan membuatnya jadi traveling kemana - mana. Apa lagi saat mata Siska tertuju pada bibir Zidan yang sedikit basah. Bibir itu juga sedikit terbuka seperti minta gigit. Aishh!! Gila 'kan? Siska sadar! pagi - pagi jangan mesum!."
"Eh, udah, gue bisa sendiri." Siska sedikit menjauh untuk menghindar. Dia juga kemudian mengambil salep ditangan Zidan. Jangan sampai pikiran kotornya tadi ketahuan sama Zidan.
"Em, oke. Oh ya, ada yang lupa. Ini. Ini, cocok sama warna kulit lo kayaknya. Nanti setelah di olesin salep bisa lo tutupi pakai ini." Dan Zidan mengeluarkan sebuah concealor dari sakunya lagi.
"Lo ini beneran niat ya?."
"Ya, harus. Jangan sampai lo marah ke gue berlarut - larut. Entar gue jadi gak bisa tidur."
"Cih!." Siska mencebik.
"Hahaha, udah sana pakai, ini udah jam setegah 8 lebih. Entar lo telat. Gue tunggu, gue anterin lo ke kantor."
Siska pun masuk dalam kamarnya. Menutup bekas kissmark sesuai arahan Zidan tadi. Dan untungnya benar, untuk kali ini kissmarknya benar - benar tak terlihat dan bisa tertutup sempurna. Dan setelahnya dia keluar untuk berangkat kerja diantar Zidan.
"Loh, bukannya lo nganterin gue karna juga mau kesini?."
"Enggak, hari ini gue ada meeting di kantor, jadi hari ini gue gak disini. Sekedar pemberitahuan biar lo nanti gak nyariin gue kalau gak ngeliat gue."
"Isshh! GR!. Udah ah, gue berangkat. Lo ati - ati!." Ya secara tak sadar Siska mengucapkan kata hati - hati itu.
"Pasti, lo juga ati - ati."
Siska keluar dari mobil Zidan. Yang tak lama kemudian mobil itu terlihat melaju meneruskan perjalanan. Sedangkan dirinya pun juga mulai berjalan masuk ke halaman gedung kantor.
"Siska!." Suara Raya memanggilnya. Dia baru turun dari mobil yang dikendarahi Krisna. Dan setelahnya langsung menyusul Siska dan mensejajarkan langkahnya.
"Huh! gue rasanya masih puyeng gara - gara mabuk kemarin." Raya langsung memulai obrolan. Bahkan kepalanya juga sengaja digelandotkan di lengan Siska.
"Hm, salah sendiri, udah tau gak bisa minum malah ikut - ikutan."
"Ya masak gue harus minum es jeruk, gak seru banget."
__ADS_1
"Ya tapi 'kan pada akhirnya lo sendiri yang susah."
"Huh!! iya, pada akhirnya gue juga kena omelan gak jelas dari Krisna. Hiks!."
Raya mengangkat kepalanya dari lengan Siska. Tapi perhatiannya malah teralihkan pada ceruk leher Siska yang dempulnya keliatan tebel. Otomatis dia curiga dong. Jadinya tanpa peringatan, Raya pun langsung mengusap leher Siska yang tertutup concealer.
"Raya!! ngapain lo?" Siska memekik sekaligus menghindar.
"Oh My God Siska, itu kissmark 'kan? iya 'kan?" Dan Raya lagi - lagi malah mencoba menghapus concealernya dibagian yang lain.
"Eh! Raya! lo ngapain sih?."
"Gue pengen tahu, ada berapa banyak."
"Gila lo!!."
"Hahahaha. Eh, ini yang gila lo, bukan gue. Astaga, sempet - sempetnya ya lo bikin kiss mark segala. Banyak lagi."
"Ish! diem gak lo!." Siska meraih cermin di tasnya. Dia langsung ngaca dan benar saja gara - gara Raya kissmarknya jadi kelihatan lagi.
"Hahaha. Udah, itu udah keliatan jadi mending lo pulang aja. Dari pada malu - maluin."
"Huft! ini juga gara - gara lo!"
"Hahaha. Tapi bentar deh Sis, gue penasaran." Secepat kilat, Raya malah berusaha mengintip dada Siska. Ya siapa tahu disana lebih banyak berkas kissmarknya.
"Raya! lo jangan kumat!."
"Hahaha siapa tahu di dada lebih banyak, gue kan kepo. Hahaha."
"Brengsek lo! lo kira gue apaan!!."
"Hahaha, ya siap tahu, memutar memori yang dulu. Lo kan dulu pacarannya kalau sama Zidan brutal. Hahaha."
"Lo jangan inget - inget masalalu. Lo tahu itu masalalu gue paling buruk."
Astaga ini si Raya malah bahas masalalu. Tapi memang betul sih, dulu gaya pacarannya dengan Zidan bisa dibilang brutal. Dulu meskipun mereka masih SMA, tapi keduanya udah pacaran ala - ala model dewasa. Ciuman yang mereka lakukan bukan cuma sekedar ciuman bibir tapi juga sudah sampai dada. Mungkin karna itu juga kemarin Siska tak melawan saat Zidan sudah mulai menciumi lehernya.
Tapi kalau inget itu. Bukankah itu adalah salah satu hal yang paling Siska sesali. Karna jujur saja, setelah putus dengan Zidan, Siska jadi membangun benteng diri. Pacar - pacarnya selanjutnya tidak dibiarkan dengan muda menyentuh dirinya. Bahkan yang biasanya selalu dikenalkan pada orangtuanya juga sudah tak lagi dilakukannya.
__ADS_1
Hanya 5 bulan jadian, tapi terlalu banyak kisah antara dirinya dan Zidan. Zidan bukanlah pacar pertamanya tapi ciuman pertamanya bersama Zidan. Bahkan ciumannya sampai nemplok. Zidan juga bukan cinta pertamanya, tapi Zidan masih menyandang sebagai orang paling dicintai diantara semua lelaki yang pernah menyandang status pacarnya. Dan karna rasa itu, Zidan jadi orang yang paling banyak menorehkan luka dihatinya dulu karna sudah berani menyelingkuhinya.