
"Sis, kitakan udah mau jadi suami istri, stop dong hajar aku." Zidan mulai merajuk dan meminta.
"Ya kalau lo kurang ajar ya tetep gue hajarlah."
"Mana ada yang namanya kurang ajar antara suami sama istri, sih, Sis? yang ada yang kayak gini itu wajar. Kita pelukan, ciuman, mesrah - mesrahan, begituan."
"Eh, enggak! bagi gue itu semua tetep namanya kurang ajar. Jadi kalau lo ngelakuin semua yang lo omongin tadi, gue bakalan tetep hajar lo!." Dan Siska tak bergeming. Enak aja dia minta gitu, lupa kali kalau pernikahan ini terjadi karna apa?.
"Lah kenapa gitu? Kita 'kan udah suami istri, aku berhak atas kamu, kamu juga berhak atas aku."
"Eh, mana ada yang gitu. Yang gitu itu kalau nikahnya bukan karna paksaan. Kalau kita mah, beda. Kita nikah karna lo jebak gue. Lo bohong sama mama sama papa. Jadi jangan harap lo bisa mesrah - mesrahan sama gue meskipun kita udah nikah. Satu lagi, gak usah aku, kamu, aku, kamu. Gue geli dengernya, biasa aja!."
"Hm, oke deh, gue deh gue. Gue juga geli yang ngelakuin. Lanjut pembahasan. Gue tahu, lo pasti butuh waktu buat terima ini semua. Memang pernikahan ini terjadi karna gue yang memanfaatkan keadaan. Tapi, meskipun gitu. Gue seneng, lo terima jebakan gue dengan senang hati. Lo gak kabur. Lo masih berdiri dihadapan gue, pakai baju bagus, pakai make up, lo tampil cantik. Cantik banget malah bikin gue jadi bahagia yang liat." aku Zidan dengan senyum genitnya. Ya maklum mulai semalam, pikirannya sebetulnya udah negatif thinking. Dia takut Siska kabur atau kalau enggak mengacokan acara lamarannya.
"Ishh! gini - gini gue juga terpaksa. Gue gak mau jadi anak durhaka ya! Jadi jangan lo simpulin karna gue gak kabur, gue jadi iya - iya aja kalau lo sentuh! dan belum tentu pula sekarang gue gak kabur tapi pas acara pernikahan gue kaburnya."
Mendengar ucapan Siska, seketika wajah Zidan berubah sendu. Ada rasa sakit yang terpancar dari raut wajahnya.
"Emang kamu mau ninggalin aku pas acara pernikahan?." Ah, suaranya bahkan terdengar pedih.
"Ya emang kenapa?" Ada rasa bersalah yang tersembunyi dari raut muka Siska. Dia lupa kalau Zidan pernah gagal menikah dan dihianati mantan istrinya selepas acara pernikahan.
"Jangan, aku mohon. Jangan mengulang masalalu gue yang gak enak."
"Ya, pokoknya kalau lo gak mau gue kabur, lo jangan sentuh - sentuh gue dong!."
Zidan tersenyum simpul. Sedikit lega mendengarnya.
Suasana senyap sejenak, tapi kemudian kembali tak kondusif ketika Zidan melayangkan sebuah pertanyaan.
"Jadi, gue beneran nih gak boleh sentuh lo?"
Tangan Zidan mulai bergerak menyugar selembar rambut Siska yang menutupi sebagian mata.
"Gak boleh banget!! ngerti gak sih lo?." Siska ngegas, tapi malah menikmati sentuhan kecil sari Zidan.
"Em, padahal gue kangen sama lo. Kita baru ketemu kemarin, dan besok malam sampai 3 hari sebelum kita nikah, gue harus ke jogja." Zidan dengan ekspresi sesalnya.
Siska mengernyit mendengar kabar ini. Ini apa - apaan. Mau nikah malah ditinggal pergi?.
"Kok?."
"Iya, soalnya masih proses awal, jadi gak bisa gue tinggal lama - lama. Takut kacau pembangunannya."
"Em..." Ada rasa tak rela dari gumaman Siska.
__ADS_1
"Jadi gimana? masih gak boleh sentuh - sentuh?."
"Issshh!!! Enggak!!!." Siska reflek menjauhi Zidan. Meskipun dalam hatinya juga ingin, tapi untuk sekarang harus jual mahal.
"Kalau gak boleh cium, peluk aja deh." Zidan mendekat.
"Itu sama aja! gak boleh!." Siska semakin menjauh melangkah ke arah pintu.
"Siska ..." Zidan malah ngerengek kayak anak kecil.
"Ih! lo ngerti gak sih bahasa manusia?."
"Ngerti, tapi kalau bahasanya Siska gue gak ngerti"
Brak!!!.
Zidan menutup pintu kamar Siska. Dan Siska lagi - lagi terkunci diantara daun pintu dan tubuh Zidan,
"Lo, udah gak bisa kabur lagi."
Siska jadi gugup. Tapi ketika matanya mengarah pada bibir Zidan yang terluka, dia malah dapat ide.
"Kata siapa?." Siska tersenyum smirk.
Sesuai dugaan, Zidan pasti langsung menarget bibirnya dong. Dan tak perlu tunggu lama - lama. Digigit ajalah bibir si Zidan. Biar tahu rasa.
"Hahahahha!!. Rasain! itu pembalasan dari gue karna dulu lo pernah gigit bibir gue." Siska tertawa puas. Salah sendiri macam - macam dengannya.
"Aaaiiisshhhh!!! lo suka banget sih nyakitin gue?."
"Ember..."
Dan kemudian Siska meninggalkan Zidan begitu saja.
Sesi mengobrol para tetua juga sudah selesai. Sekarang sudah berganti jadi sesi makan bersama. Semua orang sudah pada kumpul dimeja makan. Tapi masih juga tetap bersanda gurau.
"Kenapa bibir kamu Dan? kok kayaknya luka gitu?." Tanya Bu Resti dengan muka herannya, dan itu diikuti juga oleh semua orang yang ada disana tak kecuali Siska tapi dengan ekspresi nyantai.
"Di gigit tikus." jawab Zidan asal. Tapi dari jawaban itu semua orang juga sudah langsung paham apa penyebabnya. Jadi sontak saja Bu Irna yang duduk disebelah Siska memukul lengan anaknya.
"Aarrrggghhh!! Mama! kok mukul?."
"Kenapa? lihat tuh bibirnya Zidan, kamu apain?."
Siska terkejut dong, gimana bisa mamanya tahu, apa lagi juga langsung tanya gitu disaat seperti ini. Bikin malu 'kan jadinya.
__ADS_1
"Emang aku ngapain? aku gak ngapa - ngapain."
"Dasar kamu ini!. Tuh 'kan Pak Sony Bu Resti mereka ini emang gak bisa dinikahinnya lama - lama. Baru aja lamaran sekarang udah main grusah grusuh." Bu Irna jadi neting. Pikirnya si Siska kalau main suka yang kasar.
"Hehehehe, iya betul. Mungkin efek masih muda, kalau udah tua kayak kita jangan harap bisa gitu." jawab Bu Resti sambil malu - malu.
"Emang mama masih mau kayak gitu?" Eh, Pak Sony malah nyeletuk.
"Hm, meskipun mau juga punya papa susah berdirinya." jawab Bu Resti spontan.
"Ih, sama jeng, kalau udah tua susah berdirinya kayaknya." Bu Irna nyambung.
"Eh, mama kok merendahkan papa sih jadinya?." Pak Leo tak terima.
"Emang faktanya begitu. Mau ngomong gimana lagi." timpal Bu Irna.
"Sudah Pak, biarin mereka ngomong sesuka hati. Padahal pastinya kalau pun udah beneran berdiri mereka malah yang suka ninggalin tiba - tiba." Kali ini Pak Sony yang menanggapi.
Siska dan Zidan saling berpandangan. Keduanya terlihat sedang menahan malu karna pembahasan para orang tua mereka. Ini kenapa juga bisa - bisanya bahas begituan.
Jam 9 malam. Bu resti, Pak Sony dan Zidan pun pamit undur diri. Sedikit basa - basi sebelum pergi, mereka kembali membahas masalah pernikahan. Berharap pernikahan Zidan dan Siska dapat berjalan lancar sesuai dengan keinginan mereka.
"Siska." Bu Resti menyentuh tangan Siska dan menggenggamnya hangat. "Besok, pulang kerja kamu ikut Zidan ya kerumah. Tante pengen kita makan malam bareng. Kebetulan si Caca juga datang, dia pasti seneng kalau ketemu kamu lagi."
Caca ini adiknya Zidan. Dia ini dulu waktu Siska dan Zidan masih pacaran, umurnya sekitar 5 tahunan dan masih TK. Jadi kalau sekarang, mungkin Caca sudah remaja.
"O iya tante, besok Siska kesana."
"Heem, tante tunggu, ya..."
Terselip mata haru diantara manik mata Bu Resti. Matanya juga perlahan mulai basah di ujungnya. Setelah mengusap - usap telapak tangan Siska lembut. Dia kemudian mengulurkan tangannya dan mendekap Siska.
"Terima kasih ya sudah mau nerima Zidan lagi. Terima kasih sudah menyembuhkan luka Zidan." bisik Bu Resti membuat Siska jadi terharu yang mendengar.
Bu Resti melepas pelukannya. Kemudian kembali menatap Siska dengan setetea air mata yang tak sengaja jatuh.
"Iya tante, sama - sama, terima kasih juga udah terima Siska lagi." jawab Siska, ya dia tahu. Ini adalah ungkapan seorang ibu yang anaknya pernah gagal nikah dan dihianati saat hari pernikahannya.
****
Sudahlah ini ceritanya malah emak bapaknya mereka ngelantur kemana - mana...
anggap aja buah jatuh tak jauh dari pohonnya. Sama - sama suka mesum kwkwkwk
efek writer's block, jadi bingung mau nulis apa...
__ADS_1
tapi semoga yang baca tetep suka.