Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
49. Kegagalan yang hakiki


__ADS_3

JEEEDDDDDEEEERRRRRRRR!!!.


Bagai disambar petir disiang bolong. Zidan langsung berangsut lemas dan loyo. Badannya ditekuk agar bisa memeluk Siska lebih erat dengan posisi kepala yang sengaja disandarkan ke pundak Siska sambil dusel - dusel reflek karna gregetan. Pengennya ngamuk, protes atau apapun pokoknya bisa melampiaskan perasaan kecewanya tapi gak bisa. Bisanya cuma pasrah. Nasib - nasib.


"Kenapa harus sekarang dapetnya? itu gak bisa ya dijampel terus ditunda beberapa hari lagi?." Dasar Zidan yang masih ngarep. Malah tanya yang aneh - aneh.


"Ya mana bisa gitu. Kamu jangan aneh - aneh jadi orang!."


"Ya siapa tahu bisa ditunda. Harusnya 'kan dia ngerti kalau kita ini pengantin baru. Tapi kenapa malah datang?."


"Ya mana ku tahu. Kamu ini juga, kok gak ada sungkan - sungkannya sih sama aku? atau malu kek dikit, baru juga nikah udah frontal gini sikap kamu!. Padahal biasanya pasangan suami istri yang baru aja nikah itu pada gugup - gugupan mau mulai. Kalau kamu enggak malah bertingkah kayak suami yang udah lama gak dapat jatah!." Siska ngomel, sambil berangsut melepas pelukan Zidan kemudian melangkah menghidupkan kembali lampu kamarnya dan duduk bersandar di ranjang dengan cermin kecil yang mengarah kewajahnya.


"Beda orang beda sikap, sayang. Kalau aku lebih baik jujur dan terbuka. Ngapain juga malu - malu. Biar hemat waktu."


Ya, ya, ya, apapun yang Siska katakan akan selalu ditampik oleh Zidan. Jadi Siska lebih baik gak usah peduli dan melanjutkan kegiatannya aja untuk melakukan perawatan diri sebelum tidur.


"Terus aku harus gimana dong sekarang?." Zidan masih aja kelihatan frustasi. Sekarang dia duduk disamping Siska, menatap sang istri penuh harap.


"Ya gimana? pasrahlah." jawaban Siska langsung membuat Zidan menghela nafas berat.


"Udah deh, jangan kayak anak kecil yang mainannya direbut sama temennya sendiri. Kok kayak gak ada hari esok aja."


"Esok? besok berarti bisa?." Kata Esok jelas diartikan begitu sama Zidan dengan wajah harapnya.


"Esok - esok! 7 atau 8 hari lagi!. Ini baru hari pertama!. Ckckc!." Dan Zidan pun langsung lemas lagi. Jangankan menunggu sampai 7 atau 8 hari lagi. Nunggu sampai besok saja rasanya dia udah gak bisa kayaknya.


"Lama banget Sis? gak bisa di cepetin apa?."


"Ya mana bisa diatur - atur! kamu ini dari tadi aneh - aneh aja. Lagian juga biasanya gak begitu, kenapa sekarang jadi bingung karna gak bisa gitu? kamu ini sebetulnya sayang gak sih sama aku? kenapa sedari tadi pikiran kamu tentang begituan terus? bukannya harusnya syukur aja karna kita udah bisa nikah? Isshhh!!." Siska mulai gregetan.


"Kok kamu jadi meragukan rasa sayang sama cintaku lagi sih? Padahal udah jelas - jelas, aku sayang sama kamu. Aku bahkan tadi sampai nangis gara - gara bisa beneran nikah sama kamu. Masak kamu masih gak percaya sih?."


"Ya habisnya kamu kayak ular kepanasan yang gak jelas gitu. Udah ah, jangan ribut. Aku capek seharian berdiri, nyambut tamu, senyum sana sini. Aku mau tidur. Matiin lampunya terus itu juga lilin - lilinnya kamu tanggungjawab. Jangan sampai jadi kebakaran karna lupa dimatiin!."


Dengan raut kesal, Siska bergeser dan merebahkan tubuhnya setelah kegiatan perawatannya selesai. Separuh badannya ditutupi selimut dengan posisi miring membelakangi Zidan.

__ADS_1


"Huft!."


Melihat sang istri mau beristirahat. Zidan beranjak dari atas kasur dan menunaikan semua perintahnya tanpa mengeluh lagu. Selain itu, dia juga menghidupkan lampu redupnya agar kamar tak begitu gelap meskipun lampu utamanya dimatikan.


Sepersekian waktu kemudian. Tangan Zidan mulai melingkar diperut Siska dengan lembut. Jemarinya juga secara otomatis menggenggam tangan Siska. Bahkan satu tangannya lagi diselipkan ke bawah leher Siska agar bisa ditiduri oleh Siska. Sambil memberi sedikit tarikan agar tubuh mereka bisa berdekatan. Dari sini, Siska bisa merasakan kehangatan yang diberikan oleh Zidan.


"Udah tidur?." suara Zidan terdengar berat, mungkin karna sudah malam atau mulai mengangguk. Tapi meskipun begitu kedengarannya masih lembut ditelinga Siska.


"M."


Zidan langsung senyum. Mana ada orang udah tidur tapi bisa jawab.


"Sis, tadi waktu ketemu sama Mega dan Goldi, gimana perasaan kamu? kira - kira kamu merasa terganggu gak?." Zidan memulai obrolan pengantar tidurnya.


"Enggak sama sekali. Aku malah suka sama Viona."


"Syukur kalau gitu. Tadi aku takut kamu gak nyaman didekat mereka dan ngerasa terganggu."


"Enggak kok, kamu tahu sendirikan tadi. Aku bahkan ngobrol santai 'kan sama mereka."


"Iya." Zidan tersenyum kecil. "Tadi itu aku beneran gak nyangkah kalau kamu malah mau ngakrabin diri ke mereka, padahal aku tadi udah punya ancang - ancang buat ngusir mereka kalau mereka ngomong yang aneh - aneh."


Zidan mengulas senyum lagi. "Iya. Ternyata mereka masih punya rasa bersalah."


Siska membalik badannya menghadap ke Zidan agar bisa bertatapan langsung saat ngobrol.


"Kamu masih sakit hati sama mereka?."


"Em, sebenernya kalau dipikir - pikir, aku gak sesakit hati itu sama mereka. Meskipun mereka ada fair dibelakangku. Dulu itu yang aku rasain lebih ke rasa bersalah karna udah buat semua keluarga sedih. Aku down karna ngeliat mama yang terus - terusan nangis sama meratapi nasibku. Aku down karna Oma meninggal. Terus keluarga besar jadi perang dingin. Rasanya dulu kayak lebih ke aku udah jadi anak yang gak becus. Anak yang mengecewakan. Anak yang suka bikin masalah. Ya pokoknya yang seperti itu."


"Bentar, kok aneh sih? kok malah ngerasa bersalah? bukannya harusnya merasa dihianati? diselingkuhi? sama ponakan sendiri lagi. Kamu ini gak cinta ya sama Mega?."


"Cinta? em ..." Zidan harus berpikir untuk menjawab pertanyaannya Siska. Tapi kemudian matanya menatap dalam penuh arti pada Siska. "Aku baru sadar. Ternyata aku gak se cinta itu ke Mega." Yap, ternyata, rasa cintanya ini bukanlah untuk Mega tapi untuk wanita yang sekarang berbaring dengannya.


"Kamu bilang gak secinta itu sama Mega, tapi kamu kemarin nikah sama dia!." Dengan nada sewot Siska menimpal. Ya mau percaya gak cinta, tapi faktanya berkata seperti ini.

__ADS_1


Zidan tertawa kecil. Tangannya juga mulai memberi elusan lembut dikepala Siska dengan sayang. "Hehehe, berarti kemarin - kemarinnya salah mengartikan perasaanku sama dia. Aku kira aku cinta sama dia tapi sebetulnya perasaanku sama dia itu lebih karna rasa kagumku sama dia atau karna rasa terima kasihku yang berlebihan sama dia?."


"Maksudnya?."


"Kamu mau tahu? gimana ceritanya aku bisa ketemu Mega terus nikah sama dia?."


Siska tak nyaut tapi dari ekspresinya dia menunggu Zidan cerita.


"Jadi dulu itu, omaku sakit - sakitan terus kena stroke ringan. Karna dulu aku yang sering anterin Oma berobat sama terapi di rumah sakit, jadi kita ketemu secara gak sengaja. Mega itu perawat yang selalu nanganin Oma pas dirumah sakit. Singkat cerita Oma sama Mega jadi akrab begitu juga sama aku. Selain dirumah sakit, setiap Mega libur dan ada waktu dia juga sering datang kerumah. Deket, deket, deket, oma minta aku sama mega nikah. Ya akhirnya tanpa pikir panjang karna aku ngerasa mega ini orang baik, perhatian sayang sama oma. Akrab sama mamaku sama Caca, aku pun mau nikah sama dia, begitu juga sama dia. Eh, tapi ternyata pas dihari H dia malah ketahuan hamil dan ya udah cerai."


Siska manggut - manggut. Tapi sedetik kemudian tatapannya menajam karna curiga. "Jangan - jangan kamu ke aku juga gitu, ya? Kamu paling sebetulnya cuma terobsesi sama aku, kamu cuma nafsu sama aku, pengen sentuh - sentuh aku. Terus semua itu kamu artiin itu jadi cinta?."


"Astaga, kok kamu mikirnya jadi gitu?." Zidan tak habis pikir.


"Ya siapa tahu. Soalnya sikap kamu gitu kalau sama aku. Jadi sebelum kita makin jauh. Lebih baik kamu merenung dulu, kamu ini beneran cinta atau enggak sama aku."


"Aiishhh! mulai lagi. Mulai ngeraguin perasaanku lagi. Padahal semuanya udah aku kasih ke kamu. Tadi aku sampai nangis lo sis, kamu lupa?, uang pun juga gitu, udah aku kasih semuanya ke kamu. Tapi kamu masih ngeraguin? ckckck!." Zidan jadi kesal sendiri. "Sekarang aku tanya sama kamu. Kalau kamu gimana? kamu sayang gak sama aku? aku rasa disini yang masih belum punya perasaan apa - apa itu sebenarnya kamu, bukan aku, iya kan ngaku kamu!."


"Uhm, aku kok jadi ngantuk ya? Oh, udah malam ternyata. Tidur aja yuk..." Siska memilih menghindar dari pertanyaan Zidan. Tapi dengan gestur meluk sang suami dan menyandarkan kepalanya didada.


"Cih! ngapain peluk, peluk? jangan - jangan kamu yang cuma pengen sentuh - sentuh aku ya?." Zidan mencoba melepaskan pelukannya. Tapi Siska malah semakin mengeratkan pelukannya dan mencari posisi yang nyaman.


"Minggir jangan peluk - peluk!. Ditanyain gak jawab malah peluk - peluk, gak tahu malu kamu!."


"Sstttt!! udah malem, jangan ngomong aja. Nanti kalau ngomong terus aku cium kamu!." Siska ikut - ikut cara Zidan, kalau lagi menggodanya.


Zidan tertawa kecil. "Emang kamu berani cium aku?." Kata cium dari Siska langsung merubah suasana hatinya yang tadi kesel kembali ceria.


"Emang kamu kira aku gak berani?."


"Enggak!." Tapi dengan ekpresi ngarep.


"Ish! gak jadi. Aku tahu kamu lagi mancing, biar dicium beneran!."


"Hahaha, tuh kan gak berani."

__ADS_1


"Tidur udah malem, ini posisinya udah enak banget."


Yap, Siska kembali menenggelamkan dirinya dalam dada Zidan sambil memeluk erat.


__ADS_2