
"Sis," Suara Zidan terdengar serak ditelinga Siska.
"Hm, apa? lo mau apa?." Dengan rasa gugupnya Siska masih mencoba melawan agar tak terpikat oleh Zidan yang terus saja menatapnya sayu.
"Gue boleh gak cium lo?"
"Hah?." Tumben Zidan minta ijin, biasanya dia langsung nyosor.
"Kalau boleh, gue mau cium lo sekarang." Sekali lagi Zidan tanya. Masih dengan tatapan sayunya dan sialnya membuat Siska jadi lebih gugup.
"Lo, Lo tumben tanya? biasanya lo langsung nyosor?."
"Mulai hari ini, setiap kali gue mau cium lo, gue bakalan tanya dulu."
"Hah? kenapa?." Siska heran. Ini Zidan beneran gak seperti biasanya. Dan yang seperti ini malah membuat Siska jadi takut dan gugup.
"Trauma."
"Maksud lo trauma?" Siska benar - benar gak ngerti.
"Trauma, takut di hajar lagi." jawab Zidan dengan gerakan semakin mencondongkan dirinya secara perlahan kearah Siska.
"Oh." Siska menahan tawa. Ya memang selama ini setiap Zidan selesai menciumnya, Siska pasti akan selalu menghajarnya.
"He'em, jadi gimana? gue boleh cium lo?"
"Gue pengen sayang..."
"Hah?." Siska jadi ngeleg lagi. Dia sedang dirundung rasa gugup yang teramat. Bagaimana tidak, posisinya sudah sangat dekat dengan Zidan yang lagi telanjang dada. Serta deru nafas Zidan yang menyapu wajahnya ternyata malah berhasil memancing gairahnya.
"Boleh ya?"
Zidan masih menunggu jawaban Siska dengan sabar. Kali ini dia ingin benar - benar menikmati ciumannya tanpa perlu takut digeplak lagi.
"Sis. I want to kiss you, now. Please give me your lips."
Astaga, kalimat Zidan tadi beneran terdengar sensual ditelinga Siska sampai bulu kuduknya jadi berdiri dan wajahnya memerah. Rasanya dia hampir gila karna tak bisa menahan diri karna juga ingin ciuman.
"Siska."
Dan, yap. Tak perlu berpikir lagi. Siska pun mengangguk. Karna dia memang juga sudah menginginkannya.
Dapat persetujuan dari Siska. Otomatis Zidan langsung bereaksi. Zidan mulai menghisap bibir bawah dan atas Siska secara teratur. Perlakuan Zidan itu jelas membuat Siska jadi terlena. Tangannya secara tak sadar dikalungkan keleher Zidan sambil menutup mata untuk lebih menikmati setiap hisapan yang diberikan oleh Zidan.
__ADS_1
Hawa panas semakin terasa ketika Zidan secara tiba - tiba malah menggendong dan mendudukkannya di atas meja. Zidan melepas ciumannya sejenak untuk mengambil nafas. Mata keduanya sudah sayu tapi gairah masih menyelimuti. Deru nafas yang tersenggal - senggal jelas terlihat diantara keduanya. Dan itu malah semakin membangkitkan dahaga ingin terus melakukan pergulatan bibir.
Sekali lagi Zidan mencium Siska. Manis bibir Siska benar - benar membuat candu. Tapi aroma tubuhnya juga tak kalah membuat Zidan penasaran. Aroma tubuh yang bercampur bau wiski dan juga parfum sisa semalam, membuat Zidan secara perlahan mengarahkan wajahnya ke ceruk leher Siska.
Siska sudah mabuk kepayang. Tak ada perlawanan sedikit pun saat Zidan mulai menyusuri area leher hingga pundaknya. Dia malah menikmati sensasi yang didapatkannya karna perbuatan Zidan. Sampai - sampai tanpa terasa sedikit desa*** meluncur bebas dari mulut Siska. Dan itu membuat Zidan malah semakin bersemangat.
Zidan menghisap kuat leher Siska. Dia ingin membuat kiss mark disana. Tapi, hal yang dilakukan ini sepertinya salah. Karna suasana yang tadinya intim kini tiba - tiba berubah jadi sedikit brutal.
"Zidan, lo ngapain?" Siska mendorong sedikit tubuh Zidan. Hisapan kuat dilehernya membuatnya jadi tersadar.
"Buat kiss mark." jawab Zidan dengan mata sayu yang kemudian kembali melancarkan aksinya.
"Eh, jangan! gila lo!." Siska mendorong lagi.
"Kenapa?"
"Jangan, besok gue harus kerja. Gila aja, kalau sampai banyak orang yang liat."
"Gak apa - apa, bisa ditutupin pakai plester." jawab Zidan enteng banget, dan lagi - lagi kembali mendekat dan malah pindah ke sisi leher yang lain.
"Zidan! awas! jangan gila lo! gue kerja di pelayanan."
Zidan tak menggubris dan malah semakin kuat menghisap leher Siska.
"Zidan! gue geplak lagi lo bentar lagi!." Siska memberontak, tapi saat itu dirinya malah dikunci.
Tapi Zidan tak peduli. Dia malah semakin kasar menghisap leher Siska. Dia ingin orang tahu kalau Siska sudah ada yang punya dan itu dirinya dengan bukti sebuah kiss mark.
"AISHHH! ZIDAN!!."
"ARGHHHH!!!."
Siska memberontak, Dia menggerak - gerakkan kepalanya kekiri kekanan. Tak peduli lagi walaupun beberapa kali berbenturan dengan kepala Zidan yang ada diceruk lehernya. Yang pasti kali ini Siska sudah dibuat kesal lagi.
"DASAR LO MESUM!!!."
Sekuat tenaga Siska merontah. Dan akhirnya satu tangannya berhasil menyelamatkan diri. Tak perlu lama - lama, cukup dengan satu tangan tapi dibarengi emosi yang sudah diubun - ubun Siska mampu memukul kepala Zidan beberapa kali.
Geplakan demi geplakan dengan omelan kasar kembali diluncurkan Siska dari mulutnya. Tak lupa juga Siska langsung melompat dari atas meja.
"LO! MESUM!!"
"BAJINGAN LO! SIAPA SURUH BUAT KISS MARK!!"
__ADS_1
"BERANI - BERANINYA LO SAMA GUE!!."
"HANYA KARNA GUE MAU LO CIUM, LO JADI SEENAKNYA!!."
"Arrgghhh!! Siska. Astaga Sis, lo, jangan kumat. Gue tadi udah ijin." Zidan berusaha menghindar dengan berlari. Tapi Siska tak membiarkannya. Siska terus memukuli Zidan dengan caranya yang brutal.
"Arrgghh! Sis. Please berhenti, arghhhh!! gue kan tadi udah ijin. Kita udah sepakat, aarrgghhh! tapi kenapa lo masih nabok gue?."
"Yang gue bolehin itu cuma ciuman, brengsek!! bukan bikin kiss mark!!."
"Iya, sorry - sorry, tadi itu reflek. arrgghh!!. Gue cuma pengen tunjukin, kalau lo udah ada yang punya. arrgghh!!."
"Reflek lo bilang? ada yang punya lo bilang? gue ini bukan punya siapa - siapa! lo jangan suka ngaku - ngaku! dasar otak lo mesum!!."
"Arrrgghhhh!! gue pacar lo Sis, kita udah balikan. Lo jangan lupa."
"Gue gak mau! gue gak mau balikan sama lo! otak lo kotor! lo mesum!!."
Dan
KRATAKKK!
Siska menginjak kaki Zidan dengan kuat dan kasar sekali. Sampai bunyi kemeretek. Matanya memincing mengisaratkan bahwa tadi itu adalah akhir dari puncak amarahnya.
"ARRRGGHHHHHH!!." Zidan memekik kesakitan. Dia langsung terjingkat - jingkat sangking sakitnya. Bahkan sekujur tubuhnya langsung memerah. Dan kini kembali tersungkur dilantai.
"Huft!!!." Siska meniup poni rambutnya. Puas rasanya sekali lagi berhasil menyakiti Zidan.
"Aarrgghhh, Lo! kenapa masih brutal? padahal gue udah ijin tadi."
"Ijin lo gak berlaku, karna lo seenaknya. Dan asal lo tahu, gue nyesel udah mau lo cium. Dan untuk seterusnya, gue pastiin gak akan ada ciuman - ciuman yang lainnya!!."
"Arrgghhh!! Sis, ini sakit banget. Arrrgghhhh!! kayaknya gue gak bakalan bisa jalan ini."
"Bagus! gue aminin!."
Setelah melampiaskan emosinya. Masih dengan mata yang memincing ke Zidan. Siska pun langsung memunguti semua barang - barangnya. Dia hendak pulang. Tapi langkahnya terhenti ketika Siska melihat kemeja yang semalam sempat diberikan Zidan padanya.
"Ini, gue pinjam dulu, besok gue balikin. Kalau bisa sama celana trining juga!." pintah Siska dengan nada ngegas. Sedikit gak tahu malu memang. Tapi karna gak mungkin juga dia pulang pakai baju minim, jadi biarlah dikatain gak tahu malu oleh Zidan yang penting terlihat baik di mata orang.
"Arrgghh! dilemari, ambil aja sendiri."
*****
__ADS_1
note for Zidan dari author :
Udahlah Zidan, kamu gak akan menang melawan Siska. Sekali pun udah ijin minta cium, kalau aku masih bikin kamu digebugin ya pasrah ajalah ...