
Siska secara perlahan membuka kembali koper dihadapannya. Semua bukti kenangan saat pacaran bersama Zidan dulu kembali dilihatnya. Satu persatu barang - barang itu menyentil egonya. Mempermainkan perasaannya dan menyirnakan rasa ketidakyakinannya dan membuat Siska jadi meruntuki dirinya sendiri.
Ini adalah bukti paling nyata yang dia lihat saat ini. Bukti perasaan Zidan yang mencintainya sejak dulu dan bahkan belum pudar sampai sekarang. Tapi kenapa Siska begitu lupa akan hal ini?. Padahal dia sudah pernah lihat isi koper ini 'kan?. Oh, Siska kamu memang manusia paling bodoh sedunia.
Sambil terisak, Siska meraih ponselnya menghubungi Zidan. Beberapa kali percobaan dilakukan Siska, tapi selama itu pula Zidan tak sedikitpun mau menerima panggilannya. Karna itu akhirnya Siska pun memutuskan untuk menyusul Zidan ke kantornya.
Siska mengedarkan pandangannya ke gedung 5 lantai dihadapannya. Ini adalah pertama kalinya dia datang ke kantor Zidan setelah 5 bulan menikah. Langkahnya tampak ragu, tapi meskipun begitu Siska tetap masuk kesana.
"Iya bu, ada urusan apa ya bu?." tanya seorang wanita, pegawai resepsionis.
Dan kebetulan sekali, belum sempat Siska jawab pertanyaan resepsionis itu. Dari dalam muncullah Egi yang langsung menyapanya.
"Loh Mbak Siska, tumben kesini mbak? mau cari Mas Zidan ya?."
Siska tersenyum. "Iya Gi, dia udah datang 'kan?."
"Iya, ada Mbak baru aja. Dia lagi diruangannya."
"Bolehkan aku masuk?."
"Ya bolehlah mbak masak gak boleh. Ya udah yuk Mbak aku anterin keruangannya." kata Egi pada Siska.
Berkat bantuan Egi. Siska pun bisa langsung dengan muda masuk kedalam kantor suaminya tersebut.
__ADS_1
Sedikit mengedarkan pandangannya. Kantor suaminya ini ya sama saja dengan kantor - kantor yang lain. Banyak skat - skat ruangan yang mungkin sebagai pembeda antara satu bidang dengan bidang lainnya. Dan pegawainya juga tampak sibuk mengerjakan sesuatu didepan komputernya masing - masing.
"Ini mbak ruangannya Mas Zidan, masuk aja." tunjuk Egi setelah mereka tiba didepan satu ruangan yang pintunya tertutup itu. Tak lupa juga Egi mengetukkan pintunya lebih dulu untuk Siska.
Siska pun mengangguk lalu tersenyum tipis pada Egi. "Makasih Gi." Yang mana kemudian Egi pun langsung pamit pergi.
Siska membuka pintu ruangan Zidan. Dan Zidan menoleh kearahnya. Seketika itu juga raut wajah Zidan yang dingin menyambut kedatangannya.
"Zidan," Secara perlahan Siska mendekat. Air matanya juga lantas jatuh begitu saja saat menatap wajah suaminya yang masih dingin itu.
"Ngapain kamu kesini?."
Dengan langkah ragu, Siska mendekat pada Zidan. "Aku mau minta maaf. Aku ngaku aku salah."
Siska tertunduk. Air matanya jatuh mendengar penolakan Zidan. Seluruh tubuhnya jadi bergetar dan penuh penyesalan.
Zidan menghembuskan nafas kasarnya. Rasa kecewanya masih teramat dihatinya. Tapi melihat Siska yang menangis seperti ini sesungguhnya hatinya pun tak tega.
"Ayo aku antar pulang. Bentar lagi kamu juga harus kerja. Kemarin kamu udah ambil cuti jadi jangan sampai hari ini kamu gak kerja gara - gara aku."
Tapi Siska mana peduli lagi dengan hal itu. Sekarang yang penting adalah Zidan yang sedang marah padanya. Dan bisa segera memaafkan dirinya.
"Zidan, maafin aku, aku udah keterlaluan. Aku udah ngeraguin rasa sayang sama cinta kamu ke aku. Aku udah ngelakuin dosa besar ke kamu. Gak seharusnya aku kayak gitu. Sekarang aku beneran nyesel. Aku udah jadi orang bodoh kemarin. Aku terlalu mentingin egoku sendiri. Aku cuma mikirin diriku sendiri. Padahal selama ini kamu udah nunjuki rasa sayang kamu ke aku. Jadi aku minta maaf. Maaf banget, tolong maafin aku."
__ADS_1
Zidan memalingkan wajahnya. Lagi - lagi membuang nafasnya kasar. Kenapa dirinya harus lemah dihadapan Siska padahal Siska sudah sangat merobek harga dirinya begitu dalam.
"Huft!! Kita bicara lagi nanti. Sekarang kamu pulang dulu. Kamu harus kerja." Untuk sekarang Zidan lebih memilih untuk menghindar dulu sampai dirinya bisa meredam emosinya. Dan juga bisa lebih tenang lagi.
Zidan pun menggerakkan kakinya untuk keluar dan mengantar Siska. Tapi tangannya dicekal oleh Siska.
"Enggak, aku gak mau. Aku gak akan pergi sebelum kamu maafin aku." Bahkan Siska menggeleng frustasi sangking takutnya Zidan tak memaafkannya.
"Sis, hari ini aku beneran banyak kerjaan. Pagi ini aku masih harus rapat, siangnya aku harus cek lokasi pembangunan. Sorenya aku juga masih harus rapat lagi. Jadi please untuk hari ini biarin pikiranku tenang. Untuk urusan kita, kita bisa bicara lagi nanti." kata Zidan melepas cekalan tangan Siska.
"Zidan, aku beneran minta maaf. Aku minta maaf. Aku beneran nyesel. Aku salah, aku udah minum pil kb tanpa sepengetahuan kamu. Aku juga udah buang semua pil kbnya. Aku janji aku gak akan minum pil itu lagi. Dan seandainya kamu mau kita punya anak, aku juga udah siap. Jadi aku mohon, maafin aku." Siska pun mengiba.
Sayangnya, ibaan Siska ini malah menyulut emosi Zidan. Liat saja, ekspresi Zidan yang sekarang sudah berubah jadi tersenyum sinis.
"Kamu kira dengan kamu gak minum pil itu lagi semuanya bisa jadi baik - baik saja?." tanya Zidan dengan nada memojokkan.
"Kamu kira dengan kamu berhenti minum pil itu dan kita punya anak pernikahan kita akan bahagia? Siska. Kamu lupa alasan awal kamu mutusin buat minum pil kb itu apa? Itu karna kamu gak punya perasaan apapun ke aku."
"Enggak Zidan, kamu salah paham. Bukan gitu." Siska lagi - lagi menggeleng frustasi.
"Bukan gitu apa?." potong Zidan dengan cepat dengan nada emosinya.
"Bukan gitu apa maksud kamu? semua itu udah jelas Sis, kamu gak pernah sayang sama aku mangkannya kamu ragu dan takut sama aku. Selama ini kamu nganggap aku cowok brengsek yang cuma melampiaskan hawa nafsunya ke kamu. Padahal harusnya kamu tahu, semua itu saling terikat. Aku begitu itu karna aku sayang sama kamu. Karna aku tertarik sama kamu. Karna aku cinta sama kamu. Aku akui, memang aku licik aku udah manfaatin keadaan buat bisa menikah sama kamu. Tapi semua itu aku lakukan sekali lagi atas dasar karna aku sayang sama kamu. Karna aku cinta sama kamu. Karna aku ingin hidup sama kamu. Aku pengen bahagia sama kamu. Sama wanita yang sejak aku umur 17 tahun dan sampai sekarang pun perasaan sayang itu gak hilang tapi malah menggebu. Tapi aku sekarang sadar, aku yang terlalu sayang sama kamu ini sampai lupa akan perasaan kamu ke aku. Seharusnya aku gak maksa kamu dulu untuk menikah sama aku kalau nyatanya sekarang kamu malah merasa menderita nikah sama aku."
__ADS_1