
Siska dan Caca berhenti disebuah cafe. Dan dicafe itu keduanya melakukan beberapa obrolan dengan pegawai cafe untuk bernegosiasi tentang reservasi acara party sweet seventeennya Caca.
Ngobrol, ngobrol, ngobrol. Akhirnya kedua belah pihak pun deal dengan memasrahkan semua hal kepada pengelola cafe, mulai dari dekorasi, kue dan juga makanan dan minuman yang akan disajikan saat party.
Acara booking tempat udah. Sekarang yang tersisa adalah acara shopping baju atau beberapa barang yang mau dipakai saat ultah besok.
Caca besok ingin tampil cantik dan jadi ratu dalam acara ultah sweet seventeennya. Maka dari itu, sekarang dia rela mencoba semua baju yang menurutnya dan menurut Siska bagus di sebuah butik yang ada di salah satu mall.
"Mbak? gimana?." tanya Caca saat baru keluar dari dalam kamar pas.
"Em,." Siska berpikir sambil menelisik penampilan sang adik, lalu menggeleng.
"Mbak? kalau ini?." tanyanya lagi saat baru keluar lagi dalam kamar pas setelah berganti baju yang lainnya.
"Ca, perut kamu keliatan, terlalu kebuka itu, jangan."
"Ya, 'kan ini modelnya emang croptop Mbak?." Caca protes padahal dia udah sreg dan suka sama baju yang ini.
"Jangan, lebih baik pakai dress yang bisa pancarin aura elegan sama anggun dari pada seksi. Nanti kalau mau pakai baju seksi tunggu kalau udah umur 21 keatas. Oke?." Karna selain atasannya yang croptop, bawahannya juga rok mini. Meresahkan kalau dipakai remaja di negara wakanda.
"Uhm, okelah." Caca nurut dan kembali ke dalam kamar pas.
Akhirnya setelah mencoba beberapa dres. Pilihan Caca jatuh pada gaun putih broklat selutut dengan rendah - rendah di bagian dada yang menampakkan aura berkelasnya Caca. Bahkan Siska dan beberapa pelayan butik pun sampai berdecak kagum karna penampilan Caca itu.
"Mbak, Mbak." panggil Caca yang kini sedang bersandar di meja kasir menghadap Siska yang berdiri disampingnya.
"Hm?." Siska cuma bergumam, dia lagi sibuk sendiri mengeluarkan kartu kredit milik sang suami, siap membayar belanjaan.
"Mbak Siska gak mau beli baju juga?."
"Enggak, baju Mbak Siska udah banyak."
"Belilah mbak. Beli yang itu." Tunjuk Caca dengan menggerakkan dagunya ke deretan baju lingering seksi dan transparan. "Buat godain Mas Zidan mbak, biar klepek - klepek." Sekarang Caca bahkan gak sungkan membicarakan hal dewasa dengan sang kakak ipar.
"Masmu itu gak perlu digoda pakai gituan juga udah klepek - klepek duluan, Ca."
"Ish!, ya biar klepek - klepeknya nambah mbak."
Siska tersenyum kecil. "Enggak ah, nanti malah mbak sendiri yang keteteran. Masmu itu kalau udah ..." Siska tersadar, tidak seharusnya dia cerita tentang keperkasaan kakaknya diatas ranjang pada adiknya yang masih di usia 17 tahun. "Ah, Udah ah, ini udah selesai, sekarang kita cari makan aja." Ralat Siska sambil jalan keluar dari dalam butik.
"Kenapa mbak? Mas kenapa? Kalau udah apa mbak?." Si Caca malah kepo sambil mengekori sang kakak ipar.
"Ssssttttt!! kamu masih kecil, belum waktunya dengerin hal - hal benginian."
"Ih! Mbak Siska, inget katanya Mas Zidan aku udah dewasa, udah 17 tahun. Aku bahkan udah jadi saksi hidupnya kalian ini. Jadi kenapa mbak Mas Zidan?."
__ADS_1
"Masih 17 tahun, belum 21 + jadi tetep gak boleh. Belum waktunya."
"Mbak, tapi aku penasaran mbak."
"Caca!."
"Mas Zidan, nafsuan ya mbak? atau mainnya kasar?" Astaga Caca, dari cara ngomongnya seolah anak ini sudah tahu banyak hal tentang hal itu sampai membuat langkah kaki Siska berhenti cuma untuk memincingkan matanya pada Caca.
"Ca!."
"Hehehe, sorry - sorry."
"Udah, jangan bahas hal kotor. Sekarang ayo kita cari cafe buat makan." perintah Siska tegas yang mana Caca pun harus nurut. Dan yang mana juga dalam hatinya lagi mengutuki dirinya sendiri. Jangan sampai gara - gara dirinya dan suaminya Caca malah belajar hal - hal yang aneh.
Setelah memutari beberapa lantai mall. Caca dan Siska akhirnya masuk kedalam salah satu cafe yang ada di dalam mall. Dan kebetulan sekali, didalam cafe itu, ternyata lagi ada Desta yang lagi menyibukkan dirinya menghadap laptop yang menyalah diatas meja dengan beberapa lembar kertas dihadapannya.
"Desta." Sapa Siska lebih dulu, karna memang dialah yang lebih dulu melihat Desta.
"Eh, Siska, kok?." Desta menyaut dan juga langsung berdiri menyambut kedatangan Siska.
"Dari mana? dari shopping?." tanya Desta yang melihat ada beberapa paperbag ditangan Siska.
"He'em."
"Mau makan, juga mau nyantai, istirahat."
"Eh, kalau gitu duduk sini aja. Bareng sama gue, gimana?." tawar Desta.
"Gak usah. Kayaknya lo lagi sibuk? entar malah ganggu lagi."
"Enggak kok, ini cuma buat gak bosen aja biar gak kesepian karna sendirian. Jadi, pumpung ada lo, jadi kita bareng - bareng aja. Udah lama juga 'kan kita gak ngobrol." ajak Desta lagi yang mana kemudian Siska pun mengarahkan pandangannya pada Caca meminta persetujuan dari sang adik ipar, dan Caca ngangguk.
"Oke."
Karna jawaban Siska. Desta dengan sigap langsung mengemas dan merapikan semua barang - barang dan berkas - berkasnya diatas meja dan menyimpannya kembali didalam tas serta meletakkan tas itu dikursi sampingnya agar tak mengganggu.
Desta menjentikkan jarinya memanggil pelayan. Dan pelayan itu datang dengan membawa buku menu serta kertas nota dan pulpen ditangannya.
Pelayan tadi kemudian mencatat pesanan mereka bertiga. Dan untuk sepersekian menit, akhirnya meja mereka sekarang sudah dipenuhi dengan beberapa menu makanan yang sudah dipesan tadi.
"Eh, gimana kabar lo? agak lama juga ya kita gak ketemu." Desta memulai obrolannya.
"Baik. Lo gimana?." jawab Siska ditengah mulutnya yang sibuk ngemil.
"Ya, seperti yang lo liat. Tambah ganteng, tambah keren, tambah macho, tambah manis." jawab Desta yang diselingi senyum kepedean dibelakangnya.
__ADS_1
"Cih! mana ada, perasaan sama aja gak ada bedanya, yang ada umur lo tambah tua yang iya." Siska malah ngejek.
"Ck! malah bawah - bawah umur. Sesama orang yang tiap hari umurnya nambah dilarang ngejek Sis."
"Hahaha, gitu aja langsung tensi lo." saut Siska sambil meminum jus melonnya.
"Iya, kesel gue kalau ngomongin umur. Mana besok nambah satu lagi angkanya, huft!." Ya secara tak langsung Desta memberitahu Siska kalau besok adalah hari ulang tahunnya.
"Besok lo ulangtahun?." Dan Siska langsung menangkap makna dibalik ucapan Desta.
"Iya, Dan gue gak siap kalau harus jadi makin tua." Disaat orang - orang menantikan hari ulang tahunnya, si Desta malah mengeluh. Karna beneran gak ingin.
"Wah, sama dong, adik gue ini besok juga mau ultah. Dia besok sweet seventeen." kata Siska yang tak menduga dengan kebetulan ini.
"Adik?." Tapi bagi Desta bukanlah kesamaan hari lahirnya yang jadi poin pentingnya. Tapi kata adik yang disebutkan oleh Siska. Setahunya Siska ini anak tunggal gak punya adik. Tapi kenapa kok bilang adik pada sosok remaja disampingnya?.
"Dia adik ipar gue." Siska yang paham akan ekspresi Desta langsung meralat. "Adiknya Zidan. Namanya Caca. Gue belum kenalin ya? Ca, ini temennya Mbak Siska, namanya Desta. Panggil Desta aja Ca. gak usah Mas, kamu tadi denger 'kan? kalau dia gak mau jadi tua." Siska akhirnya memperkenalkan Caca pada Desta dengan meledek. Sekalian juga biar Caca tahu, jadi nanti kalau Zidan cemburu buta ada Caca yang bisa ngebantuin buat meloloskan diri.
"Ck! ya gak gitu juga Sis." Desta menimpal. "Kamu emang harus panggil Mas, yang gak boleh itu kalau panggil Om, oke?." Desta lantas melempar senyum ramah yang manis pada Caca. Begitu juga dengan Caca, ikut tersenyum manis membalas Desta.
"Hehehe, iya Mas." Disini, rupanya Caca terlihat senang. Entah kenapa obrolan Desta dan Siska sedari tadi terdengar asik ditelinganya. Penuh candaan serta olok - olokan dari keduanya. Membuatnya kadang beberapa kali harus memusatkan dirinya pada Desta hingga tanpa sadar jadi kagum.
"Oke, good, gadis pinter." Bahkan sekarang, lelaki itu sedang memujinya sambil tersenyum manis. Ah, Jujur saja Desta yang lagi senyum ini bikin Caca seolah sedang kesilauan karna sangking bersinarnya dan manisnya senyuman Desta itu. Caca sedang gila rupanya. Ada apa dengan perasaan yang tiba - tiba ini?. Aneh.
"Jangan nurutin, Ca. Panggil paman atau pakde atau paklik aja Ca, kalau perlu mbah kakung atau kakek sekalian. Biar dia inget sama umur terus. Biar gak khilaf." Timpal Siska, dengan sengaja terus meledek Desta.
"Aish!. jangan aneh - aneh lah, Sis. Oh iya, dan, gue jadi inget. Kemarin lo nikah, lo gak undang gue ya? tiba - tiba sekarang ketemu gue udah bawah adik ipar aja lo!." Desta mendecak kesal, dengan raut wajah dibuat seolah sedang kecewa.
"Heh, sorry." Siska nyengir. "Kemarin emang nikahnya dadakan dan gak semua temen diundang juga, cuma beberapa aja yang deket yang diundang." jelas Siska dengan nada gak enak hati.
"Oh, ternyata kita belum sampai tahap temen deket toh?." Desta manggut - manggut dengan wajah kecut.
"Bukannya gitu Des, kemarin itu emang dadakan banget nikahnya. Jadi gak sempet sebar undangan kemana - mana."
"Oh gitu. Tapi ngomong - ngomong, kenapa lo bisa tiba - tiba nikah sama Zidan?lo hamil, ya?." tanya Desta dengan muka selidiknya dan penuh kecurigaan.
"Ish! gila lo! kalau ngomong yang bener!." Siska bahkan sampai memincingkan matanya dan mendaratkan kentang goreng ke wajahnya.
"Hahaha ya siapa tahu, lo hamil duluan. Mangkannya nikahnya dadakan gitu. Perasaan waktu itu masih kayak tom and jerry." Desta malah semakin memperjelas ucapannya sambil ketawa renyah.
"Ck! jangan nurunin martabat gue lo! gila aja lo!."
"Hahaha."
Ya, sementara Caca jadi pendengar setia. Sambil ikutan tertawa tanpa banyak komentar. Dan pandangan mata kagum yang tak bisa lepas dari seorang Desta.
__ADS_1