Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
98. Kata Cinta


__ADS_3

Zidan menyurai rambut Siska kebelakang telinganya. Matanya menatap lembut wajah Siska yang sembab sekaligus masih terlihat pucat itu. Senyum tipis juga diuraikannya agar Siska bisa mendapat ketenangan darinya sekaligus merasa disayang.


"Jadi kamu ini takut aku gak pulang?."


Siska mengangguk. Dengan wajah yang masih sedih.


"Kamu takut aku marah sama kamu, terus gak maafin kamu?."


Sekali lagi Siska mengangguk.


"Kenapa kamu jadi mikirnya gitu?."


"Soalnya kamu tiba - tiba ngilang. Kamu bilang ada di apartemen tapi setelah aku datang kamunya malah gak ada. Kamu juga gak bisa dihubungi habis itu. Semalaman kamu gak pulang. Jadi aku mikirnya kamu marah lagi sama terus kamu tinggalin aku gitu aja."


Zidan tergelak mendengar penuturan Siska. Bibirnya secara otomatis langsung tersenyum tipis. Tak disangkahnya wanita didepannya ini bisa mikir begitu.


"Maaf, kemarin emang dadakan banget aku perginya. Jadi gak sempet ngasih kabar karna buru - buru juga. Terus pas waktu sampai lokasi, mau kabarin kamu tapi disana malah gak ada sinyal sama sekali. Oh iya, aku belum cerita ya ke kamu. Aku berhasil menang mega tender itu, yang. Perusahaanku dapat yang pembangunan jalan lintas selatan. Keren 'kan?." Zidan menjelaskan situasinya kemarin sekaligus juga cerita tentang apa yang berhasil digapainya dengan sikap jumawanya.


Siska akhirnya mengulas senyum dibibirnya. Dia sendiri juga bangga akan pencaian suaminya ini. "Aku udah tahu. Egi udah cerita ke aku."


"Egi?." Zidan mengernyit. Kok bisa Egi cerita pada Siska?.


"Iya, gara - gara kamu yang marah terus ke aku. Aku jadinya tiap hari gangguin dia buat tanya - tanya tentang kamu." Aku Siska menjawab pertanyaan dalam benak Zidan.


"Jadi kamu telpon Egi?."


"He'e. Aku telpon dia. Ya habisnya kamu marah terus ke aku. Kamu gak pulang - pulang. Bikin aku khawatir sama galau berkepanjangan gara - gara mikirin kamu tiap hari. Kamu tahu gak aku itu beneran takut kamu ninggalin aku. Ya udah, aku gangguin aja Egi. Egi 'kan tiap hari ketemu kamu, jadi dari dia aku bisa tahu kabar kamu gimana." Siska memberi alasan dengan raut wajah yang sedikit cemberut. Zidan jadi gemas dibuatnya. Dan mencubit pelan pipi Siska.


"Jadi, aku mohon, jangan pergi lagi. Apa lagi sampai gak pulang. Aku janji, aku gak akan ngulangin perbuatan aku lagi. Aku gak mau jauh - jauh sama kamu lama - lama. Aku sayang sama kamu, yang. Sayang banget. Jadi jangan tinggalin aku. Aku minta maaf kemarin aku gak angkat telpon kamu soalnya di meja pelayanan cuma aku sendirian. Pas pelayanan selesai, aku harus buat rekapan laporan. Karna lagi sendirian jadi selesainya sampai malam. Belum lagi di kantor lagi ada pemeriksaan dari BPK. Jadi kemarin aku beneran gak bisa nunda laporannya." Sekali lagi Siska memohon pada Zidan dengan menjelaskan runtutan apa yang sedang dia kerjakan saat itu sampai tak sempat membalas maupun menerima panggilan dari Zidan.


Pengakuan Siska ini jelas membuat Zidan merasa senang. Akhirnya setelah sekian lama, Zidan berhasil mendapatkan keyakinan dari dalam hati Siska padanya. Bahkan bukan cuma keyakinan saja tapi juga rasa sayang dan cintanya juga.


"Emang yang mau ninggalin kamu siapa sih?." Lagi - lagi karna gemas dan rasa bahagianya Zidan mencubit lembut pipi Siska.


"Kamu. Kamu yang mau ninggalin aku."


"Aku gak akan ninggalin kamu, kalau bukan kamu yang ninggalin aku duluan."


"Beneran ya jangan ninggalin aku. Aku beneran udah gak bisa kalau harus jauh atau harus pisah sama kamu. Aku sayaaang banget sama kamu." Siska mengungkapkan perasaannya. Mengaku cinta dengan mata berkaca - kaca lagi.

__ADS_1


"Iya, gak akan."


"Beneran, jangan ninggalin aku lagi." Dan sekarang, butiran kaca itu meneges jadi tangisan.


"Iya, aku gak akan ninggalin kamu. Udah jangan nangis lagi." Zidan menghapus air mata Siska. Lalu menarik tubuh Siska kedalam pelukannya. Menenangkan dan meyakinkan istrinya supaya gak khawatir lagi.


"Aku sayang sama kamu. Sayang banggeeettttt."


"He'e aku tahu. Aku juga sayang banget sama kamu."


Bagaimana gak luluh kalau istrinya berulang kali bilang sayang padanya. Perasaan marah dan kecewa yang kemarin dirasakan Zidan seketika luntur begitu saja tak tersisa. Hatinya sudah jadi lega dan sekarang hanya diselimuti kehangatan.


"Jangan nangis lagi. ya ..." Dengan sedikit memberi jarak Zidan menghapus air mata Siska.


Sementara Siska menganggguk. Dan selepas Zidan menghapus air matanya, dia kembali menyandarkan kepalanya di pundak Zidan. Lega. Akhirnya bisa baikan dengan suaminya itu.


"Bapak, Ibu ..." sapa dokter jaga yang datang menghampiri ranjang Siska. Siska dan Zidan pun sontak menoleh.


"Sudah bangun ya bu? sebentar ya saya periksa lagi." kata dokter jaga lagi.


"Iya dok." Dan Zidan yang menjawab.


"Kita pulang aja." saut Siska cepat.


Zidan tertawa kecil. Ekspresi Siska sudah menunjukkan kalau dia tak mau lama - lama dirumah sakit.


"Pulang aja dok." Zidan mengalah.


"Baik kalau gitu, karna mau pulang jadi bapak ke adimistrasi dulu ya, ini infusnya biar dilepas dulu terus saya juga resepkan obatnya."


Selesai dengan urusan administrasi dan segala macam jenisnya. Siska dan Zidan pun meninggalkan UGD rumah sakit.


"Kamu laper 'kan? kita mampir beli makan dulu ya?." tawar Zidan setelah keduanya masuk dalam mobil.


"He'e, lumayan laper. Aku belum makan mulai kemarin siang." ucap Siska jujur.


"Lain kali jangan sampai gara - gara nungguin aku pulang kamu sampai telat makan. Kalau kamu jadi sakit gini gimana?." Zidan jadi ngomel.


"Ya habisnya kamu, tiba - tiba ngilang gak ada kabar bikin orang khawatir setengah mati." Siska mengoper kesalahannya pada Zidan.

__ADS_1


"Tuh kalau dibilangin, terus kalau kamu sakit gini dikira aku gak khawatir?."


"Emang kamu khawatir?."


"Terus kamu kira aku gak khawatir?."


"Emmm..." Siska sengaja menahan degemannya sambil memasang wajah yang menyelidik.


"Enggak." Dan jawabnya akhirnya tapi sambil terkikik.


"Cih!." Zidan melengos lalu geleng - geleng. Siska kalau urusan playing fiktim pinter emang.


Siska semakin terkikik. Dan setelah puas ketawa. Siska tiba - tiba bilang sayang.


"I love you."


Zidan tergelak mendengar Siska bilang I love you. Bibirnya langsung senyum.


"I love you." ulang Siska.


Zidan semakin tersenyum lebar. Tapi kemudian berusaha menguasai dirinya.


"Apa kamu bilang?."


"I love you..." ulang Siska sekali lagi.


"Aku gak denger?." Meskipun dengar tapi Zidan masih ingin mendengarnya lagi.


"I love you, aku sayang sama kamu."


"Lagi?." pintah Zidan dengan hati berbunga - bunga.


"Ih!."


Siska pun mendekatkan tubuhnya dan mencondongkan kepalanya disamping kepalanya. Menempatkan mulutnya tepat di telinga Zidan. Dan setelahnya memekik dengan suara kencang.


"I LOVE YOU, ZIDAN SAYANG."


"Aish!." Zidan malah mengumpat. Karna hasilnya, telinganya malah terasa budeg.

__ADS_1


"Hahahaha." Siska pun tertawa puas.


__ADS_2