
"Welcome to my home Zidan, Siska."
Ery menyambut hangat kedatangan Zidan dan Siska. Dia memberi rangkulan khas lelaki pada Zidan dan kemudian jabatan tangan pada Siska. Sesuai dengan kata Om Robet tadi pagi. Setelah keliling Melbourne mereka pun mampir ke rumah Ery.
"Akhirnya gue bisa nginjak lantai rumah lo, Er." Zidan, membalas sambutan Ery dengan hangat juga.
"Yap. Mangkannya, lo sih. Tiap Tante Resti sama Om Sony kesini gak pernah mau ikut." timpal Ery dengan nada merajuk.
"Ya sama aja kayak lo. Lo juga jarang mau kan kalau diajak ke Jakarta?."
"Hahaha, iya juga sih. Oke. Berarti kalau gitu kita satu sama." Ery akhirnya pasrah mengakui kesalahannya.
"Kalau gitu, mulai sekarang kalau yang tua ngajak ketemu saudara itu harus mau. Biar gak pada saling menyalahkan seperti ini lagi. Ya masak ketemu sama saudara harus nunggu 10 tahun sekali." Om Robet yang mendengar obrolan keduanya pun tak tahan untuk tidak menimpal. Membuat Zidan dan Ery saling tergelak layaknya anak kecil yang baru saja ketahuan berbuat nakal.
"Cucu mama mana Er?." Dari belakang mereka, Tante Vio bersuara, pasalnya saat itu hanya ada Ery saja yang berdiri menyambut kedatangan mereka.
"Di kamar, masih *****."
Dapat jawaban dari sang anak begitu. Otomatis Tante Vio langsung nyelonong masuk kedalam rumah. Tante Vio bukannya tak peduli pada Siska dan Zidan tapi dia cuma ingin segera memamerkan sang cucu pada Zidan dan Siska.
"Ckck!." Om Robet diam - diam menggerutu melihat tingkah istrinya yang pergi gitu saja.
"Ya udah yuk kita masuk, gue udah siapan barbeque kecil - kecilan nih buat lo sama istri lo."
Ery kemudian mengajak Zidan dan Siska masuk kedalam rumah. Kakinya terus melangkah dan berhenti dihalaman belakang rumahnya tempat barbeque party yang sudah dia siapkan.
"Weeesssss ..." Zidan langsung terpengarah melihat apa yang disiapkan Ery. Bukan cuma Zidan saja sebetulnya, Siska juga. Pasalnya apa yang dikatakan party kecil nyatanya bukanlah hal kecil. Ini, di meja berbagai macam hidangan sudah tersaji siap santap. Belum lagi yang masih dipanggang dan disiapkan oleh beberapa pelayan yang terlihat sibuk dengan kegiatan masing - masing.
"Gimana kalian suka gak? Soalnya gue pengen pokoknya malam ini kita bisa makan sampai puas." kata Ery lagi.
"Ckckck! ini sambutan lo niat banget buat kita? banyak banget Er makanannya." Zidan masih tak habis pikir. Ini gimana caranya menghabiskan semua makanan yang ada dihadapannya ini?.
"Ya namanya juga demi saudara yang udah lama gak pernah dijumpai. Ya harus niatlah. Demi lo sama istri lo ini. Jadi gue sampai rela repot - repot nyiapin semuanya. Kurang apa coba gue sama kalian." jawab ery dengan nada jumawa.
"Cih! jangan bilang entar nota belanjaannya lo kirim ke gue." saut Zidan dengan nada curiga yang dibuat - buat.
"Ya kalau seandainya mau lo ganti ya gak apa - apa. Entar gue kirim beneran deh notanya, gimana? lo 'kan juga banyak duit, banyak proyeknya." saut Ery dengan nada enteng.
__ADS_1
"Ck!. Er, Er! masih lebih banyakan duit lo dari pada gue." Zidan pun memberi pukulan kecil dilengan Ery dibarengi gelak tawa dari keduanya.
"Udahlah yuk, duduk, kita nikmati hidangan malam ini. Intinya kita partylah makanan lah malam ini." Ery pun mempersilahkan Zidan dan Siska untuk duduk di sofa menikmati hidangan yang ada.
"Hallo everbody..." Suara Tante Vio yang baru bergabung membuat atensi semua orang mengarah padanya. Dia datang sambil menggendong sang cucu dimana dibelakangnya di ikuti oleh seorang wanita cantik, yang sudah pasti itu adalah istrinya Ery.
"Hello uncle, hello aunty." Tante Vio membuat suara seolah si bayi perempuan itu yang menyapa Zidan dan Siska.
"Hallo ... hay ..." Siska berdiri menyambut kedatangan Tante Vio dan menyapa sang bayi.
"Hay, aunty, kenalin, aku Javina." Bahkan Tante Vio sengaja melambai - lambaikan tangan si baby demi mendukung aksinya.
"Hay, Javina." sapa Siska, matanya sudah tak bisa menutupi kalau dirinya sedang gemes melihat Javina yang gembul dan menggemaskan.
"Ini anak lo Er?." Zidan ikut berdiri menyambut kedatangan Javina.
"Iya." jawab Ery yang tadi juga ikut beranjak untuk mendekati sang istri dan menggiring istrinya untuk bergabung bersama.
"Hay, uncle, name is Javina. Nice to meet you." kata Tante Vio pada Zidan, masih dengan melambai - lambaikan tangan sang baby girl.
"Ih, senyum." Siska mendesis, matanya bertemu pandang dengan Zidan sejenak karna berhasil membuat si Javina tersenyum imut.
"Eh, ini juga jangan lupa, kenalin juga. Ini istri gue. Namanya Villa. Kebetulan orang Indonesia juga. Sayang, ini yang namanya Zidan anaknya Om Sony. Terus ini istrinya, Siska." kata Ery menyela sapaan mereka pada anaknya demi mengenalkan sang istri.
"Oh iya, hay ... selamat datang." sapa Villa menjabat tangan Zidan dan Siska dengan senyum ramahnya.
"Iya makasih, salam kenal." jawab Zidan membalas jabatan tangan Villa. Begitu juga dengan Siska.
"Ayo ini dinikmati hidangannya, ya, maaf tadi aku gak bisa nyambut langsung kedatangan kalian dan baru muncul sekarang." kata Villa masih dengan senyuman ramahnya pada Zidan dan Siska secara bergantian.
"Iya gak apa - apa kok santai aja." jawab Zidan.
"Tante, boleh aku gendong?." Siska yang sudah merasa gemas pada Javina meminta untuk menggendong si baby.
"Boleh dong aunty." jawab Tante Vio dan dengan hati - hati menyerahkan Javina untuk di gendong oleh Siska.
Setelah Javina ada di gendongan. Siska pun sudah tampak tak peduli dengan sekitar. Dia terus menciumi si Javina. Mencubit lembut pipinya. Memainkan tangannya. Dan juga mengajaknya ngobrol sendiri demi mendapatkan sebuah senyum atau tawa dari bibir Javina.
__ADS_1
Disaat seperti ini. Entah kenapa Siska jadi bahagia sendiri. Siska memang sangat suka anak kecil. Mungkin wajar juga, mengingat Siska yang anak tunggal, jadi dia bisa gampang terlena dan gampang terpikat sama yang namanya anak kecil.
"Gemes ... ih. Pengen gigit." celetuk Siska tanpa sadar.
"Jangan di gigit dong aunty nanti Javinanya sakit." Zidan yang tadi duduk, ternyata sekarang berdiri disamping Siska dan menyaut.
"Aku gemes, gak kuat." kata Siska dengan nada manja sangking gemesnya pada Javina.
"Ya, tapi masak mau di gigit? ngamuk nanti emak bapaknya kalau kamu gigit si Javinanya."
"Kalau gitu, gigit kamu aja gimana? biar gemesnya ilang. Aku udah gak tahan. Ih ..." kata Siska dengan gerakan mencium sekali lagi si Javina.
"Ya jangan dong sayang, kok malah jadi mau gigit aku? sakitlah kalau di gigit."
"Ya biar gak gregetan lagi, coba sini deh, aku gigit kamu dikit aja." Siska bahkan hendak meraih lengan Zidan untuk dijadikan bahan pelampiasan rasa gemasnya.
"Eh! diliatin Om Robet. Jangan aneh - aneh." Sambil mengingatkan, Zidan menghindar.
"Dikit aja, biar aku gak gemes lagi." Siska mencoba meraih lagi lengan Zidan.
"Sayang, ck!."
"Ck! biasanya juga kamu aneh - aneh di depan orang. Tumben sekarang jadi malu?." timpal Siska sambil sedikit menyindir.
"Aneh ya cuma di depan Caca, kalau didepan mereka kita harus jaga image."
"Cih! gayanya."
"Javina, yuk sama Miss Avin dulu, aunty sama uncle mau makan dulu." Villa datang menghampiri Siska dan Zidan dan kemudian mengambil ahli Javina dari tangan Siska untuk diberikan pada Avin, pengasuhnya Javina.
"Gak apa - apa, Javina biar sama aku aja." Siska yang masih belum puas bermain sama Javina pun tak rela saat Javina mau diambil.
"Jangan, nanti kamu gak bisa makan." jawab Villa.
"Gak apa - apa, santai aja. Anaknya juga masih diem." ucap Siska.
"Jangan Sis, sini kita makan dulu. Biar si Javina sama pengasuhnya." kata Tante Vio yang mau tak mau meskipun tak rela Siska pun akhirnya merelakan si Javina.
__ADS_1