
Sepertinya acara goda menggoda suami harus di skip dulu untuk malam ini. Karna tiba- tiba saja Bu Irna memberi kabar kalau dirinya mau datang ke apartemen dan rencananya mau menginap malam ini. Padahal tadi, Zidan sudah semangat empat lima melajukan mobilnya kearah mall untuk membeli seragam dinas seksi untuk Siska.
Zidan terus mendecak kesal. Rencananya gagal total dan sementara Siska malah tertawa jail padanya. Puas sekali rasanya melihat Zidan yang kelimpungan dan memamerkan ekspresi merajuknya.
"Apa? ketawa terus ya, puas banget kamu ngeliat aku kelimpungan gini?." Zidan mendecak, melirik Siska dari sudut matanya yang masih fokus ke jalan saat menyetir.
"Hahaha, menurut kamu gimana? Kira - kira aku kelihatan puas gak?."
"Aish! Ck!."
Siska semakin tertawa keras. Gemes banget liat Zidan yang begini. "Ih, gitu aja sewot bang. Awas, jangan suka marah - marah, nanti cepet tua loh."
Zidan tersenyum kecut sebagai balasan akan ejekan Siska.
"Cih!, awas ya kamu, liat aja! lain kali aku bales kamu. Saat giliran kamu minta jatah, aku gak bakalan mau." Seolah sudah bertekad Zidan pun memberi ancaman pada Siska, ya meskipun ancaman itu jelas tak berefek sedikit pun buat Siska.
"Ih, GR! emang siapa juga yang mau minta jatah. Biasanya juga yang suka minta kamu bukan aku."
"Untuk kali ini aku gak bakalan minta - minta. Kamu kira cuma kamu aja yang bisa jual mahal? Aku ini juga bisa, ya."
"Alah, kayak iya aja mau sok jual mahal sama aku."
"Eh, dikira aku gak bisa? Jangan salah kamu, yang!."
"Oh ya? Masak sih? Palingan juga gak akan tahan lama. Bisa nahan seminggu aja udah bagus, orang ini aja baru tadi sore kita begitu, tapi sekarang kamu udah bingung lagi, ckckck!."
"Cih! ngeremehin aku banget kamu ya?." Zidan tak terima dipandang rendah Siska. Harga dirinya mulai terluka.
"Emang, aku gak yakin, dan aku jamin 100 persen kamu gak bakalan sanggup nahan. Kamu lo yang, gak perlu seminggu deh, 2 hari aja gak begitu, kamu udah kayak cacing kepanasan." Siska begitu hafal tabiatnya Zidan, jadi jangan salahkan dirinya kalau sekarang sedang merendahkan harga dirinya Zidan.
"Eh, nantangin. Dikira aku gak bisa nahan beneran gitu? Oke, kita liat aja, siapa nanti yang bakalan minta duluan, aku atau kamu." Zidan menjadikan ucapan Siska tadi sebagai tantangan. Dikiranya dirinya gak akan sanggup kali. Meremehkan sekali istrinya itu.
"Aku yakin, gak bakalan bisa nahan, percaya deh sama aku."
Zidan tersenyum smirk. Belum tahu saja Siska kalau dirinya sudah bertekad maka semua hal akan ada di genggamannya. "Oke kalau kamu gak percaya. Ayo taruhan. Kalau aku bisa nahan lebih lama dari kamu, aku minta nanti kamu turutin semua kemauanku, gimana?."
"Jangan terlalu percaya diri sayang, gak baik." Dan Siska tak ambil pusing dengan ucapan Zidan.
"Mangkannya ayo kita taruhan."
Siska tersenyum jail lagi. "Percuma juga taruhan yang menang pasti aku."
__ADS_1
"Ck! Pokoknya ayo taruhan."
"Ih, kok jadinya maksa?."
"Ya habisnya kamu terlalu ngeremehin aku. Jadi pokoknya ayo taruhan. 2 minggu, kalau aku bisa nahan gak nyentuh kamu selama 2 minggu, berarti nanti kamu harus nurutin semua keinginanku. Dan sebaliknya juga begitu, oke?."
Siska mengurai senyum tipisnya sambil sedikit mencebik juga. Sangking gak mau diremehkan, Zidan sampai segitunya ngajak taruhan. "Oke, demi kamulah, dari pada kamu nangis gara - gara gak diturutin ngajak taruhan."
"Oke, deal!."
Dan taruhan pun dilakukan. Dan setelahnya tampak wajah Zidan yang tersenyum smirk. Segudang rencana sudah terpatri di otaknya. Jadi jangan salahkan dia kalau nanti Zidan akan dengan sengaja menggoda Siska habis - habisan.
Sepersekian waktu, mobil yang ditumpangi Zidan dan Siska akhirnya berhenti di area parkir apartemen. Mereka lalu keluar dari mobil dan berjalan beriringan, masuk ke loby apartemen. Berdiri sejenak didepan lift. Menunggu sampai dentingan tanda pintu lift terbuka.
"Mama udah sampai mana?." tanya Zidan, saat itu berbarengan dengan suara dentingan pintu lift yang mana keduanya pun, melangkah masuk kedalamnya.
"Bentar lagi kayaknya. Tadi katanya masih di daerah Citrus."
"Mama mau nginep berapa hari disini?."
"Gak tahu, 2 hari mungkin sampai papa balik dari seminarnya."
"Oh." Zidan pun ngangguk - ngangguk.
"Kan? Ini? Siapa yang tiba - tiba deket - deket duluan?." Zidan menginterupsi perlakuan Siska padanya yang manja.
"Ini kan cuma gandengan doang? masak juga gak boleh? Perasaan taruhannya juga cuma make out aja yang perlu ditahan, kamu kenapa jadi berlebihan, ah." Dan bukannya menyingkir, Siska malah semakin menempelkan kepalanya ke lengan Zidan. Membuat Zidan pun cuma bisa mendesah dan geleng - geleng kepala.
Ting. Pintu lift akhirnya terbuka dilantai apartemen milik Zidan. Membuat langkah kaki Siska dan Zidan beranjak dan melangkah menuju apartemen.
"Loh, Mam? Kok udah sampai?." Siska sedikit mempercepat langkah kakinya. Ibunya itu ternyata sudah berdiri di depan pintu dan sibuk menekan bel.
"Pantes mama teken - teken dari tadi belnya kok gak ada respon, ternyata kalian baru sampai."
"Mama kok bisa sampai duluan? bukannya tadi bilangnya masih ada di daerah Citrus ya?." Siska tanya lagi.
"Udah lama nunggunya Ma?." Zidan menyelah obrolan dan menyalami Bu Irna. Mencium telapak tangan mertuanya juga. Serta meraih tas jinjing Bu Irna untuk dia bawahkan juga.
"Tadi Mama salah ngomong, harusnya bilang di ciputra, eh malah bilang citrus." jawab Bu Irna, merima jabatan tangan sang menantu. "Enggak baru aja." jawabnya kemudian.
"Ya udah yuk masuk." ajak Siska setelah pintu apartemennya dia buka dengan menekan sandi digagang pintunya.
__ADS_1
"Mama udah makan?." Siska kembali bertanya pada Bu Irna, meskipun dirinya sibuk meletakkan tas dan ponselnya di atas meja ruang tengah.
"Udah, tadi sebelum kesini."
"Ma, barangnya aku taruh di kamar depan." Zidan berucap.
"Iya, makasih ya."
"Syukur deh kalau udah makan, soalnya aku gak punya apa - apa. Hari ini aku gak masak." Celetuk Siska lagi.
"Emangnya kapan kamu masak, setiap mama kesini juga pasti bilangnya gitu. Gak punya apa - apa, gak semper masak. Seandainya ada sesuatu pun pasti Zidan yang masak, bukan kamu." Omel Bu Irna yang sudah paham betul modelan anaknya seperti apa.
"Ih mama, sebulan ini udah aku terus tahu yang masak." Siska membela diri. Karna memang itu kenyataannya. Sejak sebulan lalu setelah bertengkar hebat, Siska benar - benar berusaha jadi istri yang baik. Menyiapkan dan melayani segenap jiwa untuk suami tercinta.
"Ya bagus dong kalau gitu, memang harus gitu." jawab Bu Irna tanpa menoleh pada sang anak yang tengah duduk di meja pantry dan fokus menelisik isi kulkas, lalu mengangguk - angguk karna isi didalam kulkas tersebut sudah jauh lebih rapi dari biasanya. Begitu juga dengan pantry lebih bersih dan rapi juga.
"Berasa lagi ada inspeksi dadakan." Siska berkomentar. Dia tahu kalau ibunya itu lagi sibuk memeriksa setiap sudut apartemennya yang kalau ada yang gak cocok pastinya akan langsung ngomel.
"Hari ini apartemen kamu bersih sama lebih rapi." ucap Bu Irna puas.
"Ya iyalah orang tiap hari dibersihin ya bersihlah."
"Biasanya masih ada aja yang berdebu dan gak rapi. Apa lagi kulkasmu, semuanya masih didalam kantong kresek."
Siska geleng - geleng jenggah. Malas menanggapi ucaoan Bu Irna. Pasrah ajalah, terserah apa kata Bu Irna saja.
"Rumah itu cerminan diri, kalau rumah kamu kotor berarti itu tandanya kamu itu jorok. Gak bersih."
"Ya namanya jorok pastinya gak bersihlah Mam." Siska menimpal, tapi gara - gara timpalannya ini dia malah dapag satu pukulan di bahu dari Bu Irna.
"Kamu ini masih aja kebiasaan kalau orang ngomong langsung dijawab."
"Ya kan aku bener, namanya juga jorok ya pastinya gak bersih, terus apa salahnya dari omonganku?."
"Ih, kesel mama lama - lama sama kamu."
"Ah, belum apa - apa udah kesel duluan."
Dan sekali lagi satu pukulan mendarat lagi dilengannya.
"Mama, suka banget sih pukul aku!."
__ADS_1
"Biar kamu diem, gak jawab aja kalau mama lagi nasehatin kamu!."
"Hm!." Siska pun mencebik.