
Sore itu juga, setelah ngobrol dengan Firman dan Feby. Demi mendapatkan hati Siska kembali. Salah satu cara yang terlintas di otak Zidan adalah melamar Siska dengan benar.
"Ki, gue mau reservasi ruang VIP cafe lo malam ini, bisa?." Zidan terlihat menghubungi salah satu sepupunya yang bernama Kiki.
"Bisa, kebetulan kalau malam ini udah gak ada yang booking. Dan."
"Oke, kalau gitu sekalian gue minta tolong, tolong hiasin ruangannya pakai bunga, atau lilin atau apapun itu, pokoknya seromantis mungkin. Soalnya gue mau ngelamar calon istri gue."
"Beres, bisa diatur."
"Oke, thank, Ki."
Yap, betul. Lamaran ini harusnya sudah dia lakukan sejak dulu sebelum berangkat ke Jogja. Tapi gak tau kenapa Zidan malah jadi lupa akan poin penting ini. Padahal kalau seandainya dia melakukan lebih awal mungkin saja Siska bisa melihat ketulusannya.
"Mbak Sis, ikut aku yuk mbak, aku punya voucher gratis nih mbak dari Mas Kiki, sepupuku. Sayang nih mbak kalau gak dipakai." Sekarang tugasnya Caca untuk membawa Siska ketempat lamaran. Adiknya Zidan ini bahkan secara khusus datang kekontrakan Siska. Tapi pastinya ini gak gratis + biayanya juga mahal.
"Males deh Ca, aku lagi mager banget. Lagian sama mama juga gak bakalan dibolehin buat keluar."
"Bentaran doang mbak, biar gak mubadir vouchernya soalnya hari ini terakhir bisa di pakai."
"Emang makanannya apa sih Ca? Besok mbak Siska belikan deh. Sumpah Mbak lagi mager banget, sama mama juga pasti gak dibolehin."
"Mbak, ini bukan masalah bisa beli enggaknya mbak, tapi sensasi bisa makan gratisnya itu lo. Apa lagi pakai voucher, ini kita bisa pilih semua menu yang kita pengen. Jadi yakin deh kalau gak dipakai bakalan rugi banget." Pokoknya segala bujuk rayu dikeluarkan si Caca malam itu.
"Ya gak apa - apa sama aja, kalau mbak yang belikan kamu 'kan juga sama - sama makan gratis gak ngeluarin duit."
"Ya mbak Siska mah, tetep beda lah mbak."
"Sama aja Ca!."
"Mbak Siska lagian juga, mulai sekarang Mbak jangan keluarin diit buat aku. Soalnya kemarin habis mbak siska kasih duit, mas zidan langsung marah banget ke aku, jadi sekarang aku gak mau dimarahin lagi sama dia." Caca malah ngadu.
"Emang dia marah gimana?." Dan Siska malah lebih suka obrolan tentang Zidan.
"Pokoknya marah deh mbak, sampai ngereog. hiii... jadi jangan mengulang kesalahan yang sama untuk kedua kali. Oke? sesayang itu lo mas zidan sama mbak, sampai gak rela istrinya keluar duit dikit demi adiknya."
"M, karna masmu aja kamu ngomong gitu." Siska mencebik tapi wajahnya terlihat senang mendengarnya.
"Hehe, ketahuan, ya? Tapi mbak ya mbak ya, temenin aku ya ... please..."
__ADS_1
"Ini ada apa sih? kok sampai mohon - mohon gitu?." Bu Irna yang baru muncul tiba - tiba nimbrung, dan ikut duduk disofa ruang tengah.
"Ini lo tante, Caca punya voucher gratis makan sepuasnya di cafenya mas kiki, jadi Caca mau ajakin mbak siska, tapi mbak siskanya mager gak mau ikut." Caca menjawab.
"Eh, jangan! Lusa mbakmu 'kan udah mau nikah. Dia gak boleh kemana - mana, pamali itu namanya." Bu Irna sendiri pun langsung menolak mentah - mentah permintaan Caca.
"Yah, terus gimana? ini 'kan sayang tante vouchernya?" Caca mulai frustasi. Apa lagi harus berhadapan dengan Bu Irna.
"Enggak, jangan. Tante gak ngijinin. Mbakmu itu gak boleh kemana - mana. Nanti kalau ada apa - apa gimana? kamu mau tanggung jawab?."
"Ya, tante bentaran aja, nanti jam 9 juga udah dibalikin lagi. Serius. Cafenya juga deket kok cuma 15 menit dari sini. Gak jam 9 deh, jam 8 pasti udah kembali lagi." Eh, Caca malah ngerengek ke Bu Irna. Ya gimana gak ngerengek ini kalau beneran Siska gak boleh berangkat Caca pasti akan dimarahi Zidan habis - habisan.
"Enggak Caca, gak boleh. Kalau tante bilang jangan ya jangan." Dengan tegas Bu Irna menolak permintaan Caca.
"Mbak Sis, please ya ... mau ya ... bentar aja, 1 jam aja deh ..." sekarang Caca ngerengek ke Siska.
"Mama 'kan bilang gak boleh Ca, jadi mbak gak bisa berangkat. Udah deh nanti mbak belikan aja kamu, kamu mau makan apa terserah kamu. Nanti mbak juga gak akan bilang ke masmu, jadi kamu gak usah khawatir." Siska menyaut.
"Aduh gimana dong???." Caca udah beneran frustasi. Ini dia beneran bakalan dimarahi habis - habisan sama Zidan kalau gak bisa membuat Siska datang. Mana lagi uang sogokan untuk misi ini udah lenyap ditelan bumi jadi sepatu sama tas baru.
"Gimana dong Mbak? tante?." Caca yang bingung malah tanya kedua orang yang lagi duduk berdampingan.
"Emang apa hubungannya sama Zidan?." Bu Irna tanya.
"Ada. Aduh aku jadi cerita deh. Tapi bodohlah. Mbak Sis, sebenernya Mas Zidan sekarang itu mau ngasih kejutan. Katanya dia mau ngelamar mbak Siska. Mangkannya aku disuruh bawah mbak Siska sekarang kesana." Caca akhirnya cerita.
"Ngelamar gimana maksudnya Ca?." Bu Irna yang penasaran jadi nyerobot dulu untuk tanya.
"Ya ngelamar tante, bilang will you marry me gitulah pokoknya. Kemarin 'kan Mas Zidan belum sempet bilang gitu karna nikahnya buru - buru." jelas apa yang dikatakan Caca ini membuat hati Siska jadi menghangat.
"Oh ya? ya kalau gitu, kamu harus cepet berangkat dong, Sis. Sana cepet ganti baju yang cantik." Bu Irna bahkan langsung berubah pikiran.
Dapat dukungan dari Bu Irna jelas Caca jadi sumringah lagi. "Ayo mbak, tante udah ngijinin."
Tadinya hatinya emang udah menghangat dan senang. Tapi tiba - tiba teringat tuduhan - tuduhan yang dilayangkan Zidan padanya. Ya, jadinya Siska pun bedmood lagi.
"Enggak aj. aku gak mau. Dia 'kan masih punya salah sama aku."'
"Loh kok gak mau sih mbak?." Caca berubah frustasi lagi.
__ADS_1
"Kok gak mau? itu mungkin si Zidan juga sambil minta maaf ke kamu, sayang." Bu Irna nyeletuk.
"Ih, enggak. Itu ngelamarnya juga gak dari hati. Ngelamarnya juga karna aku marah. Kalau aku gak marah dia gak bakalan ngelamar aku." Dengan persepsinya sendiri Siska berpikir.
"Mbak berangkat ya mbak, Please mbak, ya ..." Caca kembali memohon - mohon.
"Sis, kamu jangan ego. Meskipun Zidan salah tapi 'kan dia mulai kemarin udah minta maaf ke kamu. Bahkan sekarang dia juga siapin kejutan buat kamu. Biar kamu gak marah lagi. Mama yakin dia udah nyesel sekarang. Jadi ayolah maafin dia, kalian ini juga lusa udah nikah. Ya masak pengantinnya malah berantem."
"Pokoknya kalau aku bilang enggak ya enggak ma. Udah ah, jangan ganggu lagi. Aku mau tidur dulu!." Dan sedetik kemudian Siska pun langsung masuk dalam kamarnya meninggalkan Caca dan Bu Irna yang terlihat pasrah.
Waktu terus berjalan, jam di dinding sudah pukul 9. Zidan masih duduk termangu menunggu kedatangan Siska yang tak kunjung datang. Sebenarnya Zidan bukannya tak tahu kalau Siska tak datang. Tadi Caca udah bilang kalau tidak berhasil membujuk Siska. Tapi cuma Zidan terlalu malas untuk beranjak dari tempatnya duduknya. Jadi dia memutuskan untuk tetap menunggu.
Kecewa jelas, frustasi jelas. Semua hal yang sudah disiapkan dengan baik dan lancar tapi tak bisa terwujud. Rasanya kenapa sulit sekali membujuk Siska untuk memaafkannya. Mungkin benar apa kata Feby, dia sudah keterlaluan dan dengan gampangnya malah nuduh Siska yang tidak - tidak.
"Bro, gimana? gue mau pulang. Lo gak apa - apa 'kan gue tinggal sendirian?." Kiki nyeletuk ke Zidan dari balik pintu yang hanya setengahnya saja dia buka.
"Oh iya, gak apa - apa, lo pulang aja. Gue pinjam dulu ruangannya."
"Oke, entar kalau lo mau pulang, kuncinya taruh aja diatas sekringnya listrik."
"He'e, oke. Eh, bro. Lo punya bir? gue boleh minum sebentar disini?."
"Bir? ada di kulkas pantry, ambil aja. Tapi awas jangan sampai mabuk!."
"M, thank."
Setelah perginya Kiki. Zidan berjalan dengan langkah malas dan wajah kusutnya menuju kulkas di pantry. Ya, kalau udah begini lebih baik minum sedikit biar pikirannya sedikit jernih. Awalnya Zidan hendak mengambil sekaleng, tapi kemudian dia malah memungut beberapa sampai lengan tangannya gak muat.
"Mau ngapain lo? mau minum?." Suara jutek itu tiba - tiba terdengar. Rasanya bahkan sampai gak percaya.
"Minum aja kalau lo berani!." Lagi, Siska dengan jutek ngomong lagi, yang mana kali ini berhasil membuyarkan ketidaksangkaan Zidan.
Sebuah ukiran senyum akhirnya merekah dari bibir Zidan.
"Enggak, enggak gue gak jadi minum."
"Gak jadi? berarti masih mau minum?."
Omelan Siska itu tak berarti bagi Zidan. Sekarang pokoknya dengan gerakan super cepat, Zidan langsung mengayunkan tubuh Siska dalam dekapannya.
__ADS_1