Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
52. Takut sakit


__ADS_3

Hari - hari sudah berjalan seperti biasanya. LDR dijalani seperti sebelum - sebelumnya. Rutin videocall, kirim pesan dan telponan untuk memberi kabar satu sama lain.


Bahkan sekarang intensitasnya malah lebih sering lagi. Siska juga udah gak malu - malu lagi atau gengsi dan mau menghubungi Zidan dulu kadang. Ya mungkin efek karna sudah menikah.


Selain itu, Siska juga sudah menjalankan rutinitas hariannya dengan kerja. Kemudian kadang pulang kerumah menemui mama papanya atau berkunjung ke rumah sang mertua kalau diminta mampir.


Tapi khusus hari ini, Siska lagi santai bersama Raya dan Feby, ngobrol di apartemen Zidan yang mana sekarang secara otomatis juga sudah jadi apartemennya.


"Gila lo Sis, tega bener sama Zidan, sampai - sampai bohong pakai acara datang bulan segala di malam pertama. Pantesan lo gue ceng cengin cuma haheho aja. Ternyata sampai sekarang masih perawan lo. ckckck!." Raya langsung menimpali Siska karna tak habis pikir dengan jalan pikiran sang sahabat. Siska ternyata kemarin cuma pura - pura lagi datang bulan. Astaga.


"Iya nih, tega banget lo. Lo gak kasian apa sama Zidan? Padahal dia udah mencurahkan segalanya loh Sis buat lo. Tapi kenapa lo masih aja nunda - nunda buat ngelayani dia? mana jiwa mesum lo sebelum nikah? kenapa pas nikah malah jadi gak punya gairah? jangan - jangan lo punya penyakit ya?." Feby juga tak mau kalah saat menimpali Siska.


"Sis, pikiran lo sebenernya kenapa sih? heran deh gue sama lo, sumpah! kenapa harus pura - pura datang bulan? ckckck!." Lagi - lagi Raya mendecak dan sekarang malah geleng - geleng.


"Emang lo lagi mikirin apa sih Siska? lo masih belum yakin sama Zidan? atau lo sebetulnya gak beneran pengen nikah sama dia, gitu? jadi lo sampai bohong pura - pura datang bulan?." Feby nambahi.


"Gue juga gak tau kenapa, gue rasanya masih gugup aja sama takut." jawab Siska dengan wajah ya bisa dibilang merasa bersalah.


"Astaga Siska, lo gugup sama takut kenapa? lo takut Zidan ninggalin lo lagi sama selingkuhin lo lagi? atau Zidan masih kurang ngasih perhatian sama lo?." Raya tanya dengan pandangan menyelidik mencoba mencari tahu apa yang melatar belakangi pikiran Siska sampai tega bohong.


"Enggak, bukan gitu. Gue udah yakin sepenuhnya sama Zidan. Cuma gue belum siap aja Ray, takut juga."


"Belum siapnya kenapa emang? emang harus sesiap apa kamu, sampai harus mikir - mikir buat gitu? atau lo emang niat mempertahanin keperawanan lo kayak yang lo bilang dulu?." Raya nyaut sambil tanya.


Siska menghela nafas. Wajahnya juga tampak malu. "Guys, gue takut."


Raya dan Feby jadi heran karna ekspresi Siska yang tak biasanya. Malah terkesan beneran lagi malu - malu.


"Takut kenapa?." Feby tanya.

__ADS_1


"Takut sakit." jawab Siska dengan tampang polosnya, bahkan wajahnya sampai merona merah.


"Hahahaha!!!." Feby langsung ketawa.


"Hah?." sementara Raya speechlees. Ini beneran yang dia denger, cuma gara - gara takut sakit, gitu?"


"gue takut. Kata kalian sakit. Terus gue juga malu, pokoknya gitu deh." Siska menjelaskan dengan wajah bingung harus ngomong apa tapi terlihat lucu dimata Ray dan Feby.


"Hahahahaha! astaga Siska, lo ada - ada sih?." Feby masih ketawa renyah. Ya Tuhan, bisa - bisanya Siska menunda malam pertama cuma gara - gara takut sakit.


"Bentar deh Sis, jadi ternyata lo nunda begituan cuma gara - gara lo takut sakit, gitu? bukan karna lo gak yakin sama Zidan atau takut ditinggalin gitu?." Raya ingin mempertegas pemikiran Siska.


"Iya, gue takut, malu, gugup juga. Bayangin aja gue udah geli Ray, Feb." jawab Siska sambil bergidik.


"Ckckckck!." Raya akhirnya cuma bisa mendecak sambil geleng - geleng.


"Ih, kok lo jadi ketawain gue sih?." Siska menimpali Feby.


"Ya habisnya lo lucu. Bisa - bisanya cuma gara - gara takut terus bikin alasan datang bulan. Untung gak ketahuan lo, kalau sampai ketahuan Zidan mau alasan apa lo." Feby jawab.


"Ya bilang aja belum siap!."Siska jadi sewot.


"Ya mana bisa gitu Sis. Aneh - aneh aja lo. Kalau lo bilang belum siap dia malah tambah mikir yang aneh - aneh." Feby jawab.


"Terus sekarang gue tanya, lo siapnya kapan? ini udah sebulan lo Sis lo nikah. Lo juga udah gak bisa terusan ngindar. Sekarang lo bisa ngindar karna lo lagi beruntung aja karna kalian lagi LDR." Raya mengingatkan.


"Iya nih, gak kasian lo sama Zidan. Asal lo tahu ya, dia tiap malam selalu telpon si Firman terus sambil ngerengek - ngerek karna LDRan sama lo lah, karna belum bisa nikmatin waktu sama lo lah. Karna lo gak mau datang ke Jogja. Masih banyak lagi deh pokoknya. Sampai kesel gue tahu dengernya, dia bikin waktu gue sama Firman jadi tersita tahu!." dengus Feby, jadi kesal lagi kalau ingat Zidan yang setiap malam telpon suaminya.


"Eh, ke Krisna juga suka telpon. Curhatannya juga sama lagi. Astaga, kayaknya dia kesepian bener deh Sis." kata Raya.

__ADS_1


"Ckckck! kasiannya." Feby mendecak.


"Udah deh Sis, kayaknya lo harus segera nyusulin Zidan ke Jogja deh. Kasian dia, udah tersiksa banget dia karna harus berjauhan sama lo. Ini semua suami - suami kita udah jadi korban pelampiasannya juga. Dia beneran kesepian kayaknya. Jangan lama - lama nunda, gak baik tahu." kata Raya.


"Gue setuju sama Raya. Kalau bisa weekend ini lo harus berangkat. Inget juga, lo udah jadi istrinya jadi udah kewajiban lo buat melayani suami. Takutnya nanti semakin lo menunda malah jadi sesuatu hal yang gak baik buat pernikahan kalian. Pumpung si Zidan lagi ngarep jadi jangan dikecewain. Takutnya nanti kalau dia terlanjur kecewa terus dia malah cari pelampian ke orang lain, gimana? lo mau kalau sampai itu terjadi?." Feby malah nakut - nakuti.


"Eh, kok lo jadi ngomong gitu?." Jelas Siska jadi takut.


"Ya habisnya lo terlalu mikirin diri lo sendiri sampai lo lupa sama orang yang sayang sama lo. Inget lo Sis, apa yang ada di otaknya para lelaki itu 90% isinya tentang s-e-k-s. Jadi sebelum apa yang gue omongin tadi beneran terjadi mending lo bergerak cepat." Feby menginterupsi.


"Udah gak pakai pikir - pikir lagi. Besok udah weekend. Sekarang lo cepet packing sana. Berangkat deh besok, ambil juga cutinya kalau perlu biar di Jogjanya agak lama. Biar puas juga bareng suami. Kangen - kangenan deh tuh. Jangan lupa juga, hadiah dari gue dipakai." Raya mulai meledek.


"Tuh 'kan, lo ngeledekin." Siska protes dengan nada merajuk.


"Hahaha, astaga Siska. Lo kok jadi sok imut gini sih? biasanya lo juga gue ledekin biasa aja. Efek mau malam pertama ya, jadinya panas dingin gitu? hahaha." Raya malah semakin meledek.


"Hahaha. Biasa aja deh Sis, jangan tegang gitu. Enak kok percaya deh sama gue. Bikin nagih. Sekalinya lo tahu, gue jamin jiwa mesum lo langsung balik." Feby ikut meledek.


"Ish! gila lo pada."


"Hahahaha."


Malamnya. Setelah berpikir lama di atas kasur. Siska pun memutuskan menarik koper miliknya dan meletakkannya di atas kasur. Siska juga kemudian membuka lebar lemari bajunya dan menatap sejenak pada baju - baju yang ada di gantungan untuk menentukan pilihan mana baju yang pantas dan tidak untuk dibawah.


Awalnya Siska memilih baju yang biasa - biasa saja dan terkesan tertutup. Tapi kemudian, pilihannya berubah pada bajunya yang seksi dan terbuka. Ingat kalau misinya besok adalah menjadi seorang istri sepenuhnya sekaligus melampiaskan rasa rindunya yang sudah 1 bulan berpisah.


Urusan packing mepecking sudah selesai. Selanjutnya Siska pun meraih ponsenya dan menekan layarnya untuk memberitahu sang suami.


"Zidan, besok jemput aku ya ... aku ke Jogja besok."

__ADS_1


__ADS_2