
"Aiiishh!!!."
"Ck!!"
"Aduh!!"
Dengusan, desisan dan decakan, terus terlontar dari mulut Zidan. Wajahnya juga sedang menahan malu karna perilaku 3 cewek prik yang berjalan di depannya.
Gimana gak malu setengah mati, kalau mereka bertiga sedang tebar pesona sana sini, berjalan dengan gaya elegan dan high class memakai baju seksi dan juga kaca mata hitam. Dengan rasa seolah paling cantik dan seksi tapi jatuhnya malah ndeso dan malu - maluin. Aduh, itu tadi sampai diketawain beberapa orang lagi.
Zidan sebetulnya ingin menghentikan, tapi urung karna ingat kalau ini adalah bagian dari rencana perayaan pesta bujang. Jadi biarin sajalah mereka stres hari ini. Toh besok bakalan kembali pada jalan yang benar. Semoga.
"Huft! sumpah, baru kali ini gue ngerasa malu punya temen - temen kayak kalian. Asli geli gue liat kalian jalan tadi." timpal Zidan setelah mereka sampai di lobi luar apartemen.
"Ih! suka - suka dong! lagian, emang lo temen kita? bukan kali, lo cuma temen suami gue yang kebetulan gak lama ini ketemu!." Raya yang tak terima langsung menjawab timpalan Zidan.
"Iya, terserah lo deh Ray, yang pasti please jangan kayak tadi, malu - maluin. Jadi diliatin orang banyak."
"Eh, itu emang tujuan kita ya!." Kali ini Feby yang nyaut.
"Iya, iya, terserah deh, kalau kalian berdua mau gila atau stres terserah gue gak peduli, asal lo jangan ikut gila Sis, please jangan ikut - ikut mereka. Ilang cantik sama seksi lo kalau lo ngikutin gayanya mereka." Zidan berharap, ucapannya ini didengar oleh Siska.
"Ih! apaan sih lo, gak jelas! udah sana, ambil mobil lo, keburu malem nih!." timpal Siska sekaligus menyuruh Zidan supaya bergegas.
Dengan wajah masih menahan rasa malu dan geli. Zidan pun pergi mengambil mobil. Dan setelahnya langsung tancap gas menghampiri ketiga cewek tadi.
Satu persatu cewek - cewek itu masuk dalam mobil. Tapi tak satu pun dari mereka ada yang duduk di kursi depan.
"Sis, pindah lo ke depan." Zidan meminta.
"Ogah!." Siska malah menyandarkan badannya kejok sebagai bentuk penolakan.
"Eh! gue bukan sopir lo, ya. Ayo cepet pindah."
"Eh, bukannya lo sendiri yang bilang kalau hari ini mau jadi pengawal? ya terima nasib dong!." dengus Siska. Enak aja main suruh orang pindah posisi.
"Udah deh Dan, ini udah mau jam 9 malam, cepetan deh jalan, lama - lama bawel lo gak ngalahin nyokap gue deh!." saut Feby yang ikut kesal dengan Zidan.
"Tahu nih, cepet jalan" Giliran Raya menimpali.
"Siska, pindah!." Zidan masih bersikukuh.
"OGAH!."
"Zidan!" Raya malah tersulut emosi. "Lama - lama gue jambak juga deh mulut lo!."
"Aiiisshh! kalian ini ya, bener - bener pokoknya." Ya tak ada pilihan lain. Zidan pun akhirnya melajukan mobilnya mengantar 3 wanita itu menuju karaoke.
20 menit perjalanan. Akhirnya mobil Zidan sampai di Karaoke Rayhan. Dan lagi - lagi, ketiganya sudah memasang aksi hendak tebar pesona lagi.
__ADS_1
Ketiga cewek itu, kembali memasang kacamata hitamnya dan turun bak putri dari dalam mobil dan berjalan secantik mungkin masuk kedalam karaoke. Dan lagi - lagi, Zidan cuma bisa mendecak, mendengus dan menahan rasa malu atas tingkah ketiganya.
Setelah urusan resepsionis selesai. Siska, Feby dan Raya masuk kedalam private room dimana Zidan yang dibelakangnya juga demikian.
"Wooowwww!!!!" Siska, Raya dan Feby spontan berteriak antusias. Ketiganya juga langsung berhamburan masuk dalam ruangan. Bagaimana tidak, ruangan itu sudah didesain khusus dengan banyak balon dan pita serta kue tart juga dengan lampu remang - remang dan warna warninya.
"Ini mah, gak kalah sama diskotik, Feb!!!." Siska yang antusias langsung menghidupkan layar tv dan memilih lagu agar suasananya semakin ramai.
"Eh, bentar - bentar, ada satu lagi yang kurang kayaknya." Feby menatap meja yang kosong ada sesuatu yang sudah dipesannya tadi tapi tak ada.
"Apa?" tanya Raya yang seketika menghentikan ceremonynya.
"Sesuatu yang lo berdua pasti suka." jawab Feby dengan senyum nakalnya. Dan dia pun berbalik hendak keluar, tapi langkahnya terhenti saat melihat Zidan yang sudah duduk di sofa sebelah pintu.
"Buat lo, pokoknya cukup duduk dipojokan sana. Lo boleh liat, tapi jangan komentar atau bersuara."
"Iya, iya, iya, gue paham. Lo gak usah khawatir, nikmatin aja pesta lo, gue d pojokan main game." Zidan manggut - manggut nurut, posisinya juga langsung geser ke pojokan.
"Oke, pinter!."
Feby pun keluar, tapi tak lama dia kembali lagi. Dan tak berselang lama. Seorang pelayan sudah datang dengan membawa 3 botol wisky kehadapan mereka.
"Sentuhan terakhir guys..." ucap Feby masih dengan senyum nakalnya.
"Wooow!!!"
"Cheers..."
3 gelas berisi wiski diangkat keatas.
Bachelorrate party dimulai.
Musik sudah dimainkan kenceng. Meskipun musiknya musik dangdut tapi bisa membuat suasana jadi menyenangkan.
Feby memotong kue tartnya. Kemudian memulai aksinya menyerang para sahabatnya dengan cream kue tart dijarinya. Mereka jadi kayak anak kecil, lari sana lari sini, berlomba menjaili teman lebih dulu.
Karaoke bareng. Lompat - lompat barang. Nari bareng. Ketawa ketiwi. Saling menggoda. Menikmati suasana pesta dengan gelas wiski ditangan sampai akhirnya ketiganya mabuk dan satu persatu mulai tumbang.
Sementara yang di pojok, sedari tadi cuma memperhatikan. Sambil ikut tertawa ketika merasa lucu. Dan mendengus ketika melihat tingkah yang aneh dari ketiganya.
"Ckckck! masih juga 2 gelas, tapi udah pada mabuk." Zidan menggerutu dari tempatnya. melihat 3 cewek dihadapannya sudah pada mabuk. Bahkan Raya dan Feby sudah tak sadarkan diri, dan hanya Siska yang terlihat masih duduk terhuyung - huyung.
"Lo! Zidan!." Siska mulai ngelantur ditempatnya, efek alkohol yang dia minum.
"Lo! gue benci sama lo!."
"Lo, bajingan!."
"Lo, udah buat hati gue kacau! brengsek!"
__ADS_1
"Tiap hari lo gangguin gue. Gue benci!."
Zidan mengernyit mendengar setiap lanturan Siska. Apa lagi Siska sekarang mulai menghampirinya dengan langkahnya yang tak seimbang karna mabuk.
"Gue benci sama lo! 'Gue benci!."
"Benci banget!."
BUK!!
Itu suara tubuhnya Siska. Siska dalam mabuknya sengaja duduk dipangkuan Zidan, menghadap kearah Zidan dan melingkarkan tangannya ke leher Zidan.
"Apa lagi ini, ini suka nyosor!" Siska lagi menyusap lembut bibir Zidan.
"Sis, lo kayaknya udah mabuk, deh. Omongan lo udah ngelantur." Zidan berusaha melepaskan Siska dari posisinya. Posisi ini sangat rawan buatnya. Gimana gak rawan, ini Siska lagi belai bibirnya lembut, belahan dadanya juga pas didepan muka sementara yang dibawa lagi diapit. Bisa hilang kontrol kalau lama - lama.
"Ini bibir kurang ajar!."
"Ini yang suka gigit gue!."
Siska masih meracau gak jelas.
"Lo mabuk Sis, ayo cepet turun, please meskipun mabuk jangan kayak gini." Zidan dengan sedikit kasar melepaskan Siska. Jangan sampai yang diapit malah kepancing.
"Ehmm em, enggak! gue gak mau, turun!" Siska menolak dengan sikap manja. Dan lagi dia malah semakin mendekatkan tubuhnya. Sial!.
"Gue mau disini!."
"Gue pengen deket sama lo!"
Suara manja Siska terdengar sensual ditelinga Zidan. Apa lagi didepan mata disuguhi pemandangan 2 gunung. Sial!.
"Aiiishhh!! Lo bener - bener, Sis!."
"Sekarang, gue pengen cium lo!."
Cup.
Siska benar - benar mencium Zidan. Tapi dengan sedikit kasar Zidan langsung melepasnya.
"Lo!" Cewek ini benar - benar sedang menguji ketahanannya.
Tapi lihatlah mata Siska, matanya sudah sayu, wajahnya juga memerah, dadanya bergerak naik turun. Zidan mana tahan melihatnya.
"Aisshh!!!! ****!!!! ini lo yang mau, bukan gue!."
Cup.
Pertahanan Zidan benar- benar runtuh. Zidan meraih tengku Siska dan langsung melayangkan sebuah ciuman. Ciuman itu semakin diperdalam kala Siska dengan liar ikut membalas pungutannya. Keduanya sedang diujung gairah, hingga lidah pun ikut bermain didalamnya. Sudahlah tak perlu memikirkan yang lain. Yang penting untuk saat ini, hasrat keduanya bisa terpenuhi.
__ADS_1