Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
57. Perang Dunia Ketiga


__ADS_3

BRRAAAKKKK!!!.


Siska menutup pintu mobilnya kasar. Dia kemudian mengeluarkan kunci mobilnya yang sempat disabetnya saat ada diatas meja. Lebih baik, sekarang dia menenangkan diri dengan cara kabur dari Zidan dan Bian. Ini, rasa kesal dan cemburunya sudah mengalahkan segalanya. Persetan kalau nanti akan dibilang jadi istri yang punya tempramen buruk atau apapun itu. Bagi Siska tindakan suaminya itu sudah gak bisa ditolelir lagi. Zidan sudah keterlaluan menurutnya. Se enggaknya, seandainya dia memang gak peka. Harusnya Zidan tetap mengerti dan punya batasan tersendiri bukan?. Tapi nyatanya suaminya itu malah membuka lebar dirinya untuk digoda para calon pelakor.


Ya tapi sepertinya kaburnya ini bukanlah pilihan terbaik untuknya. Sekarang Siska jadi bingung sendiri mau kemana. Dia lupa kalau sedang ada di kota orang. Jadinya Siska pun cuma bisa muter sana muter sini. Melewati beberapa persimpangan, lampu merah yang gak tahu nama jalannya atau nama daerahnya. Yang sepertinya juga sudah beberapa kali dilewati lagi sangking gak tahunya arah dan tujuannya juga.


Siska menyerah. Sudah hampir 2 jam dia muter - muter gak jelas. Jadi dia pun menepikan mobilnya dipinggir jalan lebih dulu. Agar pikirannya lebih tenang.


"Huft!."


Siska menghela nafas beratnya. Meskipun kesal dan marah tapi nyatanya perutnya tetap merasa lapar karna belum makan sedari pagi. Begitu juga dengan badannya, masih terasa pegel - pegel. Kalau gini, kok ya nyesel pakai acara kabur segala. Harusnya tadi kaburnya setelah makan. Biar gak nelangsa sendiri seperti ini.


"Huft!."


Siska melirik pada ponsel yang terus bergetar karna panggilan dari Zidan. Pengen rasanya dia menerima panggilan itu. Tapi rasa gengsinya masih tinggi. Meskipun dirinya sedang dalam keadaan menyedihkan. Tapi 'kan dia tetep harus memberi pelajaran buat suaminya itu. Enak aja, dia deket - deket sama cewek lain sementara dirinya deket sedikit aja, Zidan udah kebakaran jenggot. Jadi, anggap saja ini adalah pembalasan darinya biar Zidan gak seenak jidatnya sendiri.


Tapi itu pikirannya tadi. Sekarang sepertinya dia harus realistis. Dia gak bisa terus kabur hanya dengan membawa uang beberapa lembar dan juga hp, apa lagi sekarang lagi di kota orang dan bensin mobilnya juga udah habis. Jadi karna itu Siska pun memutuskan menerima telpon dari Zidan.


"Hallo!."


"Yang, kamu dimana?." Dari suaranya saja, sudah bisa dipastikan kalau Zidan merasa lega karna akhirnya Siska menerima telponnya, tapi juga khawatir karna Siska yang tak diketahui keberadaannya.


"Gak tahu, lagi dimana!."


"Kok gak tahu? tadi kamu jalannya kemana aja? 'kan itu bisa dilihat di benner atau spanduk yang ada di jalanan."


"Ish!!! Ya namanya juga gak tahu! orang tadi asal aja jalannya!." Jawab Siska langsung ngegas. Membuat Zidan disebrang sana jadi serba salah.


"Em, ya udah deh kalau gitu. Kamu sharelok ya lokasinya, biar aku yang susulin kamu kesana. Kamu tunggu aku, jangan kemana - mana, oke?." pintah Zidan dengan penuh hati - hati. Takut salah ngomong lagi soalnya.


Siska pun membagikan lokasinya pada Zidan. Yang mana tak lama kemudian. Zidan pun datang dengan naik taksi saat menyusulnya.

__ADS_1


"Yang," Ada raut kelegaan karna Zidan berhasil menyusul Siska. Bahkan tangannya langsung melayangkan pelukan meskipun pelukan itu langsung ditepis oleh Siska.


"Gak usah peluk - paluk! kalau mau peluk - peluk minta ke Bian sana!."


"Yang, kok Bian sih? kamu kok jadinya cemburu sama dia sih? Yang, padahal 'kan aku sengaja ngajak kamu biar kamu bisa tahu siapa Bian. Biar kamu gak cemburu kedia. Tapi kenapa kok kamu masih marah sama salah paham sama aku?."


Siska tersenyum sinis. 'Kan betul, Zidan ini ternyata beneran gak peka. Pikirannya cuma berpaku dan berhenti pada agar dia biar tahu siapa Bian itu. Terus kalau dia udah tahu ngarepnya aman, gitu? bisa tetep dekat tanpa takut dicemburui, gitu?.


"Yang, Bian itu modelnya emang gitu. Dia begitu juga bukan cuma sama aku. Sama yang lain juga gitu. Suka seenaknya sendiri sama sedikit ada gaya manja - manjanya gitu. Jadi kamu harusnya maklum, jangan marah. Dia itu cuma rekan kerja sayang. Bukan siapa - siapa. Jadi please jangan marah, jangan cemburu lagi." Tapi entah kenapa penjelasan Zidan ini malah semakin membuat Siska sebal.


"Heh! apa kamu bilang? maklum? kamu suruh aku maklumin dia? yang bener aja kamu!." Kalau inget Bian sengaja duduk deket sambil menempelkan dadanya ke lengan Zidan, rasanya Siska pengen jambak tuh rambut si rubah betina. Jadi maaf dia gak bisa memaklumi hal itu.


"Ya gimana dong yang, masak kita jadi berantem gara - gara Bian? padahal aku sendiri peduli aja enggak sama dia."


Lagi - lagi Siska tersenyum sinis. "Kamu munafik!."


"Yang munafik siapa sih yang? Aku itu emang gak peduli sama dia. Kita ini emang pure rekan kerja."


"Yang."


"Kamu munafik! kamu bilang gak peduli tapi kamu mau - maunya ditarik - tarik kesana sini sama dia! Habis ditarik - tarik, kamu juga mau - mau aja diajakin makan di cafe! duduknya berdampingan lagi sampai lengan kamu nempel ke dada dia!."


"Ya ampun yang, kok kamu jadi ngomongnya gitu? Yang, kamu tahu sendiri 'kan tadi, aku mau ditarik - tarik karna kita lagi evaluasi proyek? Untuk tempat makan aku sengaja emang nurutin dia, biar kita bisa cepet pisah sama dia. Apa lagi tempatnya juga di depan stadion jadi kita gak perlu muter - muter lagi bertiga sama dia lama - lama. Masak gitu aja kamu gk ngerti?." Zidan udah mulai frustasi.


"Oh, jadi selama ini kamu cara kerjanya gitu? jalannya suka ditarik - tarik sama dia karna evaluasi? terus karan kepepet pengen dia cepet pergi meskipun dia nempelin dadanya kamu gak menghindar? malah menikmati? Kamu pikir deh, meskipun itu semua urusan pekerjaan, apa pantes sampai tarik - tarikkan gitu? bahkan kadang ada curi - curi kesempatan ngerangkul lengan? terus parahnya itu dilakuin didepan istri kamu? sampai istrimu ini jalannya dibelakang sendirian kayak karyawan magang yang lagi ngawasin bosnya kerja sambil pacaran! Terus juga kamu bilang, kamu pengen cepet - cepet pisan sama Bian, tapi nyatanya juga kamu malah duduk berdampingan? sampai lengan kamu tadi nempel di dada dia?" Kata Siska dengan sarkas dan penuh sindiran. Sekaligus mengeluarkan semua isi yang ada dikepalanya.


"Tapi yang, meskipun begitu aku itu gak ada perasaan apa - apa sama dia. Dia itu cuma rekan kerja aja. Jadi kamu jangan salah paham."


"Bukannya gak ada, tapi belum! soalnya gak menutup kemungkinan kalau kamu bareng sama Bian terus kamu gak akan punya perasaan sama dia. Apa lagi tiap deket disuguhi dada!." Lagi - lagi Siska menyindir sambil ngegas.


"Yang, kok kamu jadi gak percaya sama aku sih? Kamu kira aku orangnya gampang suka ke orang gitu?."

__ADS_1


"Iya, aku gak percaya sama kamu! kamu orangnya gak peka! kamu malah biarin orang yang suka sama kamu nempel - nempel terus. Kamu buat mereka jadi berharap ke kamu dan jadi gak ngehargain aku sebagai pasangan kamu. Dulu kamu juga kayak gini waktu pacaran sama aku. Kamu anggep mereka semuanya gak berefek, padahal kamu tahu sendiri kalau aku gak suka kamu deket - deket sama mereka. Harusnya kalau kamu tahu aku gak suka dan mereka ngeremehin aku, kamu harusnya langsung jaga jarak bukannya malah gak peduli. Padahal kamu tahu kalau efeknya itu ada dihubungan kita."


"Oke, mungkin aku emang salah. Aku minta maaf karna udah jadi seseorang yang gak peka. Tapi aku minta pengertian sama kamu. Aku, mulai sekarang aku akan jaga jarak dari Bian, tapi aku gak bisa juga gak ketemu atau gak ngomong sama dia. Proyek disini udah tinggal 1 bulan lagi yang, kalau aku pecat Bian nanti malah jadinya hancur, sia - sia usaha aku berbulan - bulan kemarin." Harusnya disini Zidan hanya meminta maaf pada Siska agar Siska bisa memaafkannya. Tapi kenapa Zidan malah tetap mempertahankan Bian disisinya?. Siska jadi kecewa.


"Terserah kamu! terserah!. Kalau gitu aku juga mau minta pengertiannya kamu. Tolong kamu jangan marah juga kalau seandainya aku ketemu sama Desta atau siapapun itu temenku cowok." Decak. Siska, yang sudah pasti Zidan gak akan setuju.


"Ya gak bisa gitu dong Sis, aku ketemu Bian kan buat kerja sementara kamu sama desta kan enggak." Kan, bener.


"Sama aja, kamu ketemu bian bilangnya kerja tapi aslinya makan siang bareng, tarik sana tarik sini. Nempel sana nempel sini!. Jadi lebih baik aku, aku jujur sama kamu. Aku mau makan, aku mau pergi sama Desta, aku gak bohong!."


"Sis, kamu jangan gini dong. Itu namanya kamu seenaknya sendiri." Zidan mulai emosi.


"Ya sama kamu juga itu namanya kamu seenaknya sendiri. Kamu larang - larang aku ketemu cowok lain, tapi kamu sendiri main api dibelakangku."


"Astaga Siska! berapa kali aku harus bilang? aku ketemu dia karna kita kerja. Kamu tahu sendiri aku disini belum nemu orang kepercayaan. Jadi untuk sekarang Bian itu yang bisa aku percaya. Meskipun dia kayak gitu, tapi otaknya Bian itu topcer. Gara - gara dia beberapa urusan proyek kita tanpa hambatan. Bahkan dia juga bisa naikin nilai perusahaan. Laba yang kita dapat jadi 2x lipat bahkan."


"Kok kamu malah jadi muji dia?." Jelas Siska gak terima dan semakin kesal dibuatnya. Ini Zidan apa - apaan coba malah muji - muji.


"Ya biar kamu tahu alasanku gak bisa ngelepas bian itu apa. Apa lagi ini proyek lagi berjalan udah hampir finising kalau tiba - tiba dia mengundurkan diri, aku malah gak bisa pulang - pulang dari sini, dan kita malah bakalan semakin lama pisannya."


"Oh jadi Bian ini begitu berharga buat kamu, gitu maksud kamu?."


"Ya ampun Sis, kamu jangan muter balik kata - kata dong. Yang berharga itu jelas kamu bukan bian."


"Tapi buktinya kamu susah banget ngelepasin dia. Dan lebih milih dia dari pada aku?"


"Sis, kita kan harus realistis, proyekku ini nilainya bukan M lagi, tapi udah triliyunan, jadi jangan sampai nanti rusak dan malah jadi rugi sendiri. Jadi please Sis, 1 bulan ini tolong kamu ngerti. Nanti setelah proyek dari jogja selesai, aku udah gak akan kerjasama lagi sama Bian. Aku janji, jadi biarin yang sekarang tetep jalan. Cuma butuh 1 bulan aja. Tolong tahan. Kamu ngertikan maksudku?."


"Iya aku ngerti, ngerti banget malahan. Jadi sekarang ayo kita cepet pulang. Aku gak mau ketinggalan pesawat. Aku mau pulang!."


"Siska!!."

__ADS_1


Tapi Siska tak menjawab lagi. Keputusannya sudah bulat. Pokoknya hari ini juga dia akan kembali ke Jakarta. Terserah suaminya ini mau gimana. Mau marah mau gak terima pokoknya kalau sekarang Siska gak mau ngalah. Titik!.


__ADS_2