Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
45. All For You


__ADS_3

Berkat insiden 500 juta tadi, mood Zidan langsung hancur total. Disepanjang perjalanan pulang Zidan cuma bisa menunjukkan wajah pasrah dan tak relanya. Sungguh tega sekali Siska merampas uang hasil kerja kerasnya selama ini dengan gampangnya.


Bayangkan saja, 500juta itu bukan nominal yang sedikit. 500juta itu bunyinya setengah M!. Se-te-ngah M!. Dan bilangnya tadi itu adalah uang belanja selama sebulan? ckckck. Istri konglomerat aja gak mungkin memberikan uang belanja 1 bulan segitu banyaknya.


Apalagi yang membuat Zidan semakin nelangsa. Siska tanpa rasa bersalahnya malah meminta pendapat Zidan tentang beberapa barang gak penting yang mau dibelinya lewat onlineshop di ponselnya. Gak tahu apa ya, kalau uang itu dikumpulkan oleh Zidan susah payah selama bertahun - tahun dan sekarang harus hilang dengan cara tidak terhormat.


"Eh, menurut lo tas ini bagus gak?."


"Kalau yang ini gimana? lucu deh kayaknya. Iya 'kan?."


"Eh, sepatu ini bagusnya yang warna apa? yang putih atau yang merah?."


"Uhm, lucu banget bajunya, coba liat deh Dan, gue kalau pakai ini pasti cantik, deh."


"Ih, kacamatanya bagus banget, pengen."


"Uhm, kok bagus semua sih? gue jadi bingung milihnya."


"Eh, apa lebih baik gue beli semuanya aja ya? uangnya 'kan lebih dari cukup."


Siska terus meracau. Sampai kupingnya Zidan jengah dan panas yang mendengar.


"Sis, please dong. Kalau lo mau beli cincin, beli cincin aja yang bagus, jangan yang lainnya." Sungguh nada Zidan beneran gak rela.


"Lah emang kenapa? 'kan terserah gue."


"Ya tapi 'kan sayang uangnya kalau cuma dibeliin barang gak berharga."


"Yang bilang ini barang gak berharga siapa? ini semua barang berharga loh buat gue."


"Ya, tapi semua barang itu gak penting, Sis. Gak ada manfaatnya. Jadi please Sis, uang itu jangan dibuat foya - foya. Itu gue beneran susah ngumpulinnya." Zidan bahkan memohon meminta pengertiannya Siska.


"Kata siapa gak ada manfaatnya. Ini semua bermanfaat loh Dan, ini bisa buat gue cantik sekaligus bisa buat pamer ke orang - orang." Sumpah alasannya Siska ini gak realistis sama sekali buat Zidan. "Udah deh, jangan nelangsa gitu mukanya. Lagian kapan lagi lo bisa nyenengin gue kalau gak sekarang."


"Ya, kalau masalah kapan bisa nyenengin lo, ya jelas masih banyak waktu dong Sis, bentar lagi 'kan lo jadi istri gue. Gue bisa nyenengin lo kapan aja. Tapi ya gitu jangan terlalu nafsu gini, pelan - pelan aja. Beli sewajarnya."


"Ya ampun Zidan, ini udah wajar lo, gue cuma beli beberapa barang aja. Ini uangnya juga masih ada. Masih sisa banyak. Nih, masih ada, masih ada 50 juta, masih banyak 'kan?." Siska masih bertahan dengan argumennya. Yaang jelasnya Zidan cuma bisa mendecak sambil geleng - geleng.


"Huft! iya deh terserah lo, asal lo seneng deh. Habisin deh uangnya. Dari pada lo malah ngambek terus berubah pikiran gak mau nikah sama gue lagi. Gue jadi tambah nelangsa. Anggap aja ini bentuk dari usaha gue demi dapetin hati lo." Zidan beneran pasrah.

__ADS_1


"Nah gitu dong yang ngerti. Jangan pelit - pelit jadi orang. Apa lagi ke istri sendiri. Inget, buat hatinya istri bahagia itu, katanya rejekinya tambah banyak."


"Iya, iya. Gimana pun senengnya lo deh, pokoknya." Zidan udah gak tahu lagi mau ngomong apa.


"Lagian juga, uang yang gue ambil juga belum ada apa - apanya. Di rekening lo juga masih banyak 'kan? Jadi udah deh stop ngerengek - ngerengek gak jelas karna gue juga gak peduli. Weekkk!." Siska malah ngejek.


Sepersekian menit, mobil Zidan akhirnya sampai didepan kontrakan Siska. Zidan kemudian mematikan mesin mobilnya dan Siska melepas seatbelnya bersiap untuk keluar.


"Lo gak mau mampir dulu?." Siska tanya, karna Zidan yang masih tetap duduk manis di kursi kemudi tanpa melepas seatbelnya.


"Enggak, gue langsung pulang aja. Ini udah malam."


"Oh."


"Sis," Zidan menggenggam salah satu jemari Siska sebelum bicara serius sekaligus menghentikan Siska yang mau membuka pintu.


"Hm."


"Lo tahu gak, sebenernya uang yang ada direkening itu rencananya mau gue buatin rumah sama buat beli mobil yang lebih gede. Gue pengen, setelah nikah, nanti kita bisa tinggal dirumah yang punya halaman luas, punya taman, punya kolam renang, punya tempat santai, tempat main. Intinya yang lebih nyaman buat keluarga. Begitu juga sama mobil. Nantinya kita juga pasti butuh mobil yang lebih besar, yang juga lebih nyaman waktu dinaikin. Yang bisa nampung banyak orang, meskipun bukan mobil mewah. Gue pengen buat lo hidup bahagia ditempat yang bagus dan layak. Jadi please, buat kedepannya, tolong jangan kayak gini. Lo boleh belanja, beli tas, beli sepatu atau apapun itu, tapi jangan pakai nafsu, ya ..." Singkatnya, Zidan ingin Siska mengerti, supaya lebih bisa memenej uang, karna masih ada hal lain yang lebih penting dibanding dengan belanja sesuatu seperti yang tadi dia sebutkan.


"Bikin rumah? bukannya udah ada apartemen? terus ini juga udah ada mobil, mobil ini juga udah lebih dari cukup untuk kita berdua, kenapa harus beli yang besar?"


Siska manggut - manggut. Dia cukup mengerti apa yang Zidan katakan. Intinya, Zidan ingin memberikan yang terbaik buat dirinya sekaligus memberi teguran halus. Karna itu, Siska pun jadi merasa bersalah sekaligus terharu dan juga tersipu. Siapa yang ngira kalau Zidan ternyata punya pikiran yang sudah jauh kedepan dan itu demi dirinya.


"Lo ngerti kan apa yang gue omongin tadi?."


"Iya, gue ngerti. Jadi, sorry. Sory karna gue gak tahu kalau ternyata lo udah punya pandangan yang lebih jauh soal kehidupan kita. Seandainya gue tahu, mungkin gue gak akan segampang tadi belanjain uang lo. Tapi ya gimana lagi udah terlanjur check out juga. Terus lo juga, lo terus aja bikin gue kesel. Ya gue 'kan jadinya pengen bales." Kata Siska dengan ekspresi cemberutnya tapi kenapa kok dimata Zidan jadinya malah cute.


"Hehehe, iya gak apa - apa. Emang salah gue yang suka bikin lo kesel. Yang udah terjadi ya udah terjadi. Lo bisa nikmati nafkah pertama dari gue. Nanti gue juga masih bisa kerja lagi, ngumpulin lagi. Yang penting sekarang lo bahagia, lo bisa seneng itu udah cukup. Oke."


"Iya, maaf ya ..."


"Iya, sayang ..."


"Maaf ..." Siska bahkan memasang wajah memelas. Bikin Zidan tambah gemes.


"Iya, iya,"


"Jangan marah ya ..."

__ADS_1


"Emang gue bisa marah ke lo?."


"Ya kalau mau marah, marah aja. Gue bakalan diem dengerin."


"Dari pada marahin lo, mending gue cium atau gue peluk aja." Dan Zidan makin gemes, sampai mencubit pipi Siska.


Tapi Zidan tiba - tiba ingat soal perjanjian pernikahannya. "Ah, tapi sayangnya udah gak bisa. Kita punya perjanjian pernikahan." Zidan jadi kecewa.


"Kalau gitu batalin aja."


Zidan mengernyit. Kok tiba - tiba Siska minta batalin?.


"Bentar, dibatalin? lo serius?."


"Iya, kita batalin aja, gimana?."


"Kenapa? kenapq kok dibatalin? lo mau nawarin kesepatan yang lainnya atau gimana?." Zidan masih gak percaya. Mau percaya gimana, Siska ini 'kan orangnya plin plan. Sedikit iya sedikit enggak.


"Kesepakatan? gak ada, gue udah gak mau bikin kesepatan apa - apa lagi sama lo."


"Terus?."


"Ish! kok lo gak ngerti - ngerti sih! bukannya langsung setuju aja. Padahal udah enak 'kan kalau perjanjian pernikahannya dibatalin terus gue gak bikin kesepakatan lagi. Kenapa lo masih tanya terus? kalau lo gak mau, ya udah mending kita gak jadi nikah aja!." Kan? Siska jadi kesel lagi.


"Eh, jangan dong, jangan. Iya, iya, maaf soalnya gue terlalu seneng ini. Jadi harus dipastikan berulang." Yang ini bener, Zidan sangking senengnya jadi jatuhnya malah seperti gak percaya.


"Ish!."


"Hahaha, udah dong jangan marah. Stres lagi entar gue kalau lo marah lagi. Oke, kita sepakat ya, udah gak ada yang namanya perjanjian pernikahan. Kita nikah kayak orang normal pada umumnya. Jadi kalau gitu nanti setelah nikah, kita bisa dong, ciuman, pelukan terus begituan..." Dengan nada menggoda lan genit Zidan ngomong. Membuat Siska jadi terpengarah sekaligus tersipu malu sampai pipinya merah. Tapi berusaha menutupi.


"Ish! apaan sih lo, pikiran lo tuh mesum mulu!."


"Hahaha, Tapi lo suka 'kan?."


"Ish! enggak, ini karna rasa bersalah gue aja udah habisin uang lo buat belanja, kalau belum habis mah gue gak mau batalin perjanjiannya!." Siska beralasan, padahal mah aslinya emang udah mau batalan sejak kemarin seperti sarannya Feby sama Raya.


"Oh, karna itu, berarti kalau gitu. Apa mending gue pindahin aja ya semua uang gue ke rekening lo. Sekalian, kan lo istri gue, jadi biar deh lo yang ngatur masalah keuangan. Siapa tahu entar kalau ada salah - salahnya lo gak perlu gue godain, tapi malah jadi nemplok sendiri."


"Ish! lo jangan gila!."

__ADS_1


"Hahaha, gue gilanya karna lo, Siska sayang..."


__ADS_2