Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
61. Pembalasan Caca


__ADS_3

Caca masih sangat kesal sama kelakuan kakaknya itu. Wajahnya terus ditekuk masam dan melengos kearah kaca samping mobil. Sepertinya akibat perbuatan kakaknya tadi, akan jadi ingatan terburuk dalam hidupnya. Bayangkan aja selama kurang lebih 2 jam dia harus nunggu kegiatan suami istri itu selesai sambil duduk dongong didepan TV.


Suara - suara desa*an dari kakak iparnya juga lumayan kenceng gak difilter. Lupa kalau ada dirinya yang menunggunya seperti orang bodoh. Sampai akhirnya Caca sendiri yang harus ngalah pakai cara mengencangkan volume TV yang sebetulnya ditonton pun enggak. Ish! kalau ingat ini Caca rasanya pengen teriak terus meluncurkan umpatan didepan wajah kedua kakaknya itu.


Dan terus sekarang, dengan tak tahu malunya dan tak merasa bersalah juga. Eh, si Kakak laknatnya itu malah ngintilin juga. Padahal, harusnya dia ngerti, kalau adiknya ini pengen me time bersama kakak iparnya sambil curhat tentang masalahnya, tentang cowok atau pun sekedar ghibahi temen - temen kuliahnya. Huft! hancur udah rencananya Caca gara - gara si kakak laknat.


"Ca, kondisiin dong muka lo itu. Kenapa asem gitu?." Zidan meskipun lagi nyetir tahu kalau adiknya itu masih ngambek padanya.


Tapi Caca gak peduli. Pandangannya malah semakin dibuang jauh kearah samping mobil.


"Ca," Karna tak di gubris Zidan memanggil sang adik lagi.


"Iishh! bisa diem gak sih! kalau gue gak jawab itu berarti gue lagi males ngomong sama lo!." kata Caca ngegas.


Denger suara Caca yang nyelengking gitu. Zidan pun melirik pada Siska. Dengan sedikit kode, Zidan bermaksud meminta bantuan pada Siska supaya istrinya itu membujuk sang adik biar gak ngambek lagi.


"Ca, ini kita kemana dulu?." tanya Siska sambil menoleh ke jok belakang dimana Caca duduk.


"Mbak Siska sama aja! nurut - nurut aja sama Mas Zidan." jawaban Caca yang gak nyambung dari pertanyaannya.


Siska jadi serba salah juga dan sekarang ikut melayangkan pandangannya pada sang suami sambil menggelengkan kepalanya. Dia menyerah gak bisa membujuk Caca.


"Ya namanya seorang istri Ca, harus nurut sama suami dong." Zidan yang nyaut.


"Ya liat suaminya, kalau suaminya modelan Mas Zidan mah gak wajib." Caca mendengus kesal.


"Eh, emang Mas kenapa?."


"Mas Zidan terlalu posesif! seenaknya sendiri. Lo kasih contoh yang buruk sama gue . Gara - gara Mas, rasanya sekarang gue jadi trauma, takut nanti suami gue jadi kayak lo, udah posesif, gak tahu malu suka mesum lagi!." Caca ngomong sambil melayangkan pincingan matanya pada sang kakak. Tak ketinggalan juga ekspresi wajah masamnya.


"Ca, berarti itu tandanya Mas ini sayang dan cinta sama Mbakmu ini, Ca. Mangkannya Mas posesif gak mau jauh dari dia. Lo harus bisa bedain dong. Jadi gak usah trauma, malah harusnya bersyukur kalau lo punya suami kayak Mas." Dan tanpa tahu malu Zidan malah membanggakan diri sendiri.


"Ih! udah posesif, gak tahu malu, suka mesum sekarang nambah lagi kepedean!."


Zidan dan Siska jadi melayangkan tawanya mendenger ejekan dari Caca. Ya, meskipun Caca sedang ngambek tapi nyatanya dia masih terlihat menggemaskan dimata keduanya. Apalagi memang salah mereka juga sih, udah bikin Caca badmood pagi - pagi.


"Ya udah deh, Mas Zidan minta maaf ke lo. Sudah bikin lo trauma sampai gak mau punya suami kayak Mas. Sekarang lo mau Mas gimana gue terutin deh, Lo mau sweet seventeen 'kan? lo mau apa? pokoknya khusus hari ini gue bakalan nurutin semua kemauan lo, gue mau nyenengin lo, adik gue satu - satunya yang paling gue sayang."


"M, sayang, sayang. Nyatanya juga lebih sayang mbak Siska dari pada gue!."


"Lo sama istri gue jelas gak bisa dibandingin gitu dong Ca? Itu namanya gak adil. Rasa sayang itu 'kan beda - beda. Tapi intinya kalian berdua sama - sama orang yang berharga buat gue."

__ADS_1


"Cih!."


"Udah deh, sekarang lo bilang, lo mau apa dari gue? gue turutin apa pun yang lo minta."


"M, sayangnya gue gak percaya sama omongan lo. Lo tukang ingkar. Palingan juga setelah tahu permintaan gue, lo juga langsung nolak." jawab Caca sambil mencebikkan mulutnya meremehkan tawaran sang kakak.


"Astaga Ca, Mas serius ini. Udah deh bilang apa yang lo pengen, pasti gue turutin. Sekalipun lo minta yang mahal gue turutin. Lo lagi ultah 'kan?."


"M, sekarang ngerayu - ngerayu, tadi aja bilangnya ulang tahun gue gak penting." Caca melayangkan sindirannya.


"Suwer deh Ca, gue turutin. Lo bilang deh, lo mau apa."


"Janji beneran nurutin? gak pakai tolak - tolak?."


"Janji, ayo bilang lo mau apa?."


"Gue mau kartu kredit, gue mau belanja katanya lo mau bayarin semua yang mau gue beli." Pintah Caca.


"Oke." Zidan dengan senang hati langsung mengeluarkan dompetnya dari saku celananya. "Yang, ambilin kartu kredit di dompetku." Dan meminta Siska mengeluarkan kartu kreditnya agar diberikan pada Caca.


"Oke." Dengan senang hati dong pastinya Caca menerima krtu kredit itu. "Terus, ada lagi."


"Pinggirin dulu mobilnya didepan sana." Caca menunjuk tepi jalan yang sepi dan tedung yang kebetulan ada didepan jalan.


"Oke." Zidan menuruti permintaan sang adik tanpa curiga.


"Terus lo turun Mas, duduk dibelakang, gue didepan terus biarin Mbak Siska yang nyetir." perintah Caca lagi.


Dan tanpa curiga lagi Zidan pun turun dari dalam mobil. Tapi saat Siska mau turun Caca langsung menghentikan.


"Mbak, jangan turun." Dengan gerakan secepat kilat, Caca langsung berpindah ke kursi kemudi. Meskipun masih belum punya sim dan masih berusia 16 tahun tapi Caca sudah bisa nyetir sebetulnya.


Ceklek!.


Secepat kilat juga Caca mengunci pintu mobil agar Zidan tak bisa masuk. Tahulah ya, niatnya apa. Niatnya ya biar sang Mas itu gak ngintilin. Jadi ditinggal aja dipinggir jalan. Urusan Zidan nanti bakalan ngamuk. Itu apa kata nanti.


"Ca, Caca!!." Zidan menggedor pintu mobilnya. Dia baru sadar kalau sebetulnya lagi dikerjain Caca.


"Aiiishhh! Ca, lo? buka pintunya, Ca!."


"Ups! sorry..." Dengan gaya manjalita Caca bersuara. "Bye ... Wwweeekkkk." Dan sekarang malah mengejek sang kakak sambil menginjak gas mobilnya meninggalkan Zidan dipinggir jalan gitu aja.

__ADS_1


"Ish, rasain! siapa suruh main - main sama aku," gerutu Caca setelah mobilnya benar - benar pergi.


"Astaga, Caca? nanti kalau Masmu marah gimana?." Siska berseloroh. Bisa - bisanya Caca punya ide gila ninggalin Zidan gitu aja.


"Itu urusan nanti. Meskipun marah gak akan lama - lama. Jadi Mbak Siska gak usah kepikiran, dia juga gak mungkin hilang meskipun ditinggal dipinggir jalan." jawab Caca enteng.


Ya, Siska pun jadinya cuma geleng - geleng kepala. Tapi aslinya juga merasa lucu dengan tingkah 2 saudara ini. Ada aja kelakuannya.


Krrriiinggg!!.


"Eh, dia telpon." Siska menunjukkan ponselnya yang berdering dengan tulisan husband dilayarnya.


"Ih, pasti mau nyuruh buat puter balik itu. Mana biar aku yang ngomong Mbak."


Caca menggeser layar ponselnya hingga telpon itu tersambung.


"Hallo. Yang." Suara Zidan terdengar dari sebrang sana.


"Ups, sorry ya Masku sayang, gue harus turunin lo dipinggir jalan. Habisnya sih, lo jadi orang kepo banget sama suka ikut - ikutan. Jadinya ya gue gak punya pilihan selain nurunin lo dipinggir jalan."


"Ca, balik! awas lo kalau gak balik, gue aduin lo ke mama sama papa kalau lo hari ini keluar dari asrama." Ancam Zidan dengan nada yang sepertinya lagi kesal setengah mati.


"Bodo aduin aja, orang gue udah ijin juga, weeekk!! Dan ingat tadi bilangnya lo mau nurutin seua keinginn gue. Jadi lo harus terima jangan marah. Tadi lo udah janji pengen nyenengin gue hari ini. Dan gue bisa seneng kalau lo gak ikut. Soalnya gue maunya cuma sama Mbak Siska. Oke."


"Aiishh!! Pokoknya puter balik! atau gue bakalan bikin perhitungan sama lo!."


"Mbak Sis, liat nih suaminya, ngancem - ngancem aku. Padahalkan aku cuma pengen keluar berdua sama mbak siska. Terus tadi aku juga rela lo nungguin Mbak sama Mas bikin ponakan masak sekarang aku harus ngalah lagi?." Si Caca malah ngedrama ngerengek manja sama Siska.


Ya untungnya si Siska peka. Jadi dia memilih ngikuti dramanya Caca. Sekalian dia pengen balas dendam karna kemarin Zidan sempet buat dirinya kesal sekaligus kepikiran juga.


"Zidan kamu jangan ngancem - ngancem Caca dong. Kasian Caca, dia cuma pengen perginya sama aku aja."


"Kok kamu malah belahin dia sih yang?."


"Ya habisnya gimana, emang yang duluan salah 'kan kamu. Jadi harusnya kamu ngerti. Udah ah, kamu pulang aja deh. Nanti kita kalau selesai juga pasti bakalan pulang, oke?."


"Kamu, awas kamu nanti, aku pasti hukum kamu nanti, jangan harap kamu bisa lolos dari aku!."


"Iya gak apa - apa. Hukumannya juga pasti enak. Jadi aku terima dengan senang hati." Dan omongan Siska jadi melipir kearah mesum lagi, sengaja biar suaminya gak marah lagi.


"Ish!." Caca langsung mendesis lagi. Kayaknya Caca beneran bisa dewasa sebelum waktunya kalau kayak gini caranya. Sampai omongan yang begini pun langsung dapat ditangkap dengan muda sama otaknya.

__ADS_1


__ADS_2