
Cengkling!!.
1 chat dari Feby masuk dalam grup WA 3 sahabat.
"Guys, entar malem kerumah ya, makan malam bareng dirumah, lama nih gak ngumpul."
Raya. "Oke siap. Lo butuh sesuatu gak? biar sekalian entar gue bawain."
Feby . "Bawain duit yang banyak, duit gue tinggal dikit nih, kwkwkkw."
Raya. "Kemana suami lo? udah bangkrut? sampai minta duit ke gue?."
Feby. "Suami gue masih kaya raya ya. Cuma ngidam nih pengen lo jajani."
Raya. "Sama, gue juga ngidam nih pengen lo jajanin juga."
Siska menyungging senyum saat membaca chat dari dua sahabatnya itu. Jarinya sebetulnya sudah mulai melambai di atas layar pinselnya. Pengen ikut nimbrung meledek dan menggoda juga. Tapi karna suara handle pintu kamar mandi baru saja dibuka. Jadi Siska lebih memilih meletakkan ponselnya dan berjalan ke walk in closet.
"Ini." Siska memilihkan kemeja yang akan dipakai Zidan. Ya, sudah beberapa minggu ini dirinya berperan layaknya istri yang baik. Menyiapkan segala sesuatu untuk suaminya di pagi hari saat mau kerja, dan menyambut suaminya di sore hari saat suaminya datang.
"Aku hari ini mau pakai jas, soalnya ada rapat penting hari ini."
"Rapat penting apa? tumben pakai jas? biasanya meskipun rapat juga tetep pakai kemeja yang biasanya."
"Ada rapat tender besar bareng perusahaan besar. Jadi aku pengen tampil lebih rapi sama lebih berwibawa."
"Oh." Siska pun langsung mengganti kemeja biasa yang dipilihkan tadi dengan kemeja putih dan kemudian ikut membantu mengancingkan kemejanya itu ditubuh Zidan.
"Gugup banget nih aku yang sebenernya."
"Kenapa? takut kalah?." Siska, melirik sejenak sang suami, dari ujung matanya memang kelihatannya suaminya ini tampak tak tenang.
"Iya, musuhnya perusahaan besar. Apa lagi ini tender gede. Dan kebetulan juga ada dua proyek yang diperebutin. Yang pertama pembangunan perumahan mewah 3 titik seluas sekitar 10 hektaran. Terus yang kedua pembangunan jalan lintas selatan di sepanjang pesisir yang total 350 kilo."
"Wah? gede banget? kalau bisa dapat proyeknya itu apa gak auto kaya raya ya?." Siska bahkan membelalakkan matanya saat mendengar.
"Iya, mangkannya itu. Kalau perusahaanku bisa dapat salah satunya. Otomatis perusahaanku valuenya bakal langsung naik, dan harga sahamnya juga ikut naik. Terus yang pasti akan ada banyak investor yang mau gabung ke perusahaanku. Dan kebelakangnya akan lebih banyak lagi proyek - proyek besar yang bisa di pegang. Kalau udah gitu secara otomatis perusahaanku jadi besar, dan kita jadi banyak uang."
"Wah, keren dong kalau gitu." Dengar kata uang saja wajah Siska sudah berbinar - binar.
"Seneng 'kan kalau seandainya aku bisa menang tander?." Zidan yang bisa membaca mimik wajah Siska tanya.
"Iyalah pastinya. Kalau suamiku sukses punya banyak uang ya aku pastinya seneng. Nantinya 'kan hidupku bisa terangkat. Aku jadi bisa shopping, perawatan, jalan - jalan, menikmati hidup sepuasnya tanpa mikir kehabisan uang kayak para nyonya - nyonya sosialita yang ada di tik tok. Hahaha." Membayangkannya saja sudah bikin Siska senyum - senyum sendiri sangking senengnya.
__ADS_1
"Iya, terserah kamu, mau kamu apa asal kamu bahagia." ucap Zidan, yang mana bibirnya langsung bergerak mengecup ujung kening istrinya. Dia gemes sendiri dengan tingkah Siska.
"Ini kamu mau pakai yang mana? yang navy apa yang hitam?" Siska memberi 2 pilihan dasi pada suaminya. Tadi kancing baju Zidan sudah tertaut sempurna.
"Hitam. Tapi Yang, doain ya. Semoga aku bisa dapat salah satu proyeknya meskipun saingannya perusahaan besar."
Dan Siska langsung memasang dasi hitamnya itu dileher Zidan.
"Kok cuma minta salah satu? padahal aku mau doainnya kamu bisa menangin semua tendernya."
Zidan tersenyum lebar dan menoel hidung Siska dengan ekspresi gemas. "Baik banget sih istriku. aku minta doanya satu tapi kamu doainnya dua."
"Cih! baru sadar kalau punya istri baik?." Siska memberikan lirikan tajamnya sejenak. "Oh, iya sih aku lupa. Kemarin - kemarin 'kan istrinya ini langsung ditinggal kerja berbulan - bulan. Terus kerjanya bareng sama cewek cantik, sampai - sampai ada adegan tarik - tarikan sama tempel - tempelan segala. Mangkannya lupa." Entah kenapa Siska tiba - tiba jadi ingat kejadian waktu itu, dan seketika moodnya jadi jelek. ,
"Ck! kenapa jadi bahas itu lagi sih yang?." Zidan mendecak protes.
"Ya, biar kamu inget, biar kamu gak macem - macem lagi, terus gak seenaknya juga deket sama cewek lain." Ini rasa - rasanya dari ucapan Siska, Zidan punya firasat kalau hal ini akan selalu diungkit oleh istrinya disetiap ada kesempatan.
Cup. Cup. Cup.
Zidan melayangkan satu kecupan lembut diujung kening Siska dan kemudian turun ke pipi dan bibir. Gemes soalnya sekaligus mengalihkan perhatian Siska biar tak lagi membahas masalah itu lagi.
"Ih, apaan sih cium - cium!."
"Morning kiss sayang mulai tadi 'kan belum."
Keduanya kemudian beralih ke pantry untuk sarapan. Duduk saling berdampingan.
"Oh iya, nanti Feby minta kita makan malam dirumahnya. Tadi dia ngabarin." Siska bilang.
"Makan malam? tumben?."
"Katanya karna kita udah lama gak kumpul."
"Oh, oke, nanti aku usahain pulang cepet biar busa ikut juga."
"He'em. Sekalian nanti 'kan juga ada Raya sama Krisna. Entar sekalian kamu bilang kalau mau titip si Cacanya."
"Aish! Caca. Ck!." Ingat si Caca, Zidan mendadak jadi badmood lagi.
"Zidan, kamu mau rapat besar loh, jadi jangan bedmood. Entar malah jadi kacau. Dan lagi gitu - gitu juga adik kamu satu - satunya, meskipun suka jail gak ketulungan."
"Aish! bisa - bisanya dia dapat ide ngerekam segala? Mana permintaannya aneh - aneh semua, aish!." Ya tapi Zidan tetep aja bedmood.
__ADS_1
"Udah ah, jangan bedmood."
"Ck!."
"Tapi Dan, aku kok rasanya bisa ngerti ya sama dia. Kayaknya dia itu lagi jenuh sama hidupnya. Semua orang pasti berekspektasi tinggi sama dia karna dia yang pinter banget, terutama mama sama papa. Jadi wajarlah kalau mungkin dia sedikit tertekan terus sekarang mau berontak." Siska mencoba menenangkan suaminya. Semoga dengan caranya ini suaminya itu gak bedmood lagi.
"Ya tapi gak pakai acara ngancam kita segala, itu 'kan jadinya gak fair."
"Ya karna itu satu - satunya cara. Soalnya kalau gak gini kita pasti gak ngusahain kemauannya dia. Jadi, mending kita bersyukur aja deh, Untung dia bisa terbuka sama kita terus minta tolongnya sama kita, dan bukannya malah berontak yang aneh - aneh karna udah stres atau depresi. Iya 'kan?."
"Ya anggap aja gitu."
"Bukan anggap aja begitu, tapi emang gitu. Caca itu masih remaja, emosinya belum stabil. Jadi kita harus bisa ngertiin dia. Lagian untung juga minta pulang kerumah bukannya minta pindah kos."
Zidan mencebik sambil manggut - manggut. Apa yang diomongkan Siska sebetulnya banyak benarnya cuma hatinya masih belum bisa menerima. Dan tetap ingin menyalahkan Caca.
"Tapi kamu nanti jangan lupa, kamu harus punya rencana cadangan, pokoknya gimana pun, kamu harus mastiin videonya itu beneran dihapus. Jangan sampai Caca punya duplikatnya terus buat ngancam kita lagi. Apa lagi sampai itu kesebar bikin malu aku aja. Aku cuma pakai BH disitu, mana lagi banyak kissmarknya." Dengan nada sedikit merajuk Siska meminta.
"Iya sayang. Kamu kira aku ini gak malu apa. Aku juga malu kali."
"Ish! ngomongnya malu. Tapi kamunya selalu gitu, gak peduli tempat, gak peduli waktu sama gak peduli sekitar lagi ada siapa main hajar aja. Kamu kalau udah maunya ya maunya. Emang sesusah itu ya ditahan? heran." Lagi Siska ngomongnya dengan nada merajuk dan wajah sedikit dibuat cemberut.
Melihat ekspresi Siska, Zidan jadi tergelak tawa dan mencubit pipi Siska ringan. "Hehehe, iya emang susah banget. Kamu sih mangkannya bikin aku gemes terus, sama pengennya ngusel - ngusel terus."
Bahkan cubitan ringan di pipi sekarang beralih jadi kecupan ringan di pipi lagi.
"Udah ah, jangan cium - cium terus, ini nanti kita jadi kesiangan. Aku jadi telat, gara - gara gak kelar - kelar makannya."
"Hehehe. Yang, gimana kalau sekarang kita gak udah kerja aja? aku udah gak pengen kerja, aku pengennya sama kamu." Zidan mulai genit lagi, alisnya sampai digerak - gerakkan naik turun.
"Eh jangan aneh - aneh! lupa kamu kalau hari ini ada rapat besar?."
"Oh iya." Zidan menepuk jidatnya. Benar - benar lupa akan rapat tendernya.
"Ckckck!."
"Ya kamu sih mancing aku bahas begituan, aku 'kan jadi lupa."
"Ih, kok jadi aku yang disalahin."
***
sedikit mau curhat
__ADS_1
entah kenapa beberapa waktu terakhir buat sekedar review lolos update aja butuh beberapa hari. Padahal biasanya cuma butuh 1 jam aja. jadi karna itu aku jadi sering telat update. hiks. padahal kan udah aku usahain biar bisa update tiap hari.
Semoga pembaca gak kecewe gara - gara update yang kelamaan ini.