
"Oke, karna kalian udah terlanjur tahu. Jadi terserah deh kalian mau ngeledekin kita gimana. Tapi yang jelas bro, please gue minta tolong urusan Caca tadi." Zidan kembali membuka suaranya.
"Oh, jadi permintaan tolongnya lo ini karna Caca yang udah mideoin lo ya?." Krisna mencoba menebak - nebak.
"Iya, gue ngaku. Emang iya." Zidan pun memilih ngaku. Toh untuk apa menyembunyikan hal ini lagi, semua sahabatnya udah pada tahu.
"Cih! tadi bilangnya pakai acara Caca lagi depresi segala lo bro, bro. Aslinya yang lagi depresi lo sendiri sama bini lo nih kayaknya." Krisna menimpal lagi sambil geleng - geleng dan ketawa gak jelas.
"Kayaknya lagi ada yang kena ancam nih bau - baunya." Firman pun juga langsung nyambung.
"Ya, gitulah." Zidan terlihat pasrah.
"Udah deh yang, terima ajalah si Caca. Kasian nih pasangan maniak berdua, udah frustasi keliatannya takut videonya disebarin ke grup keluarga." Raya nyeletuk sambil terkikik geli.
"Hahahaha, jadi ancamannya si Caca gitu? mau nyebarin ke grup keluarga. Asssyeemmm, kalau sampai iya muka lo di taruh dimana, Sis?." Lagi - lagi Krisna.
"Ish!." Siska cuma bisa melengos sambil melempar kentang goreng ke muka Krisna yang bikin gedek. pokoknya diantara semua sahabat - sahabatnya, curut satu inilah yang paling doyan meledeknya.
"Oke deh, karna gue kasian sama lo berdua jadi gue terima deh si Caca. Lumayan juga sih kalau ada si Caca, bisa sih entar kalau mau gue korek - korek info seputar kalian." 'Kan beneran, pokoknya si Krisnalah yang paling ngeselin.
"Ish! lo jangan aneh - aneh deh Nong! jangan lupa, rahasia lo juga ada ditangan gue. Istri lo ini juga suka cerita ke gue. Ati - ati!." ancam Siska yang diakhiri dengan melengosan tajam. Sudah kesel sekali sama Krisna.
"Hahaha, alah rahasia apa? palingan juga gitu, gitu aja." Ancaman Siska gak mempan sama Krisna.
"Oh, serius? oke deh, kalau gitu, bukan rahasia yang di istri lo. Tapi rahasia antara kita berdua gimana?." Dengan wajah menantang Siska menatap Krisna dengan tegas.
Melihat ekspresi Siska yang kayak gitu. Krisna berusaha menebak - nebak rahasia mana yang coba mau dibongkar Siska. Tapi kemudian, otaknya langsung berseliwer pada kejadian saat Siska secara tak sengaja memergoki Krisna di sebuah warnet deket kontrakannya. Ingat kalau dulunya di sering bilang lembur ke Raya padahal Krisnanya nongkrong disana buat mabar bareng teman kantornya. Ya kalau Siska membongkar yang itu otomatis ngamuklah istrinya.
"Emang ada rahasia apa antara kalian berdua?." Raya jadi curiga, begitu juga yang lain.
"Enggak, enggak, yang. Si Siska mah cuma akal - akalan biar kita berhenti ngeledekin dia. Sis, lo kalau ngomong yang bener. Jangan bikin istri gue sama yang lainnya salah paham dong." Krisna langsung menginterupsi, tapi wajahnya bergerak - gerak memberi kode pada Siska biar tutup mulut.
__ADS_1
"Cih!.
"Eh, Feb. Ini makannya udah siap belum sih? gue udah laper nih. Lo undang - undang kita makan tapi malah gak kasih - kasih makan, gimana sih?." Kalah telak, Krisna langsung mengalihkan pembicaraan.
"Eh, jawab dulu mau bantuin Caca gak di perusahaan lo?." Sementara Siska masih mengejar jawaban Krisna.
"Iya, iya gue bantuin. Asli ya lo, gak sabaran banget jadi orang!." Krisna mendengus kesal.
"Inget, jangan aneh - aneh!." Siska lagi - lagi memberi ancaman.
"Iya, iya. Udah Feb, mana nih makanannya. Laper nih gue." Krisna ngomong dengan nada merajuk. Bikin Sisk puas karna sudah bikin Krisna kalah telak. Hahaha.
"Astaga, iya. Iya. ayo pindah ke pantry kalau gitu." Feby mengawali berdiri dan berjalan ke pantry.
Semua orang kemudian berpindah ke pantry. Mereka semua mulai menikmati makanan masing - masing dengan lahab tapi tetep sambil ngobrol juga.
"Kamu bisa makan ini? gak mual lagi?." Firman, yang memberikan perhatian ekstra pada Feby tak luput dari mata Siska yang sedari tadi sudah diam - diam memperhatikan. Pasalnya perhatian Firman pada Feby ini seperti tak biasanya dan lebih posesif.
"Beneran ya? awas nanti malah ditengah - tengah mual lagi. Soalnya baunya nyengat gini." Firman jawab, sambil sedikit menyingkirkan kerang yang ada dihadapannya.
"Iya, yakin deh. aku gak apa - apa. Ini pumpung aku doyan nih. Biarin aja. Kamu jangan inget - inget aku mual - mual terus. Entar jadinya aku mual beneran gimana?." Feby melontarkan wajah cemberutnya.
"Iya, iya deh oke. Aku cuma khawatir."
"Emang kamu kenapa Feb? sakit? kok ada mual - mualnya segala?." Siska yang emang udah penasaran pun akhirnya tanya.
"Enggak kok gue sehat." jawab Feby sambil senyum - senyum. "Gue cuma lagi hamil." celetuknya lagi kemudian, yang sekarang wajahnya bahkan terlihat berbinar sangking bahagianya.
"Hamil?." Siska langsung speechless. Bukannya Siska tak bahagia mendengar kabar kehamilan Feby. Siska bener - bener bahagia dari lubuk hatinya yang terdalam. Tapi entah kenapa, dalam hatinya kembali merasa terbebani?. Jujur saja kalau untuk urusan hamil dan punya keturunan. Siska masih belum siap.
"Serius hamil?." Dan Raya langsung ikut nyeletuk.
__ADS_1
Sementara Krisna dan Zidan langsung mengarahkan pandangnya pada Feby.
"Iya, gue hamil, udah 3 minggu." jawab Feby lagi.
"Weeeehhhh... selamat ya bro. Berhasil dong bro programnya." Krisna langsung ikutan seneng.
"Bro, selamat ya bro. Punya anggota baru dong bentar lagi bro." Zidan juga begitu, dia juga merasa senang mendengar kabar ini.
"Ahhhhh... Febyyyy... congrass ya ... programnya beneran berhasil." Raya langsung memeluk sang sahabat yang kebetulan duduk disampingnya. Bahkan langsung mengusuk - ngusul perut Feby yang masih tipis itu.
"Iya, thank you, thank you atas ucapannya." Feby membalas.
"Pantesan lo tiba - tiba ngajak kita malam malam bareng. Ternyata pengen ngerayain ya kalau lo lagi hamil?." tebak Raya.
"Hahahaha. Iya." Jawab Feby jujur.
"Ih, tapi kok lo gitu. Kok gak cerita kalau lo lagi hamil. Kalau gini 'kan gue jadi merasa bersalah minggu kemarin kita habis joging lagi." Raya menimpali dirinya sendiri.
"Bukannya gak cerita. Tapi kita sendiri juga baru tahu tadi pagi kalau hamil. Beberapa hari emang mual - mual terus. Pas akhirnya tadi pagi cek dokter. Eh, gak taunya hamil." cerita Feby masih dengan wajah berseri - serinya.
"Seneng banget sih lo, tapi gue juga seneng sih. Punya ponakan baru nih bentar lagi." Raya kembali memeluk Feby.
"Feb, gue juga. Gue ucapin selamat ya buat lo. Fir, selamat. Programnya berhasil. Istri lo langsung binting. Gue ikut seneng." Siska yang sedari tadi diam menata hati akhirnya bersuara juga.
"Iya thank you. Tinggal lo berdua nih nyusulin kita." celetuk Firman pada Raya dan Siksa
"Lo, duluan deh Sis, gue masih belum siap." Raya langsung melempar jawabannya pada Siska. Meskipun sebetulnya dia sudah siap lahir batin. Tapi disaat bersama seperti ini dan ada suaminya, Raya harus berlagak belum siap.
"Cih!." Siska mendecak, ingin membalas tapi tahu situasinya Raya.
"Iya, tenang. Bentar lagi kabar hamilnya Siska pastinya juga bakalan nyusul. Tenang aja. Ya 'kan sayang?." Zidan mengambil ahli jawaban, bahkan tangannya langsung merangkul pundak Siska. Ah, tatapan Zidan seolah memancarkan harapan kalau dia sudah ingin punya anak juga. Entah kenapa rasanya Siska jadi merasa bersalah kalau seperti ini.
__ADS_1
Asal tahu saja. Seumpama Zidan tahu kalau selama ini Siska minum pil KB untuk menunda kehamilannya, bakalan semarah apa reaksinya.