
Siska, seperti biasanya di pagi hari bersiap untuk berangkat kerja. Seragam batik sudah dikenakan dengan rapi, tas juga sudah dijinjing. Tapi tiba - tiba dari arah gerbang terdengar deru mobil yang baru saja berhenti. Dan saat ditengok, ternyata ada Bu Irna yang baru saja keluar dari taksi yang dinaikinya.
"Lo, Mam, kok gak bilang - bilang kalau mau datang? kalau bilang 'kan bisa aku jemput." kata Siska sambil membantu sang mama membawa beberapa paperbag bawaan Bu Irna.
"Mau dijemput gimana? mau pinjam mobilnya Raya atau Feby lagi?." Bu Irna malah menimpali.
"Ya emangnya kenapa? dari pada naik taksi."
Tapi satu pukulan mendarat di lengan Siska. "Ih! kamu ini, kebiasaan! sukanya nyusain temen!."
"Mama! kok jadinya mukul sih? orang sama aja, mereka juga sama, suka nyusahin aku!."
"Kamu ini kalau dibilangin kebiasaan, suka jawab terus. Udah ah, ini masih pagi, kamu jangan cari keributan sama mama."
"Yang cari keributan siapa? orang mama sendiri yang duluan mukul aku." Siska mencebik, wajahnya sudah sedikit ditekuk layaknya anak kecil yang lagi ngambek.
"Udah, ah. Pagi - pagi jangan kumat. Lebih baik kamu cepet berangkat kerja biar gak telat."
"Hem, kok ngusir! cium dulu!." Meskipun lagi ngambek, tapi gak menghilangkan rasa rindu dan rasa sayang dihati Siska pada sang mama.
"Ih, dasar! anaknya Pak Leo sama Bu Irna, suka ngambek tapi suka minta cium." Begitu juga dengan Bu Irna, yang begitu menyayangi Siska.
Setelah pamit pada sang mama. Siska pun berangkat kerja. Lagi - lagi seperti biasanya, dia menyusuri jalanan dengan jalan kaki menuju kantornya.
Mulai pagi ini sampai siangnya dan sampai jam kantor selesai. Hari Siska damai - damai aja. Perasaannya juga tak terlihat ada beban, malah bisa dibilang mood untuk hari ini kayaknya baik banget. Mungkin faktor dari sang mama yang datang terus nanti nginap di kontrakan.
"Astaga naga!." Siska melompat kaget.
Mulai dari sini, mood yang baik berganti jadi mood yang buruk. Selepas bubaran jam kantor. Dan kebetulan sekali kantor sudah sepi, hanya tersisa dirinya yang baru saja keluar dari gedung kantor. Zidan tiba - tiba muncul didepannya tanpa aba - aba.
"Ih! apaan sih lo!! bikin gue kaget aja!." Siska ngomel.
Zidan bukannya menjawab dia malah tersenyum smirk. Tapi, Siska sudah tak lagi takut atau merasa terancam dengan senyumannya si Zidan. Dia malah santai dan melipatkan tangannya di dada.
"Udah, gak pakai ekspresi kayak gitu. Gue udah gak takut lagi lo senyumin gitu. Langsung aja, to the point lo mau apa?."
"Ternyata, efek habis mukul gue, lo berubah jadi lebih berani ya sekarang." Zidan nyindir tapi nadanya terlihat sedikit bengis.
__ADS_1
"Ya, gue 'kan belajar dari pengalaman. Kalau gue takut lo pasti bakalan lebih gangguin gue!." jawab Siska sambil melengos.
Zidan menyeringai. "Lo salah, kalau lo takut gue malahan gak bakalan gangguin lo, tapi kalau lo lagi nantangin gini gue malah semakin terpacu buat lebih gangguin lo lagi."
"Udah deh, jangan basa basi, gue capek habis kerja, gue mau pulang. Mau istirahat. Jadi cepet lo bilang lo mau apa."
"Gue mau hukum lo, ciuman sampai lemes."
"Ckckc! bibir lo udah dower gitu lo masih mau ciuman?." Siska speechlees lagi. Ini si Zidan kayaknya libidonya tinggi banget. Sampai gak mikir dengan luka di sudut bibirnya yang habis Siska pukul. Astaga.
"Ya, ini semua gara - gara siapa gue kayak gini?."
"Ya, kalau lo gak mulai duluan, lo juga gak bakalan bonyok!."
"Tapi 'kan gak perlu juga semalam lo pukul gue juga?."
"Ya 'kan lo yang nyuruh, kenapa gue yang disalahin?."
"Ya meskipun gue yang nyuruh, tapi gak perlu juga lo turutin!."
"Ya 'kan gue penurut, ya gue nurutlah."
"Issshhh!!! lo tuh ya pikiran lo tuh ngeres mulu. Ciuman mulu! kesel gue lama - lama. Lo kira gue ini cewek apaan sih, Dan? lo mau ngejatuhin harga diri gue sampai di titik terendah, gitu?."
"Yang mau jatuhin harga diri lo itu siapa sih?"
"Ya elo lah. Kita bukan siapa - siapa tapi lo selalu minta cium ke gue! gue sakit tahu, lo perlakuin gue cuma sebagai pelampiasan nafsu lo aja!."
"Oke, kalau gitu, ayo kita ngomong serius. Semalam gue datang memang karna pengen ngomong serius sama lo. Jadi gimana? lo mau gak balikan sama gue?." Bagaimana pun caranya hari ini juga Zidan harus bisa mendapatkan kepastian tentang hubungannya dengan Siska.
"Enggak! gue gak mau!!."
"Kenapa? bukannya lo juga punya perasaan ke gue?."
"Karna perasaan gue ke lo itu gak permanen. Gue masih kesel sama lo! gue trauma sama lo! gue gak mau jadi bahan pelarian lo! semoga jawaban gue ini cukup buat lo ngerti, dan gak gangguin gue lagi!."
Lagi - lagi setelah ngomong begitu, Siska pun langsung pergi begitu saja. Eh, tapi si Zidan ternyata menyusul.
__ADS_1
Zidan mengetuk pintu kontrakan Siska. Dan saat mendengar suara ketukan, otomatis Siska pun membuka pintunya.
"Lo mau ngapain kesini?." Siska waspada. Raut wajah Zidan sudah lain dari pada yang tadi. Disini Siska jelas curiga.
"Mau buktiin, perasaan lo yang sebenarnya."
Dan,
Cup.
Zidan meraih tengku Siska. Sebuah ciuman yang kasar dan menuntut dilayangkannya di bibir Siska. Zidan bahkan mendorong tubuh Siska sampai keduanya jatuh tertidur di atas sofa.
Disini, sejujurnya Siska sedikit menikmati ciuman yang diberikan oleh Zidan. Tapi ingatan akan mamanya yang lagi ada disini lebih mendominasi. Jadinya berkali - kali Siska berusaha melepaskan diri, tapi Zidannya malah semakin mengunci gerakannya.
Tapi, sudahlah, semuanya sudah terlambat. Bu Irna terlanjur melihat adegan tak senono anaknya di atas sofa. Jadi gelas yang ada ditangannya pun lepas sangking syoknya.
Pyyaaarrrr!!!
Zidan dan Siska melepas ciuman mereka. Kepalanya juga langsung menoleh pada sumber suara.
"KALIAN!!!!."
Tak ada harapan untuk keduanya. Versi Siska tua bereaksi. Bu Irna marah. Dengan sekuat tenaga Bu Irna kemudian melempar bantal sofa didekatnya pada 2 orang yang dengan beraninya berbuat mesum. Sungguh perbuatan tak terpuji baginya.
Tak cukup dengan bantal. Bu Irna kemudian meraih raket nyamuk di dekatnya dan mulai memukuli Siska dan Zidan.
"Kalian!! berani - beraninya kalian!!! Padahal mama udah percaya sama kalian!!. Jangan - jangan kalian ini bohong ya sama mama dulu! Jangan - jangan waktu itu kalian beneran udah tidur bareng! ayo ngaku, cepet ngaku! Siska, Zidan!." Bu Irna teriak geram. Tangannya terus memukul Zidan dan Siska meskipun sebetulnya lebih banyak Zidan yang kena pukul, karna memang Zidan berusaha melindungi Siska dari pukulan.
"Mam, ampun mam, mama salah paham, aduh! mam, jangan mukul terus!! mama salah paham!!." Siska memohon ampun.
"Arrggghh!! Maaf tante! aku gak tahu kalau ada tante. Arrggghh!!."
"Apa kamu bilang? gak tahu kalau ada tante? Jadi selama ini kalau gak ada tante kalian beneran begini? gitu maksud kamu? dasar anak - anak kurang ajar!!!." Bu Irna semakin marah. Ini Zidan kayaknya salah ngomong.
"Mama! mama salah paham. Ini gak seperti yang mama maksud. Kita gak ngapa - ngapain!." Rasanya Siska jadi frustasi.
"Aduh! tante. Maaf tante."
__ADS_1
Ya, apapun alasannya, Bu Irna tak akan dengan muda memaafkan keduanya. Baginya ini merupakan kesalahan yang sangat fatal. Jadi pukul aja lah terus, sampai keduanya merasa menyesal dan Bu Irna merasa capek.