
"Huft, akhirnya..." Siska langsung merebahkan tubuhnya diatas kasur. Benar - benar rasanya tubuhnya ini berasa capek semua karna perjalanan jauh dari Jakarta ke Melbourne.
"Capek?" Si Suami dengan senyum diwajahnya tanya dan ikut - ikutan merebahkan tubuhnya juga disamping sang istri.
"Iya, udah tua nih kayaknya aku. Rasanya kakiku kebas banget karna terlalu banyak ditekuk pas dipesawat."
Zidan senyum. Dia kemudian bangkit dari tidurnya dan kemudian meletakkan kaki Siska di atas pahanya untuk dipijiti. "Mana yang capek biar aku pijitin." Meskipun belum dijawab Zidan langsung menggerakkan tangannya memijiti betis Siska.
"Iya yang itu enak banget." Jawab Siska sambil menikmati relaksasi dari Zidan.
"Ini, siapa dulu yang mau mandi? aku dulu atau kamu dulu, atau kita mau mandi bareng?." tawar Zidan, tapi langsung dapat plototan mata dari Siska.
"Ih, kalau sama kamu mana bisa cuma mandi doang!."
"Lah kenapa gak bisa?." Zidan sedikit tergelak. Padahal Zidan memang niatnya cuma nawari dan gak punya maksud yang tidak - tidak. Tujuannya adalah biar sama - sama cepet selesai membersihkan diri dan bisa segera istirahat bareng terus cepet tidur juga.
"Kayak gak tahu kamu aja. Minta mandi bareng ujung - ujungnya ya begitu."
"Ya, kalau sekarang aku mana tega mau minta sama kamu yang. Kamu kira aku gak capek?."
"Secapek - capeknya kamu, gak mungkin enggak!."
"Kamu ini pikirannya ke aku kok gitu sih? over thinking terus?."
"Emang! orang kamunya gitu. Udah ah, kamu aja mandi duluan, nanti habis kamu aku. Aku mau leyeh - leyeh dulu." titah Siska, sambil sedikit memindahkan kakinya dari paha Zidna dan kemudian mendorong tubuh Zidan agar segera beranjak ke kamar mandi.
"Ck! dasar over thinking, padahal niatku cuma biar cepet aja." Zidan mencebik tak terima dengan tuduhan Siska.
"Mannddddiiii! cepetan!." Siska menggerang, dengan layangan plototan mata lagi.
"Cih!."
Keduanya kemudian saling bergantian untuk mandi malam itu. Setelahnya karna memang sudah merasa capek yang teramat. Tak butuh waktu lama untuk keduanya sampai akhirnya beneran terlelap hingga pagi hari.
Pagi hari,
Untung saja Siska semalam sempat memasang alarm di ponselnya. Jadi pagi ini, Siska bisa bangun dipagi hari. Dan untungnya juga karna tidurnya semalam nyenyak jadinya wajahnya pagi ini juga terlihat ceria.
Sedikit polesan make up tipis juga sudah tersemat di wajah ayunya. Bajunya juga sudah rapi ketika tubuhnya berlenggak lenggok di depan cermin saat mengecek penampilannya. Hari ini dia sudah benar - benar siap untuk turun kebawah lebih dulu untuk membantu tante vio di dapur, sementara Zidan masih dalam posisi tidurnya diatas kasurnya.
"Pagi Tante." Sapa Siska yang baru keluar dari dalam kamar. Sesuai dugaannya, kalau pagi pastinya akan sibuk. Dan sekarang terbukti saat Siska mendapati Tante Vio sedang berkutat dengan perkakasnya di dapur.
"Eh, Siska. Pagi, kok udah bangun?." jawab Tante Vio menyapa Siska yang tampilannya sudah cantik.
"Iya tante. Tante masak apa?."
"Ini bikin sarapan buat kita. Masak masakan khas sini. Coba sini kamu cicipin ini." Dengan telaten tante Vio kemudian meniupkan sesuap masakannya ke mulut Siska.
__ADS_1
Srrruuuttt.
"Em, enak tante. Enak banget."
"Oh iya. Hihihi, tapi emang iya sih, Om Robet kalau tante masak ini pasti suka, terus kalau makan suka nambah - nambah juga."
"Iya tante, soalnya emang seenak itu. Tapi ini apa sih tan nama masakannya?."
"Oh ini mananya pumpkin soup. Kalau musim dingin gini biasanya tante emang suka masak ini. Biar badan ini hangat." cerita Tante Vio, yang atensinya berpindah - pindah ke Siska dan ke si masakan yang masih diatas kompor.
Siska manggut - manggut.
"Tante, ini aku bisa bantuin apa?."
"Kamu diam aja, duduk aja di meja makan. Ini udah selesai kok." kata Tante Vio sambil mematikan kompor elektriknya.
"Jangan dong tante, itu tante masih repot." tolak Siska yang tak enak hati.
"Udah gak apa - apa. Masak kamu ke Australia malah jadi bantuin masak. Kamu ini kan tamu kerhormatannya tante, jadi duduk aja yang anteng dimeja makan."
"Tapi 'kan pumpung aku kesini tante, jadinya biar aku bantuin tante. Kapan lagi aku bisa bantuin tante kalau gak sekarang. Nanti juga belum tentu aku bisa kesini lagi."
"Hem, kamu ini. Masak tante gak mau dijengukin lagi?." tante Vio mendengus, padahal Siska gak bermaksud begitu.
"Ya maksudnya bukan gak jenguk, tapi belum tentu bisa kesini lagi dalam waktu dekat gitu." Siska harus segera meralat ucapannya, sebelum tante vio lebih salah paham.
"Tenang tante, aku gak bakalan laporan kok ke mama."
Mendengar ucapan Siska, Tante Vio pun tergelak kecil. Sepertinya dia tak akan bisa melawan Siska. "Ya udah, kalau gitu siapin piringnya aja di atas meja. Terus setelah itu, ajak Zidannya buat sarapan bareng. Ini udah mateng semua kok tinggal nyajiin diatas meja."
"Oke tan."
Siska pun menyibukkan diri didapur dan ruang makan dengan semangat. Kalau sudah bantuin gini hatinya jadi lega sendiri. Dan setelah semuanya beres, tugasnya tinggal membangunkan Zidan agar bersiap untuk sarapan.
"Gimana enak tidurnya semalam?." tanya Om Robet, sekarang semua orang sudah berkumpul dimeja makan untuk sarapan.
"Nyenyak banget Om." jawab Zidan.
"Berarti kalau gitu udah fres nih badannya?." tanya Om Robet lagi pada Siska dan Zidan.
"Fres banget kok Om."
"Berarti siap dong hari ini buat jalan - jalan? kebetulan Om sama tante hari ini udah ambil cuti biar bisa nemenin kalian jalan - jalan." celetuk Om Robet lagi.
"Siaplah Om, tapi emang mau jalan - jalan kemana ini Om?."
"Kamu maunya kemana? kita tinggal jalan aja."
__ADS_1
"Terserah Om aja mau kemana, keliling - keliling Melbourne juga gak apa - apa. Biar dia tahu kayak apa Melbourne itu, kasian Om dia tahunya cuma Jakarta Om." jawab Zidan dengan sedikit meledek Siska yang mana langsung mengundang gelak tawa dari Om Robet dan Tante Vio.
"Oke, kalau gitu kita keliling - keliling Melbourne, ya? ke wisata deket - deket sini yang bagus. Terus nanti pulangnya kita bisa mampir kerumah Ery, katanya dia udah siapin barbeque party dirumahnya."
"Oke, Om."
Keliling Melbourne segera terlaksana. Gedung - gedung pencakar langit umumnya menghiasi sepanjang perjalanan hari ini. Tapi meskipun begitu Siska masih begitu excited. Matanya tanpa lelah memandang hamparan gedung - gedung itu dari kaca samping mobil.
Beberapa tempat wisata terkenal berhasil di kunjungi oleh Siska dan Zidan. Mulai dari Yarra River, kemudian ke Melbourne Skydeck lalu terakhir ke Royal Botanic Gardens. Semua itu benar - benar menyenangkan untuk Siska yang baru pertama kali ke luar negeri.
"Gimana pemandangannya kamu suka 'kan?." tanya Tante Vio pada Siska setelah mereka beristiharat disalah satu cafe yang ada di Royal Gardens.
"Iya tante, suka banget. Ini di Jakarta gak ada." Siska jawab dengan pandangan mata yang masih takjub.
Ya bagaimana gak takjub pemandangannya sungguh indah. Ada hamparan bunga - bunga terbentang luas yang tertata apik, dan kemudian pohon - pohon rindangnya yang sejuk serta bangunan - bangunan khas barat yang memanjakan mata.
Tante Vio tersenyum mendengar jawaban Siska, dan kemudian menghelakan nafas beratnya. "Tapi kalau buat tante ini udah jadi sesuatu yang membosankan. Tante pengennya liat jakarta sekarang." keluh Tante Vio dengan wajah dibuat cemberut.
Siska tergelak tawa. "Hehehe, kalau gitu balik tinggal Jakarta aja tante, nanti kalau bosen di Jakarta balik lagi kesini." Siska memberikan solusi, solusi yang pastinya gak efisien.
"Hehehe, ya kalau gitu Om kamu pasti langsung marah - marah." jawab tante Vio kembali tergelak tawa kecil lagi.
Suasana sedikit berubah sunyi sejenak. Siska dan Tante Vio sama - sama sedang menikmati pemandangan didepannya dalam damai.
"Siska, tante beneran seneng lo Zidan bisa menikah sama kamu." Tiba - tiba saja tante Vio ngomong gini.
"Dulu, si Irna tiap hari itu telpon tante. Dan hampir di setiap telponnya Irna itu nangis terus karna kepikiran Zidan. Ya, kamu tahu 'kan kalau Zidan dulu pernah gagal nikah karna dihianati istrinya. Tapi untungnya, ternyata dia bisa ketemu kamu lagi dan sekarang juga bisa menikah sama kamu. Jadi tante ikut seneng. Ya meskipun kemarin tante gak bisa datang ke acara pernikahan kalian." Tante meneruskan ucapannya.
"Iya tante, Siska tahu kok kalau dulu Zidan pernah gagal nikah."
Tapi kemudian Tante Vio tertawa renyah. Membuat Siska jadi sedikit bingung.
"Hehehe, maaf, tante jadi tiba - tiba keinget Irna. Kamu tahu gak apa yang diminta Irna ke tante kemarin waktu telpon tante pas kalian berangkat kesini?." Tante Vio seolah meminta Siska menebak apa yang diucapkan mertuanya.
"Apa tante?."
"Tante disuruh mantau kalian waktu bulan madu. Dia nyuruh tante bikin honeymoon yang super romantis buat kalian."
Siska mengernyit mendengar ucapan Tante Vio. Ini maksudnya apa?.
"Maksudnya tante?."
"Tahu gak? Irna iri sama tante karna tante udah punya cucu. Jadi si Irna minta honeymoon kalian seromantis mungkin biar bisa menghasilkan juga, kamu ngertikan maksudnya tante?." cerita Tante Vio yang mana setelahnya diiringi dengan kikikan tawanya.
"He, ... hehehe." Siska pun tertawa canggung.
Astaga mertuanya ini ada - ada aja. Harus ya honeymoon ini dilakukan seromantis mungkin. Terus maksud dari menghasilkan ini, apa biar dia pulang bawah benih gitu biar jadi bayi?. Bikin Siska jadi semakin terbebani lagi.
__ADS_1