
Segala pernak pernik persiapan pernikahan sudah selesai disiapkan. Mulai dari undangan, siuvenir, fitting baju pengantin, hingga yang terakhir kemarin WO. Sekarang waktunya Siska untuk memanjakan diri di sebuah salon. Melakukan semua perawatan tubuh dan wajah, mulai dari facial, spa, meni pedi dan lain sebaginya yang intinya biar nanti cetar waktu acara pernikahan. Dan untungnya untuk hal ini dia bisa berangkat bersama 2 sahabatnya bukan dengan para mamanya.
"Sumpah, badan gue rileks banget di pijet gini. Haduch, rasanya gue mau gila, segala urusan pernikahan itu ribet banget gak sih guys? gue sampek pening gara - gara para mama." Siska mengeluh ditengah massage spa yang diterimanya.
"Baru tahu lo rasanya." Feby menyaut, dia dan Raya juga ikutan spa dan perawatan seperti Siska.
"Beneran gue gak nyangkah kalau bisa seribet ini. Gue kira cukup pasrah sama WO selesai."
"Hahaha, ya enggaklah Siska, mana ada gitu. Iya kalau kita, kalau para orang tua mah beda, pengennya yang terbaik buat anaknya. Apa lagi ini pernikahan anak tunggalnya kayak lo gini, ya jelas harus yang bener - bener yang terbaik. Jadi wajarlah Sis kalau ribet." Feby sedikit memberikan pengertian.
"Huh! tapi seribet - ribetnya urusan pernikahan, gak akan lebih ribet dari pada gue yang lagi ditagih cucu." Raya jadi ikut mengeluh. Wajahnya juga berubah lesu.
"Emang udah pada nodong minta cucu Ray?." Feby langsung menyauti kelihan Raya.
"Iya, sampai capek gue yang denger."
"Ya kalau gitu cepet lo bikinin dong Ray biar cepet jadi cucunya." Siska menyeletuk.
"Ah, kalau bikin mah udah tiap hari. Tapi si Krisna yang masih gak siap punya momongan. Dia gak pengen ribet ngurusin bayi dulu. Pengennya dia itu kita nikmati dulu masa - masa berdua." Raya mulai curhat.
"Lah, emangnya kenapa kok gitu? Apa dia beneran gak pengen punya anak dari lo, gitu?." Siska jatuhnya malah negatif thinking.
"Bukannya gak mau tapi belum siap. Kalian tahu 'kan Mbak Marisa, kakaknya si Krisna?."
"Ya tahulah, emang kenapa?." Feby tanya.
"Mbak Marisa itu udah punya anak 7. Anak pertamanya kembar 3, terus selisih 1 tahun hamil lagi terus ngelairin anak kembar 2, Terus 1 tahunnya lagi kebobolan lagi ngelairin kembar lagi 2. Jadi karna itu si Krisna jadi trauma, bisa lo bayangin kayak apa Mbak Marisa ribetnya sama suaminya waktu ngurusin bayi yang jumlahnya ada 7 gimana? udah jelas pasti streeess. Lah si Krisna gak mau kita kayak gitu."
"Hah? gimana bisa gitu? selisih 1 tahunan udah dapat 7? ckckckck!." Siska terkaget - kaget. Dan pikirnya udah pasti rempong setengah mati.
"Astaga kok bisa sih sampek kebobolan gitu? emang gak KB ya? atau pakai pengaman kek atau gimana kek. Ya kalau kayak gitu mah udah langsung tua dadakan jadinya." Feby sendir juga langsung ngeri sendiri bayanginnya. Jangankan 7 kadang liat bayi 1 aja kalau udah nangis bingung mau dikemanain.
"Gue juga gak tahu, yang pasti gara - gara Mbak Marisa yang ribet banget ngurusin anaknya yang seumbrek, terus kadang emang dulu kita juga sering dimintain tolong ngejagain jadinya si Krisna kayak trauma gitu. Jadi maunya dia punya anak setelah beneran siap, secara mental plus finansial, dia takut katanya, entar malah salah gak bisa ngasih yang terbaik buat anaknya."
__ADS_1
"Iya, udah yang paling bener emang yang di omongin Krisna." Feby setuju dengan pemikiran Krisna.
"Tapi kalau lo Ray? lo aslinya pengen gak sih punya anak?." Siska mendadak penasaran dengan perasaan sahabatnya itu.
"Jujur gue pengen banget. Bahkan awal nikah pun gue gak pengen nunda kehamilan. Tapi gimana lagi, gue gak bisa egois kalau suami gue sendiri belum siap."
"Em, kalau lo Feb?." Sekarang Siska tanya ke Feby.
"Kalau gue sama sih, gue juga gak nunda. Bahkan sekarang gue lagi program hamil. Si Firman pengennya cepet - cepet punya anak."
"Oh, gue doain semoga cepet - cepet isi deh, biar gue bisa gendong ponakan lucu." Siska nyaut.
"Ngapain lo gendong anak gue. Bikin sendirilah, bentar lagi juga lo nikah." Feby menimpali.
"Eh, enggaklah. Gue gak ada rencana bikin anak. Jangankan bikin, begitu aja gue gak ada rencana. Pokoknya rencana gue, gue bakalan mempertahanin keperawanan gue, apapun yang terjadi seperti yang gue bilang ke kalian waktu itu." jawab Siska penuh keyakinan.
"Alaaahhh... gimana ada ceritanya udah nikah tapi mintanya masih perawan. Lo nih ya jangan aneh - aneh deh." timpal Raya.
Raya jadi tersenyum smirk. "Serius lo mau ceraiin Zidan? gue rasa lo sendiri juga gak bakalan betah gak bersentuhan sama Zidan."
"Kenapa gak berani? cuma cerai doang. Dan untuk gue sendiri, gue yakin 100% gak bakalan nyentuh dia. Lo kira gue ini apaan, kurang belaian gitu sampai - sampai minta disentuh!."
"Betul, bisa dibilang lo emang kayak jablay. Hahaha." Feby malah ngeledek. Dia tahulah gimana Siska sebenarnya. Si otak ngeres.
"Hm, sadar diri deh Sis, orang lo sendiri kalau bareng Zidan bawaannya juga nemplok mulu." Lagi - lagi Raya menimpalinya.
"Ih, enggak ya, mana ada."
"Gini deh, Sis. coba lo inget - inget, gaya pacaran lo sama Zidan dulu gimana? atau gaya pacaran lo yang sekarang gimana? kalau lo udah bareng Zidan, pikiran lo gue jamin 95% pasti mesum. Betulkan Feb?." Raya meminta dukungan.
"Betul 100% gak salah." jawab Feby.
"Ih, enggak, ya!." Tapi otaknya Siska malah memutar kembali semua kejadian saat bersama Zidan, saat pelukan, saat ciuman, saat Siska dengan sengaja pakai baju seksi buat menggoda Zidan, sampai yang terakhir buka - bukaan dikamar Zidan yang kepergok Caca. Astaga, Siska yang sadar jadi bergidik sendiri dibuatnya.
__ADS_1
"Hahaha, tebakan lo 100% bener Ray." Feby yang menangkap ekspresi perubahan Siska pun langsung ketawa geli.
"Hm, kayak gitu yang bilangnya udah yakin 100% mau mempertahanin keperawanan. Bulshit lo Sis. Mulut lo gak sesuai sama otak, sama hati lo. Payah!." si Raya jadi kesel sendiri jadinya.
"Ishh!!." Ya Siska sudah gak bisa membantah lagi, apa yang dikatakan 2 sahabatnya ini benar adanya. Otaknya suka ngeres emang kalau lagi sama Zidan.
"Ya udah deh kalau gitu, terus sekarang gue harus gimana dong? itu di perjanjiannya kalau gue yang ngelanggar entar gue yang harus nurutin semua permintaannya si Zidan." Siska minta pendapat. Dia udah beneran pasrah kayaknya.
"Eh, bentar, si Zidan ngomong gitu? Hahahha Siska - Siska? kayaknya lo lagi ditipu mentah - mentah deh Sis sama dia." Ini Feby malah tak habis pikir dengan Siska. Oonnya Siska gak ketulungan rasanya.
"Hah maksud lo Feb?."
"Ya tuhan Siska, dengerin ya gue ngomong. Gini deh Sis, seandainya si Zidan udah melanggar perjanjian, otomatis berarti dia udah sentuh lo 'kan? bener 'kan? Lah setelah dia habis sentuh lo, otomatis lo kan udah gak perawan, habis itu lo minta cerai, kalau gitu yang rugi siapa? lo 'kan?. Terus kalau lo yang ngelanggar. Dia sendiri otomatis secara gak langsung juga seneng bisa bersentuhan sama lo, lah habis itu gara - gara lo yang nyentuh duluan lo malah harus nurutin semua keinginannya dia. Dan disini siapa lagi yang jadinya rugi? tetep lo 'kan?. Jadi Sis, berkat perjanjian pernikahan yang lo buat itu, orang yang paling diuntungkan itu ya Zidan bukan lo. Sadar gak sih lo?." jelas Feby, semoga sahabatnya ini jadi sadar.
"Hah? iya ya, gue baru ngeh." Siska pun jadi merasa bodoh sekali. ckckck!.
"Iyalah."
"Oon jangan dipeliharan Siska." Ledek Raya.
"Ya, terus sekarang gue harus gimana dong?." Siska tanya dengan muka oonnya.
"Ya buang aja itu surat perjanjian pernikahannya, anggap aja itu gak pernah ada. Bilang ke Zidan udah gak ada batasan dia bebas mau ngapain lo." saran Raya yang udah bodoh amatlah sama sahabatnya itu, mau digimanain nanti sama suaminya.
"Eh, tapi entar kalau gue hamil gimana? gue 'kan belum siap kalau harus punya anak."
"Ya minum pil KB dodol, kalau emang belum pengen punya anak, gitu aja kok repot." Raya nyeletuk lagi.
"Oh gitu ya." Kali ini jawabnya dengan muka polos.
****
Untuk hari ini up 2 bab deh. Biar puas ngeliat tingkahnya Zidan dan Siska yang absurd.
__ADS_1