
Pagi - pagi. Siska sudah bangun lebih dulu. Wanita itu sudah menyibukkan diri di pantry untuk memasak.
Seperti halnya kemarin acara masaknya pagi ini ditemani Bu Resti lewat Videocall. Dan seperti halnya kemarin, banyak sekali pertanyaan yang diajukan oleh Siska pada mertuanya itu.
Ternyata, suara keramaian dari Siska dan Bu Resti serta suara bunyi minyak dari wajan penggorengan berhasil membangunkan Zidan yang tadinya tidur lelap didalam kamar.
Zidan melangkahkan kakinya keluar. Mengecek dan diam - diam memperhatikan pemandangan pantry dari jarak jauh.
"Gini ya ma? apa aku salah motong ikannya?."
"Ih, kok gitu. Jangan gitu, kalau gitu dagingnya malah susah diambilnya. Kamu miringin pisaunya."
"Eh, salah ya? terus gimana dong ma? udah terlanjur ma."
"Karna udah terlanjur ya terusin aja udah. Kamu ambil dari pinggir."
"Ma, kok jadi ancur ikannya?."
"Kok bisa?"
"Ya gak tahu Ma."
"Huft! ya udahlah gak apa - apa, ancurin aja sekalian kamu tumbuk aja biar alus, udah gak berbentuk juga."
"Lah terus gimana?."
"Ya gak apa - apa. Langsung aja kamu campur gitu sama tepung."
"Ya gak keliatan dong akhirnya ikannya?."
"Ya tapi mau gimana lagi. Yang penting rasanya aja jangan sampai salah masukin bumbu juga."
Zidan jadi tertawa kecil. Itu sedikit obrolan antara Siska dan ibunya yang didengar Zidan dari radius 10 meter tempatnya berdiri. Mood bahagianya jadi bangkit karnanya. Istrinya ini beneran ternyata, sedang berusaha membuktikan diri padanya.
"Iya ma, Siska paham. Siska tutup dulu ya ma telponnya."
Mendengar kata Siska itu. Zidan pun melangkahkan kakinya ke pantry. Sikapnya diusahakan sebiasa mungkin pura - pura tak mendengar obrolan antara Siska dan Bu Resti.
Senyum manis menyambut Zidan. "Udah bangun?."
"He'em."
"Mau kopi, teh, susu atau jahe anget?." tawar Siska masih tersenyum manis.
"Kopi aja."
"Oke."
Tapi bukannya langsung membuatkan kopi untuk Zidan. Siska malah melangkah mendekat pada suaminya itu. Lalu
Cup.
Satu ciuman manis mendarat di pipi Zidan.
"Morning kiss." kata Siska dengan sikap malu - malunya. Membuat Zidan tergelak akan sikap Siska.
__ADS_1
Jujur saja. Ini adalah morning kiss pertamanya dari Siska semenjak menikah, karna biasanya dialah yang selalu mencium Siska lebih dulu di pagi hari.
"Bentar ya ..."
Siska pun terlihat serius membuat kopi. Dan itu tak luput dari perhatian Zidan.
"Ini kopinya, khusus buat suami aku." Siska menyajikan kopi dihadapan Zidan dengan sikap manisnya.
Tanpa berkata Zidan juga langsung meraih kopinya dan menyeduhnya. Meskipun dalam hati dirinya sudah kegirangan. Dapat morning kiss, dan sekarang dibuatkan kopi.
"Hari ini kamu lembur lagi?." tanya Siska diselah kegiatan memasaknya.
"He'em."
"Sampai malam lagi?."
"Iya."
Siska manggut - manggut.
"kamu mau aku bawain bekal?." tanya Siska lagi.
"Terserah kamu aja."
"Aku bawahin ya, buat makan siang."
"He'em."
"Tapi, kamu gak malu 'kan kalau aku bawah bekal?."
"Ya siapa tahu malu. Biasanya laki - laki 'kan gitu malu bawah bekal kemana - mana dan lebih memilih makan di cafe atau restaurant."
"Itu pikiran kamu aja. Kalau aku malah seneng bisa makan masakan istri."
"Oh iya?."
"Iya."
"Ya udah kalau gitu mulai sekarang aku mau buatin bekal buat kamu." ucap Siska yang terlihat begitu semangat.
Beberapa saat kemudian. Siska pun selesai memasak. Makanannya juga sudah tersaji di atas meja. Begitu juga bekalnya juga sudah siap ditenteng.
Merasa tugasnya sudah selesai. Siska pun beranjak dari pantry dan bergegas masuk ke dalam walk in closet dimana Zidan berada.
"Sini aku bantu." Siska langsung mengambil ahli kemeja yang sedang dipakai Zidan demi bisa memasangkan kancingnya.
"Aku bisa sendiri."
"Tapi aku pengen bantuin." Dengan wajah sedikit cemberut Siska ngomong.
Zidan jadinya pasrah saja. Dia lantas meraih jam tangannya yang terletak diatas meja yang ada sampingnya.
"Kamu lagi banyak kerjaan ya?." tanya Siska yang sebetulnya adalah pertanyaan pancingan karna Zidan belum cerita padanya soal mega proyek yang berhasil Zidan menangkan.
"He'em. Banget."
__ADS_1
Siska pun manggut - manggut.
"Gantengnya suami aku." puji Siska setelah berhasil mengancing semua kemeja Zidan. Tak lupa pula 1 kecupan singkat di bibir Zidan didaratkan olehnya lagi lalu nyengir pada Zidan.
Zidan pun tergelak. Dan sekarang jadi tak kuasa untuk tidak mengukir senyum. Rasanya ingin sekali membalas kecupan singkat itu dengan ciuman menggairahkan tapi untuk sekarang Zidan harus berusaha menahannya. Karna sejujurnya, Zidan ingin tahu sejauh apa Siska mau memberinya bukti kalau Siska beneran menyesal dan sayang padanya.
"Aku mau mandi dulu. Kamu kalau mau berangkat berangkat aja. Tapi jangan lupa sarapan dulu." kata Siska.
"Aku tunggu kamu, kita berangkat bareng. Aku anter kamu dulu."
"Emang kamu gak telat? katanya hari ini mau berangkat pagi?."
"Gampang ada Egi. Bisa telat dikit."
"Oke, kalau gitu, aku siap - siap dulu. Udah lama juga kita gak berangkat kerja sama - sama. Bentar ya, aku pasti cepet siap - siapnya."
Dan setelah ngomong begitu, Siska pun langsung bergerak secepat kilat. Merasa bahagia karna hari ini bisa berangkat bareng sama suaminya lagi. Sampai Zidan yang menonton tingkah Siska pun jadi geleng - geleng dibuatnya.
Mandi cepat dilakukan Siska. Ganti baju seragam juga gitu, secepat kilat. Setelahnya dia juga langsung memasukkan semua alat make up dalam tasnya dengan maksud bisa berdandan di dalam mobil saat perjalanan. Selesai mengemasi barang - barang dalam tas. Siska juga langsung menyambar bekal makan siang milik Zidan. Dan bekal sarapan pagi untuk dirinya sendiri.
"Udah, ayo." ajak Siska pada Zidan yang saat itu tengah duduk di sofa sibuk memainkan tablet ditangan.
"Kamu berangkat kerja gitu?." Zidan wajahnya tampak heran. Secara tampilan Siska sangat berantakan. Rambutnya dikuncir asal seperti saat pertama kali mau mandi dan wajahnya tanpa sedikit pun make up.
"Iya, kenapa?."
"Ngaca dulu."
"Aku dandannya di mobil. Biar kamu gak telat. Kasian Egi kalau harus nungguin kamu lama."
"Oh." jawaban Siska pun membuat Zidan mengerti.
Zidan dan Siska pun keluar dari apartemen. Mereka berjalan menuju basmen tempat parkir dan masuk dalam mobil.
Siska mulai memoles wajahnya dengan beberapa make up sehingga wajahnya jadi lebih segar. Setelahnya Siska juga menyisir rambutnya dan mengikatnya menjadi rapi.
Beres dengan urusan rambut dan juga make up. Siska mulai mengoleskan handbody di tangannya. Tapi, tiba - tiba pikiran nakalnya jadi main. Sudah lama bukan dia tak menggoda Zidan dan membuat suaminya itu kelimpungan.
"Sayang." Siska memanggil Zidan, sengaja juga manggil sayang.
"M." Zidan jawab dan langsung menoleh.
Sontak saja matanya langsung terkontaminasi. Astaga, istrinya ini sedang memakai handbody di kakinya. Terus sengaja mengangkat kakinya sedikit tinggi dan duduk mengarah padanya. Membuat Zidan bisa sedikit melihat sesuatu yang terselip dipangkal paha Siska dari celah rok yang dipakai istrinya itu.
"Kamu beneran nanti lemburnya sampai malam?." tanya Siska dengan tangan yang mulai bergerak memakai handbody di sekitar pahanya.
"He'em." Zidan jawab sambil memalingkan wajahnya dan membetulkan posisi duduknya. Godaan terbesar sudah datang pikirnya.
"Gak bisa ditunda?."
"Gak bisa, karna proyek ini penting banget."
"Oh." Raut muka Siska menunjukkan kekecewaan.
"Ya udah kalau gitu. Aku tahan sampai kerjaan kamu selesai." Ungkap Siska lagi kemudian mengakhiri juga sesi mengoleskan handbody di pahanya. Tapi kemudian sedikit ulasan senyum tipis muncul dibibir Siska. Dia tahu, kalau Zidan sedang berusaha menahan godaannya.
__ADS_1