Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
105. Step by Step


__ADS_3

Bu Irna mengusap lembut lengan Siska lagi. Rasanya dirinya bisa merasakan kegalauan hati sang anak. "Kamu jangan insecure sama iri hati juga. Tuhan itu baik, mungkin Tuhan punya rencana lain yang lebih baik buat kalian mangkannya sampai sekarang kalian belum dikasih momongan. Kamu harus sabar. Kamu 'kan menikah juga baru saja, belum genap setahun. Jadi anggap saja ini itu sebagai uji kelayakan kamu sama Zidan sebagai suami istri sampai nantinya bisa layak jadi orangtua."


"Tapi Mam, semua orang udah ngarep aku sama Zidan cepet punya anak."


"Semua memang berharap, tapi jangan jadikan semua itu beban pikiran. Jangan sampai gara - gara semua orang sedang berharap, kamu malah jadi stres sendiri. Itu malah gak baik buat kamu."


"Tapi tetep aja kepikiran."


"Ya kalau gitu kamu harus bisa mengalihkan pikiran kamu ke hal yang lain. Cari kesibukkan lain. Jalan - jalan, seneng - seneng sama Zidan, atau sama Raya sama Feby."


"Udah aku lakuin Mam, tapi masih aja tetep kepikiran. Pengen ikut program hamil, tapi Zidannya masih gak mau. Katanya dia pengen bikin rumah dulu yang layak buat kita. Terus pengen honeymoon lagi, baru setelah itu mau program hamil."


Mendengar rencana masa depan anaknya. Bu Irna sontak ikut bersemangat. "Wah, bagus dong kalau gitu. Berarti Zidan bener - bener prepare buat masa depan keluarganya."


"Prepare sih prepare, tapi kalau masih harus nunggu rumah jadi sama berangkat honeymoon lagi kan lama Mam."


"Lama itu karna kamu yang gak sabaran. Kalau kamu sabar pastinya rasanya juga gak lama."


Siska mendenguskan nafas beratnya. Seluruh atensinya mendengar perkataan Bu Irna dan meresapinya. Betul apa kata mamanya itu, dirinya memang kurang sabar dan terburu - buru karna rasa bersalahnya yang sempat minum pil kb kemarin.


"Kamu harusnya bersyukur punya suami yang tanggungjawab seperti Zidan. Pikirannya jauh kedepan, mau ngasih yang terbaik buat istri sama anaknya. Sekarang pumpung kalian masih berdua kalian nikmati bersamanya. Kalian kumpulin dulu uang yang banyak buat masa depan kalian sama anak - anak kalian. Nanti kalau sudah waktunya, Tuhan pasti akan kasih kalian keturunan. Inget kata mama,Tuhan itu baik. Anggap saja sekarang Tuhan lagi kasih kamu ujian."


Siska pun akhirnya mengangguk. Harusnya memang bersyukurlah yang dilakukan bukannya mengeluh. Merasa gak layak.


"Udah yuk, udah malam kita tidur, mama udah capek banget rasanya. Kamu juga besok masih mau kerja 'kan?." Bu Irna mulai merasa kantuknya semakin berat saja.


Dan Siska mengangguk sebagai tanda setuju.


Pada akhirnya. Suasana kamar pun hening. Siska dan Bu Irna sudah sama - sama terlelap. Begitu juga Zidan yang ada dikamar samping sendirian. Dia juga sudah lebih dulu tidur. Menyisakan kesunyian diseluruh penjuru apartemen.


Paginya. Zidan adalah orang pertama yang bangun lebih dulu. Lelaki itu kemudian langsung menyibukkan diri di dapur, memasak beberapa menu sederhana untuk sarapan mereka.pp


"Pagi." Siska jadi orang kedua yang bangun.


Saat itu, seperti biasanya, sapaan selamat pagi dia layangkan untuk Zidan. Dan untuk hari ini karna Zidan yang memasak, maka Siska yang gantian memeluk dari belakang.


"Pagi, sayang. Cuci muka dulu sana."


"Bentar, masih kangen, pengen peluk, semalaman aku gak peluk kamu soalnya." kata Siska sambil mendengus aroma tubuh Zidan yang menenangkan.


Zidan melebarkan senyumnya, hatinya sungguh senang karna pagi - pagi Siska sudah memeluknya dan bersikap manja.


"Kamu masak apa? Harum banget baunya." Dari balik punggung Zidan, Siska tanya.


"Ayam goreng, tahu, tempe, sambal, sayur bayam. Menu sederhana."


"Perlu bantuan?."


"Pasti, biar cepet selesai."


"Ya udah bentar, aku cuci muka dulu."

__ADS_1


Siska pun melepas pelukannya dan pergi ke kamar mandi. Tapi masih beberapa langkah, Siska kembali lagi.


Cup.


Satu kecupan di pipi Zidan dilayangkan olehnya.


"Morning kiss, tadi lupa." Ucapnya dengan wajah nyengir, yang lalu kembali berlari ke kamar mandi.


"Kurang, yang satunya masih belum." Zidan tergelak tawa. Dasar, Siska, bikin Zidan jadi gemas saja.


Sepersekian menit. Siska pun kembali ke dapur. Wajahnya sudah segar dengan sisa - sisa air yang sedikit menempel di pangkal rambutnya. Bagi Zidan, Siska yang begini ini, cantiknya jadi berkali - kali lipat.


"Mana, biar aku yang goreng ayamnya."


Sesuai permintaan Siska, Zidan pun segera menyingkir dari depan kompor dan mempersilahkan istrinya itu mengambil ahli.


"Yang, yang sebelah sini morning kissnya belum." Zidan menunjuk sebelah pipinya lagi.


"Ih, maunya." Siska senyum, lalu memenuhi permintaan Zidan mengecup pipinya yang satunya.


"Yang ini ternyata iri." Sekarang Zidan menunjuk keningnya.


Dan Siska juga langsung memenuhi permintaannya lagi.


"Sini juga iri." Kali ini bibirnya.


"Kok jadinya lama - lama banyak maunya ya kamu." Siska protes.


"Ih, jeleknya. Yang, jangan gitu geli aku liatnya." Sangking gelinya Siska bahkan mendorong bibir Zidan dengan tangannya.


"Hahaha, ayo sini, cium dulu." Zidan kembali mengerucutkan bibirnya kayak ikan kegatelan.


"Enggak, gak mau! Kamu jelek, kayak orang mesum. Sana!."


"Mesum sama kamu gak apa - apa, sini. Cium dulu, bibirku udah seksi ini." Bukannya berhenti, Zidan malahan lebih gencar menggoda Siska. Mendekatkan dirinya dengan bibir terus mengerucut dan bergerak - gerak, kayak ikan giginya lagi gatel, demi mencuri ciuman.


"Yang, jijik tahu!."


Siska berusaha menghindar. Meskipun sulit karna Zidan yang sudah meraih pinggangnya, demi mengunci pergerakannya agar tidak bisa kabur.


Cup.


Satu ciuman berhasil dicuri di pipi Siska.


"Yang, sana!."


Cup.


Satu lagi dihidung.


Cup.

__ADS_1


Satu lagi dibibir.


"Yang, ada mama."


"Awas ayamnya gosong!."


Cup.Cup.Cup.Cup.


Banyak ciuman berhasil dicium semua wajah bahkan lehernya. Hingga wajah Siska jadi memerah. Karna geli juga karna bahagia, karna bisa bercanda seperti ini di pagi hari.


"Zidan. Berhenti, geli!."


"Geli - geli, tapi enak 'kan?." kata Zidan yang puas akan aksinya. Tawanya juga terdengar renyah sekali menandakan hatinya itu sedang bahagia.


"Ih, ini ya, ada Mama tahu, kalau Mama mergokin kita gini gimana?." Satu pukulan kecil dilayangkan Siska ke dada bidang Zidan karna posisi mereka masih saling berpelukan.


"Gak ada mama, mama masih tidur." Jawab Zidan tak ambil pusing.


"Ish! Awas ah, aku mau angkat ayamnya dulu."


Siska mengakhiri sesi bercanda mereka. Dan kembali fokus ke depan kompor.


Dibalik tembok kamar. Disamping pintu. Tanpa Siska dan Zidan sadari. Ternyata Bu Irna sudah berdiri bersembunyi mengintip kemesrahan anaknya. Senyum lebar tergambar jelas diwajahnya. Hatinya ikut bahagia menyaksikan keromantisan itu. Bersyukur sekali, anak semata wayangnya bisa menikah dan hidup bahagia bersama dengan lelaki yang dicintai. Jadi, hatinya pun tenang, tak perlu khawatir Siska jadi kesepian jika dirinya atau suaminya nanti pergi meninggalkan Siska seorang diri didunia ini.


"Eh, Ma, udah bangun?." sapa Zidan, ketika mendapati Bu Irna sudah duduk lebih dulu di meja pantry saat dirinya sudah rapi bersiap berangkat kerja.


"Iya, baru aja. Gak tahu semalam enak banget mama tidurnya. Jadi bangunnya sampai siang, padahal tadinya mama pengen siapin kalian sarapan, maaf ya." jawab Bu Irna yang jelas lagi bohong.


"Janganlah Ma, Masak mama datang jauh - jaub malah jadi tukang masak."


"Ya emangnya kenapa, cuma masak aja gak akan bikin badan mama capek. Malahan kalau diem lama - lama itu yang capek.*


"Mam, udah bangun." Suara Siska datang bergabung. Saat itu Siska juga sudah rapi mau berangkat kerja juga.


"Iya, kalian ini udah mau berangkag ya?." jawab Bu Irna sekaligus juga tanya.


"Iya, Mama sendirian di apartemen gak apa - apa 'kan? Aku mau ambil cuti soalnya juga udah gak bisa." Tiba - tiba Siska jadi merasa bersalah dan tak tega kalau harus meninggalkan Bu Irna sendirian di apartemen.


"Gak apa - apa, emangnya kenapa. Orang Mama juga bentar lagi jam 9 udah ada acara."


"Emang ada acara apa?." Siska tanya.


"Mau ke salon terus nongkrong cantik sambil gosip - gosip, sama mama kamu." Bu Irna melayangkan pandangannya pada Zidan sambil terkekeh senang.


Zidan ikut terkekeh. Senang juga mendengar kalau Mamanya dan mertuanya jadi akrab hingga hangout bareng seperti ini.


"Dih, ceritanya punya besti nongki nih sekarang?." Siska meledek.


"Ya iya dong. Masak cuma kamu aja yang punya besti. Mama juga punya kali."


"Kalau gitu nanti, kalau mau berangkat biar aku anterin ma, kebetulan jam 9 aku mau cek lokasi jadi bisa sekalian." Zidan pun mendukung kegiatan para mama.

__ADS_1


__ADS_2