Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
40. Perang Kecil


__ADS_3

Plakat Apotik Sehati sudah terlihat jelas diatas atapnya karna lampu sorotnya. Tempat itu jelas jadi tujuan utama Siska berhenti setelah obrolannya tadi bersama 2 sahabatnya saat disalon.


Pikirannya lagi menimbang - nimbang sebuah pilihan apa yang harus dibelinya. Beli pil kb? atau ko**dom? atau lebih baik datang ke bidan minta suntik atau memasang impan aja? Yang jelas semua itu karna Siska sudah tak yakin pada dirinya sendiri kalau tak akan tergoda oleh Zidan.


Kkrrriiiinnnnggg!!!


Kekalutan itu sedikit membuyar tatkalah ponselnya berdering karna sebuah panggilan masuk dari Bu Irna.


"Iya mam, ada apa?."


"Sis, kamu udah berangkat jemput Zidan?." Pertanyaan Bu Irna barusan menyadarkan Siska tentang tujuan utamanya.


"Oh iya mam, ini lagi dijalan." jawab Siska yang sudah pasti bohong. Siska belum berangkat dan masih duduk termangu dalam mobil didepan apotik, padahal posisi Zidan sudah terbang menuju sini.


"Oh ya udah kalau gitu, mama takut kamu lupa gara - gara keeanakan spa di salon."


"Enggak kok mam, aku gak lupa."


"Ya udah deh kalau gitu, nanti setelah Zidan sampai langsung mampir kesini ya, mama udah masakin makan malam buat dia. Sekalian papamu juga pengen ngobrol sama dia."


"Em, he'em mam, oke."


Telpon terputus. Siska mulai mengutuki dirinya sendiri karna bisa melupakan hal yang paling penting. Astaga ini udah jam berapa coba. Ini sudah jam 5.40 malam sedangkan pesawatnya berangkat dari jogja jam 5. Itu artinya dia sudah terlambat 20 menit, karna perjalanan menuju bandara yang memakan waktu 40 menit. Ckckck!.


Demi mengejar waktu, Siska akhirnya memilih turun dari mobil dan masuk ke dalam apotik dengan segera. Eh, tapi didalam apotik malah ketemu sama seseorang yang tak terduga. Jadinya ya di harus ngobrol dulu sama orang tersebut.


"Eh, Siska ..." Yap orang itu Desta, dengan stelan casualnya hodie dan celana pendek, sudah menenteng kantong plastik hendak melangkah keluar dari dalam apotik.


"Loh, Desta. Hay ..."


"Mau beli apa?."


"Hah? oh ini mau beli vitamin." jawab Siska sekenanya. Karna gak mungkin 'kan bilang mau beli ko**dom atau pil kb. Malah malu sendiri nanti.


"Oh vitamin, itu ada dibagian sana." Desta menunjuk sebuah rak dipojok kanan apotik, dan seketika Siska menoleh kearah yang dimaksud.


"Oh iya, thank you." Mau tak mau Siska pun berjalan ke rak tersebut, dan mengambil beberapa vitamin secara acak disana.

__ADS_1


"Lo dari mana? kok bisa ada disekitar sini?." Desta kembali tanya.


"Oh tadi habis dari salon deket sini sama Raya."


"Oh, eh gue tunggu diluar ya."


"Oh oke." Jelas perkataan Desta ini jadi sebuah kesempatan emas buat Siska membeli sesuatu yang sudah diincarannya sejak sebelum masuk kedalam apotik.


Dengan secepat kilat, Siska kemudian mengantongi pil kb yang sudah dibelinya itu dan menyimpannya rapat ke dalam saku jaket.


"Ini lo mau kemana Sis? udah mau pulang? gak mau ngopi - ngopi dulu nih sama gue?." Ajak Desta ketika Siska juga sudah di luar apotik.


"Gak bisa gue, lagi buru - buru, mau jemput Zidan di bandara." terang Siska yang pasti dari ekspresinya Desta lagi mengerutkan keningnya. Mungkin dia gak menyangkah kalau nama mantannya itu dengan muda disebut oleh Siska dihadapannya.


"Zidan?."


"Iya, dia baru pulang dari jogja hari ini."


Dan tepat setelah ucapannya ini, ponsel Siska berdering.


"Aduh, kayaknya dia udah sampai deh, telat nih gue jemputnya." Saat ngomong ini, Siska juga mengacungkan layar ponselnya yang menunjukkan adanya panggilan dari Zidan.


"Lo belum berangkat?."


"Belum, ini masih mau. Tadi di salon lumayan lama selesainya. Jadinya telat gini jemput lo. Ya udah ya gue berangkat dulu. Lo tunggu bentar 40 menit lagi gue sampai."


"40 menit itu bukan waktu yang sebentar, sayang."


"Ya gimana dong, perjalanannya kan emang butuh waktu segitu."


"Ya udah deh ati - ati, gak usah ngebut. Nanti gue bisa tunggu lo di cafe, biar gak bosen."


"Oke. Eh, Des, sorry ya gue gak bisa lama - lama ngobrolnya. Lain kali kita sambung lagi. Oke, bye ..."


Sangking buru - burunya, saat mengucapkan kaimat ini, Siska sampai lupa mematikan panggilannya. Ya jelas saja macan yang diujung telpon langsung terpengarah. Tadi bilangnya di salonnya lama, Eh kok malah sama orang yang namanya Des? Des disini Desta kan? iya kan?. Jadi mana yang bener dong.


Rasa cemburu dan tak suka sudah menggerogoti, Zidan yang tak sabar terus mencoba menghubungi Siska, eh tapi yang dihubungi tak sedikitpun menerima panggilannya. Membuat Zidan rasanya semakin murka saja.

__ADS_1


"Kenapa nih orang, kok telpon terus dari tadi." gumaman Siska meluncur saat mendapati sudah ada 50 panggilan tak terjawab di ponselnya.


Dengan perasaan aneh, Siska turun dari mobil sambil berusaha menelpon balik Zidan. Matanya juga tak ketinggalan mengedar keseluruh sudut bandara yang kemudian tertangkaplah Zidan yang berjalan menghampirinya dengan sorot mata tajam beserta muka masamnya.


"Uhm, lo marah ya karna udah nungguin lama?." Sebetulnya Siska cukup sadar kalau dia lagi bersalah. Mangkannya saat tanya seperti itu nada bicaranya dan ekspresinya dibuat sedikit manja.


"Menurut lo gimana? gue bakal marah atau gak setelah apa yang lo lakuin?." jawab Zidan dengan nada menyindir sekaligus ketus.


"Pasti marah sih, soalnya bukan 40 menit nunggunya tapi hampir 1 jam."


Zidan tersenyum sinis. Siska bahkan tak sadar dia marah karna apa. "Aish! lo bahkan pura - pura gak terjadi apa - apa!." Sungguh bahkan saat mengatakan ini, Zidan terlihat begitu dingin.


"Maksud lo?." Siska bahkan jadi tergelak melihat ekspresi Zidan yang benar - benar marah sama dia.


"Lo dari mana aja tadi? lo tadi habis ketemuan sama siapa sampai lupa kalau mau jemput gue?."


"Maksud lo? emang gue habis ketemuan sama siapa?." Disini Siska heran. Perasaan dia gak kemana - mana cuma ke salon sama Raya dan Feby.


"Gak usah berkilah. Lo tadi bareng Desta 'kan? lo ngobrol sama dia 'kan? sampai akhirnya lo lupa harus jemput gue? iya 'kan? ngaku lo jangan bohong."


"Astaga, jadi karna itu lo marah ke gue? Zidan dengerin ya, gue itu tadi gak sengaja ketemu dia pas di apotik. Bukan karna ketemuan. Yang bikin lama gak jemput emang karna disalonnya yang lama. Kalau lo gak percaya lo bisa deh tanya Raya atau Feby." jelas Siska dengan nada rendah.


"Tapi tadi jelas - jelas lo lagi ngobrol sama dia. Dan lo juga bilang kalau bakalan ngelanjutin obrolan lo sama dia nanti!."


"Ya ampun, namanya juga basa basi mau pamit duluan. Ya ngomongnya pasti gitu 'kan? Udah deh ah, kita 'kan baru aja ketemu, lo jangan ngajakin ribut. Gak capek apa lo habis perjalanan jauh terus dateng - dateng ribut sama gue?."


"Yang ngajaki ribut itu lo! gue kan udah bilang jangan ketemu Desta, tapi kenapa lo gak nurut? kenapa lo tetep ketemu dia? lo ada rasa sama dia? atau lo sebenarnya emang masih pengen deket sama dia? itu 'kan yang lo pikirini selama ini?." Jelas tuduhan Zidan kali ini bikin Siska jadi kesal, karna apa yang dituduhkan Zidan ini jelas salah besar.


"Eh, kok lo jadi nuduh - nuduh gue gitu?."


"Ya gimana gue gak nuduh lo gitu, Lo dari dulu suka jelalatan sama tebar pesona sama semua cowok."


Siska menyeringai dan menatap tajam pada Zidan. "Aish! dasar brengsek!! bajingan lo! tahu gitu gue sekalian gak jemput lo, sia - sia gue kesini! Lo juga sama aja kayak dulu, gak pernah bisa bener - bener percaya sama gue! Aaaiiisshhh!! muak gue sama lo!."


Sudahlah tak ada harapan. Siska benar - benar kecewa sama Zidan. Kali ini tuduhan Zidan udah keterlaluan, dia menuduhnya tanpa dasar. Jadi karna itu, Siska pun menghentakkan kakinya kasar masuk kedalam mobil. Gak lupa juga dibantingnya sekuat tenaga pintu mobilnya untuk menuntaskan rasa marahnya. Karna sikap Siska ini, jelas Zidan jadi tergelak. Kok bisa Siska yang jadi marah sama dia? padahal 'kan harusnya dia yang marah dan mengumpat gitu?.


***

__ADS_1


sebelum menuju sah, harus ada konfliknya dulu ya guys, biar nanti kalau udah nikah, bisa tambah hot kwkwkw


jangan lupa dukungannya, like, komen, vote sama hadiahnya ya ...


__ADS_2