Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
77. Kediaman Om Robet


__ADS_3

Disepanjang perjalanan, Ery dan Zidan terus mengobrol. Ya namanya juga saudara yang lama tak bertemu. Banyak pembahasan tentang saling bertanya kabar. Atau kehidupan masing - masing yang sekarang dijalani. Tentang bisnis dan pekerjaan maupun juga selipan nostalgia - nostalgia cerita masa kecil keduanya. Dimana Siska yang ada diantara mereka, berperan sebagai pendengar setia yang kadang ikut senyum dan tertawa saat keduanya saling melempar joke dan juga ejekan.


Sepersekian waktu perjalanan. Mobil yang disupiri Ery akhirnya masuk kedalam pelataran rumah di salah satu komplek perumahan elite.


"Welcome to Melbourne, Zidan..." Om Robet yang begitu melihat mobilnya Ery langsung keluar untuk menyambut kedatangan Zidan dan Siska.


"Hehehe, iya Om, thank." Zidan menyapa dan memberikan rangkulannya pada Om Robet. Senang akhirnya bisa sampai betulan ke Australia.


"Welcome to Melbourne, menantunya Om. Tapi, siapa namanya kok Om jadinya lupa?." Om Robet juga tak kalah menyapa Siska, meskipun diselingi otaknya yang tiba - tiba down lupa dengan nama Siska.


"Siska Om," Zidan yang jawab.


Sementara Siska cuma tersenyum geli, tapi juga seneng.


"Astaga, iya Siska, Sorry ya Om lupa. Kalau gitu welcome to Melbourne ya Siska." ulang Om Robet yang menyapa Siska dengan senyuman ramahnya.


"Iya Om," jawab Siska yang tak kalah memberi senyuman manisnya.


"Ayo masuk, masuk. Tantemu udah nungguin ini dari tadi." Om Robet menggiring Zidan dan Siska untuk masuk.


"Iya Om, tapi sebentar Om, aku ambil barang - barang dulu di mobil." pamit Zidan.


"Gak usah, gak usah, biar dibawah Pak Edo aja. Biar langsung ditaruh ke kamar kalian. Kalian langsung masuk aja. Do, bawain ya barang - barangnya itu." titah Om Robet pada Pak Edo pesuruhnya, dimana setelahnya mengembalikan atensinya pada Zidan dan Siska agar segera masuk dalam rumah.


Zidan dan Siska masuk kedalam rumah Om Robet. Bisa dikatakan, Om Robet ini mungkin salah satu warga negara Indonesia yang sukses di Australia. Ini semua terbukti dari tempat yang ditinggalinya. Rumahnya mewah dan luas dengan 2 lantai bahkan ada liftnya juga. Furniturenya juga gak main - main. Harganya pasti selangit. Benar - benar megah pokoknya dimata Siska dan Zidan.


"Tante," Zidan menyapa Tante Vio yang baru saja turun dari lantai 2.


"Haaayyyy ... Akhirnya kalian sampai juga." Tante Vio dengan sikap excitednya menyambut kedatangan keduanya secara bergantian tanpa lupa salam pelukan hangatnya.


"Akhirnya, tante seneng. Kalian beneran bisa datang kesini meskipun gak pas sama hari lairnya si Nonik."

__ADS_1


Nonik ini adalah julukan untuk anaknya Ery.


"Iya tante sorry, kemarin sebetulnya kesininya mau dipasin waktu datangnya. Eh, tapi ternyata cutinya gak di acc. Dan baru di accnya hari ini." jawab Zidan.


"Ya gak apa - apa. Sebetulnya juga sama aja. Kamu udah sampai sini tante juga udah seneng." celetuk tante Vio.


"Iya tante," jawab Zidan.


"Oh iya, ini pada jetleg gak?." Tante Vio melempar pertanyan pada Siska dan Zidan.


"Kalau aku sih enggak tante. Kalau kamu gimana yang?." Zidan menjawab sambil ikut melempar pertanyaan pada Siska yang sedari tadi cuma senyum - senyum memperhatikan orang ngomong.


"Enggak juga sih kayaknya." Siska jawab.


"Syukur deh kalau gitu. Tapi bentar ya, kalian duduk dulu disini, tante mau ambil minuman dulu. Tadi Tante udah siapin jahe hangat buat kalian. Eh, tapi ini udah pada makan belum? apa perlu tante siapin makan dulu?." tawar Tante Vio.


"Eh, gak usah tante, tadi di pesawat kita udah makan." Jawab Zidan cepat.


"Iya kamu, istri kamu gimana? kamu mau makan? tante siapin ya?." Dengan ramah tante Vio menawari Siska.


"Eh, kok pada gak mau makan sih? Padahal ini juga tinggal ngengetin aja."


"Enggak tante gak usah. Beneran kita udah makan." kata Siska lagi.


"Ya udah, tante ambil minum dulu ya."


Sementara Tante Vio masuk kedalam. Zidan, Siska dan Om Robet duduk diruang tengah. Sementara Ery masih bertahan diposisinya dan rupanya hendak pulang.


"Pa, aku pulang dulu aja ya, takutnya si Vila keteteran kalau ngurusin Rayen sendirian. Biasanya tuh bocah suka kebangun kalau malam." Ery pamit pada Om Robet. "Dan, gue pamit pulang duluan ya, kasian istri kalau gue tinggal lama - lama sama bayinya. Lo jangan lupa kerumah juga." Setelahnya Ery pamit ke Zidan.


"Oh, iya, iya.. ati - ati Er." Zidan menjawab pamitan Ery.

__ADS_1


"Sis, gue pamit dulu ya? sorry gak bisa nemenin lama - lama." Kali ini Ery pamit ke Siska.


"Oh iya Er, ati - ati."


"Ati - ati Er, papa thank, udah dibantuin jemput Zidan tadi." kata Om Robet.


"Iya, pa."


Ery pun pulang kerumahnya setelah tadi juga pamit pada Tante Vio. Dan sekarang diruang tengah sudah tinggal Zidan, Siska dan Om Robet.


"Gimana perjalanannya? seru 'kan?." Om Robet kembali berbicara.


"Seru Om, udah lama juga 'kan aku gak kesini. Jadi lumayan excited juga." jawab Zidan.


"Syukur deh kalau kamu excited. Tapi kayaknya meskipun begitu tetep ada capeknya juga 'kan?." Om Robet berkelakar.


"Ya lumayan sih Om." jawab Zidan diselingi tawa kecilnya.


"Hehehe, sorry ya, kemarin sebetulnya mau Om belikan tiket yang kelas bisnis, biar kalian gak capek - capek. Tapi ternyata kelas bisnisnya udah kehabisan. Ya, akhirnya terpaksa jadi naik kelas ekonomi."


"Ya gak apa - apa Om, tadi meskipun kelas ekonomi enak aja sih. Di pesawat kita juga bisa tidur." jawab Zidan.


"Eh, ini ayo diminum dulu, biar badan kalian hangat. Disini itu lagi musim dingin. Kalau udah dingin gini, biasanya suhunya bisa sampai 3-5 derajat." Tante Vio yang baru datang dengan wedang jahenya langsung menimbrungkan omongannya.


"Oh, pantesan Tan, tadi begitu keluar dari dalam bandara rasanya langsung nyes gitu hawanya. Aku sendiri kok ya lupa gak cek dulu tentang iklimnya." jawab Zidan. Kenapa harus lupa sama perbedaan musim yang ada di Australia. Semoga baju yang sedang dibawah bukanlah baju tipis - tipis. Kalaupun baju tipis nantinya terpaksa harus belanja dan beli jaket biar tidak kedinginan.


"Iya, jelas karna memang lagi musim dingin. Jadi nanti kalau kalian mau keluar pakainya ya baju yang tebal, soalnya kalau gak biasa sama hawanya ini bisa - bisa sakit entar. Tapi ya mungkin entar kalian juga pastinya lebih betah di dalam kamar dari pada di hotel. Secara 'kan lagi bulan madu juga." Tante Vio mulai menggoda Siska dan Zidan. Membuat sepasang suami istri baru tersebut jadi bersemu merah karna mulai malu.


"Ya kalau itu apa kata nanti deh Tan," jawab Zidan diselingi senyum lebarnya sambil melirik Siska yang ada disampingnya.


"Ya udah ayo, cepet diminum. Terus mendingan kalian istirahat dulu. Mandi - mandi dulu, atau beres - beres dulu. Terus tidur dulu, Ini 'kan juga udah mulai masuk tengah malam pastinya kalian capek. Baru deh besok kita lanjutin ngobrolnya sambil santai - santai." pesan Tante Vio.

__ADS_1


"Iya Tan."


Zidan dan Siska pun menurut. Mereka kemudian mengeduh wedang jahe yang dibuatkan Tante Vio. Dan Setelahnya dengan arahan Tantenya itu, Zidan dan Siska masuk kedalam kamar yang sudah disiapkan untuk mereka.


__ADS_2