
Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Zidan yang sudah merasa lelah menyenderkan badannya ke kursi.
Huft!. Hari ini adalah hari yang membahagiakan sekaligus melelahkan. Tender berhasil diraih dan pekerjaan besar akan segera dikerjakan.
Perusahaannya ini masih kecil, jadi Zidan harus mempersiapkan semuanya dengan detail dan matang. Memilih beberapa perusahaan lain yang tepat untuk diajak kerjasama. Biar pas waktu proyek berjalan minimal bisa mengurangi resiko pekerjaan atau beban kerja juga. Dan untuk hari ini. Zidan merasa cukup kerjanya.
Zidan pun akhirnya membereskan semua barang - barangnya. Memasukkan beberapa dokumen penting ke dalam tas dan bersiap pulang ke apartemen.
"Huft!."
Tapi lagi - lagi, pikirannya mendadak jadi suntuk. Kembali ke apartemen sama dengan bertemu dengan Siska. Zidan pun menghela nafasnya panjang sekali lagi. Ingat hubungannya dan istrinya itu yang masih dingin sampai sekarang.
Zidan meraih ponselnya. Diusap sejenak ponselnya itu untuk memeriksa sudah jam berapa sekarang. Eh, tapi matanya malah jadi terpaku dan wajahnya langsung mengernyit. Ada panggilan dua kali dari Siska dan juga 1 pesan juga.
"Kamu dimana? kamu kapan pulang, yang."
1 pesan itu bikin Zidan jadi gagal fokus. Mimpi apa dia semalam, Siska tiba - tiba menghubunginya dulu. Manggilnya pakai sayang lagi. Panggilan yang sudah sangat Zidan harapkan sedari dulu. Apa mungkin istrinya itu mulai sadar. Kita liat saja sebentar lagi.
Zidan pun bergegas pulang ke apartemen. Jalanan kota tengah malam yang sepi membuatnya jadi cepat sampai. Apa lagi emang tadi juga sengaja ngebut.
Zidan masuk kedalam apartemen. Hal pertama yang tersaji di matanya adalah Siska yang sedang lelap. Istrinya itu tidur sambil duduk di sofa ruang tengah pakai baju seksi. Benar - benar pemandangan yang luar biasa. Yang sudah 2 minggu ini tak dijumpainya.
Masih dengan perasaan aneh dan menebak - nebak ada apa dengan Siska. Zidan akhirnya duduk disamping Siska. Menatap lekat wajah Siska yang terlihat sangat cantik dimatanya meskipun lagi tidur lelap.
Seutas rambut yang terjuntai menutup wajah juga diuraikan ke belakang telinga sama Zidan. Ah, rasanya ingin memeluk dan mencium istrinya ini, tapi masih berusaha ditahan oleh Zidan. Mengingat hubungan mereka yang masih dingin.
Puas memandangi wajah cantik Siska. Zidan pun meraih tubuh Siska. Mencoba menggendongnya biar tidurnya lebih enak di atas kasur. Tapi ternyata tindakannya itu membuat Siska jadi terbangun.
"Kamu udah pulang?." tanya Siska begitu melihat sosok Zidan disampingnya dengan mata setengah terpejam akibat sisa kantuknya.
"He'em, baru aja." jawab Zidan sambil mengurai tangannya, karna tidak jadi menggendong Siska.
"Udah makan?."
"Udah tadi." Dan sekarang Zidan beranjak dari samping Siska, masuk ke dalam kamar dan bersiap membersihkan diri.
"Oh." Ada rasa kecewa dalam hati Siska karna ternyata Zidan yang sudah makan. Tapi iya kali sampai jam segini suaminya itu belum makan. Jadi sedetik kemudian Siska pun tersenyum. Percuma sudah masak tapi gak dimakan. Tapi ya gak apa - apa juga. Anggap saja ini adalah salah satu bentuk perjuangannya meskipun tak dilihat Zidan.
"Mau mandi? mau aku siapin air hangatnya?." tanya Siska lagi yang menyusul Zidan ke walk in closet.
"Gak usah, kamu tidur aja lagi."
__ADS_1
Tapi Siska malah bergerak ke arah kamar mandi. Menghidupkan kran air panas dan mengaturnya agar hangat di dalam buthtub. Menyiapkan handuknya juga serta sabunnya agar lebih dekat dan gampang dijangkau saat mandi.
Zidan berdiri bersandar di depan pintu kamar mandi. Matanya sibuk memperhatikan Siska yang sedang sibuk itu. Sibuk menyiapkan keperluan mandinya. Yang lagi - lagi merupakan hal yang tidak biasa.
"Airnya udah aku siapin. Kamu udah bisa mandi." Sambil senyum tipis tapi manis, Siska mempersilahkan Zidan untuk mandi. Bikin Zidan sedikit tergelak. Lagi - lagi merasa aneh. Tapi kok hati Zidan jadi senang.
"He'em, makasih."
Zidan masuk kedalam kamar mandi untuk mandi. Menikmati fasilitas yang sudah disiapkan Siska tadi. Sementara Siska ada di pantry menatap makanan yang dimasaknya tadi.
"Huft!." Satu helaian nafas terlontar lagi. Sebetulnya perutnya sangat lapar karna memang Siska terakhir makan siang tadi. Tapi berhubung Zidan bilang sudah makan jadinya dia pun menahan diri dan tidak makan.
Masakannya itu dibereskan oleh Siska. Dan ditaruh di lemari penyimpanan makanan. Hanya beberapa ekor ayam yang sengaja dimasukkan kedalam mulutnya dengan sikap malas. Ini dilakukannya demi mengurangi rasa lapar yang dirasakan.
Meja pentry sudah bersih. Sekarang tangan Siska bergerak gesit membuat segelas teh hangat untuk Zidan. Lalu duduk di meja pentry menunggu Zidan selesai mandi.
"Ini, aku bikinin teh buat kamu. Biar badan kamu anget." Siska menyodorkan teh itu begitu Zidan keluar dari kamar mandi.
Tanpa menyaut, Zidan pun langsung meminum teh dari Siska.
"Gimana? kemanisan atau kurang manis?."
"Pas."
"Aku mau istirahat. Mau tidur dulu." kata Zidan menyerahkan segelas tehnya tersebut pada Siska. Dan kemudian masuk ke dalam kamar.
Siska mengangguk. Kemudian meletakkan gelasnya itu ke tempat cuci piring dan segera juga menyusul Zidan yang sudah berbaring diatas kasur.
Posisi Zidan saat itu sedang tidur miring membelakangi Siska. Matanya terpejam tapi sebetulnya dia sedang tak bisa tidur. Otaknya masih mencerna perubahan sikap Siska yang tiba - tiba bersikap seolah biasa saja dan lebih perhatian dari biasanya. Ingin sekali Zidan tanya tapi masih gengsi.
Untuk Siska. Siska sudah membaringkan dirinya disamping Zidan. Menatap punggung Zidan yang terlihat lapang dan hangat dimatanya. Otaknya juga sedang menimbang - nimbang mau dipeluk atau dibiarkan saja.
Tapi akhirnya, Siska memilih mengulurkan tangannya untuk memeluk Zidan dari belakang. Badannya didekatkan sedemikian mungkin agar bisa menyandarkan kepalanya di punggung lebar Zidan.
Zidan sedikit terperajat lebih tepatnya tak menyangka karna dapat pelukan dari belakang. Matanya juga langsung terbuka lebar. Tapi sebisa mungkin dia masih tetap diam tak membalas. Menunggu mungkin saja Siska mau ngomong sesuatu padanya.
Dan benar sedetik kemudian. Siska bersuara.
"Maaf."
"Maafin aku karna udah ngecewain kamu." ucapnya lagi. Dapat Zidan rasakan kalau Siska mulai menangis.
__ADS_1
"Jangan marah lagi. Aku udah gak kuat kalau terus - terusan berantem sama kamu. Aku pengen kita baikan, yang." Sekali lagi Siska berucap nada suaranya terdengar sangau karna tangisnya.
Zidan hendak berbalik karna Siska yang menangis. Tapi saat itu Siska menghentikan Zidan dengan memeluk pinggang Zidan semakin erat.
"Jangan balik. Kalau kamu balik aku gak bisa ngomong."
Jadinya Zidan pun mengurungkan niatnya. Menunggu apa yang mau Siska katakan padanya.
"Zidan."
"Hm."
"Aku sayang sama kamu."
Zidan tergelak mendengar pengakuan Siska. Badannya hendak berputar lagi. Tapi dihentikan lagi.
"Jangan balik. Aku masih belum selesai ngomong."
Dan Zidan pun lagi - lagi harus nurut. Dan memposisikan dirinya lagi tidur miring membelakangi Siska.
"Aku sayang sama kamu. Tapi aku baru sadar tadi. Jadi maaf karna telat tahu perasaanku sendiri."
"Zidan."
"Hem."
"Aku mau buktiin ke kamu kalau aku beneran sayang sama kamu. Aku mau berjuang. Aku tahu kalau kesalahanku ke kamu itu fatal dan gak bisa dimaafin. Tapi meskipun gitu. Aku harap kamu masih mau maafin aku. Aku harap kamu mau liat perjuanganku ke kamu."
"Emang kamu mau ngapain? kamu mau berjuang gimana?."
"Aku mau jadi istri yang baik buat kamu. Aku gak akan ngulangi kesalahan itu lagi. Aku bakalan tunjukin kalau aku beneran nyesel karna udah bikin kamu kecewa kayak kemarin. Jadi aku mohon kasih aku kesempatan kedua buat memperbaiki diri aku sama pernikahan kita." pintah Siska. Yang sejujurnya membuat hati Zidan mendadak jadi hangat.
"Kesempatan kedua?."
"Iya kesempatan kedua buat buktiin perasaan tulus aku ke kamu. Kamu mau 'kan?."
"Oke, aku kasih kamu kesempatan kedua. Tapi aku harap kamu bisa gunain kesempatan ini dengan baik." Sekalipun Siska tak meminta, sebetulnya Zidan akan memberikan kesempatan keduanya untuk Siska.
"He'em pasti. Pasti aku gunain dengan baik. Aku janji." Siska bahkan mengangguk - ngangguk dan itu terasa di punggung Zidan.
"Ya udah sekarang kita tidur. Aku capek seharian ini kerja. Besok juga harus berangkat pagi."
__ADS_1
"Heem, makasih, I love you."
Seketika itu seutas senyum kembali timbul dibibir Zidan. Ungkapan cinta dari Siska membuat hatinya bahagia.