Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
66. Rasa Takut


__ADS_3

"Sis, lo kenapa sih dari tadi ngelamun aja?." Raya melempar pertanyaannya. Seperti biasanya saat jam istirahat 2 sahabat itu sedang di warung untuk makan siang.


"Hah? gak apa - apa kok Ray." jawab Siska dengan reaksi sedikit terperajat.


"Gak mungkin kalau gak ada apa - apa. Soalnya lo gak kayak biasanya."


"Gak apa - apa kok Ray, beneran."


Raya tak percaya. Sekarang malah melempar pandang menyelidik dengan muka yang mengernyit.


"Astaga Ray, gue gak apa - apa. Gue cuma capek aja, beneran."


"Gue gak percaya. Gue tahu lo, lo kalau lagi ada yang dipikir pasti gini. Gak fokus terus banyak ngelamun."


"Tapi kali ini gue gak bohong. Gue beneran gak apa - apa. Lo tahu 'kan Zidan datang? jadi ya ... you know lah gak usah dijelasin. Malu gue yang ngomong."


"Yah elah, ternyata gara - gara itu toh, hahhahaha. Kirain gue kenapa lo." Raya langsung bisa menangkap maksud Siska.


"Eh, tapi gimana? enak 'kan? gak nyesel 'kan kalau udah tahu rasanya?" Raya menyenggol lengan Siska dan ngomongnya pun pakai nada menggoda.


"Ih, apaan sih lo!." Siska memincingkan matanya. Sudah pasti dimulai dari celetukannya ini, Raya pasti akan terus menggoda dan juga meledeknya.


"Eh, guys, gue udah dipesenin?." Dan satu orang lagi datang disaat yang tepat. Auto ledekannya jadi dobel ini.


"Udah nih," Raya menjawab, sambil mendekatkan soto ayam yang memang sudah ada diatas meja. "Jadi, gimana kesan pertamanya? merintih kesakitan atau mend*esah keenakan?." Raya kembali melanjutkan pertanyaannya.


"Ck!." Siska memilih melengos.


"Hahaha," Dan Si Feby ketawa.


"Ah, tapi gue jamin pasti yang mend*esah keenakan." timpal Raya lagi.


"Jelaslah Ray, sangking enaknya kayaknya gak cukup sekali dua kali deh dalam sekali ambil."


"Ish! kayak lo tahu aja."


"Hahaha. Ya gue tahu lah Sis, orang lo jalan aja sampai pengkor kayak bebek kemarin." jawab Feby.


"Ih, mana ada."


"Ih, lo kira gue kemarin gak perhatiin lo jalan apa meskipun lo datang - datang galau kemarin. Gue perhatiin, ya. Dan gue tahu kalau sahabat gue ini udah berhasil menaklukan rasa sakitnya dan berganti sama rasa enaknya. Hahaha."


"Ish!."

__ADS_1


"Hahaha, dan ternyata nyeselkan lo karna udah nunda - nunda waktu buat begituan?." tanya Raya.


"Tahu ah," Siska bahkan tak berusaha menampik. Ya memang ada perasaan sedikit menyesal kemarin karna sudah menunda - nunda.


"Hahaha, eh, nyesel beneran loh dia Feb." Raya lagi - lagi menimpali.


"Hahaha. Udah Sis, jangan nyesel lagi. Tenang, terlambat sebulan gak masalah. Bisa lo uber mulai hari ini. Zidan udah gak balik ke Jogja lagi 'kan?." tanya Feby.


"He'em, dia udah pulang."


"Weehhhh, seneng dong lo suami lo beneran pulang? bisa tuh kapan aja kalau mau." goda Raya.


Siska menjawab dengan raut muka yang sengaja dibuat mencebik dan tersenyum smirk. Dasar dua sahabat priknya ini. Suka sekali menggodanya.


Raya dan Feby masih terus meledek Siska. Kadang ledekannya juga diseseli dengan saran - saran atau arahan - arahan dari keduanya karna merasa lebih berpengalaman.


Tapi ya gitu, saran - saran dari mereka kadang nyeleneh dan masih bertaut dengan masalah hubungan suami istri. Mulai dari posisi yang enak. Cara menggoda suami. Cara bikin suami puas. Cara biar suami gak bosen. Pokoknya gitulah. Tapi Siska cuma iya - iya aja. Karna sebetulnya semua itu bukanlah hal penting yang perlu dipikirkan Siska.


Jujur saja pikiran Siska sekarang masih terpaku pada obrolan semalam. Obrolan tentang keinginan mertuanya yang ingin segera menimang cucu. Bahkan saat sampai dirumah pun Siska masih terus kepikiran. Pasalnya sekarang dalam hatinya ada rasa bersalah dan takut mulai tersemat didalamnya.


"Yang," Zidan meraih bahu Siska, agar istrinya itu bersandar di dadanya saat keduanya duduk diruang tengah sambil menonton TV di sore hari.


"Hem." jawab Siska dengan membetulkan posisinya agar lebih nyaman saat bersandar didada bidang Zidan.


"Australi? ngapain?." Sebetulnya Siska sudah tahu tujuan ke Australia untuk apa. Tapi sekarang dia sedang pura - pura tak tahu.


"Kerumah Om Robet. Kemarin Om Robet nawarin, katanya mau biayain kita kalau kita kesana. Ada anak sulungnya namanya Ery istrinya itu bulan depan mau lairan. Jadi kita disuruh jenguk juga sekalian nanti kita bisa honeymoon disana."


"Oh." Siska manggut - manggut. Entah kenapa Siska jadi bingung harus menanggapi ucapan Zidan bagaimana. Kata - kata kelahiran cucunya Om Robet begitu mengikis hatinya.


"Gimana kamu mau gak?."


"Emang kapan?."


"Bulan depan sayang, kamu bisa 'kan ambil cuti bulan depan? Ya 4- 5 harilah."


"Ya liat nanti deh, bisa enggaknya. Soalnya yang mutusin bisa cuti atau enggak 'kan atasanku bukan aku."


"Seandainya gak dibolehin kamu bilang aku. Nanti aku yang bilang Pak Suroso."


"Cih, jangan aneh - aneh. Jangan mentang - mentang kamu kenal sama Pak Kadinku terus kamu mau seenaknya sendiri. Kita itu PNS Zidan, beda sama pegawai kantoran biasanya yang kalau direkturnya oke bisa libur seenaknya." Jelas Siska yang memang tak suka kalau Zidan memanfaatkan keadaan.


"Ya kalau gak dikasih ijin, kan terpaksa aku yang harus mintain kamu ijin. Cuma 4-5 hari doang juga bukannya 1 bulan, Pak Suroso juga pasti ngasih." Dan Zidan masih kekeh.

__ADS_1


"Iya, tapi meskipun begitu jangan gitu. Aku gak suka. Masalah minta ijin cuti entar aku minta sendiri, kamu jangan ikut - ikut pokoknya."


"Iya - iya oke deh kalau gitu. Yang penting kita bisa berangkat ke Australi bulan depan. Terus kita bisa honeymoon, oke?."


"Ih, lagian seandainya gak bisa berangkat ke Australi juga kenapa sih? Kita kalau mau honeymoon juga udah telat. Kita nikahnya udah sebulan lebih. Terus aku sendiri juga udah gak perawan. Jadi kayaknya percuma, gak bakalan dapet sensasinya." Ini sebetulnya penolakan Siska secara halus agar tak bertemu dengan keluarganya Om Robet.


"Kata siapa gak akan dapat sensasinya? pasti dapatlah sayang. Jangan dikira cuma gara - gara kamu udah gak perawan, jadinya gak seru. Malahan jusru karna kamu udah gak perawan kita bisa lebih menikmati lagi karna kamu gak perlu kesakitan lagi. Apa lagi nanti di Australi suasananya juga pasti beda dengan yang disini. Aku jamin kamu pasti akan seneng. Kita sendiri juga belum sempet kemana - mana 'kan selama ini, karna aku yang harus ke Jogja?." Ada rasa bersalah diwajah Zidan saat ini karna sudah meninggalkan Siska.


"Cih! kalau gini baru sadar kamu kalau udah ninggalin aku sampai lupa gak ngajakin aku honeymoon dulu kemarin?." Bukannya iba karna Zidan merasa bersalah. Siska malah semakin menimpali Zidan.


"Ya mangkannya itu, ini pumpung ada kesempatan, ayo kita bulan depan ke Australia. Kita nikmati waktu kita berdua. Pelukan, ciuman, keringetan, terus ..." Belum selesai ngomong, Siska langsung memotong.


"Ish! kalau cuma sekedar mau pelukan ciuman atau kayak gitu gak perlu jauh - jauh ke Australi Zidan. Disini setiap hari kita juga bisa. Harusnya, kalau kita ke Australia itu niatin jalan - jalannya. Kamu ajak aku ke Camberra, ke Sydney, ke Melbourne, ke Perth atau kemana gitu yang tempatnya bagus - bagus bukannya malah mau jadiin aku tahanan kamar!." Siska menimpal. Sedikit kesal karna selalu saja otak suaminya itu tentang hal mesum terus.


"Hahaha, ya kalau itu jelas dong sayang. Jelas kita jalan - jalannya. Tapi perbandingannya ya harus 70/30. Di dalam kamar 70% jalan - jalan 30%."


"Tuh 'kan dasar otak kamu ini emang!." Karna gegeten, lagi - lagi Siska mencubit perut Zidan.


"Argh!." Zidan memekik meskipun sebetulnya cubitan Siska ini tak sakit tapi cenderung bikin geli.


"Jangan cubit - cubit lagi sayang. Ampun. Ini bekas yang kemarin masih merah." Sekarang Zidan mengeluh.


"Bodo!."


"Dari pada cubit - cubit, lebih baik sekarang kita usaha lagi yuk, biar mama sama papa seneng." kata Zidan menggeser duduknya dan tanpa permisi juga langsung membukai kancing baju Siska.


"Astaga Zidan! tangan kamu!." Siska menggenggam bajunya untuk menghentikan tindakan Zidan yang tiba - tiba itu.


"Mama udah pengen gendong cucu Sis, jadi ayo kita bikinin. Aku juga pengen cepet ketemu sama anakku." Sambil menyingkirkan tangan Siska, Zidan masih berusaha membukai kancing baju Siska yang sudah tinggal separuhnya.


"Kamu lupa ya, kamu lagi aku larang buat gak sentuh aku. Kenapa kamu gak nurut? kamu mau aku hajar lagi?." Bahkan Siska sedikit merontah dan berusaha melepaskan dirinya.


"Untuk sekarang, aku gak mau nurut karna kemarin udah nurut. Jadi kalau sekarang aku udah gak bisa lagi."


"Zidan, aku hajar kamu!."


Ya tapi Siska bisa apa. Zidan sudah berhasil melucuti bajunya. Tenaga Zidan dan tenaganya jelas beda. Apa lagi sekarang posisinya Zidan sudah menindinya di atas sofa, sambil melancarkan aksinya menyusuri leher jenjangnya dengan bibirnya.


"Zidan! aku, hajar, kamu." Suara Siska terdengar terbata. Itu penolakan Siska yang berbanding terbalik dengan reaksi tubuhnya yang mulai menggeliat dan membusung akibat ulah suaminya.


"Mau disini atau dikamar?." Setelah puas menciumi leher dan dada sang istri dengan suara berat dan mata sayunya Zidan bertanya.


"Dikamar."

__ADS_1


Tak perlu dijelaskan lagi, apa yang selanjutnya terjadi diantara pasangan suami tersebut. Yang jelas keduanya sudah dilingkupi kabut gairah.


__ADS_2