Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
97. Perjuangan 3


__ADS_3

Siska berlari secepat mungkin untuk bisa segera sampai ke apartemennya. Langkah kakinya bahkan sampai terseok karna sepatu fantofel high heels yang dipakainya. Tampaknya juga, akibat karna seokan itu, tumitnya jadi tergores hingga melepuh dan mengeluarkan darah.


Siska menekan paswod kunci apartemen. Tapi ternyata, saat itu dirinya harus menelan kekecewaan. Dia mendapati apartemennya sepi dengan lampu yang masih mati tanpa tanda - tanda kehidupan.


Dan seketika itu juga, mendadak Siska jadi lemas.


"Huuhh..."


Nafas yang tersenggal - senggal dan mata yang juga tampak berkaca - kaca. Dan perasaan menyedihkan. Seolah menggambarkan diri Siska saat ini. Terlebih nomor Zidan juga mendadak tak bisa dihubungi.


Siska menghempaskan tubuhnya di sofa. Dia kemudian mencoba menghubungi Egi. Siapa tahu anak buah suaminya itu tahu dimana keberadaan Zidan sekarang.


Tut ...


Tut ...


"Hallo, iya mbak, ada apa?." suara Egi terdengar.


"Gi, Zidan ada?."


"Loh, Mas Zidan bukannya udah pulang mbak?."


"Iya, tadi bilang kalau udah pulang, tapi sekarang dia gak ada terus aku hubungi nomornya tapi gak aktif Gi."


"Waduh, aku sendiri juga gak tahu ya mbak kalau gitu. Soalnya tadi Mas Zidan bilang katanya balik dulu ke apartemen."


"Ya udah Gi kalau gitu. Thank ya infonya."


"Iya mbak, sama - sama."


Siska menghela nafasnya berat. Rasa gundah yang sudah dirasakannya semakin terasa saja. Dan ditengah semua rasa itu untuk kesekian kalinya Siska berusaha menghubungi Zidan lagi. Meskipun hasilnya masih tetap nihil.


Tangisnya pun pecah. Bahkan sampai sesegukan. Pikiran - pikiran negatif mulai bermunculan dalam benaknya. Gimana kalau Zidan marah lagi padanya? Gimana kalau Zidan menganggap dirinya gak serius saat meminta kesempatan kedua? Dan gimana kalau Zidan jadi tak mau memaafkannya dan malah mau pisah dengannya?. Sumpah kalau semua itu terjadi pastinya Siska merasa tak akan sanggup hidup lagi rasanya. Hingga kegalauan itu pada akhirnya membuat Siska jadi sedikit demi sedikit jadi ketiduran. Karna rasa lelahnya.


Pagi sudah menjelang. Siska terbangun dari tidurnya. Dan pagi itu satu hal yang langsung disadari Siska adalah, Zidan yang belum juga pulang.


Siska memeriksa ponselnya. Lagi - lagi nihil, tak ada satu pun notifikasi yang masuk dari suaminya itu. Bahkan pesan yang semalam dikirim juga masih centang satu. Menandakan kalau nomor suaminya itu masih diluar jangkauan sampai detik ini. Kalau sudah begini apa Siska harus menyerah?. Yang pasti hatinya tak rela.


Tut...


Tut...


Tut...


"Hallo Egi." Yap, Siska menelpon Egi lagi, untuk tanya Zidan lagi.


"Iya Mbak, ada apa?."


"Gi, Zidan ada?."

__ADS_1


"Mas Zidan ya, bentar mbak aku liat dulu di ruangannya."


Dan beberapa saat kemudian.


"Mas Zidan gak ada mbak, kata anak - anak belum datang."


Siska kembali menelan kekecewaan.


"Emang kenapa lagi Mbak? apa Mas Zidan gak pulang lagi dari semalam?." Jelasnya Egi bertanya begini. Karna semalam 'kan Siska sempat menelponnya tanya tentang keberadaan bosnya itu. Terlebih hubungan bos dan istrinya ini beberapa minggu ini juga sedang tidak baik - baik saja.


"He'em." Ada nada kegetiran yang dirasakan Egi dari gumaman Siska yang didengarnya itu.


Egi menghela nafasnya panjang. Merasa bingung harus bersikap bagaimana pada Siska. Kemelut rumah tangga bosnya ini cukup membuatnya sedikit jadi ikut pening.


"Mbak, nanti kalau Mas Zidannya datang langsung aku kabarin deh. Jadi Mbak Siska jangan terlalu kepikiran lagi."


"Iya Gi, sebelumnya makasih ya, Gi. Udah mau bantuin." Meskipun ada rasa tak enak. Tapi Siska sangat berharap Egi akan benar - benar memberinya kabar kedatangan Zidan.


"Iya mbak sama - sama."


"Sekali lagi makasih Gi, aku tutup telponnya."


Setelah bertelpon dengan Egi. Siska pun mengedarkan pandangannya ke arah pintu apartemen. Hatinya sangat berharap, suaminya itu bisa segera pulang. Rasanya sudah rindu dan segera ingin mencurahkan semua perasaan yang ada dalam hatinya itu.


Jam di dinding menunjukkan pukul 8 pagi. Tapi Siska masih tak beranjak sedikit pun dari posisinya. Masih duduk menanti di sofa. Tak peduli lagi soal harus kerja. Bahkan ponselnya yang sedari tadi bergetar dia abaikan. Intinya hari ini yang ingin Siska lakukan adalah menunggu dan menunggu kepulangan Zidan lalu meminta maaf lagi.


Sampai akhirnya pikiran yang ruwet ini membawa tubuh Siska pada titik terendah. Keringat dingin mulai bercucuran di kening dan tubuhnya. Badannya mendadak gemetar hebat. Perutnya terasa sakit sekali. Dan suhu badannya juga naik.


Tit, tit, tit,tit.


Suara paswod pintu ditekan oleh Zidan. Hari itu sudah malam. Sudah jam 7 maam saat dia sampai di apartemen. Wajahnya tampak lusuh begitu juga dengan bajunya. Rupanya dia baru saja menyelesaikan satu pekerjaan penting.


Dan seperti halnya kemarin. Saat masuk apartemen matanya disuguhi oleh Siska yang tampak terlelap di sofa ruang tengah. Maklum Zidan masih belum tahu kalau sebetulnya Siska lagi sakit.


"Kenapa sampai tidurnya gitu?." Keluhnya yang melihay posisi tidur Siska yang meringkuk saay menunggunya.


Tapi Zidan sontak langsung kaget. Tangannya yang terulur hendak menggendong Siska. Nyatanya malah merasakan suhu panas keluar dari tubuh istrinya. Berikut sana keringat dinginnya juga.


"Loh, kok?." Raut wajah khawatir tak bisa disembunyikan Zidan.


"Sayang..."


Zidan berusaha membangunkan Siska.


"Sayang..."


Terus menggoyang tubuh Siska.


"Siska."

__ADS_1


Zidan semakin khawatir.


"Sayang, kamu kenapa?."


"Yang..."


"Sayang."


Tak ada jawaban. Dan kekhawatiran semakin meningkat. Tak mau menunggu lagi. Zidan pun langsung menggendong Siska dan bergegas membawanya ke rumah sakit.


Mobil Zidan melesat dengan cepat. Gerakan mobilnya terihat kasar karna mengebut. Melewati jalanan malam yang ramai. Untung saja malam ini tidak macet, jadi tak butuh waktu lama untuk sampai dirumah sakit.


"Gimana dok keadaan istri saya? dia sakit apa?." tanya Zidan selepas Siska diperiksa dokter.


"Istri bapak gak apa - apa. Dia sepertinya lagi kecapekan aja sama telat makan juga jadinya asam lambungnya naik." Jawaban dari dokter jaga yang ada di UGD itu membuat pundak Zidan yang tadinya kaku jadi lemas kembali.


"Syukurlah dok kalau gitu. Tapi dok dia kok masih gak sadar ya dok?."


"Oh itu soalnya tadi demamnya tinggi banget jadinya lemes terus akhirnya pinsan. Tapi kalau untuk sekarang istrinya bapak sudah sadar kok cuma lagi tidur aja. Jadi biarin dulu jangan dibangunin. Nanti kalau ibunya udah bangun baru bisa dibawah pulang."


Zidan manggut - manggut, sejenak juga melirik ke Siska yang lagi lelap. "Oh iya dok, makasih ya dok."


"Iya sama - sama. Sekalian saya resepin juga obatnya yang dibawah pulang. Tapi pulangnya nanti setelah infusnya habis ya."


"Iya dok."


Setelah bercengkrama bersama dokter. Zidan kembali kesisi Siska. Tangannya kemudian meraih dan menggenggam tangan Siska. Ini adalah momen pertama kalinya Siska yang terjatuh sakit dan membuatnya jadi khawatir. Tapi meskipun begitu, syukurlah sakitnya istrinya ini bukanlah sakit yang serius.


Selama 1 jam terlelap di ruang UGD. Akhirnya Siska pun terbangun. Gerakan bangun kasarnya langsung mendominasi sikapnya. Badannya bergerak secara otomatis, langsung panik. Saat itu, otak Siska langsung mereset ingatannya yang sedang menunggu kedatangan Zidan.


"Sayang." pekik Zidan, sedikit kaget karna kelakuan Siska yang baru bangun langsung panik itu.


"Zidan."


"He'e, ada apa?." Zidan mendekat dan duduk diranjang sisinya.


"Zidan..."


"Iya, ada apa?."


"Zidan..."


Tangis Siska pun pecah. Tangannya terulur menarik Zidan dan menjatuhkan tubuhnya untuk memeluk suaminya itu.


"Loh kok malah nangis?" Zidan yang tak tahu apa - apa pun tanya.


Bukannya menjawab Siska malah semakin memecahkan tangisnya. Menumpahkan segala perasaannya.


"Hey, kenapa?." Zidan tanya lagi.

__ADS_1


Lega. Iya. Itu yang sekarang Siska rasakan karna akhirnya suaminya itu muncul dihadapannya. Jadi pikirnya sekarang, Siska tak mau melepaskan suaminya itu dan hanya ingin memeluknya dengan erat saja untuk beberapa waktu lagi.


__ADS_2