Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
80. Barbeque Party II


__ADS_3

"Gimana tadi jalan - jalan kemana aja?" Ery tanya diselah acara makan malam dalam barbeque party mereka.


"Kemana aja ya? banyak sih tadi yang didatangi, kemana aja ya Om? aku kok jadi lupa namanya, aku kok cuma inget Melbourne Skydeck aja." jawab Zidan sambil tanya juga ke Om Robet.


"Ke Yarra River, Melbourne Skydeck terus ke Royal Botanic Gardens." Tante Vio yang jawab.


"Oh, lumayan. Ada 3 tempat yang udah didatangi."


"Iya lumayan."


"Tapi tadi berarti cuma bentaran doang dong kalau gitu itu di botanic gardensnya? soalnya biasanya kalau kesana butuh setengah hari sendiri buat ngitarin gardensnya." Ucap Ery lagi.


"Iya, tadi di botanic kita gak keliling. Kita cuma makan siang aja di cafe gardennya itu Er. Eh, itu tadi udah jadi udah bagus banget tadi pemandangannya." Tante Vio jawab lagi sambil sedikit cerita juga.


"Oh iya?." tanya Ery ikut antusias, pasalnya dia masih belum tahu botanic yang baru direnovasi itu.


"He'em. Itu tadi buat foto - foto bagus banget, iya 'kan Sis?." tante Vio tanya pada Siska yang jawabnya cuma senyum lebar dan mengangguk.


"Berarti puas dong tadi jalan - jalannya?." tanya Ery lagi.


"Ya puaslah, kamu puas gak sayang?." tanya Zidan pada Siska.


"Puas banget, Om Robet sama Tante Vio ngeguidenya top, kita tadi langsung diarahin ke spot yang bagus - bagus." puji Siska sambil mengacungkan kedua jempolnya pada Om dan Tantenya.


"Kamu bisa aja." Tante Vio bahkan sampai tersipu malu di puji Siska yang padahal menurut siska tak seberapa itu.


"Ya kalau buat mereka emang percaya sih. Om sama Tante kamu ini emang lebih up to date dari pada anak mantunya." Ery sengaja memberi sindiran halusnya pada kedua orang tuanya itu. Pasalnya memang kedua orangtuanya itu sekarang kerjaannya lebih banyak jalan - jalannya dari pada mengurus pekerjaan.


"Udah, jangan nyindir. Perusahaan 'kan sudah jadi punya kamu sekaranag. Ya jadinya papa sama mama udah gak perlu banyak kerja lagi dong." Om Robet nyeletuk.


"Tuh 'kan? gak enak banget jadi putra mahkota. Bilangnya dikasih harta, aslinya dikasih beban hidup." kata Ery dengan nada merajuk.


"Hehehe, ya kalau gitu tinggal kabur aja Er," Zidan malah ngompori.


"Maunya, tapi takut mereka stres gara - gara sang putra mahkota ilang." kata Ery.

__ADS_1


"Enggaklah ya. Mama sama Papa gak akan stres. Kalau kamu mau pergi ya pergi aja, disini mama sama papa masih punya Javier." timpal Tante Vio tak mau kalah.


"Dan kedudukan gue udah digeser gara - gara ada pangeran lain." celetuk Ery lagi.


"Hehehe, untung, yang geser anak sendiri bukan orang lain." kata Zidan.


"Ya itu, untungnya gitu, kalau enggak udah perang saudara gue." kata Ery.


Obrolan ringan itu rupanya mengundang suasana yang hangat diatas meja. Tawa - tawa kecil juga terus menghiasi dimalam itu.


"Oh iya, besok kalian berangkat jam berapa ke Sydney?." tanya Om Robet pada Zidan dan Siska.


"Besok pesawatnya sore Om, jam 3." jawab Zidan.


"Kalau gitu masih punya waktu malam ini sampai besok dong lo disini?." tanya Ery.


"Iya." jawab Zidan.


"Kalau gitu, malam ini nginep sini aja gimana? kita ngobrol sampai pagi, gimana?." tawar Ery dengan menggerakkan alisnya agar Zidan segera menyetujui sarannya itu.


"Gimana yang? kamu mau?." Zidan melempar pertanyaan pada Siska.


"Kalau nginep sini, barang - barang kita gimana?." Siska tanya balik. Pasalnya gak mungkin juga malam ini tidak mandi tidak ganti baju 'kan?.


"Kalau mau nginep sini ya nginep sini. Nanti barang - barang kalian biar tante suruh antar pesuruh kesini." Tante Vio ikut nimbrung.


"Gimana mau 'kan?." Villa tanya lagi. Yang mana saat itu diiringi dengan beberapa mata yang menunggu keputusannya Siska.


"Oke." jawab Siska sambil angguk - angguk.


Dan seperti apa yang diucapkan tadi. Siska dan Zidan pun akhirnya menginap dirumah Ery. Tapi, bukan Zidan dan Siska saja sebetulnya, Om Robet dan Tante Vio juga ikutan menginap malam ini. Barang - barang mereka juga tak lama diantar kesana dan dimasukkan kedalam kamar tamu yang akan ditinggali Siska dan Zidan.


"Uuhhmmm... nyamannya." Siska mengerang, tangan dan kakinya bergerak mengelus kasur. Seharian jalan - jalan, dan baru sekarang bisa merebahkan diri, rasanya begitu nikmat baginya.


"Ckckck! dari pada ngelus kasur mending kamu ngelus - ngelus aku." Zidan ikut merebahkan tubuhnya disamping Siska dan tanpa ketinggalan juga langsung mengarahkan tangannya untuk memeluk sang istri.

__ADS_1


"Itu maunya kamu. Tapi maunya aku sekarang ngusuk - ngusuk kasur yang lembut ini aja." Siska menepis tangan Zidan yang hendak memeluknya tadi soalnya dirinya memang lagi pada posisi yang nyaman sekali. Jadi gak mau diganggu,


"Aku kangen. Seharian ini aku belum peluk kamu." Zidan protes karna tadi tangannya ditepis.


"Tapi aku sekarang lagi PW. Jangan ganggu. Mana lagi lengket semua, jadi risih kalau ada yang deket - deket." jawab Siska sambil mengulangi aksinya menikmati sentuhan halus sprei kasur yang terasa dingin dikulitnya.


"Tapi aku kangen kamu sayang..." Zidan masih belum menyerah. Tangannya kembali hendak memeluk Siska tapi lagi - lagi ditepis dan sekarang ditambahi dengan pincingan mata dari Siska.


"Sayanggg." Zidan memaksa.


"Ih, kangennya disimpen buat besok aja, sekarang aku lagi PW jangan ganggu!." Siska mendengus, beneran merasa terganggu dengan Zidan yang terus memaksa untuk memeluknya.


"Astaga, aku cuma mau peluk aja, kenapa kamu gak mau?."


"Aku 'kan udah bilang. Aku lagi PW masak kamu gak ngerti? Mana kita lagi sama - sama lengket, sama - sama bau asem karna belum mandi seharian. Jadi risih tahu kalau deket - deket."


"Tapi, meskipun gitu aku gak keberatan. Udah deh sini bentar aja. Aku cuma mau peluk kamu, masak kamu gak mau?." Zidan mengulangi aksinya. Tapi Siska sekarang malah berdiri untuk kembali menghidar.


"Zidan, enggak. Mending kamu mandi aja deh, terus cepet keluar, itu pasti si Ery udah nungguin kamu buat ngobrol sama kamu."


Zidan menghela nafasnya kasar. Rasanya jadi kesal sendiri karna Siska yang terus menghindar gak mau dipeluk. "Kamu kenapa sih gak mau aku peluk?."


"Aku 'kan udah bilang. Kamu belum mandi, aku belum mandi, badan kita sama - sama lengket. Risih tahu. Jadi mending kamu mandi dulu."


"Kalau udah mandi kamu mau aku peluk?." tanya Zidan dengan nada yang terdengar menuntut.


"Yang penting kamu mandi dulu, sampai bersih, sampai wangi, sampai harus. Terus habis itu cepet keluar, Ery pasti udah nungguin kamu buat ngobrol sama kamu." Siska memilih untuk tak menjawab pertanyan Zidan.


"Tuh 'kan kamu emang gak mau aku peluk. Padahal aku suami kamu, tapi kamu gak mau aku peluk." Zidan kesal dan mulai ngambek. Pikirannya sudah negatif karna penolakan Siska tadi.


"Bukannya gak mau, tapi aku 'kan udah kasih tahu alasannya. Tapi kamunya aja yang ngeyel."


"Kalau gak mau ya bilang aja gak mau, gak usah banyak alasan." Zidan menimpal dengan wajah kesalnya.


"Astaga, kok kamu jadi ngomongnya gitu sih?." Siska gak habis pikir dengan pola pikiran Zidan yang malah menyalah artikan ucapannya.

__ADS_1


"Aku mau mandi." Dengan wajah masamnya Zidan meraih handuk dan berjalan menuju kamar mandi.


Sementara Siska geleng - geleng kepala melihat tingkah Zidan. Terserahlah mau ngambek mau apa. Masa bodoh juga deh, yang penting sekarang Siska bisa Me time, masalah Zidan lagi ngambek atau kesal padanya itu gampang.


__ADS_2