Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
44. Will You Marry Me?


__ADS_3

Zidan memeluk Siska dengan erat. Bahkan sampai mengangkat tubuh Siska tinggi biar sejajar dengannya dan biar bisa menyembunyikan kepalanya dalam ceruk leher Siska. Perasaan yang tadinya kusut sekarang sudah berubah jadi perasaan lega dan bahagia. Siapa yang gak bahagia kalau ternyata Siska beneran datang malam ini.


"Aaarrggghhh! turunin, jangan gini. badan gue sakit kalau gini. Lo nyengkramnya kekencengan." Siska protes.


"Uhm, maaf." Eh, tapi Zidan malah semakin menggoda dengan berputar - putar melepas rasa bahagianya.


"Aaahhh!! Zidan!." Siska yang takut jatuh memekik.


"Pusing, berhenti!."


"Hahahaha." Ya tawa bahagia Zidan jelas sudah kembali.


"Ih, lo ini, emang gue anak kecil! kalau gue jatuh gimana?." Siska ngedumel setelah Zidan menghentikan aksinya.


"Emang lo masih kecil, tinggi lo aja masih sebahu gue."


"Ish!." Cubitan gemas diluncurkan Siska diperut Zidan.


"Arrgghhh! sakit..." Tapi keluhan Zidan ini bukannya terdengar sedang kesakitan tapi malah seperti rengekan manja.


Zidan kembali memeluk Siska lagi. Tapi kali ini pelukannya sudah lembut dan tampak hangat. Rasanya aroma tubuh Siska itu sudah jadi sihir nyata yang bisa menenangkan pikirannya dalam hitungan detik.


"Oh iya, gue punya sesuatu buat lo." Zidan melepas pelukannya.


"Hm, gue tahu, lo mau apa, si Caca udah bilang tadi." Tanpa basa basi Siska malah ngaku tahu kalau Zidan mau melamarnya.


"Aish! tuh anak gak bisa jaga rahasia." Dari wajahnya saja, sudah pasti nanti Zidan akan memarahi Caca.


"Tapi kalau bukan karna Caca gue juga gak bakalan datang kesini." Siska yang paham langsung memberi pembelaan pada calon adik iparnya itu.


"Maksudnya?."


"Ya kalau dia gak cerita, mana boleh gue berangkat sama mama. Dimana ada calon pengantin yang 2 hari lagi nikah malah kelayapan malam - malam buat ngafe?."


"He... iya juga sih, berarti kalau gitu, gak jadi gue marahinnya tapi nanti gue tambahin uang sogokannya." Untuk kali ini Zidan harus memberi bonus ke Caca karna sudah bekerja dengan baik.


"Ish, emang lo nyogok berapa biar dia mau bujuk gue?." Entah kenapa kok Siska malah penasaran dengan nominal yang diberikan Zidan untuk Caca.


"Em, lumayan. 10 juta."


"Hah? 10juta? gila lo cuma buat gini doang lo ngasih uang sampai 10 juta?." Siska speechlees, gampang banget Zidan ngeluarin uang segitu banyaknya cuma demi bujuk rayu aja. Ckckck!.


"Ya tapi 'kan ini sebanding dengan hasilnya. Ini sekarang lo udah ada disini. Lo datang, terus mau ngobrol sama gue, jadi gue ngerasa gak sia - sia ngeluarin uang banyak cuma demi lo."


"Ya tapi kalau 10 juta, astaga. Zidan."

__ADS_1


"Udah deh jangan pikir itu, sekarang ayo ikut gue. Meskipun lo udah tahu apa tujuannya bukan berarti rencana gue gagal." Zidan meraih jemari Siska untuk digenggam dan kemudian diajaknya Siska ke ruangan yang sudah dihias tadi.


Zidan membuka ruang VIP. Sungguh pemandangan yang cantik dan romantis tersuguh dari sana. Bunga - bunga mawar merah dan putih yang sengaja dibentuk jadi love dan lambang cinta lainnya dan lilin - lilin yang sudah mati sungguh memanjakan mata Siska. Wajah Siska juga langsung bersemu merah karnanya. Ini Zidan kayaknya beneran niat biar dapat maaf darinya, sekaligus ingin meyakinkannya.


"Bentar, lilinnya mati, gue hidupin dulu ya ..." Zidan bergerak untuk menghidupkan lilin - lilin itu satu persatu.


"Ini lo beneran mau ngidupin semua lilin - lilin ini?." Siska tanya. Ini lilinnya buanyak banget, jadi pasti akan memakan waktu lama kalau dihidupkan semua.


"Iya emangnya kenapa?."


"Banyak gini? entar kebakaran gimana?."


"Kan biar romantis, entar kalau udah nyala semua lampunya bisa dimatiin jadi kita cuma dapat cahaya dari lilin aja."


"Tapi bahaya gak nih?." Siska malah cemas takut kebakaran. Secara didalam ruangan terus lilinnya banyak banget.


"Enggak, tenang aja, cuma bentaran doang, kalau gue udah ngelamarnya entar bisa langsung dimatiin."


Siska pun iya - iya aja dan memilih duduk disofa membiarkan Zidan yang sibuk sendiri dengan lilinnya.


Sejak masuk dalam ruangan dan bahkan sudah duduk disofa seperti ini. Siska bahkan tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Wajahnya entah sudah memerah seperti apa sekarang.


Siapa yang nyangkah kalau Zidan benar - benar akan melamarnya. Padahal tadi pikirnya lamaran yang Zidan buat cuma sekedar lamaran biasa duduk di cafe dan kemudian ngobrol sambil debat kusir yang akhirnya berujung dengan keributan kecil seperti biasanya.


"Sini ..." Sekarang Zidan meminta Siska untuk berdiri ditengah taburan bunga mawar yang berbentuk love.


"Lo mau gue lamar seperti apa? berdiri atau berlutut kayak pangeran ngelamar putri mahkotanya?."


"Eh, putri mahkota itu kalau didrakor - drakor kebanyakan nikahnya karna dijodohin, gak ada lamar - lamaran." Siska malah nyaut gini.


"Ya kalau gitu jangan yang drakor dong sayang, yang di film hollywood aja."


"Ya kalau gitu, harusnya berlututlah." Anggap aja gitu, padahal Siska sendiri jarang nonton film holywood.


Dengan senyum manisnya Zidan menuruti keinginan Siska. Dia pun berlutut dengan menompang 1 kakinya layaknya seorang pangeran berkuda putih seperti katanya tadi.


"Ehem! ehem! bentar gue jadi gugup." Zidan bahkan berdehem dengan sengaja, membuat Siska yang sedari tadi senyum jadi tak kuasa menahan tawanya.


"Eh, ini lo mau ngelamar gue lo, Dan. Yang serius dikit kenapa sih?." Entah kenapa lamaran ini jatuhnya malah jauh dari kata romantis.


"Ya mananya juga gugup, mau ngelamar mantan pacar cantik."


"Gak usah gombal! keburu lilinnya habis."


"Oc, kali ini serius, ya ... lo jangan ketawa."

__ADS_1


"Iya, iya, cepetan."


Zidan merubah ekspresi wajahnya jadi mood serius. Bahkan tatapannya sudah penuh kesungguhan, harap - harap cemas dan juga penuh cinta.


"Sis, lusa kita bakalan nikah. Tapi gue harap, meskipun gitu, lo nikah sama gue bukan karna terpaksa. Gue harap lo menikah sama gue karna lo yang juga pengen nikah sama gue. Sis, seandainya lo merasa terpaksa atau seandainya lo sebetulnya gak mau menikah sama gue. Lo masih punya kesempatan buat pergi. Gue akan biarin lo pergi malam ini seandainya memang lo beneran gak mau nikah sama gue. Tapi seandainya masih ada sedikit rasa aja buat gue di hati lo, gue pengen lo tetap ada disamping gue. Menikah sama gue, jadi istri gue yang sesungguhnya. Sampai kita tua nanti. Jadi, Sis, will you marry me?." Tak lupa Zidan kemudian mengeluarkan kalung yang sedari tadi dikantonginya dan kemudian bangkit untuk bersiap memasangkannya juga.


"Loh kok kalung? harusnya 'kan cincin?." Seketika Siska merubah suasana yang tadinya romantis kini jadi dramatis. Siska ini malah gagal fokus ke perhiasannya.


"Ya 'kan lusa kita nikah. Kita bakalan pakai cincin kawin, jadi gue belinya ya kalung biar gak dobel."


"Ya 'kan beda Zidan. Lusa itu cincin kawin sekarang cincin lamaran. Bedakan?."


"Ya tapi 'kan sama - sama cincin. Entar gimana caranya lo makeknya kalau dobel gitu?." ,


"Jari manis gue ada 2, kenapa mesti bingung? Jangan - jangan lo gak sungguh - sungguh ya ngelamar gue?. mangkannya gak mau ngasih cincin!."


"Gimana bisa karna ngasih kalung terus lo bilang gue gak sungguh - sungguh?." Zidan jadi tak habis pikir.


"Ya bisa, 'kan terserah gue nganggepnya gimana?."


"Ya terus gimana dong? lo tolak nih lamaran gue karna gak ada cincinnya?."


"Harusnya gue tolak, tapi karna gue kasian sama lo jadi gue terima. Tapi dengan syarat, besok lo harus beliin gue cincin. Eh, jangan deh besok itu kelamaan. Sekarang aja lo bisa transfer uangnya ke gue, biar gue punya jaminan. Yang banyak tapi!."


Zidan tersenyum kecut, dia sadar kalau sedang dikerjaan habis - habisan sama Siska. Tapi dari pada ribut lagi, Zidan pun memilih iya aja.


"Oke, oke. kira - kira berapa harga cincinnya?" Zidan membuka aplikasi Mbanking miliknya dan siap menekan nominal yang akan di tranfer.


"Coba liat, ada berapa uang lo, jangan sampai gue minta belikan cincin tapi ternyata lo gak punya uang." Siska menyaut paksa ponsel Zidan, sekaligus sedikit meledek.


"Menghina banget sih lo!." Zidan jadi gemas dibuatnya, sampai - sampai dia mengacak rambut Siska.


"Wow... Syukur deh, lega gue. Ternyata gue nikah sama pemuda kaya raya." Mata Siska berbinar - binar melihat uang yang ada ditabungan Zidan. Nolnya banyak banget say.


"Hahaha, lo kira selama ini gue pemuda miskin, gitu maksud lo?."


"Ya, siapa yang tahu, entar habis nikah lo malah jadi mokondo." Siska nyeletuk, dimana jarinya tanpa keraguan sedikit pun mentranfer uang senilai 500jt kerekening pribadinya.


"Gila lo, bisa - bisanya mikir sampai situ? lo anggep gue ini apa jadi mokondo?."


"Ini, thank you, anggap aja ini uang belanja selama 1 bulan kedepan. Oke?." Siska menyerahkan ponsel Zidan dengan senyum nakalnya dan setelahnya langsung berjalan keluar dari dalam ruangan. Ya Siska 'kan merasa urusannya udah selesai. Jadi wajar kalau pergi duluan.


"Aiishh! Sis, lo ..."


Bahkan buat ngomong aja Zidan tak sanggup. Itu uangnya langsung raip gitu aja masuk kerekening Siska. Ckckckc. Seketika jiwa salah pilih istri langsung berkibar tinggi dihati Zidan.

__ADS_1


__ADS_2