Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
99. Hari Yang Indah


__ADS_3

Pagi yang indah sudah menyingsing. Matahari yang cerah juga sudah bertengger diatas langit menyinari pagi. Cuaca ini sepertinya tahu saja kalau ada sepasang pengantin yang lagi dimabuk cinta.


Siska melingkarkan tangannya ke pinggang Zidan dari belakang. Punggung suaminya ini sedari tadi sudah memancarkan sejuta pesonanya dan tak bisa diabaikan begitu saja.


Nyaman. Nyaman sekali rasanya saat kepala Siska disandarkan ke punggung itu. Bahkan untuk lebih menikmati kenyamanan ini. Siska sampai memejamkan matanya dan mendengus merasakan aroma suaminya.


Zidan tersenyum lebar karna mendapat pelukan manja dari Siska. Tangannya secara otomatis juga mengusap lembut lengan yang melingkar itu. Dia juga merasa bahagia dapat pelukan ini.


"Baru bangun, sayang?."


"He'e." jawab Siska, disertai anggukan kepala yang terasa di punggung Zidan.


"Gimana kondisi pagi ini? masih skait? masih ngerasa pusing gak? atau nyeri - nyeri?." Zidan memutar badannya dan memeriksa suhu badan Siska.


"Aku udah gak apa - apa."


Dan sepertinya memang iya, suhu badan Siska sudah kembali normal. Bahkan wajahnya juga sudah tidak pucat lagi.


"Syukur, kamu udah sehat. Sini."


Zidan menukar posisinya. Menempatkan Siska dihadapannya dan memeluknya dari belakang. Sambil melanjutkan masaknya.


"Kalau gini, kamu susah masaknya. Biar aku yang peluk kamu dari belakang. Aku masih pengen nyender dipunggung kamu." pintah Siska yang langsung merubah posisinya lagi. Dan kembali memeluk dari belakang.


Zidan mengiyai, toh juga sama saja sebetulnya.


"Kamu masak apa?." tanya Siska yang tadi sempat memperhatikan ada 2 kompor yang sedang menyala sekaligus dengan posisi diatasnya ada wajan dan panci.


"Kamu liatnya aku lagi masak apa?."


"Em, yang satu pasti bubur tapi yang satunya aku gak tahu."


"Yang satu aku masakin kamu opor. Dan aku jamin kamu pasti suka."


"Kalau kamu yang masak, apapun masakannya aku pasti suka. Jadi karna itu, kalau bisa tiap harinya kamu aja yang masak." Kata Siska yang seketika itu Zidan langsung berbalik dan menatap Siska dengan pandangan sedikit menyalang.


"Kenapa? kok ngeliatin aku gitu?." tanya Siska dengan wajah polos.


"Kenapa jadi aku yang harus masak setiap hari?." Zidan melayangkan protes.


"Ya karna masakan kamu lebih enak dari pada masakanku." Dengan tanpa mikir lagi Siska jawab.


"Kamu lupa kemarin janji kamu apa sama aku?."


"Janji? emang aku janji apa?."


"Kamu lupa?."


Siska mengerjab - ngerjabkan matanya, merasa tak punya janji apa pun pada Zidan selain tidak mengulangi perbuatannya yang minum pil kb diam - diam.


"Wahhhh ..." Zidan tergelak. "Kalau udah dapat maaf, langsung lupa sama janjinya." Nyinyirnya kemudian dengan wajah yang berubah jadi merajuk.


"Emang aku janji apaan sih?"


Zidan melengos. Serta langsung melepaskan tangan Siska yang masih melingkar. Merasa dirinya sedang dipermainkan oleh istrinya. Karna lupa dengan janjinya sendiri.


"Emang aku janji apa?." Siska mulai panik.


"Ck!." Tapi Zidan malah mendecak.


"Kayaknya janjiku cuma gak akan ngulangin lagi perbuatanku yang minum pil kb aja. Terus sama selalu mencintai kamu dan menyayangi kamu dengan segenap jiwaku."

__ADS_1


"Cih! mencintai aku sama menyayangi aku, tapi buktinya lupa kalau udah buat janji mau bawain bekal buatku tiap hari." Zidan tak mau termakan gombalannya Siska. Dan justru menimpalinya sekaligus menyindir juga.


"Eh, astaga, iya, hahahaha." Dan sedetik kemudian Siska langsung ngakak karna baru ingat.


"Ck!."


Siska yang sadar kalau Zidan lagi ngambek akhirnya kembali memeluknya erat.


"Ih, gitu aja marah. Tega banget sih sama aku. Masak udah berminggu - minggu marahan sekarang mau marahan lagi?." Siska bermanja - manja, mengusel - ngusel kepalanya di dada sang suami, persis kayak anak kucing.


"Udah ya jangan ngambek lagi. Jangan marah lagi. Nih, aku cium deh." Demi meluluhkan hati sang suami Siska pun menghujani wajah tampan itu dengan banyak kecupan.


Zidan pun tergelak. Bibirnya kemudian tersenyum. Ya siapa yang bisa marah lama - lama kalau tingkahnya Siska menggemaskan gini.


"Habisnya kamu ini. Bisa - bisanya lupa sama janji kamu sendiri, ha??." Sangking gemesnya Zidan sampai mencubit hidung Siska sedikit keras.


"Ahhh!! sakit!."


"Tapi, jangan - jangan kata - kata kamu yang bilang mau jadi istri yang baik itu gak serius ya?." Zidan menatap curiga lagi.


"Ya serius banget dong sayang." Siska langsung menjawab cepat. "Kamu jangan ragu dong sama aku."


"Aku gak yakin." Zidan menimpal. Sebetulnya dirinya yakin. Cuma liat ekspresi Siska yang berubah panik Zidan malah ingin menggoda.


"Ih, kok jadi ragu?."


"Ya emang sikap kamu meragukan. Buktinya kamu lupa."


"Tapi 'kan itu lupanya gak disengaja."


"Gak percaya aku."


"Jangan gak percaya dong. Harus percaya. Ini mungkin lupanya gara - gara kemarin aku habis sakit, deh, kayaknya. Jadi otak aku geser dikit jadinya. Terus jadi mendekati amnesia. Jadi percaya deh sama aku." Siska memberi alasan, meskipun alasannya sungguh tak logis sama sekali.


"Iya," Siska malah mengiyakan dengan cepat.


"Ckckck! Orang yang otaknya geser itu biasanya disebut orang gila. Berarti kalau gitu, kamu ini? orang gila ya?."


"Aish!." Siska memincingkan matanya. Tak terima dibilang gila.


"Eh, cantik, cantik ternyata gila."


"ish!!."


"Eh selain gila ternyata galak."


"Ih, kamu ini! Iya aku gila karna kamu. Tahu gak kamu?." Siska tak ingin menanggapi.


"Sekarang orang gilanya ngegombal."


"Zidaaannn..."


"Orang gila... orang gila..." Zidan malah semakin mengejek dan menggoda.


"Ih, Zidan!." Entah kenapa suaminya ini makin gencar saja menggoda.


"Ayo, aku anterin yok, balik kerumah sakit jiwa." Zidan menggandeng tangan Siska. Dan membuat dirinya masuk kedalam sarang macan. Padahal sudah diperingatkan beberapa kali biar berhenti menggoda.


"Argh!!." Zidan memekik. 1 cubitan lumayan kecil mengusap dadanya. Badannya juga langsung reflek menghindar dari sang pemangsa.


"Rasain!."

__ADS_1


Tapi merasa belum puas menyakiti Zidan dengan 1 cubitan. Siska bergerak lagi, berusaha untuk bisa mencubit lagi.


"Astaga! Siska!."


Zidan terus menghindar.


"Sini kamu, jangan jadi pengecut! berani ngejek aja waktu mau dibales malah kabur." timpal Siska sambil berusaha mengejar Zidan yang sekarang berlari mengitari sofa.


"Astaga, yang. Aku 'kan cuma bercanda. Kenapa kamu malah emosi terus KDRT lagi?."


"Bercanda ngatain aku gila? ha? kok mau kamu nikah sama orang gila?."


"Ya karna kamu gila itu aku jadinya mau."


"Oh berarti kalau aku waras kamu gak mau, gitu?."


"Iya, kamu 'kan gak pernah waras. Gila terus." kata Zidan malah mengulut rasa kesal Siska.


"Aish! sini kamu! jangan lari!."


Untuk beberapa saat keduany terus kejar - kejaran sampai akhirnya Siska yang lelah pun berhenti dan diikuti Zidan di ujung sana.


"Udah ayo jangan lama - lama. Cepet kesini kamu!." perintah Siska dengan nafasnya yang tersenggal - senggal.


"Enggak, gak mau." tolak Zidan dengan nada merajuk.


"Kesini gak!."


"Enggak gak mau."


"Ish! Pokoknya sini!. Kalau kamu gak kesini aku bakalan lebih ngamuk lagi. Kamu mau aku lebih ngamuk lagi terus nunjukin gimana orang gila yang sebenarnya?." Ancam Siska seolah - olah ancamannya ini beneran adalah ancaman paling menakutkan.


"Enggak aku gak mau. Kamu bukan cuma mau cubit aku tapi aku yakin kamu juga mau mukul aku." Belum apa - apa Zidan sudah mergidik ngeri dengan apa yang hendak dilakukan Siska. Ya secara dia sudah jadi korban kekerasan Siska berkali - kali.


"Ya itu 'kan resiko, siapa suruh ngeledakin!."


"Ya ampun yang, 'kan bercanda. Masak kamu ini gak ngerti?."


"Enak aja bilang bercanda, orang kamu ngeledekin!."


"Ya 'kan ngeledeknya karna bercanda."


"Alesan. Udah pokoknya kesini. Kalau enggak, gak akan ada deh cium - cium, peluk - peluk, *** - ***. Udah lama 'kan kamu puasa? jadi cepet pilih mau aku cubit atau puasa sampai kamu mau aku cubit?."


"Lah kok gitu?." Zidan tak terima. Kenapa dia harus memilih gini? Yang jelas dia gak maulah kalau puasa lebih lama lagi.


"Ya mangkannya cepet kesini." Sekali lagi Siska meminta.


"Aish!."


Dengan terpaksa Zidan pun bergerak kearah Siska secara perlahan.


"Lah gitu dong. Dari tadi 'kan enak, gak pakai kejar - kejaran segala."


"Tapi, jangan kenceng - kenceng, ya?." pintah Zidan. "Kasiani suami kamu ini, aku udah masak buat kamu, ya?."


Siska mencebik dan menggendikkan bahunya. Sebagai tanda ucapan terserah aku.


Zidan sudah berdiri dihadapan Siska. Jelas sekali dia kalau sedang tegang karna sebentar lagi akan jadi korban KDRT. Apa lagi sekarang istrinya itu lagi tersenyum smirk. Makin begidik aja Zidan merasa.


Tapi nyatanya, bukan cubitan maupun pukulan yang diberikan Siska. Siska malah memberi Zidan sebuah hukuman yang enak.

__ADS_1


Cup.


Sebuah ciuman lembut mendarat dibibir Zidan. Ciuman lembut yang menuntut. Mendambah karna rasa rindu dan sayang yang dirasakannya selama ini.


__ADS_2