Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
7. Gosip Murahan


__ADS_3

"AAWWW...!!!"


Siska kembali memekikkan suaranya. Saat hendak keluar dan menarik pedal pintu mobil, ada seorang cewek lagi nyengir dan melambaikan tangan padanya.


"Oh My God!!." 3 kata itu diucapkan Siska seraya menutup mulutnya, tanpa lupa juga mengedipkan mata reflek dari rasa terkejut.


"Kenapa lo?." Dengan polosnya Zidan malah bertanya dan mengarahkan pandangannya seperti Siska pada sosok cewek yang masih bertengger didepan mobilnya.


"Itu Suci..."


"Suci? siapa? dia?"


"Iya, dia, si lambe turahnya dukcapil." Jelas Siska, yang sekujur tubuhnya seketika lemas. Bagaimana enggak, sepertinya, hidup Siska untuk seterusnya tak akan damai lagi.


"Maksud lo?."


"Iishh!!! dia itu biang gosip, tahu gak sih lo!!."Siska malah memincingkan matanya dan melengos, masak gitu aja Zidan gak ngerti.


"Ya, terus kenapa?" Lagi - lagi Zidan tanya dengan polosnya.


"Aaaarrrrgggghhhhhh!!!" Siska berteriak frustasi, setelah Suci pergi dari sana. Setelahnya kembali menatap Zidan kesal.


"Lo, kenapa lagi? lo gak lagi gila 'kan?" tanya Zidan takut - takut, jangan sampai si Siska beneran frustasi gara - gara ciumannya tadi. Ngeri 'kan jadinya kalau iya.


"Aarrrggghhhh!! ini semua gara - gara lo! Awas aja kalau sampai gue diterpa gosip murahan gara - gara lo! Gue datengin lo, buat minta tanggung jawab!!."


"Lo lagi hamil beneran? mulai kemarin lo minta pertanggung jawaban terus sama gue?" ledekan yang dilontarkan Zidan benar - benar tidak tepat waktu.


"Arrrggghhhhhhhhhh!!!! Lo tuh yaaaa!!!!" Siska memekik lagi, kali ini lebih seram setelah mendengar ocehan Zidan barusan.


"Ya Tuhan, Sis, sadar Sis, sadar ..." Zidan mulai menciut, Dia sampai menekuk badannya takut dicabik - cabik lagi.


"Huh! awas lo! gak bakalan gue maafin kalau sampai ada gosip murahan!." Dengan sikapnya yang kasar, Siska kemudian keluar dari mobil milik Zidan dan membanting pintunya sekuat tenaga.


"Eh, mobil gue!! astaga!!!."


Untuk mengurai rasa kesalnya, Siska yang baru saja sampai di mejanya menghembuskan nafasnya beberapa kali. Hari ini, dia harus lebih siap menghadapi kenyataan pait yang cepat atau lambat akan datang.


"Sis, Siska, big news Sis ... big news!" Raya sudah datang dengan terbirit - birit. 'Kan, Betulkan tebakannya, kalau hari ini dia harus menyiapkan mental.


"Don't tell me Raya. Gue udah bisa tebak kalau itu tentang gue."


"Eh, lo belajar jadi mbah dukun dimana? tahu aja kalau ada big news tentang lo?"


"Dari Hongkong!."

__ADS_1


"Eh, tapi lo tetep harus denger."


"Gak usah, gue udah males! karna pasti isinya tentang gue lagi pacaran, terus ciuman, terus gak sengaja dipergoki sama Suci, iya 'kan?" jawab Siska, dengan sikap cueknya.


"Hah? jadi lo tadi beneran habis ciuman lagi sama Zidan?" Raya malah cenggong mendapati fakta didepannya. Ckckc, lain dibibir lain dihati. Dibibir bilangnya no tapi dihati yes.


"Udah deh, muka lo jangan cengong gitu, biasa aja!. Gue tahu kalau didalem ati lo lagi ngatain gue karna gak sesuai sama yang gue omongin, iya 'kan?"


"Cckckc! ya emang lo sih aneh! Tapi, itu gimana ceritanya? kok pagi - pagi lo udah sama Zidan?"


"Masih pagi Raya, bentar lagi pelayanan, tolong kurangin rasa penasaran lo."


"Oke, gue tahan, tapi lo punya hutang penjelasan ke gue."


"Iya, iya, sana, balik lo ketempat lo."


Clenting.


Tepat jam 8. Suara lonceng pagi kembali terdengar. Hari ini, 2 kursi pelayanan sedang kosong. Disitu biasanya ada Rega dan Nita, tapi keduanya lagi gak masuk karna sakit dan juga persiapan pernikahan. Jadi hari ini pastinya akan ada tenaga darurat yang diperbantukan dari segala bidang untuk membantu pelayanan, karna gak mungkin dipelayanan cuma 3 orang.


"Siska sayang ..." Dan yang datang ternyata si bigos, Suci.


"Hm!." Siska cukup jawab gitu, karna gak penting juga deket - deket sama bigos.


"Astaga Siska, kok lo kalau jawab gitu, gue 'kan nyapa baik - baik."


"Oh, karna itu toh, hahaha...." Suci malah ketawa. Tak ada rasa menyesal sedikit pun dalam dirinya meskipun sudah menyebarkan gosip tentang Siska.


Ting Tung. Nomor antrian A0001 silahkan menuju meja 3


Ting Tung. Nomor antrian A0002 silahkan menuju meja 4.


Suara panggilan nomor antrian sudah mulai saut menyaut didalam ruang pelayanan. Pelayanan berjalan khikmat seperti biasanya hingga memasuki jam istirahat.


"SISKA, RAYA!" seru Suci yang baru saja keluar dari kantor, dia langsung berlari mengejar keduanya yang hendak pergi kewarung untuk makan siang.


"Sibigos kenapa tiba - tiba ngikut?" ucap Raya penuh dengan negatif thinkingnya.


"Kayaknya lagi mau ngorek sesuatu yang lebih dari gue." Siska tak kalah negatif thinking.


"Eh, gue ngikut ya, hari ini gue gak punya temen, nih." kata Suci setelah berhasil mensejajarkan langkahnya. Bahkan langsung memilih ditengah dan merangkulkan kedua lengannya pada Siska dan Raya.


"Hm." jawab Raya dengan ekspresi wajah terpaksa. Begitu juga dengan Siska.


"Ini kita mau makan apa?" tanya Suci.

__ADS_1


"Pecel." saut Raya.


Saat sudah berada dihalaman parkir. Ketiganya tak sengaja melihat Zidan dan Pak Kadin beserta jajarannya berdiri dibawah pohon yang tak jauh dari sana.


"Sis, ada cowok lo tuh, lagi sama Pak Kadin." Suci mengalihkan pandangan Siska dan Raya pada Zidan.


"Ngapain dia sama Pak Kadin?" tanya Raya.


"Mana gue tahu." jawab Siska enteng sekaligus tak peduli.


"Loh, kok lo gak tahu? kan lo ceweknya, lo gak tanya?" Suci ikut nimbrung.


"Enggak, ngapain juga tanya - tanya. Bukan urusan gue."


"Ya, tapi 'kan lo pacarnya, masak gak tahu sama sekali." timpal Suci, merasa hal ini tak masuk akal baginya.


"Asal lo tahu, gue bukan pacarnya. Jadi gue gak tahu dan gak mau tahu!."


"Lo lagi menghindar ya? lo takut gue gosipin lagi? gitu?" todong Suci.


"Terserah, mau lo gosipin atau mau lo fitnah gue gimana, yang pasti gue bukan pacarnya."


"Hm, mana ada bukan pacar tapi berangkat kerja dianter, habis itu dicium." decak Suci.


"Bukan berarti kalau kita ciuman terus kita itu pacaran 'kan Suci bigos yang terhormat!."


"Lah terus maksud lo, lo mau dicium - cium meskipun lo bukan ceweknya, gitu maksud lo?"


"Lah kok jadinya lo nyimpulinnya gitu?" dengus Siska, cewek itu mulai kesal lagi.


"Ya habisnya tata bahasa lo merujuknya kesana." Suci membela diri.


"Eh, lo tahu gak sih, di dunia ini itu ada yang namanya cinta tak terbalas? lah status gue sama dia itu gitu. Dia cinta sama gue tapi gue enggak. Dan situasi tadi, murni karna gue dijebak. Lo pastinya juga liat 'kan? kalau tadi pagi gue juga habis jambak rambutnya?."


"Oh, tadi itu, lo jambak rambutnya toh, gue kirain lagi becanda, skinship tipis - tipis."


"Ih! mana ada skinship, najis!"


"Hm, kalau gitu kasian dong dia, lo gantung gitu?"


"Kalau lo kasian, bisa lo ambil, gue ikhlas."


"Serius lo? tapi entar kalau gue deketin beneran lo ngamuk."


"Iya, gue serius, ambil aja kalau mau, terserah mau lo apain dia, itu urusan lo."

__ADS_1


"Beneran ya, ada Raya yang jadi saksi. Awas, jangan sampai entar lo nyesel kalau dia jadian sama gue terus nikah sama gue." ucap Suci tiba - tiba bersemangat, dimatanya bahkan sudah menunjukkan rasa ketertarikan yang amat sangat pada Zidan.


"Iya, terserah lo!."


__ADS_2