Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
76. Go to Australia


__ADS_3

"Ini butuh berapa jam biar bisa sampai Australia?." tanya Siska yang saat ini sudah didalam pesawat bersama Zidan.


"6 setengah jam kayaknya."


"Terus nanti dari Melbourne ke sydneynya berapa jam?."


"Em, sejaman mungkin. Aku gak begitu tahu juga."


"Terus nanti berapa hari kita dirumahnya Om Robet?."


"Em, 3 hari?."


"Terus dirumahnya saudara kamu yang katanya lairan itu berapa hari?."


"Kalau itu fleksibel aja. Nginep sehari juga gak apa - apa, gak nginep juga gak apa - apa."


"Em, gak usah nginep ya, biar gak lama - lama." Pinta Siska dengan bibir yang dibuat mengerujut untuk membujuk.


"Iya terserah aja kalau disana." Zidan senyum mengiyai.


"Zidan, em, kira - kira ini entar kita jadi jetleg gak ya kalau sampai? ini ada 3 jam perbedaan waktu sama indonesia."


"Kalau itu ya gak bisa dipastiin sayang, tapi semoga aja gak sampai jetleg. Emang kenapa? kamu takut gak bisa tidur?."


Siska mengangguk dan sekali lagi mengerucutkan bibirnya sambil menghembuskan nafas beratnya.


"Jangan dipikir, nanti kalau jetleg kita gak usah kemana - mana dulu, kita istirahat aja di rumah Om Robet sampai jetlegnya ilang."


"Tapi itu masalahnya. Apa kita gak bisa kalau istirahat jangan di rumahnya Om Robet? seumpama kita sewa hotel aja gimana? biar kita bisa istirahat dulu baru deh besoknya kita kerumahnya Om Robet?." Siska mengeluarkan pendapatnya.


"Ya jangan dong sayang, apa kata Om Robet kalau gitu?. Emangnya kenapa sih kalau dirumahnya Om Robet? kok kayaknya kamu males gitu?."


"Bukannya males, tapi sungkan. Atau kalau enggak, gimana kalau dirumahnya Om Robet 1 hari aja terus dirumah saudara kamu juga sebentar aja. Habis itu kita sewa hotel aja."

__ADS_1


"Ya jangan dong, bener tujuan utamanya kita honeymoon, tapi ingat juga tujuan utamanya Om Robet kasih kita ke Australia gratisan gini biar kita bisa jengukin dia."


"Ya, tapi aku beneran sungkan banget nih. Bingung nantinya aku kalau disana lama - lama. Aku gak biasa tinggal sama orang lain soalnya. Apa lagi habis perjalanan jauh, takut akunya malah bangun kesiangan terus gak bisa bantuin istrinya kalau pagi." Ada rasa khawatir tersendiri dalam hati Siska yang membuatnya tak tenang. Takut tak bisa bersikap selayaknya dan malah bikin malu suaminya.


"Kamu ini pikirannya kok ya udah sampai mana - mana sih?. Kamu tenang aja, gak usah sungkan. Om Robet sama tante Vio kan baik. Mereka gak bakalan nyuruh kamu buat bersih - bersih atau bantu - bantuin. Mereka itu udah punya pembantu jadi semuanya udah dikerjain sama pembantunya. Palingan kita nanti kalau sampai juga langsung disuruh langsung istirahat. Jadi tenang, kamu gak usah tegang gitu, santai aja. Ada aku juga disamping kamu." Zidan menenangkan. Bahkan tangannya mengelus lembut pucuk kepala Siska.


"Ya tapi 'kan tetep aja aku sungkan, gak enak gitu. Aku juga takut jadi malu - maluin kamu. Mana bahasa inggrisku seadanya lagi. Aku takut nanti kalau diajak ngomong, akunya cuma cengong, angguk - angguk sama geleng - geleng aja. Insecure tahu gak sih?."


"Hehehe." Zidan tergelak. Kekhawatiran Siska selain sungkan ternyata karna gak bisa bahasa inggris. "Kalau masalah ngomong entar serahin ke aku. Nanti aku yang bakalan jadi penerjemahnya buat kamu." Dengan suara mantap Zidan ngomong lagi.


"Lah, emang kamu bisa bahasa inggris?." Siska menimpal. Kalau diingat Zidan gak mungkin bisa bahasa inggris, orang dulu pas jaman sekolah kayaknya nilai bahasa inggrisnya Zidan itu paling jelek.


"Ya bisalah, kamu kira aku gak bisa?."


Dan Siska mengangguk mantap.


"Ck! ngeremehin aku kamu kalau gitu, bahasa inggrisku ini diatas rata - rata sayang." Dengan bangga Zidan mendecak.


"Em, gak percaya. Aku ini udah pinter bahasa inggrisnya. Kamu lupa aku dulu kuliahnya dimana?."


"Di Singapura, terus? apa hubungannya?."


"Singapura itu bahasa kesehariannya apa?." Bahkan Zidan harus memberikan pembuktian pada istrinya agar tak meragukannya lagi.


"Em, ... Ih!!." Mendadak Siska menyenderkan kepalanya dengar gerakan keras. Dia kesal sendiri karna ingat bahasa kesehariannya Singapura adalah bahasa inggris.


"Lah 'kan, tahu 'kan jawabannya." kata Zidan dengan wajah puasnya karna berhasil membuat Siska mati kutu.


"Ish! nyebelin!." Siska malah jadi ngambek, membuat Zidan jadi tergelak merasa gemes sendiri dengan tingkah Siska.


"Ish! tahu gitu dulu aku gak mau kalau kamu ajakin aku bolos. Kalau gini 'kan, kamu yang jadinya pinter sendiri terus aku yang goblok sendiri!."


"Hehehe, sudahlah sayang yang lalu biarlah berlalu. Lagian bahasa inggris juga gak penting - penting banget. Apa lagi sekarang aku udah pinter jadi kamu jangan khawatir. Suami kamu ini sekarang bisa diandelin. Pokoknya nanti pas di australia kamu jangan jauh - jauh dari aku deh biar aman." kata Zidan yang tangannya sudah bergerak lagi menarik sang istri agar bersandar di pundaknya lagi.

__ADS_1


"Cih! gak mau, meskipun jauh dari kamu. Aku juga gak bakalan nyasar. Masih ada google translate juga." Walaupun nadanya terdenger ketus, tapi sikap Siska malah sebaliknya, kembali menyenderkan kepalanya dipundak Zidan dengan sikap manja sambil merangkul lengan Zidan.


"Ck! kamu ini, tinggal bilang iya gak bisa jauh, kok ya susah banget."


"Biarin!."


Zidan yang gemes dengan sikap Siska pun mendaratkan satu kecupan di kening istrinya."Udah ayo sekarang tidur aja. Ini pesawatnya masih lama mendaratnya."


Dan dengan wajah cemberutnya, Siska akhirnya menuruti ucapan Zidan. Matanya dipejamkan sambil sedikit mengusel untuk mencari posisi tidur yang nyaman dipundak suaminya. Hingga akhirnya keduanya benar - benar terlelap.


Suara pramugari dari interkom mulai menggema. Memberitahukan kalau pesawat sudah berhasil mendarat dengan selamat di bandara Melbourne. Dan secara bergantian para penumpang juga sudah mulai berjalan turun dari pesawat menuju tempat pengambilan bagasi dan juga cek imigrasi.


"Woooyyy!!!." Ery, yang berdiri dibarisan para penjemput menyapa Zidan dan Siska yang baru keluar dari dalam bandara sambil melambaikan tangannya keatas.


"Er,!!." Dan Zidan yang melihat, tak kalah juga membalas sapaan hangat Ery.


"Weeehh, Dan. Lama gak ketemu nih." Sebuah rangkulan juga langsung melayang antara Zidan dan Ery.


"Gimana, gimana perjalanannya?." tanya Ery, setelah melepas rangkulannya.


"Lumayan, capek juga." jawab Zidan.


"Wah, ini istri lo?."


"Iya, kenalin, Siska. Yang, kenalin ini Ery, anak pertama sekaligus anak satu - satunya Om Robet." Zidan menjawab sekaligus mengenalkan keduanya.


"Ery, salam kenal ya..." Ery menjulurkan tangannya.


"Siska." Dan Siska menjabatkan tangannya.


"Oke, kita ngobrolnya sambil jalan aja ya, biar cepet sampai terus bisa cepet istirahat juga."


"Oke," jawab Zidan. Yang mana langsung mengikuti langkah kaki Ery yang berjalan lebih dulu.

__ADS_1


__ADS_2