Kejebak Mantan

Kejebak Mantan
8. Semakin terjebak


__ADS_3

"Sis, lo gila ya ngomong gitu sama si Suci?" Raya langsung menginterupsi Siska begitu hanya tinggal berdua. Mereka masih di warung pecel karna jam istirahat yang masih panjang.


"Emang kenapa?" Siska dengan tampang tak berdosanya menjawab pertanyaan Raya. Itu juga diselingi mulutnya yang mengunyah cookies.


"Lo gak mikir? si Suci itu 'kan kalau udah suka ke orang jatuhnya malah obses."


"Ya, kan bagus dong." Siska malah tersenyum jail. Karna kalau hal itu beneran terjadi, maka Zidan tak akan ada waktu lagi untuk mengganggu dirinya, Palingan Zidan akan disibukkan oleh Suci yang udah jadi penguntitnya.


"Eh, lo kok senyum - senyum? lo sengaja, ya?" Raya menatap Siska curiga. Ini sahabatnya lagi sengaja membuat Zidan supaya terjerat sama si biang gosip apa gimana?.


"Hahahaha..."


"Ck! lo tahu? gue bisa baca jalan pikiran lo!." decak Raya, bisa - bisanya Siska punya ide menjauhkan Zidan dengan menggunakan Suci.


"Hahaha, lo tuh emang sahabat gue. Gue cuma senyum sama ketawa aja lo udah tahu tujuan gue. Belajar jadi mbah dukun dimana lo?"


"Ih!! dasar lo, gila." Dan Siska malah mencebikkan mulutnya sambil menggoyang - goyangkan kepalanya seperti sedang menari, tahu 'kan tujuannya apa? ya buat si Raya kesal.


"Iissshh! gue bocorin ke Zidan, nyahok lo!." Berhasil, Raya jadi kesal karna tingkah Siska barusan. Dia mendaratkan krupuk kewajah Siska dan otomatis seketika Siska jadi diam.


"Etss! awas lo! berani lo bilang ke kunyuk itu, putus pertemanan kita!."


"Syukur deh kalau gitu, beban hidup gue berkurang karna udah ngelepasin orang yang tega pakai cara kotor. Asli lo, gak kasian apa sama si Zidan kalau sampai dikintilin terus sama si bigos?."


"Astaga Raya! asal lo tahu, ini bukan cara kotor, ya. Ini itu niat baik gue biar Zidan sama Suci bisa deket, ya siapa tahu mereka jodoh. 'Kan mereka sama - sama suka gangguin orang!. Gitu aja lo baper."


"Hm! kalau suruh alesan, selalu adaaa aja! Liat aja, gue doain lo, semoga lo nyesel udah buat Zidan menderita, terus lo cinta mati sama dia sampai lo rela berkorban buat dia."


"Ishh!!! kok lo malah doain gue gitu, sih? Kampret lo!!." Siska melengos kesal.


"Bodo! emang gue pikirin! Siap - siap lo terima balasan dari Tuhan, doa gue ini doa orang tersakiti, gampang dikabulinnya. Inget itu!."


"Cih!" Siska membuang muka. Mana ada orang tersakiti doyan makan sama hidup makmur.


Kurang 15 menit dari jam istirahat, Raya dan Siska memutuskan kembali ke kantor. Keduanya berjalan beriringan sambil asik mengobrol sana - sini. Setiap hal yang tadi sempat berpapasan dengan keduanya juga tak luput mereka komentari. Seperti halnya dengan keberadaan Zidan dan Suci yang duduk berdua di bangku taman.

__ADS_1


"Ckckc, liat noh gara - gara lo si bigos langsung beraksi." decak Raya, yang pandangannya tertuju pada Zidan dan Suci.


"Wah, keren dong? gak salah pilih kandidat dong gue."


"Ck! dasar lo, udah gila beneran."


Untuk masuk kedalam gedung, Raya dan Siska harus melewat Zidan dan Suci. Ketika mereka sudah berada pada jarak yang paling dekat, secara otomatis seharusnya mereka saling melempar sapaan. Tapi nyatanya, saat itu tidak begitu. Hanya Suci saja yang menyapa keduanya. Sedangkan Zidan hanya menyapa Raya dan langsung membuang mukanya acuh begitu arah matanya bertemu dengan Siska.


"Eh, kenapa tuh si Zidan?" Raya yang sadar dengan perubahan sikap Zidan, bertanya heran.


"Udah sadar kali, udah gak mau gangguin gue lagi." Siska tersenyum puas, baginya sikap Zidan yang berubah cuek mungkin pertanda baik baginya.


Tapi itu 'kan cuma anggapan Siska saja. Nyatanya, malam ini seseorang yang siang tadi sudah dianggap cuek dan sadar malah datang berkunjung ke kontrakannya di jam 10 malam. Apa coba itu maksudnya? datang kerumah gadis di jam 10 malam?.


"Eh, ngapain lo kesini malam - malam? gila lo?"


Bukan Zidan namanya kalau gampang menyerah dan langsung terintimidasi dengan ucapan Siska yang menyebutnya gila. Zidan, sambil menyeringai, malah masuk kedalam rumah dan menutup pintunya.


"Eh, lo mau ngapain?? jangan macem - macem!!." Seketika Siska merasa dirinya sedang dalam ancaman.


"Lo, jangan macem - macem, ya. Gue teriak, nih!." pekik Siska yang pastinya dengan nada takut dan gugup. Apa mau Zidan malam ini? Kenapa tiba - tiba jadi menyeramkan gini?.


Cuma satu decakan dari Zidan tapi mampu membuat Siska mundur teratur. Apa lagi cowok dihadapannya itu juga tersenyum smirk.


"Gue, gue, teriak beneran nih, kalau lo macem - macem!. Gue, gue, serius!."


BRUK! tubuh Siska menabrak tembok dibelakangnya. Kali ini dia sudah benar - benar tak bisa kabur dari Zidan. Apa lagi tubuhnya sudah dikunci dengan kedua tangan yang sengaja ditompangkan ke tembok yang ada dibelakangnya.


"Zidan, please jangan macem - macem. Gue, gue, takut." Ya, lebih baik mengaku saja kalau sedang takut, siapa tahu nantinya Zidan malah berbaik hati dan mau melepasnya.


"Cih! kalau begini lo takut, kalau tadi dengan beraninya lo jual gue ke Suci."


"Oh, Itu." desis Siska, karna jawaban Zidan cukup bisa memberi penjelasan kenapa Zidan datang sekarang.


"Oh itu? Oh itu kata lo? jadi beneran tadi lo tawarin gue ke Suci?"

__ADS_1


Sepertinya Siska malah salah jawab. Karna Zidan malah semakin marah.


"Itu, itu lo salah paham. Gue gak nawarin lo kok, emang lo barang, gue tawar - tawarin."


"Tapi nyatanya gitu 'kan? lo suruh dia deketin gue 'kan?"


"Enggak kok, enggak. Kata siapa?" Siska berusaha mengelak.


"Gak usah bohong, gak usah alesan dan gak usah ngelak. Suci udah cerita semuanya. Jadi mending lo jujur atau kalau enggak gue cium lo sampai lemes."


"Hah?." Siska membelalakkan matanya, enteng banget Zidan kalau ngomong. Dan lagi, untuk Suci. Bukannya beneran deketin Zidan tapi malah ember. Bener - bener tuh cewek terlalu menghayati julukannya, si lambe turah!.


"Mangkannya jawab yang jujur, atau gue cium lo, karna rasa - rasanya gue udah candu sama bibir lo yang manis itu."


"Iiisshhh!!! lepas gak? Zidan lo jangan macem - macem, ya!!." Kali ini Siska mencoba memberontak, tapi apalah daya itu cuma membuat badannya capek saja karna jelas Zidan tak mau melepasnya.


"Sis, lo jawab aja, jangan berontak, nanti badan lo malah sakit semua, gue gak mau kalau lo sampai kesakitan gara - gara gue." kata Zidan, yang entah kenapa malah terdengar lembut dan penuh perhatian ditelinga Siska. Dan gara - gara ini, rasa takut dihati Siska perlahan hilang.


"Kalau lo takut gue kesakitan tapi kenapa lo gak mau ngelepasin gue?."


"Ya karna gue harus tahu kebenarannya dulu. Jadi tolong jujur, lo beneran nyuruh Suci deketin gue atau enggak?." Sejujurnya kalau memang iya ada rasa kecewa dalam hati Zidan.


"Em, oke, gue jawab. Tapi, lo harus janji, kalau gue jawab jujur, lo bakalan ngelepasin gue." pintah Siska, dengan wajah memelas dan sedikit dibuat manja.


"Em, lihat dulu jawabannya."


"Tuh 'kan? emang lo gak punya niatan buat ngelepasin gue."


"Emang itu kenyataannya, ngapain juga ngelepas cewek cantik kayak lo, rugi dong gue." Zidan mai ngegombal tapi entah kenapa saat ini Siska jadi suka.


"Iishh! mulai sedengnya." Siska mengerlingkan matanya jengah. Tapi disudut bibirnya sedang menahan senyum.


"Tapi lo suka 'kan kalau gue lagi sedeng?" desis Zidan, dia menyadari senyuman Siska yang tertahan itu.


"Ih, GR! enggak! kalau gue suka, mana mungkin gue nyuruh Suci buat deketin lo."

__ADS_1


"Kan? bener, lo jual gue?" Zidan memincingkan matanya menatap Siska.


Siska mengatupkan mulutnya. Keceplosan juga akhirnya. Padahal tadi suasananya sudah berubah kondusif. Tapi kenapa dia harus bermain api lagi. ckckck!.


__ADS_2